Tante Melinda

Tante Melinda
Membahas Tentang Linda


__ADS_3

Usai menjemput Erli, Ferry berusaha untuk bisa menghubungi istrinya lagi. Dia ingin tahu, apa yang terjadi pada istrinya saat ini.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


Erli sudah duduk di atas kursi bantu, untuk tempat duduk anak-anak yang sedang naik motor. Dengan posisi di depan. Karena takutnya jika duduk di belakang adalah, jika anak mengantuk, bisa terjatuh. Karena tidak diketahui oleh orang tuanya yang sedang berkonsentrasi pada lajunya kendaraan bermotor.


Hampir saja Ferry menutup panggilan telepon, dan menghidupkan mesin motor. Di saat Linda menerima panggilan telponnya.


..."Halo Mas Ferry!"...


..."Ya Dek, ada apa? Mas sedang ada di sekolah Erli. Ini udah Mas jemput kok."...


..."Ohhh... emhhh, itu Mas. Linda, Linda ada di rumah bapak. Tapi, sekarang menuju ke arah rumah sakit."...


..."Rumah sakit? Maksud nya?"...


Ferry tentu saja merasa sangat kaget, mendengar isterinya sedang berada di dalam perjalanan menuju ke arah rumah sakit.


Apalagi tadi Linda juga mengatakan jika, dia sedang berada di rumah ibunya. Dan bukan di tempat kerja. Padahal seharusnya jam sekian, Linda belum waktunya untuk pulang.


Akhirnya Linda menceritakan tentang keadaan bapaknya. Juga usahanya tadi, saat mencoba untuk menghubungi dirinya. Tapi ternyata, handphone milik suaminya dalam keadaan tidak aktif.


..."Oh iya Dek ma_maaf. Hape Mas, hapenya low batt tadi. Ini, ini baru selesai di cas dan diaktifkan pas jemput Erli."...


..."Ohhh..."...


..."Oh ya Dek. Bapak di bawa ke rumah sakit mana? nanti Mas nyusul."...


..."Di rumah saja mas. Kasihan gak ada yang jagain Erli nanti. Ini menuju ke rumah sakit daerah."...


..."Danang sama ibu ikut juga?"...


..."Iya ikut. Mas pulang ke rumah ibu aja ya! Dan itu hapenya diaktifkan terus. Nanti jika ada apa-apa, Linda gampang kasih kabar."...


..."Iya Dek. Nanti kalau Erli ada yang jaga Mas nyusul."...

__ADS_1


..."Iya Mas."...


Klik!


Erli yang sedari tadi hanya diam saja, sekarang mulai bertanya. Di saat papanya selesai bicara dengan mamanya di telpon.


"Mama kenapa Pa?"


"Mama gak kenapa-kenapa Sayang. Yang sakit Mbah Kung. Nanti, kita pulang ke rumah Mbah ya! Terus Erli ikut sama bulek atau budhe yang dekat rumah Mbah."


"Papa nyusul Mama ke rumah sakit."


"Erli ikut Pa!"


Erli merengek minta ikut pergi ke rumah sakit. Karena dia merasa sangat khawatir dengan keadaan Mbah Kung nya.


"Tapi anak-anak tidak boleh masuk ke dalam rumah sakit Sayang. Nanti Erli malah di tahan di pos security bagaimana?"


Erli cemberut, mendengar jawaban dari papanya. Karena dia tidak diperbolehkan untuk ikut ke rumah sakit. Padahal, dia juga ingin melihat keadaan Mbah Kung nya.


Dalam hati Ferry, dia merasa lega. Karena alasan yang dia miliki, tidak dipertanyakan oleh istrinya. Karena ternyata, kekhawatirannya yang tadi, juga tidak beralasan. Linda tidak mungkin tahu, apa yang dia lakukan di luar sana. Karena Linda, tidak tahu no hape orang-orang yang ada di pengilingan padi. Bahkan, no hape pemilik pengilingan padi, Linda juga tidak tahu.


*****


Di perusahaan.


Pak Rudi sedang menunggu kedatangan pak Komarudin. Dia sudah menghubungi teman dekatnya itu, untuk membahas mengenai keinginannya. Yang sudah dia sampaikan beberapa waktu yang lalu. Untuk mengambil Linda kembali, ke devisi yang lebih dekat dengan ruangan kerjanya.


