
Seminggu kemudian.
Semua berjalan normal lagi. Linda dengan pekerjaannya di pabrik, Ferry dengan jualan berasnya. Dan Erli, juga masih sekolah seperti biasanya.
Siang ini, Ferry baru saja mau istirahat. Sebelum dia pergi menjemput Erli di sekolah. Ada mbak Nana yang datang bersama dengan suaminya.
Mendapat kunjungan dari sepasang suami istri yang sudah membawanya ke dalam masalah besar bagi keutuhan keluarganya. Ferry marah. Tapi dia masih bisa menahan diri untuk tidak melampiaskan amarahnya itu dengan sembarangan.
Dia hanya kesal, karena mereka berdua sudah merencanakan konspirasi. Yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.
"Mau apa kalian ke sini?"
Tatapan mata Ferry nyalang karena marah saat bertanya, membuat mbak Nana menciut. Ferry melihat ke arah perutnya mbak Nana, yang masih rata. Dan sedang merapat ke tubuh suaminya. Meminta perlindungan dari suaminya yang seorang pelayaran.
Dengan tubuh yang juga padat berisi, sama seperti Ferry, ternyata dia tidak berisi untuk benihnya.
Senyuman miring terbit di sudut bibirnya Ferry, melihat bagaimana keadaan mereka berdua. Yang nyata-nyata sudah menipunya selama ini.
"Maaf Mas Ferry. Kami tidak bermaksud untuk menipu Anda. Bukan, bukan begitu maksud kami."
Ketegangan yang terjadi diantara mereka bertiga, menimbulkan rasa penasaran dan ingin tahu, dari para pekerja di pengilingan padi ini.
Dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya suaminya mbak Nana meminta waktu untuk bicara dengan Ferry di tempat lain. Dia ingin membicarakan soal kehamilan mbak Nana padanya.
Sebenarnya Ferry sudah tidak lagi ingin berurusan dengan mbak Nana. Apalagi dengan suaminya.
Tapi daripada dia menjadi pembicaraan orang-orang di pengilingan padi, akhirnya Ferry mengikuti usulan mereka. Yang mengajaknya untuk bicara soal ini di tempat lain.
Akhirnya mereka bertiga pergi keluar. Mencari tempat yang bisa membuat mereka bisa bicara lebih baik dari pada tadi.
"Maaf Mas Ferry. Sebenarnya, ini memang sudah lama kami ingin bicarakan dengan Anda. Tapi, takutnya Anda tidak setuju dan marah karena rencana kami ini."
"Kami, khususnya Saya, sebenarnya sudah menyelidiki tetang identitas Anda. Yang sebelumnya menjadi seorang polisi."
Ferry masih diam dan berpikir keras, dengan semua yang dikatakan oleh suaminya mbak Nana.
"Kami jamin, semuanya aman. Dan tidak akan ada tuntutan apa-apa dikemudian hari nanti."
__ADS_1
"Kami berdua, akan pindah ke kota lama kami. Dan rumah yang di sini, kami berikan pada Anda Mas Ferry."
Ferry menatap tajam ke arah suaminya mbak Nana. Dia tidak mengerti, bagaimana sebenarnya jalan pikiran sepasang suami istri. Yang sudah menjebaknya ke permasalahan pelik seperti ini.
Setelah dia dijadikan pendonor benih bayi, tanpa dia ketahui, kini disodori dengan rumah mereka yang akan ditinggalkan.
Dia seperti penjahat yang menjual benihnya sendiri. Kepada pasangan gila seperti mereka berdua.
Hal yang tidak pernah masuk akal untuk ukuran orang-orang yang waras.
Tapi saat Ferry menolak tawaran tersebut, dengan tegas suaminya mbak Nana memaksa. Supaya Ferry menerima pemberian atau hadiah tersebut.
"Ini kami berikan, supaya tidak ada masalah lagi kedepannya nanti. Kami juga tidak mau memiliki hubungan apapun dengan Anda. Meskipun ada darah yang sama di dalam tubuh anak kami dengan Anda."
"Kami tidak akan menuntut apa-apa, begitu juga dengan anda dan keluarga Anda. Semua cukup sampai di sini."
"Untuk urusan rumah, surat-surat kepemilikan akan di urus oleh notaris. Dan akan segera di kirim ke alamat rumah Anda. Kami akan pergi dari kota ini nanti malam."
