
Di kampung, Linda dan Romi tinggal di rumah ibunya Linda. Begitu juga dengan Danang dengan Della. Rumah itu jadi ramai, dengan adanya Erli juga.
Apalagi, rumahnya Linda, peninggalan dari mendiang Ferry, sudah mulai dikontrak oleh orang lain sebulan yang lalu.
Jadi seandainya dia pulang ke kampung, tinggal untuk sementara di rumah ibunya atau ke rumah Romi. Yang satu desa dengan Pamannya, meskipun letaknya lumayan jauh.
Tapi hari ini, mereka pergi ke rumah Romi. Sekalian mau menjenguk pamannya.
"Kamu gak apa-apa kan Dek? Kita hari ini mau jenguk Paman. Tapi jika Kamu gak nyaman atau apa, gak usah ikut gak apa-apa."
Mendapat pertanyaan dan kebebasan untuk memilih, Linda justru malah menjadi bingung sendiri. Karena dia memikirkan banyak hal, seandainya dia ikut atau tidak ke rumah pamannya Romi.
Jika dia ikut menjenguk Pamannya Romi, dia tidak tahu apakah masih memiliki rasa ketakutan atau rasa ketakutan itu sudah tidak ada lagi. Tapi jika dia tidak ikut, dia juga merasa tidak enak hati dengan bibi dari istri pamannya Romi. Apalagi dia menjadi menantu di keluarga mereka, juga belum bisa dikatakan lama.
Melihat kebingungan di wajah istrinya, Romi segera memegang lengan Linda. Untuk meyakinkan pada istrinya itu bahwa, dia tidak memberikan pilihan yang menyulitkan. Dan Linda memang bisa dengan bebas menentukan pilihan dan keinginannya.
"Tapi, tapi Linda gak enak hati sama bibi Mas." Linda berterus terang pada Romi, dengan apa yang dia rasakan saat ini. Seandainya dia titik ikut ke rumah pamannya.
"Emhhh... bagaimana jika Kamu ikut, tapi di luar atau ruang tamu aja. Gak usah ikut ke dalam atau menemui Paman. Apalagi, sekarang itu paman cuma ada dalam kamar saja, dan kamar itu sudah ada pintu besi. Jadi dia memang tidak bisa ke mana-mana, cuma ada di dalam kamar terus. Dan bibi yang membersihkan segala sesuatu yang ada di kamar tersebut. Baik itu kotoran atau apa, berganti baju dan semua keperluan manusia lainnya. Tapi bibi masuk dan pintu dikunci lagi, biar Paman gak lari."
Mendengar penjelaskan yang diberikan oleh Romi, Linda sedikit lega. Tapi dia juga merasa ada yang aneh. Karena dia memang tidak tahu jika, pamannya Romi itu sudah benar-benar tidak waras lagi.
"Kenapa harus di pintu besi Mas?" tanya Linda ingin tahu. Karena tiang bayangkan hal itu sangat kejam.
"Jika tidak seperti itu, dia akan keluar dan membuat onar bahkan tidak pernah berkeliling sekitar dan itu dalam keadaan sudah telanjang. Begitu yang pernah bibi ceritakan."
Linda meringis ngilu, membayangkan bagaimana bibinya yang merasa malu. Dengan kondisi suaminya yang dalam keadaan gangguan mental.
"Separah itu Mas?" tanya Linda kaget.
Romi menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh istrinya itu.
"Istri keduanya gak pernah ikut bantu merawat paman?" Akhirnya Linda bertanya pada Romi, dengan sesuatu yang dipikirkannya tadi.
__ADS_1
"Hhh... dia tidak bisa ikut merawat paman. Dia sudah menceraikan paman, dan katanya cari kerja untuk menghidupi anak-anak. Dan bibi tidak bisa melarang atau mencegahnya. Karena bibi juga tidak bisa memberikan nafkah untuk menggantikan posisi paman, pada istri keduanya itu."
Linda merasa miris juga dengan nasib keluarga pamannya Romi. Yang sepertinya bertolak belakang dengan kehidupan mereka, sekitar 2 tahun dan yang lalu. Yang pada waktu itu masih berjaya.
"Bagaimana Dek, Kamu mau ikut?" Romi kembali bertanya pada istrinya.
"Emhhh... Linda akan ikut. Linda akan mencoba melawan rasa ketakutan Linda ini."
Akhirnya, Linda memutuskan untuk ikut menjenguk Pamannya Romi. Untuk mengetahui keadaannya sendiri, apakah ketakutan yang dia miliki pada pamannya itu masih ada atau tidak.
"Ya sudah, kita bersiap. Nanti kita akan segera berangkat ke rumah paman, setelah Della dan Erli datang ya," ajak Romi, karena mereka memang menunggu Della dengan Erli yang sedang berjalan-jalan di jalanan kampung. Di saat Danang sudah berangkat kerja.
Linda hanya mengangguk saja, kemudian masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.
Setelah beberapa saat kemudian, Della bersama dengan Erli pulang. Dan melihat kedua kakaknya itu sudah menunggu dirinya, dalam keadaan rapi.
