
"Mas, Linda mau jemput Erli ya!"
"Gak nunggu Mas dulu? ini bentar lagi selesai. Waktunya untuk beristirahat juga Dek."
Akhirnya Linda mengikuti apa yang diinginkan oleh suaminya juga. Dia menunggu Ferry, yang melakukan timbangan beras untuk yang terakhir.
"Yuk!"
"Yakin udah beres Mas?" tanya Linda, yang melihat suaminya itu memang sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Ya... lihat sendiri!" ucap Ferry, dengan menunjuk ke arah area kerjanya, di mana biasanya memang melakukan apa-apa untuk pekerjaannya sebagai penjual beras.
Linda mengangguk, setelah melihat pekerjaan suaminya yang memang sudah selesai. Dan sekarang, dia bersama dengan suaminya itu pamit pada pekerja pengilingan padi yang lain, yang ada di sekitar tempat mereka berada.
Sekarang, mereka berdua berangkat ke sekolah Erli. Karena waktunya untuk menjemput anaknya itu pulang dari sekolah.
Sebenarnya, Erli pulang sore. Yaitu jam empat. Karena setelah sekolah formal tingkat TK, dia dititipkan ke TPA. Yaitu tempat penitipan anak.
Karena biasanya,. Ferry juga pulang kerjanya sore. Jadi, dia akan menjemput anaknya itu, saat dia pulang kerja.
Dengan demikian, Erli juga tidak akan terlantar. Karena kedua orang tuanya tidak bisa menemani anaknya. Dengan semua kesibukan kerja yang mereka miliki.
Tapi karena dua hari ini Linda libur cuti, Erli mereka jemput saat jam pulang sekolah saja, tampa dititipkan ke TPA terlebih dahulu.
"Mama!"
Erli berteriak senang, saat melihat keberadaan mamanya di depan kelas. Dia merasa sangat bahagia, karena akhirnya dia bisa juga merasakan hal yang sama seperti teman-teman yang lain. Yaitu dijemput oleh mamanya.
"Hai Erli Sayang," sambut Linda, dengan merentangkan kedua tangannya, untuk memeluk Erli.
Banyak sekali orang tua dari teman Erli, atau dari kelas lain, yang kebetulan sedang menjemput anak mereka, melihat dengan mata kagum ke arah Linda.
"Mamanya Erli ya?"
"Mamanya Erli ternyata bule ya."
"Wah, cantik sekali!"
Linda hanya menanggapi dengan senyuman, dan juga anggukan kepala. Sebagai tanda mengiyakan.
"Ma. Papa mana?" tanya Erli, karena tidak melihat keberadaan papanya.
"Itu, ada di depan!"
Linda menunjuk dengan jari telunjuknya, ke arah depan bangunan TK. Di sana, Ferry sedang duduk di atas jok motor. Menunggu kedatangan mereka berdua.
"Asyik... kita pulang sama papa kan Ma? Gak ke pengilingan padi lagi?"
Linda mengangguk mengiyakan pertanyaan dari anaknya itu. Karena memang begitu juga dengan rencana yang sudah dia katakan pada suaminya.
"Ayok!" ajak Linda, dengan mengandeng tangan anaknya. Mereka berjalan bersisian, menuju ke tempat Ferry berada.
__ADS_1
"Papa!"
Erli langsung memanggil papanya, saat papanya menunduk karena melihat ke layar handphone miliknya. Jadi dia tidak sadar jika, anak dan istrinya sudah sampai di depannya.
"Eh, udah ya?"
"Iya Pa." Erli menjawab dengan cepat.
"Kita langsung pulang kan Mas?" tanya Linda memastikan bahwa, suaminya itu tidak ada pekerjaan yang lain setelah ini.
"Iya."
"Horeee!"
Erli kembali bersorak kegirangan, setelah Ferry menjawab pertanyaan dari Linda.
Sekarang, mereka bertiga naik motor menuju ke arah jalan pulang. Karena Erli juga ingin dimasakkan makanan kesukaannya.
*****
Di tempat kerja, Danang mendengar simpang siur tentang gosip kakaknya, Linda.
Tadi, di saat dia makan di kantin perusahaan. Secara tidak sengaja, mendengar perbincangan orang-orang yang sedang makan juga.
Dari perbincangan mereka, nama kakaknya ikut terdengar dibicarakan.
