Tante Melinda

Tante Melinda
Rencana Tinggal Rencana


__ADS_3

Di tempat kerja.


Danang sedang duduk di hadapan pak Yus. Dia sedang mengajukan permohonan cuti untuk kakaknya, Linda, selama dua hari kedepannya. Dan untuk dirinya sendiri, untuk dua hari kemudian. Setelah kakaknya masuk kerja lagi.


"Jadi ini Kamu, ngajuin cutinya dua hari setelah cuti kakak Kamu Linda?"


"Ya Pak," jawan Danang, sambil menganggukkan kepalanya. Menjawab pertanyaan dari pak Yus.


"Memangnya bapak sakit apa?"


Pak Yus jutsru bertanya pada Danang, tentang keadaan bapaknya. Yang saat ini sedang berada di rumah sakit.


"Darah tinggi Pak."


Pak Yus mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Danang.


"Harus waspada ya di umur-umur seperti Saya ini juga. Rawan dengan berbagai macam jenis penyakit. Apalagi, sekolah kok vonis dokter itu banyak sekali macamnya."


"Mereka itu, para dokter, semakin pandai dan ilmu kedokteran juga semakin hebat. Tapi kenapa jenis penyakit juga makin banyak dan bervariasi juga ya? Macam jenis-jenis makanan aja. Haduhhh..."


Danang tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh pak Yus kali ini.


'Aneh-aneh aja ini pak yus.' Danang membatin.


Setelah menyelesaikan urusannya di HRD, Danang pamit untuk kembali ke ruangannya sendiri. Yaitu bagain PPIC.


Setelah kepergian Danang, pak Yus segera menghubungi pak Rudi. Dia ingin memberitahukan kepada pak Rudi, manager gedungnya Linda. Jika ada anak buahnya yang tidak masuk hari ini dan besoknya juga.


Tut tut tut!


Sambungan telpon masih mode menuggu. Sehingga pak Yus mengetik pesan pada pak Rudi, agar segera menyambungkan panggilan telpon darinya.


Tut tut tut!


Pak Yus sekali lagi menekan tombol call. Dan benar saja, tak lama kemudian, pak Rudi menerima panggilan telpon tersebut.


..."Ya pak Yus. Ada apa?"...


..."Hai! Ada anak buah Kamu yang tidak masuk hari ini. Apa Kamu tahu?"...


..."Siapa? Jangan buat tebak-tebakan. Jika tidak penting, lenih baik kerja aja sana! menganggu orang sibuk aja Kamu ini."...


..."Hahaha... yakin gak penting ini?"...


..."Cepat katakan, siapa?"...


..."Mau traktir Aku di mana nanti?"...

__ADS_1


..."Ah, kampang Kau! Berita tidak jelas udah mau malak traktiran."...


..."Hahaha... Aku yakin pak Rudi. Kamu pasti gak bakalan nyesel."...


Pak Yus jutsru memutar-mutar perkataannya, sehingga membuat pak Rudi jengkel.


Tapi dia justru merasa senang, karena berhasil membuat pak Rudi marah di pagi hari.


Pak Yus tidak tahu, jika ada banyak permasalahan di bagian produksi. Seperti yang di pimpin oleh seorang manager. Tidak sama seperti bagian office, seperti pak Yus itu.


Apalagi juga permasalahan itu terkait barang yang harus segera dikirim. Karena tanggal ekspor, sudah mepet atau kelewat.


..."Linda mengajukan permohonan cuti untuk dia hari ke depan."...


..."Hah! Dia hari? Kok bisa? Dia gak minta persetujuan dari Saya. Gak minta tanda tangan juga. Bagaimana bisa cuti?"...


..."Barusan adiknya yang datang mengurusnya. Katanya, Linda sedang menunggui bapaknya yang sedang sakit di rumah sakit."...


..."Bawa surat keterangan dari rumah sakit tidak?"...


..."Ya bawa lah. Dia kan tahu aturannya juga pak Rudi. Ini juga adiknya itu sekalian mengajukan cuti juga. Tapi untuk dua hari mendatang. Gantian gitu sama si Linda nya."...


Pak Rudi terdiam sejenak. Dia memang belum tahu, jika hari ini Linda tidak masuk kerja.


Biasanya, ada orang yang memberitahu dirinya. Jika ada apa-apa yang terjadi pada Linda.


..."Psk Yus. Bagaimana permintaan yang Saya ajukan kemarin? bersama dengan pak Komarudin."...


