Tante Melinda

Tante Melinda
Merajuk


__ADS_3

Jumat malam, Erli merengek minta untuk menginap di rumah simbahnya. Karena sudah lama tidak menginap di sana.


"Besok malam saja ya Sayang... Mama ada kerja lembur besok."


Linda mencoba untuk bernegosiasi dengan anaknya, supaya tidak merengek minta malam ini saja menginapnya.


"Besok kan hari sabtu Ma! Mama biasa libur kan?" Erli hafal dengan jadwal kerja mamanya. Karena memang kadang kala Linda memang libur pada sabtu dan minggu.


"Iya. Besok memang hari sabtu. Tapi Mama ada kerjaan sampai jam dua belas."


"Berarti yang jemput sekolah besok Mama ya! terus kita langsung pergi ke rumah simbah." Erli membuat keputusan sebelum Linda bicara lagi.


"Hum..."


"Ya Ma... ya, ya Ma!"


Erli merengek-rengek, supaya Linda mengiyakan permintaannya.


"Ihhh... iya-iya. Mama akan jemput Erli, pulang sekolah besok."


"Yeeee... asyik..."


Sorak sorai dan suara Erli menggema di malam kamarnya. Sehingga membuat Ferry, yang tadi ada di depan TV merasa penasaran.


"Wahhhh... kayaknya seru nih! Papa ikutan dong ya..."


"Pa, Papa! Besok Papa gak usah jemput Erli sekolah. Mama yang mau jemput Erli."


Erli dengan bersemangat mengatakan apa yang tadi dikatakan oleh mamanya, kepada papanya.


"Bener Dek?" tanya Ferry memastikan.


"Tanya alasannya juga dong Mas," sahut Linda dengan, supaya Ferry bertanya alasannya juga.


Karena memang biasanya, Ferry yang mengantar dan menjemput Erli sekolah.


Akhirnya Ferry bertanya pada anaknya, kenapa meminta pada mamanya untuk menjemput besok. "Mama kan ada kerja Sayang... Jika Mama gak bisa jemput, Papa aja kayak biasanya. Ya?"


Ferry salah paham, dengan maksud permintaan Erli.


Dia berpikir bahwa, Erli sedang merajuk pada mamanya saja. Karena sebelumnya dia tidak tahu, jika Erli berkeinginan untuk pergi menginap ke rumah simbahnya.


"Gak mau Pa. Erli mau ke rumah simbah, menginap di sana juga malam minggu. Seperti biasanya dulu. Ya Pa, boleh ya Pa?"


Setelah mendapatkan penjelasan dari Erli, akhirnya Ferry mengerti dengan keinginan anaknya tadi.


"Ohh gitu ya. Emhhh... jika Mama gak bisa jemput, Papa aja gak apa-apa. Nanti Papa antar Erli dulu ke rumah simbah. Gak usah ikut ke pengilingan padi seperti biasanya."


Ferry memberikan solusi, seandainya istrinya itu tidak bisa pulang cepat.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan, Ferry mengatakan hal itu. Sebab jam kerja Linda pada hari sabtu tidak bisa diprediksi sebelumnya.


Kadang bilang pulang jam tiga sore, ternyata hanya sampai jam dua belas. Atau sebaliknya. Pada saat bilang pulang jam dua belas, ternyata pulangnya diundur menjadi jam tiga sore.


"Hum..."


Sekarang Linda kembali berpikir, seandainya apa yang tadi dikatakan oleh suaminya benar, Erli bisa sangat kecewa nantinya.


"Bagaimana Dek?" tanya Ferry, meminta pendapat pada Linda.


"Ya sudah gitu aja." Linda mengangguk mengiyakan dengan cepat. "Gak apa-apa kan Sayang?" tanya Linda beralih pada Erli.


"Tapi... tapi Mama langsung pulang ke rumah simbah ya? Gak usah pulang ke rumah dulu!" Erli masih mode merajuk. Karena sedikit kecewa dengan keputusan mama dan papanya.


"Ya-ya Sayang. Mama juga akan bawakan buah sama martabak telur nanti."


"Gak mau martabak telur. Maunya kredi petti."


Sekarang, Erli punya makanan favorit sendiri, yang memang sering dia minta. Dia ikut termakan oleh tokoh di film kartun Spongebob kesukaannya.


"Iya-iya. Mama beliin Krabby Patty besok."


