Tante Melinda

Tante Melinda
Kangen


__ADS_3

"Ada apa Sayang?" tanya simbah putrinya, melihat kedatangan Erli, yang berteriak-teriak memanggil mamanya.


"Erli menang Mbah Putri. Erli menang Mbah Kung!" pamer Erli pada kedua simbahnya, yang ada di depan TV.


Dia menyerahkan bungkusan hadiah, yang tadi dia terima di sekolah.


"Hadiah apa ini Sayang?" tanya simbah putrinya lagi.


Akhirnya Erli menceritakan kepada simbah putri dan simbah kakungnya, bahwa tadi ada lomba menyanyi dan membaca puisi di sekolah. Tapi dia hanya menang yang membaca puisi, karena tidak bisa menyanyi.


"Wahhh... bagus sekali Sayang. Selamat ya!"


Simbah putrinya, mengucapkan selamat kepada Erli. Dengan mencium kedua pipi cucunya itu.


Begitu juga dengan simbah kakungnya, yang juga mengucapkan selamat kepadanya.


"Mama mana?"


Erli menanyakan keberadaan mamanya, yang tidak terlihat diantara kedua simbahnya itu.


Dengan menunjuk ke arah kamar, simbah putrinya memberikan penjelasan kepada Erli. Supaya dia menghibur mamanya, dengan memberitahukan keberhasilannya ini.


Tentu saja Erli menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan simbah putrinya.


Di dalam kamar.


Linda tidak mendengar suara pintu kamar yang dibuka oleh Erli. Dia sedang melamun, sehingga tidak memperhatikan keadaan sekitarnya.


"Ma. Mama!"


Di saat Erli berteriak-teriak memanggilnya, barulah linda tersadar.


"Eh, iya Sayang."


"Ma. Erli dapat hadiah!"


Erli kembali menceritakan tentang keberhasilannya, yang menang dalam lomba membaca puisi di sekolah.


Dia juga diceritakan bahwa, tadinya, dia sudah sempat mencoba untuk ikut lomba bernyanyi. Tapi dia kalah, sehingga dia tidak bisa memenangkan hadiahnya.


"Tidak apa-apa Sayang. Mama tetap bangga kepadamu." Linda tersenyum, agar anaknya itu tidak ikut merasakan kegelisahan hatinya.


Sekarang, Linda meminta kepada anaknya itu, untuk segera berganti pakaian seragam sekolahnya, dengan pakaian rumah. Kemudian makan siang bersama dengannya.


Anaknya itu, tidak mau makan. Jika tidak ditemani oleh mamanya.


Dulu, Erli terbiasa dengan papanya, yaitu Ferry. Tapi karena Ferry sudah tidak ada lagi, sekarang dia menjadi terbiasa bersama dengan Linda.


Meskipun belum bisa menerima kenyataan, jika papanya itu telah tiada. Sebagaimana seseorang yang sudah dewasa, dalam artian mengerti, dengan keadaan yang sebenarnya.


"Anaknya Mama... sini Sayang! kita makan dulu ya!" Linda mengajak Erli untuk keluar dari kamar, kemudian mengajaknya makan siang.

__ADS_1


*****


Romi baru saja tiba di rumah, jam sepuluh pagi. Dia terlambat, karena harus menolong anak kecil, yang sedang sakit bersama ibu dan kakaknya di perjalanan semalam.


Sekarang, dia ingin tidur terlebih dahulu. Karena rasa lelah dan ngantuk setelah perjalanan jauh. Dia akan pergi ke rumah Linda nanti sore, atau malam hari. Di saat adiknya sudah pulang kerja.


Romi pulang ke rumah juga tidak memberi kabar kepada Della, sehingga Della tidak mengetahui jika, kakaknya itu sudah tiba di rumahnya pagi ini.


"Sebaiknya Aku menghubungi Della atau gak ya?" batin Romi bertanya.


Dia ingin datang bersama adik dan adik iparnya nanti malam, supaya ada alasan untuk datang ke rumah Linda.


"Iya. Sebaiknya Aku menghubungi Della saja."


Akhirnya, sebelum memutuskan untuk beristirahat, Romi menghubungi adiknya terlebih dahulu. Untuk memberikan kabar bahwa, saat ini dia sudah berada di rumah.


Untungnya, dia membawa kunci rumah sendiri. Sehingga dia tidak perlu meminta adiknya untuk pulang, hanya untuk membukakan pintu untuknya.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


Tapi ternyata, panggilan telpon untuk Della tidak tersambung. Mungkin Della sedang sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tidak bisa menerima panggilan tersebut.