Sebenarnya, pak Komarudin sudah capek dan bosan dengan keinginan pak Rudi ini. Karena dia merasa jika, Linda tidak akan mau jika harus pindah ke tempat yang sama seperti dulu.


Bahkan, pak Komarudin sudah mengusulkan supaya Linda di pindah tugas ke gedung tempatnya saja.


Tapi tentu saja itu ditentang oleh pak Rudi. Bahkan pak Rudi langsung menghubungi pak Yus, yang ada di bagian HDR, supaya tidak menyetujui permintaan dari pak Komarudin. Padahal pak Komarudin juga belum pernah mengatakan permintaannya itu pada pak Yus.


Dia hanya ingin membuat pak Rudi panik saja. Karena dia sangat tahu, bagaimana perasaan pak Rudi. Akan lupa diri, dalam keadaan marah. Tapi akan menyesali keputusannya, jika sudah sadar lagi.


Sama halnya seperti dulu, di saat dia marah. Karena Linda tidak mau menurut untuk dijadikan asisten managenya. Kemudian memindahkan Linda ke devisi sewing.

__ADS_1


Tapi setelah beberapa saat kemudian, dia menyesalkan sikap dan keputusannya sendiri. Sehingga ingin meminta Linda balik lagi.


Sayangnya, semua itu tidak mudah dia lakukan lagi. Apalagi, Linda juga tidak mau dipindahkan pada saat itu.


Menurut pak Komarudin, Linda sudah merasa nyaman berada di devisi sewing. Karena Linda juga tidak mau pindah ke gedung yang dipimpin pak Komarudin.


Ini sudah pernah dibahas pak Komarudin dengan Linda sendiri. Tapi tentu saja tanpa sepengetahuan dari pak Rudi. Karena mereka membahas hal tersebut melalui pesan singkat saja.


Tidak ada pertemuan ataupun kencan lagi, sama seperti dulu. Di saat awal-awal Linda bekerja.


"Lama kali Kamu pak Komar!"


"Haisss... baru telat dua menit aja ini!"


Pak Rudi langsung menegur pak Komarudin, pada saat temannya itu tiba di depannya.


Tapi tentu saja pak Rudi juga tidak mau kalah. Dia melihat jam tangannya, dan memang dia sudah telat dua menit, dari jam yang sudah mereka sepakati bersama untuk bertemu.


Dua orang manager gedung bertemu, itu adalah hal yang wajar. Karena bisa dipastikan jika akan ada banyak sekali bahasan yang bisa mereka berdua bicarakan. Terkait orderan produksi, atau kuantitas yang bisa meningkatkan nama baik perusahaan juga.


Orang lain tidak akan pernah menyangka bahwa, pertemuan mereka berdua kaki ini, jauh dari kata biasa. Hal yang tidak akan pernah disangka-sangka.


Karena pertemuan mereka berdua kali ini, khusus untuk membicarakan tentang supervisor Linda. Yang akhir-akhir ini santer terdengar gosip tentang Linda. Jika wanita yang pernah dekat dengan mereka berdua itu, sekarang ini dijuluki sebagai Tante Melinda.


Yang artinya jika, Linda lebih suka dengan laki-laki muda, alias brondong.


"Apa pak Rudi punya bukti, atau pernah melihatnya sendiri?"


Akhirnya pak Komarudin bertanya, sebelum pak Rudi mengatakan sesuatu tentang Linda.


"Ah, banyak kali yang ngomong itu pak Komarudin. Gak usah cari bukti lagi lah!"


Pak Komarudin hanya tersenyum tipis, mendengar jawaban yang diberikan oleh pak Rudi. Dia sudah terbiasa, menghadapi hal-hal semacam ini. Karena dia sudah sangat paham, dengan mantan atasannya itu.


"Yang dibicarakan banyak orang itu adiknya Linda sendiri pak Rudi."


Pak Rudi memicingkan mata, melihat ke arah pak Komarudin. Mungkin dia tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh pak Rudi barusan.

__ADS_1


"Adiknya Linda? maksud Kamu Danang?"


Dengan sangat yakin, pak Komarudin mengangguk mengiyakan pertanyaan dari pak Rudi.


__ADS_2