
Hari sudah siang. Di tempat kerja, jam istirahat hampir tiba.
Tapi, Linda yang sedari tadi merasa tidak enak badan hanya duduk-duduk saja di ruangannya. Sambil memeriksa beberapa SPK, yang akan dia berikan pada leader-leader yang satu tim dengannya.
Tok tok tok!
Clek!
"Mbak Linda masih pusing?"
Salah satu leader masuk dan bertanya kepada Linda. Karena tadi, dia memang mengatakan jika sedang pusing. Dan jika ada yang mencarinya, dia ada di ruangan supervisor.
"Ya masih," jawab Linda pendek.
"Sebaiknya ke klinik Mbak Linda," kata leader tersebut, memberikan saran.
"Udah mau istirahat ya? Aku nitip bungkus aja ya! Nanti Aku makan di ruangan ini."
"Tapi, kan gak boleh bawa makanan ke gedung produksi Mbak?" tanya leader tersebut dengan cemas.
"Bilang aja buat Aku. Mbak Linda nya sakit gitu." Linda mengajari leader tersebut, seandainya security menahan makanan yang akan di bawa nanti.
Tanpa menunggu jawaban dari leader tadi, Linda mengeluarkan selembar uang. "Ini nanti sekalian beliin obat masuk angin. Yang cair aja ya!" Linda diam sesaat, kemudian melanjutkan kalimatnya lagi, "Kamu sekalian kalau mau beli apa, pake uang itu aja."
Leader tersebut hanya mengangguk saja, kemudian menerima uang pemberian Linda. Meskipun dia tidak yakin, jika nanti bisa dibiarkan oleh pihak security. Untuk membawa makanan masuk ke gedung produksi.
Jadi, di perusahaan ini semua karyawannya di larang membawa makanan masuk ke area produksi. Jika ingin makan, ada tempat khusus. Yaitu di kantin.
Jika hanya membawa minuman, masih diperbolehkan. Untuk air minum, air putih, perusahaan menyediakan di seluruh devisi.
Tidak perlu khawatir jika akan kehausan selama bekerja. Karena air minum tersebut diproduksi sendiri oleh PAM perusahaan. Di area perusahaan ini juga.
Bel istirahat berbunyi. Semua karyawan berbondong-bondong keluar dari gedung. Mereka mencari teman dan tempat untuk menikmati makan siang mereka. Karena jam istirahat kerja, ada satu jam lamanya.
Linda yang tidak ingin ke mana-mana, hanya tiduran saja di ruangannya. Beralasan karton-karton yang masih baru. Untuk devisi packing.
Dia mencoba untuk memejamkan matanya, meskipun hanya sebentar saja. Agar rasa pusing dan yang dia rasakan bisa sedikit berkurang.
Sebenarnya tadi dia sudah ingin pergi ke klinik perusahaan sedari pagi. Tapi karena ada metting pada pukul sepuluh, akhirnya Linda mengurungkan niatnya. Karena metting ini berakhir pukul sebelas lebih. Linda pun batal pergi ke klinik.
Tadi Dia memang ikut metting, tapi dia hanya diam dan tidak ikut bicara apa-apa. Hanya memberikan laporan berkas yang sudah dia persiapkan sedari kemarin.
__ADS_1
Di saat Linda sedang tertidur, dia secara tidak sadar melihat seseorang sedang mendekat ke arahnya. Tapi Linda tidak melihat dengan jelas, siapa orang tersebut. Karena matanya seakan-akan kabur dan tidak bisa diajak kompromi.
Tapi dari gerakan tangan dan kakinya, orang tersebut datang untuk menyelimuti Linda.
Tak lama kemudian, saat ada seseorang yang membangunkan dirinya. Tapi ternyata orang tersebut adalah, leader yang tadi dia pesan untuk membawakan makanan.
"Mbak. Maaf ya jika Aku bangunkan," ucap leader tersebut, dengan menyerahkan plastik berisi makanan dan obat yang Linda pesan.
"Kamu yang tadi menyelimuti kakiku?" tanya Linda segera. Saat melihat kain yang biasa digunakan untuk menutupi mesin ada di bagian kakinya.
"Gak Mbak. Saya aja baru datang ini tadi," jawab leader tersebut.