"Supervisor Linda udah gak pernah lagi, terlihat bareng pak Rudi ataupun pak Komarudin. Ke mana dia?"
"Oh ya, kapan?"
"Udah hampir setahun ini kok."
"Oh..."
"Pantes aja, gak pernah terlihat lagi sama mereka berdua."
"Kenapa, Kamu mau gantiin posisi mbak Linda?"
"Hahaha... bisa-bisa! Kan cepet naik jabatannya."
"Halah... pak Rudi dan pak Komarudin yang gak doyan Kamu. Wkwkwk..."
Perbincangan mereka yang tampak seru, terdengar oleh Danang dengan jelas.
Mereka semua yang tidak tahu, jika cowok yang duduk tak jauh dari tempat mereka makan dan berbincang-bincang, adalah adiknya Linda. Orang yang sedang mereka bicarakan.
Ternyata, keputusan Danang untuk makan di kantin, dan tidak menerima tawaran dari temannya untuk makan di luar, ada untungnya.
Dia jadi tahu, apa yang dikatakan orang-orang tentang kakak perempuannya itu.
"Maksud dari perkataan mereka tadi apa ya? Kok aku merasa ada yang tidak beres." Danang bergumam seorang diri, tanpa bisa didengar oleh orang-orang tadi.
__ADS_1
"Hari ini mbak Linda kan cuti. Jadi, gak mungkin juga Aku menemui dirinya, ataupun bertanya lewat telpon."
"Besok saja kalau begitu. Aku akan coba bertanya pada Mbak Linda langsung."
Begitulah kira-kira, apa yang direncanakan oleh Danang. Dia merasa penasaran dengan apa yang tadi dia dengarkan secara tidak sengaja tadi.
Apalagi, di kantor PPIC, kakak perempuannya itu lebih dikenal dengan sebutan Tante Melinda.
"Apa mungkin Mbak Linda punya simpanan muda ya? kok di panggil Tante?" Pikiran Danang justru mengarah ke arah negatif tentang kelakuan kakaknya sendiri.
Itulah sebabnya, dia akan bertanya sendiri, agar tahu apa kebenaran yang sesungguhnya terjadi. Sehingga orang-orang membicarakan hal tadi.
Danang akhirnya pergi dari tempatnya duduk. Dia berjalan ke mini market, yang ada di dalam kantin perusahaan. Membeli minuman dingin, kemudian meminumnya hingga habis.
"Hai! Kamu Mas Danang kan? Mas Danang, adiknya mbak Linda."
Danang menoleh ke arah orang yang memanggil namanya.
Ternyata, itu adalah adiknya Romi. Mantan pacarnya Linda. Yang dulu merupakan adik kelasnya waktu sekolah SMA.
"Eh iya. Kamu kerja di sini?" tanya Danang, yang memang mengenal cukup baik adiknya Romi.
"Gak Mas. Tadi, Aku antar teman yang mau melamar aja."
Akhirnya, keduanya berbincang-bincang dengan membicarakan banyak hal. Mulai dari keadaan mereka masing-masing, setelah lulus sekolah SMA dulu. Dan juga kehidupan mereka sekarang ini.
"Berarti Mas Romi udah nikah, dan menetap di Jakarta?" tanya Danang, yang memang tidak pernah tahu, bagaimana keadaan Romi sekarang ini.
"Iya Mas. Udah gak pernah pulang ke kota ini lagi."
Danang mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh adiknya Romi itu.
"Terus Kamu sendiri sekarang ngapain?"
"Maksud Aku, Kamu udah kerja apa masih kuliah?" tanya Danang, yang juga tidak lagi tahu tentang kabar adik kelasnya itu.
"Emhhh... masih kuliah Mas. Belum lulus," jawab adiknya Romi, sambil menundukkan kepalanya malu.
"Iya lah Kamu belum lulus. Aku aja baru lulus kemarin kok. Hehehe..."
Sekarang, mereka berdua kembali berbincang-bincang tentang banyak hal. Hingga pada akhirnya, waktu istirahat kerja hampir selesai.
Danang minta maaf, dan pamit untuk pergi. Karena dia harus segera kembali bekerja lagi.
"Maaf ya Dek. Aku kembali kerja dulu," pamit Danang, dengan canggung.
"Iya Mas. Gak apa-apa. Silahkan," ujar adiknya Romi, dengan menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Jika ada waktu. Hehehe..."
"Iya Mas. Terima kasih."
__ADS_1