"Tapi beliin martabak telurnya juga, buat simbah Ma! seperti biasanya." Erli mengingatkan Linda, supaya membelikan martabak telur untuk simbahnya. Karena simbahnya tidak doyan Krabby Patty.


"Hum... udah itu aja pesennya?" tanya Linda dengan memeluk Erli.


"Iya Ma. Hihihi..."


Ferry tersenyum melihat tingkah anaknya yang menggemaskan, jika sedang merajuk dan bermanja-manja seperti ini.


"Sekarang Erli tidur. Besok pagi sekolah. Papa akan siapkan baju ganti buat di rumah simbah sekarang ya!" Erli mengangguk mengiyakan perkataan papanya.


"Ma. Temenin Erli tidur ya!"


Linda pun mengangguk mengiyakan, kemudian menata bantal dan guling untuk kenyamanan tidurnya Erli.


*****


Di rumah Romi.


Della baru saja selesai berbincang-bincang dengan temannya di teras depan, meskipun berbincang nya melalui sambungan telpon.


"Del," sapa Romi mengangetkan Della.


"Mas.... Ihsss, ngagetin tau!" Della cemberut, karena kaget dengan panggilan Romi barusan.


"Kamu sih, telpon lama bener. Serius sekali bicaranya. Gak perhatian sekitar juga."


Bibir Della mengerucut, karena mendapatkan teguran dari kakaknya itu.

__ADS_1


"Sudah ayo masuk! Udah malam ini," ajak Romi pada adiknya. Karena sekarang ini memang sudah malam.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


Dengan masih mengerucutkan bibirnya, Della ikut juga dengan perintah kakaknya itu. Tapi dia tidak langsung pergi ke kamarnya sendiri, melainkan duduk di depan TV.


Sekarang, mereka berdua memang tidak lagi tinggal di rumah pamannya. Tapi sudah membuat rumah sendiri, di dekat rumah pamannya. Sehingga Della akan tinggal di rumah sendirian, seandainya Romi ada di kota besar.


"Kamu libur besok?" tanya Romi, setelah ikut duduk di depan televisi.


Della hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh kakaknya barusan.


"Hum... biasanya karyawan produksi ada yang kerja gak jika hari sabtu?"


Pertanyaan Romi kali ini, membuat Della mengerutkan keningnya. Kemudian menoleh ke arah kakaknya itu.


"Jangan salah paham Dek." Elak Romi cepat.


"Maksudnya, Della salah paham apa?" tanya Della, yang tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba kakaknya itu cepat-cepat memberikan konfirmasi, sebelum dia mengajukan pertanyaan mengenai pertanyaannya tadi.


"Eh, emhhh... gak. Gak apa-apa."


"Gak apa-apa gimana Mas?" Della mendesak Romi untuk berbicara. Menjelaskan tentang maksud pertanyaan dan konfirmasi yang dia katakan. Jika Della tidak diperbolehkan salah paham dengan pertanyaannya.


"Tadi Mas tanya kan? Ada gak bagian produksi yang lembur?"


Della menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Romi, yang saat ini sedang mengulang pertanyaannya lagi.


"Terus?"


"Maksudnya bukan apa-apa Dek. Cuma, membayangkan bagaimana keadaan parkiran motor. Jika besok mau di pasang kanopi. Sedangkan karyawan produksi itu kan banyak. Repot gitu lho kerjanya Mas."


Della mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh kakaknya.


"Masuk akal juga sih. Tapi..."


Kalimat Della justru menggantung, sehingga membuat Romi memiringkan kepalanya. Untuk mendengar kalimat selanjutnya.


Tapi ternyata Della tidak meneruskan kalimatnya lagi. Dia justru mengambil remote TV, kemudian merubah saluran acara yang sedang berlangsung.


"Mau dilanjutkan gak?" tanya Romi mengingatkan adiknya.


"Dilanjutkan bagaimana?" tanya Della, yang pura-pura lupa. Jika tadi dia tidak menyelesaikan kalimatnya sendiri.


"Ya sudah gak apa-apa. Mas juga gak jadi deh beli..." Romi sengaja tidak melanjutkan kalimatnya juga. Membalas perlakuan adiknya tadi.


"Ihsss... Mas Romi kok gitu sih!"


"Emang Mas Romi mau tanya apa sih? Mbak Linda lagi?"

__ADS_1


Deg!


Wajah Romi merah karena malu, saat Della bisa menebak apa yang ada di dalam hatinya.


__ADS_2