Tante Melinda

Tante Melinda
Persiapan Melamar


__ADS_3

Linda sudah selesai memasak. Tidak ada yang bisa dia kerjakan juga di rumah. Erli juga tidak ada, jadi praktis dia hanya bisa diam dan bengong saja sendirian.


Mau ke rumah ibunya, untuk menjemput Erli, tidak ada sepeda motor di rumah.


Jadi, dia putuskan untuk menghubungi Ferry, pamit jika dua pergi ke rumah ibunya.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


..."Ya Dek. Ada apa?"...


..."Mas, Aku ke rumah ibu ya sekarang? mau jemput Erli."...


..."Nanti saja Dek. Mas sebentar lagi juga pulang kok. Ini tinggal menata beberapa karung padi saja."...


..."Memangnya langsung beroperasi hari ini Mas?"...


..."Gak Dek. Besok pagi saja. Mas juga maunya kita adakan selamatan dulu, secara kecil-kecilan. Agar usaha Mas ini diberikan kemudahan dan kelancaran."...


..."Lho Mas, besok pagi kan Linda melamar pekerjaan lagi. Siapa yang mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan selamatan itu Mas?"...


..."Gak apa-apa Dek. Nanti Mas bisa pesan ke istri temannya Mas. Ada kok, yang catering dekat pertigaan menuju ke kantor polisi itu lho Dek."...


..."Oh, yang itu ya?"...


..."Ya, biar Kamu juga gak repot."...


..."Iya Mas. Gak apa-apa. Tapi, Linda jadi gak bisa hadir Mas?" ...


Linda jadi merasa bersalah, karena besok tidak bisa ikut datang bersama, saat acara selamatan untuk usaha baru suaminya itu.


..."Gak apa-apa. Semoga semuanya dilancarkan. Kamu juga, melamar kerja nya di mudahkan dan tidak dipersulit lagi." ...


..."Ya Mas. Terima kasih."...


..."Oh ya, tunggu Mas sebentar ya! Mas segera pulang jika ini sudah selesai semua. Tinggal dikit lagi kok."...


..."Ya Mas. Linda tunggu." ...


Klik!


Linda tersenyum sendiri, mengingat bahwa sekarang ini suaminya itu sudah banyak berubah.


Selain tidak lagi berbuat kasar, Ferry juga mau berusaha, melakukan pekerjaan yang cukup kasar.


Secara dulunya, waktu masih berstatus sebagai seorang polisi, dia hanya melakukan usahanya itu dengan bertindak sebagai seorang Bos. Yang hanya tinggal memberikan perintah dan tunjuk saja.


Tapi sekarang, suaminya itu mau ikut terjun langsung, dengan mengerjakan pekerjaan kasar tersebut.

__ADS_1


Linda berharap supaya, semuanya akan tetap sama seperti sekarang ini. Meskipun suaminya itu sudah tidak lagi menjadi seorang polisi lagi.


Linda tetap bersyukur, meskipun tidak ada lagi jabatan sebagai seorang abdi negara.


Mungkin karena itu juga, suaminya itu jadi ikut berubah menjadi lebih baik daripada kemarin-kemarin.


*****


Di kota besar.


Romi sedang mempersiapkan segala sesuatunya, untuk acara lamaran yang akan dia lakukan untuk keponakan dari pemilik kontrakan.


Meskipun sekarang ini rumah yang dia tempati sudah dia beli, dan bukan berstatus rumah kontrakan, tapi Romi tetap masih bersikap baik dengan pemilik sebelumnya.


Bahkan, tanah yang dijadikan sebagai tempat usaha Romi, bengkel las miliknya itu, juga mau diminta uang dibeli oleh Romi saja.


Awalnya, Romi merasa tidak enak hati. Ka merasa takut jika, dianggap merayu bapak-bapak yang sudah tua, untuk menjual rumah dan bahkan sekarang tanahnya juga, kepada dirinya yang sebenarnya bukanlah siapa-siapa di kota besar ini.


Tapi bapak pemilik kontrakan, menyakinkan dirinya bahwa, dia tidak merasa keberatan atau ditipu oleh Romi.


Bapak tersebut merasa jika, Romi adalah pemuda dan laki-laki yang baik. Taat beribadah dan ramah.


Karena ternyata, bapak tersebut memperhatikan bagaimana Romi sejak datang pertama kalinya.


Dan karena menilai Romi sebagai seorang laki-laki yang baik itulah, dia menyarankan untuk menikahi keponakannya yang baru saja selesai kuliah.


"Tapi Pak, Saya tidak punya pendidikan yang tinggi, sama seperti keponakannya Bapak."