Akhirnya Romi memutuskan untuk menghubungi Danang saja, supaya waktu istirahat nanti, Danang memberikan kabar ini pada adiknya, Della. Yang saat ini sudah menjadi istrinya Danang.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


..."Waallaikumsalam Nang. Kabar Mas baik. Ini Nang, Mas sekarang ada di rumah. Tolong nanti sampaikan pada Della ya!"...


..."Mas Romi di rumah? Kapan pulang Mas? Kok gak kabar-kabar. Memangnya ada apa Mas Romi?"...


..."Ya, ini baru sampai rumah kok. Gak apa-apa. Ini karena ada insiden sedikit semalam, tapi semua sudah beres."...


..."Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Ya Mas, nanti Danang kasih tahu Della."...


..."Terima kasih ya Nang. Soalnya, Aku telpon Della tidak bisa sedari tadi."...


..."Oh iya Mas. Tadi pagi dia bilang mau mengurus BPJS beberapa karyawan baru ke kantor. Jadi mungkin dia sedang dalam perjalanan, atau sudah ada di kantor BPJS."...


..."Ya sudah gak apa-apa. Kalian pulang ke rumah kan nanti?"...


..."Ya Mas. Kami pulang ke rumah."...


..."Ya sudah kalau begitu. Aku mau istirahat dulu ya. Assalamualaikum..."...


..."Waallaikumsalam..."...


Klik!

__ADS_1


Romi menghela nafas panjang, setelah menutup panggilan telpon untuk Danang.


Nanti malam, dia ingin bicara dengan adik dan adik iparnya itu, untuk membicarakan maksud dan tujuannya pulang ke kampung.


Dia sangat berharap agar kedua adiknya itu, menyetujui niatnya kali ini.


Setelah selesai membersihkan diri, Romi masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Dia sudah mengunci pintu rumahnya kembali, agar tidak ada yang datang atau mencarinya, untuk mengganggu istirahatnya.


*****


Di pabrik.


Aria dan Febriyanto, sedang membicarakan keadaan Linda, yang belum membaik dan tidak bisa berangkat kerja dalam jangka waktu yang lama.


"Kasian Mbak Linda ya, jadi gak bisa berangkat kerja nih," ucap aprianto dengan wajah sedih.


"Halahhh... kasihan apa Kamu kangen?" ledek Aria pada rekan kerjanya itu.


"Ya dua-duanya sih! emangnya Kamu nggak?" tanya Febriyanto balik, setelah menjawab pertanyaan dari Aria.


"Emhhh... sama juga sih! kangen melihat wajahnya yang cantik ya hehehe..." Aria terkekeh sendiri, karena merasa geli dengan jawaban yang diberikan.


Dulunya, dia adalah orang yang jutek pada Linda. Dan terlihat tidak peduli.


Padahal yang sebenarnya adalah, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia juga mengagumi sosok seorang Linda.


Tapi dia tidak mau menunjukkannya, sama seperti orang-orang yang mengagumi Linda selama ini.


"Huuu... dasar!"


Febriyanto mengolok-olok Aria, karena ingat, bagaimana sikap Aria. Di awal-awal Linda pindah ke gudang material ini.


Aria hanya tersenyum tipis, merasa canggung dengan olok-olok Febriyanto.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka sama-sama terdiam, dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kira-kira, mbak Linda sedang apa ya sekarang?"


Tiba-tiba, Febriyanto bertanya tentang Linda pada Aria. Meskipun sebenarnya, pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya sendiri. Karena saat ini, mereka sedang tidak punya banyak pekerjaan. Sehingga membuat mereka berdua bisa bergurau, berbincang, dan melamun tentang apa saja yang mereka inginkan.


Plak!


Aria menepuk kening Febriyanto, supaya temannya itu sadar. Dengan menegurnya juga. "Sadar woiii! Ini masih pagi, dan malam Minggu masih dua hari lagi."


"Apa apa hubungannya?" tanya Febriyanto bingung. Mendengar perkataannya Aria.


"Pikir sendiri, apa hubungannya pertanyaan yang kamu ajukan tadi, dengan waktu malam minggu!" sahut Aria mengomentari tentang apa yang ditanyakan temannya.


"Dasar Kamu aneh!"


Febriyanto menyahuti komentar Aria, yang tidak dia mengerti.

__ADS_1


__ADS_2