Ferry tidak bisa berkata-kata lagi. Karena semua didominasi oleh suaminya mbak Nana.
Sedangkan mbak Nana sendiri, hanya diam saja dengan tenang di sisi suaminya. Tidak menambah atau mengurangi perkataan yang diucapkan oleh suaminya tadi.
"Terima kasih untuk waktunya. Kami pamit untuk pulang."
"Maaf ya Mas untuk semuanya. Dan terima kasih untuk hari-hari bersama kita selama ini."
Mbak Nana pun tak malu dan tidak merasa segan untuk mengatakan semua itu di depan suaminya.
Ini membuat Ferry melongo. Karena sikap keduanya yang ternyata sebebas itu menilai sebuah hubungan dan kehidupan yang mereka jalani.
Setelah mbak Nana dan suaminya pergi, Ferry menghela nafas panjang berkali-kali. Membuang segala pikiran dan sesak di dalam dadanya. Semua rasa yang berkecamuk dalam seminggu ini.
"Dek. Aku memang bodoh!" rutuk Ferry pada diri sendiri.
*****
Di pabrik.
__ADS_1
Linda sedang dalam masalah. Semua orderan produksi yang dihasilkan tidak semua standar mutu dan waktunya untuk ekspor.
Dia mendapat teguran dan surat peringatan dari manager dan pihak pekerja asing yang menjadi pendamping di gedungnya.
"Apa-apaan ini supervisor Linda? Apa Anda tidak becus bekerja?"
"Anda dan tim akan kena SP 3 sekaligus!"
Linda tidak menyangkal ataupun berusaha untuk membela diri. Dia tahu, dia salah. Tapi dia juga tahu, jika ada kesengajaan di dalam kesalahan tim nya kali ini.
"Maaf Mr Lee. Sebaiknya tim Saya tidak usah di SP. Biar Saya saja. Ini murni kesalahan Saya sendiri."
Linda berusaha untuk melindungi anak buahnya, agar tidak terkena dampak dari kesalahan yang tidak mereka lakukan. Dan dia siap untuk dimutasi, bahkan dikeluarkan sekalipun.
"Anda tahu supervisor Linda? Jika Anda yang menerima sendiri SP nya, mereka-mereka tidak akan ada yang berpikir ulang. Dan kesalahan yang sama akan terulang lagi di kemudian hari."
Linda paham dengan perkataan Mr Lee, yang sedang marah-marah dengannya.
Di sisi Mr Lee, ada pak Rudi yang hanya diam saja sedari tadi. Dia belum mengatakan apa-apa, karena Mr Lee sudah mendominasi pembicaraan.
"Pak Rudi, siapkan SP 3 sekaligus untuk mereka semua. Dan untuk supervisor Linda, mutasi dia ke gudang bahan!"
Linda tercengang dengan keputusan yang diambil oleh Mr Lee. Sedangkan pak Rudi, kaget saat mendengar keputusan tersebut.
"Mr Lee. Bagaimana bisa dia bebas dari tanggung jawab produksi yang gagal ini?" tanya pak Rudi meminta pendapatnya Mr Lee, yang sudah membuat keputusan tanpa bicara terlebih dahulu dengannya.
"Itu tugas pak Rudi sebagai manager."
Perkataan terakhir Mr Lee, tidak mungkin dibantah oleh pak Rudi ataupun Linda sendiri.
Dan begitulah akhirnya. Linda hari ini juga, dipindah tugaskan ke bagian gudang bahan produksi. Bahan atau material yang belum diproses ke bagian produksi.
Sedangkan pak Rudi, harus mengatur semua pekerjaan Linda yang gagal.
"Ah sialll! Kenapa jadi begini sih ceritanya!" um_pat pak Rudi kesal.
Dia tentu saja kesal dan jengkel. Tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena sudah diputuskan oleh Mr Lee. Apalagi, sebenarnya kesalahan yang terjadi di tim Linda, juga ada campur tangannya. Yang dilakukan oleh orang suruhannya juga.
__ADS_1
Sayangnya, dia juga yang harus menanggung beban kesalahan tersebut. Dengan mencari orang lain yang bisa dipekerjakan sebagai penggantinya Linda.