..."Wah, itu belum ada keputusan. Soalnya, pihak TKA yang mendampingi devisi sewing, tidak memberikan ijin untuk kepindahan Linda. Jadi susah itu." ...


..."Kalau begitu, pindah ke gedung pak Komarudin aja. Terserah mau di taruh di devisi apa saja. Yang penting, dia pindah ke sana." ...


..."Kenapa pak Rudi? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Linda? Atau ini karena pak Rudi yang merasa bersalah, karena sudah memindahkan posisi Linda."...


..."Ah sudahlah. Bicarakan ini nanti saja. Jika kita ketemu." ...


..."Oh oke pak Rudi. Siap!" ...


Klik!


Perbincangan antara pak Rudi dan pak Yus, melalui telpon sudah selesai.


Sudut bibir pak Yus, tampak tersenyum. Dia merasa berhasil membuat pak Rudi kelabakan.


'*Rasain. Makanya jangan coba-coba untuk banyak bacotan, hanya karena Kamu bisa dekat dengan linda.'


'Nyatanya, saat Kamu berusaha untuk membuat Linda jauh, Aku yang melanjutkan semuanya. Jadi, kamu gak akan bisa dekat lagi dengan Linda. Hehehe*...'

__ADS_1


Tenyata, kepindahan Linda yang diminta oleh pak Rudi atau pak Komarudin, memang dihalangi oleh pak Yus.


Semua alasan yang diberikan, hanya akal-akalan pak Yus sendiri. Karena pak Yus merasa sakit hati, pada saat pak Rudi menyombongkan diri sendiri. Karena sudah bisa mendekati Linda. Bahkan, bisa menguasai Linda juga.


Pak Yus juga tidak mau jika, Linda pindah ke gedung pak Komarudin. Karena dia juga merasa sakit hati pada pak Komarudin, yang memang setali tiga uang dengan pak Rudi.


'*Kapok Kalian berdua. Hehehe... meskipun Aku tidak bisa mendekatinya Linda. Setidaknya Kalian berdua juga tidak bisa memiliki dan menikmati Linda.'


'Ah jahat Aku. Hahaha*...'


Batin pak Yus, merasa bahagia. Karena misinya untuk balas dendam kepada pak Rudi dan pak Komarudin berhasil. Dan ini tidak akan pernah dicurigai oleh siapapun. Asalkan dia tidak keceplosan ngomong sendiri.


*****


Di pengilingan padi.


Mbak Nana datang lagi. Dia membawa rantang makan, untuk diberikan kepada Ferry.


"Mas. Ini Aku sengaja masak untuk mas Ferry makan siang nanti."


"Terima kasih banyak Mbak. Tidak perlu repot-repot lho!"


"Gak kok Mas. Aku gak merasa repot."


Akhirnya mereka berdua, terlibat perbincangan yang hangat. Tapi tidak membahas hal-hal yang masuk kategori pribadi.


Mereka berdua juga tidak mau jika, orang-orang yang datang untuk membeli beras Ferry jadi curiga dan membicarakan mereka di luar sana.


Tentu mereka juga tidak mau, seandainya berita tentang mereka berdua terdengar di telinganya Linda.


"Bapak mertuaku ada di rumah sakit. Dan istriku menunggui di sana."


"Oh, sakit apa Mas?" tanya mbak Nana ingin tahu.


"Belum jelas juga. Aku belum bertanya tentang hasil lab dan CT scan kemarin."


Ferry akhirnya mengatakan juga bahwa, dia saat ini tidur di rumah mertuanya juga. Karena Erli juga mau ada di sana.


"Duh, kita gak bisa jalan dong Mas?" bisik mbak Nana sambil tersenyum canggung. Terlihat jika sedang dalam keadaan kecewa.


"Emhhh... untuk sementara ini emang tidak bisa Mbak. Tapi..."


"Setelah bapak mertua mas Ferry sembuh, harus diagendakan lho ya!" pinta mbak Nana dengan manja.


Tapi dia tetap melihat kiri kanan, berjaga-jaga supaya tidak ada yang tahu dan mendengar perkataannya yang tadi.


Ferry hanya mengangguk saja. Menangapi perkataan yang diucapkan oleh mbak Nana.

__ADS_1


Mereka berdua tidak tahu, bagaimana keadaan yang akan mereka hadapi. Jika Linda tahu kebenaran tentang mereka berdua.


__ADS_2