"Hehehe... menikah itu, tidak cukup hanya memandang calon dari segi tingginya pendidikan, kedudukan atau hartanya. Tapi yang utama itu di sini!"


Bapak kontrakan menyakinkan Romi, dengan menunjuk ke dadanya sendiri.


Dia menyakinkan pada Romi bahwa, dia dan keluarga keponakannya itu, hanya menilai Romi dari akhlaknya dan ketaatan Romi beribadah selama ini.


Ini karena, tak jauh dari rumah yang sekarang ini sudah menjadi milik Romi, ada masjid yang letaknya ada di samping rumah tersebut.


Dan Romi, selalu terlihat ikut berjamaah di masjid tersebut.


Bahkan, jika di bulan Ramadhan, Romi juga ikut mengaji atau tadarusan jika selesai tarawih.


Itulah sebabnya, bapak tersebut yakin jika Romi orang yang baik, dan cocok untuk dijadikan menantu. Namun sayangnya, dia tidak memiliki anak perempuan.


Tapi dia punya keponakan cewek, dari adik perempuannya. Dan pada saat dikenalkan, keponakannya itu terlihat menyukai Romi juga.


"Tidak perlu repot-repot memikirkan banyak hal Nak Romi. Yang penting Kamu ada niat baik, keluarga adikku dengan senang hati menerima dirimu sebagai menantunya."


Dengan semua dorongan semangat dari bapak kontrakan itulah, Romi akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Dan kini, dia sedang mempersiapkan diri untuk melamar keponakannya itu.


"Tapi, Aku tidak tahu ukuran jarinya. Bagaimana cara Aku beli cincin pertunangan ini?" tanya Romi dengan bergumam seorang diri.

__ADS_1


Tapi karena dia memang tidak pernah berbicara dengan cewek yang mau dia lamar secara intens, karena semuanya dari perantara bapak tersebut, akhirnya dia juga memutuskan untuk bertanya pada bapak kontrakannya.


Romi menghidupkan mesin motornya, untuk menemui bapak tersebut di gang sebelah.


Rumahnya memang tidak terlalu jauh, tapi di kota besar, jarak yang cukup dekat pun, terkesan menjadi lebih jauh dari jarak yang sebenarnya.


Tak lama kemudian, Romi sudah sampai di rumah yang dia tuju.


Setelah memarkirkan sepeda motornya, Romi berjalan menuju ke pintu, kemudian mengetuknya.


Tok tok tok!


Tok tok tok!


"Assalamualaikum..."


Rumah tampak sepi, dan bibi pembantu yang biasa ada di teras bangunan rumah di sebelah rumah utama, juga tidak tampak.


Romi melihat pergelangan tangannya. Ternyata, jam menunjuk pada angka sepuluh lebih.


"Mungkin bibi pembantu sedang masak. Dan bapak pergi ke pasar," gumam Romi, yang masih ada di depan pintu rumah.


"Anak-anak juga pastinya sedang sekolah, atau kuliah."


Istri dari bapak kontrakan, memang berjualan di pasar. Mereka ada beberapa kios, yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Dan beberapa kios juga mereka sewakan untuk orang lain.


Sedangkan anak-anak mereka, sudah ada yang menikah. Tapi masih ada dua orang. yang satu kuliah, dan satunya lagi kelas tiga SMA.


"Assalamualaikum..."


Romi mencoba untuk mengucapkan salam lagi. Berharap agar ada seseorang yang ada di dalam rumah, bisa menjawab salamnya.


Klek!


"Waallaikumsalam..."


"Eh, Mas Romi."


Bibi pembantu rumah menjawab salam dari Romi. Dia juga keluar dari dalam rumah. Tapi dari bangunan yang ada di sebelah rumah utama.


Bibi pembantu memang cukup mengenal siapa Romi. Jadi dia tidak kaget, saat Romi datang untuk bertamu.


"Ya Bi. Mau cari bapak. Ada gak ya?"


"Waduh Mas, maaf. Tadi bapak baru saja pergi setengah jam yang lalu. Tapi gak ngomong mau ke mana tuh Mas," jawab bibi pembantu, memberikan penjelasan kepada Romi.


"Telpon saja Mas jika penting!" ucap bibi lagi, menyambung perkataannya yang tadi.


Akhirnya, Romi mengangguk mengiyakan perkataan bibi pembantu. Tapi, dia juga pamit untuk pergi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ya Bi. Nanti Saya telpon bapak. Saya permisi dulu ya Bi! Assalamualaikum..."


"Ya Mas. Waallaikumsalam."


__ADS_2