Linda kembali berpikir bahwa, dia tadi sedang bermimpi. Tapi, kenapa kain itu benar-benar ada, dan menyelimuti bagian kakinya juga. Dan kebingungan Linda semakin bertambah besar, saat dia melihat segelas coklat hangat yang ada di meja kerjanya.
"Oh, ya sudah. Terima kasih ya."
Leader tersebut pamit untuk kembali ke tempat kerjanya. Dia juga menyarankan kepada Linda, supaya pergi periksa ke klinik. Jika rasa pusingnya belum juga hilang.
"Ya. Nanti Aku ke klinik."
Linda mengiyakan saja saran dari bawahnya itu. Toh dia memang berniat untuk pergi ke sana, agar bisa diperiksa oleh dokter perusahaan.
"Sebenarnya, siapa tadi ya?" gumam Linda, yang tidak mampu menebak siapa yang datang tadi.
Akhirnya, Linda bangkit dari tempatnya duduk. Di atas tumpukan karton yang tadi dia gunakan untuk alas tidur. Kemudian berjalan ke arah meja kerja.
Setelah duduk, Linda memegang gelas berisi coklat hangat yang ada di meja.
"Benar-benar masih hangat. Tapi siapa ya? Aku tidak jelas karena setengah sadar dalam tidur."
Linda kembali bertanya sendiri. Dan tentunya juga tidak ada yang bisa menjawabnya.
Dia mencoba untuk menghirup aroma coklat yang menenangkan. Dan sepertinya ini nikmat.
Perlahan-lahan, Linda menyerutup coklat tersebut. "Hemmm..."
Ternyata memang nikmat dan menenangkan. Sekali lagi, Linda menyerutup coklat tersebut dengan hati-hati. Sambil menghirup aromanya juga.
Dan ajaibnya, sekarang Linda merasa lebih baik daripada tadi.
Pusing di bagian kepalanya juga berkurang. Sehingga rasa lapar ikut datang. Akhirnya Linda tidak lagi menunda untuk makan siang, dengan makanan yang tadi dia pesan melalui salah satu leadernya.
__ADS_1
Rasanya memang biasa saja. Tapi karena dia sudah tidak merasakan pusing lagi, akhirnya bisa juga menikmati makanan siangnya tanpa rasa sakit yang tadi dia rasakan.
Bahkan sekarang, obat masuk angin yang ada pun, sepertinya tidak lagi diperlukan.
"Mungkin Aku juga tidak perlu ke klinik lagi nanti," kata Linda seorang diri. Setelah selesai makan dan kembali meminum coklatnya.
Meskipun di dalam hatinya masih ada banyak pertanyaan, yang berhubungan dengan coklat dan selimut yang ada di kakinya, tapi Linda tidak lagi memikirkan semua itu.
Yang penting, sekarang ini dia sudah merasa kembali sehat. Sehingga bisa bekerja lagi.
"Nanti bisa Aku tanyakan pada beberapa orang. Siapa tahu, ada yang melihat jika ada seseorang yang masuk ke dalam ruanganku tadi, di saat jam istirahat."
Begitulah akhirnya. Linda mencoba untuk mengabaikan rasa penasaran yang ada di dalam hatinya.
*****
Di pengilingan padi.
Mbak Nana kembali datang untuk menemui Ferry. Dia juga memesan beras, sama seperti biasanya.
"Dua karung Mas. Tapi yang satunya Aku ambil besok lagi ya!"
Sepertinya ini hanya taktik Mbak Nana, agar tetap bisa menemui Ferry setiap hari.
Ferry hanya mengangguk saja. Dia tahu, selain memang akan kesusahan membawa dua karung beras, ini juga alasan yang dibuat agar bisa tetap bertemu dengan dirinya.
Setelah membawakan satu karung beras ke sepeda motor mbak Nana, Ferry kembali ke dalam.
"Ini Mas uangnya."
Mbak Nana menyerahkan lima lembar uang seratusan, untuk membayar beras yang dia pesan.
"Mbak ini..."
"Iya Mas. Gak apa-apa. Buat jajan lebihannya." Mbak Nana tersenyum, dengan mengangguk pasti.
"Tapi Mbak, ini..."
Mbak Nana mengeleng cepat. Agar Ferry tidak menolak pemberiannya itu.
Ferry hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian mengangguk saja. Dia mau mendebatkan hal ini, karena bisa membuat curiga beberapa orang yang ada di pengilingan padi ini.
__ADS_1