"Mau ke mana Mas, mbak?" tanya Della bingung. Karena dia lupa, jika kakaknya itu mau menjenguk pamannya.
Della dengan Danang, seminggu sekali datang ke rumah pamannya. Selain untuk menjenguk, Della juga membawakan bahan makanan dan sedikit uang, untuk biaya hidup mereka. Dengan di bantu kiriman atau transferan dari Romi.
Tapi karena Della tidak mau sendiri di rumah, sebab Danang sedang bekerja, akhirnya dia memutuskan untuk ikut pergi ke rumah pamannya saja.
"Della ikut saja deh Mas. Sebentar ya, Della siap-siap dulu!"
Romi menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan dari adiknya. Sedangkan Linda, mengajak Erli untuk masuk ke dalam kamar. Untuk bersiap-siap juga, karena Erli akan ikut dengan mereka.
Setelah semua selesai, mereka berangkat ke rumah pamannya Romi dengan menggunakan dua sepeda motor.
*****
Di pabrik.
Danang, yang sudah menjabat sebagai supervisor di bagian umum, tersandung kasus yang sebenarnya tidak pernah dia lakukan.
__ADS_1
Ada pencurian semen, sekitar 100 sak semen. Yang memang tersedia di gudang umum. Karena proses pembangunan gedung baru, dan beberapa batang besi dalam ukuran besar untuk pondasi cakar ayam.
Disebut pondasi cakar ayam karena bentuknya memang mirip seperti kaki hewan unggas tersebut, di mana di bagian bawah terdapat pipa-pipa beton yang menyerupai cakar alam. Fungsinya mencengkeram kuat tanah di bawahnya, agar bangunan yang dibangun di atasnya benar-benar berdiri kokoh.
Cakar ayam yang termasuk pondasi tipe struktur konstruksi, berfungsi meneruskan beban dari gedung atau bangunan ke lapisan tanah keras. Yang letaknya relatif dekat dengan permukaan tanah.
Artinya, fungsi cakar ayam memiliki fungsi yang kuat untuk mencengkeram kuat lahan yang ada di bawahnya, agar bangunan yang di atasnya memiliki konstruksi yang lebih kuat dan stabil.
Dan sekarang, Danang sedang berada di ruangan metting. Untuk protes tanya jawab atau interogasi sementara waktu. Karena belum sampai di laporkan ke polisi.
"Saya tidak melakukannya dan tidak pernah memberikan ijin pada siapapun, untuk melakukan pencurian. Bapak bisa cek cctv yang ada di beberapa tempat, di gudang, dan juga yang ada di jalan-jalan. Baik jalan utama atau gerbang yang di depan security itu, atau yang sejalur dengan gudang umum."
Danang memberikan pembelaan diri, atas tuduhan yang diberikan padanya. Padahal dia tidak pernah merasa melakukan semua tuduhan, yang diberikan padanya saat ini.
"Tapi, yang punya kuasa di bagian umum itu adalah Anda saudara Danang," sahut kepala bagian keamanan pabrik. Yang menjabat sebagai kepala security, merangkap sebagai anggota polisi juga, jika di luar perusahaan.
"Tapi, kenapa anak buah Anda juga bisa kecolongan atas pencurian ini? padahal pencurian ini bukan barang yang sedikit."
Danang balik menyerang kepala keamanan, karena memang sudah menjadi prosedur keamanan perusahaan, jika ada mobil yang keluar atau masuk itu akan diperiksa secara keseluruhan oleh pihak security.
Dan ini tidak berlaku untuk mobil untuk barang-barang saja, tapi juga mobil pribadi. Yang bertugas untuk mengantar dan menjemput mis dan mister di perusahaan ini.
Dan sudah menjadi rahasia umum, jika pengecekan di pos security tidak hanya sekedar di luar saja bersama dengan surat jalan. Tapi pemeriksa itu juga masuk, untuk memeriksa ke dalam. Jika itu adalah mobil box atau kontainer.
Jadi seandainya ada pencurian seperti ini, pihak security juga harus diperiksa dan dicurigai. Karena mereka bisa melepaskan mobil yang mengangkut barang-barang tersebut, keluar dari perusahaan ini.
Pendapat pertanyaan balik dari Danang, tentu saja kepala keamanan tersebut terdiam. Karena ini adalah tuduhan yang telak untuk devisi nya, sebagai bagian keamanan.
"Jika Bapak mau tahu dan menyelidiki kasus ini dengan benar, seharusnya Bapak meminta keterangan dan menyelidiki anak buah Bapak terlebih dahulu. Karena merekalah yang sebenarnya berjaga siang dan malam, dengan adanya siff. Sedangkan Saya, malam tidak mungkin ada di sini, karena bukan jam kerja."
Danang berani memberikan pernyataan seperti itu, karena dia memang tidak merasa melakukan semua pencurian tersebut.
Dan dia merasa yakin bahwa, ada kerjasama dari pihak pencuri dan juga security yang berjaga. Sehingga pencurian ini bisa lolos.
__ADS_1