Tante Melinda

Tante Melinda
Mampu


__ADS_3

Pagi ini Linda kembali bekerja di gudang material dengan bersemangat. Apalagi di gudang material ini, dia justru melewatinya dengan lebih santai. Karena tidak ada sistem target, sama seperti di devisi sewing ataupun devisi yang sebelumnya dia pegang. Di gedung yang dulunya di pimpin oleh pak Rudi ataupun pak Komarudin.


Di gudang material ini, dia hanya menerima nota permintaan dari gedung-gedung produksi. Kemudian mengawasi pengambil bahan material, mendatanya dan membuat laporan dalam buku besar dan memberikannya kepada admin yang bertugas mengarsipkan semua laporan.


Begitu juga saat ada bahan material yang datang. Pembongkaran dilakukan dengan bantuan mesin, yang dijalankan oleh para pekerja laki-laki.


Linda jadi teringat saat dia bekerja di gudang kayu, di waktu dua masih lajang dulu.


'Ternyata bekerja di gudang, dengan rekan kerja yang kebanyakan cowok, ada enaknya juga. Selain pekerjaan memang dominan untuk cowok, mereka juga tidak banyak bicara, sama seperti cewek.'


Linda membatin perbedaan tempatnya bekerja yang dulu dengan yang sekarang ini.


Dia jadi lebih tenang, meskipun jabatan tidak tinggi. Dengan pendapatan yang berkurang hanya 5% saja.


Itu tidak menjadi persoalan bagi Linda secara pribadi. Yang penting, dia merasa nyaman saja saat bekerja. Dan hal ini tidak dia dapatkan saat berada di gedung sebelumnya.


Ada saja rasa was-was, dengan berbagai macam persolan yang sering terjadi.


Entah itu karena dari sesama rekan, kesenjangan antar pekerja, atau karena produksi mereka yang bermasalah.


Meskipun orang-orang merasa prihatin dengan kondisinya yang diturunkan jabatannya, tapi bagi Linda justru sebagai berkah yang tidak pernah dia sangka-sangka.


"Mbak Linda!"


Dari tempatnya berdiri, Aria memanggil Linda yang sedang duduk bersama dengan admin dan juga Febrianto. Yaitu di sebuah material yang masih berbentuk gulungan.


"Ya Ar, ada apa?"


Linda pun akhirnya berdiri, dengan memberikan pertanyaan juga pada Aria.


"Tuh anak mendekat kek, jika ada perlu. Teriak-teriak gak jelas. Gak sopan." Febrianto justru ngedumel sendiri, melihat tingkah temannya, Aria.


Tapi Linda tidak menghiraukan perkataan Febrianto yang mengkritik temannya itu.


"Ada apa Ar?" tanya Linda, setelah dia sampai di dekatnya Aria berada.


"Ini ada nota dari gedung pak Komarudin. Tapi, Aku gak tau ini kode apaan!" Aria menyerahkan secarik kertas, semacam kwitansi nota pada umumnya. Dengan kepala surat mengunakan nama perusahaan, dan juga stempel dan semua tanda tangan pihak yang meminta material.


"Oh, ini kode untuk warna yang Lilac itu lho Ar. Dan ini... urgen ini! Sebab skedulnya tiga hari ke depan harus sudah kirim!"


"Feb! Febri!"

__ADS_1


Linda memangil Febrianto, supaya membantu Aria menyediakan bahan material yang di minta oleh gedung pak Komarudin.


"Ya Mbak!"


Febri menjawab panggilan Linda, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dan berjalan ke arah Linda dan Aria berada.


"Yang ambil bahan ke mana?" tanya Linda pada Aria, sebelum Febri tiba.


"Balik."


"Kok balik? Harusnya mereka nunggu kan? Atau Kamu mau mengantarkan sendiri Ar?" tanya Linda dengan situasi yang tidak biasanya terjadi.


"Kata yang kasih nota, dia akan kembali ke sini setengah jam lagi."


Aria segera mengajak Febri untuk mengurus material yang di minta tadi. Dia mengabaikan Linda yang mau bertanya lagi kepadanya.


'Kok bolak-balik sih! Apa gak ngabisin waktu mereka ya?' batin Linda, dengan melakukan orang yang tadi meminta bahan ke gudang.


Dia berpikir bahwa, itu tidaklah efektif. Karena membuang waktu dan tenaga.


Biasanya, jika bahan material yang diperlukan tidak urgen, orang-orang material akan menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, sesuai dengan surat atau nota yang dikirim lewat email petugas administrasi. Baru kemudian mengirimkan sesuai dengan jadwalnya juga.


Tapi jika dalam keadaan urgen seperti ini, orang yang datang meminta bahan akan menunggu dan membawanya sendiri. Sebab, mereka juga datangnya dengan mengunakan mobil Tosa. Bukan berjalan kaki.


*****


Karyawan yang ditugaskan untuk menyerahkan nota dan membawa bahan yang diperlukan datang lagi.


"Lho Mas, kenapa mesti di tinggal tadi?" tanya Linda protes pada karyawan tersebut.


"Tadi tak tinggal ke luar sebentar cari makanan. Ada yang pesen tadi." Karyawan tersebut menjawabnya dengan enteng, bahkan tidak merasa bersalah.


"Besok-besok jangan kayak gitu lagi lho Mas! nyiapin bahan urgen itu gak lama lho! Nanti di gedung, di kiranya kerjaan kami di gudang material yang lelet. Padahal Mas sendiri yang mencari kesempatan untuk bisa keluar."


Mas-mas yang diomeli Linda hanya menanggapi dengan cengengesan saja.


Ini membuat Linda merasa geram sendiri. Dengan tingkah laku karyawan tersebut.


"Aku bisa bicarakan ini dengan pak Komarudin ya! Biar Kamu kena teguran! Dan itu, kenapa security membiarkan karyawan keluar tanpa surat ijin resmi?"


Mas-mas tersebut hanya menunduk saja. Dia tidak tahu mau menjawab apa dengan pertanyaan yang diajukan oleh Linda.

__ADS_1


"Maaf Mbak. Saya tidak akan mengulanginya lagi," terang mas-mas tadi, dengan wajah yang pucat.


"Awas ya ketemu Saya lagi dalam keadaan seperti ini. Saya akan mengadukan kelakuan Kamu ini pada pihak terkait!"


Sebenarnya, Linda tidak asal ancam orang. Dia melakukan semua itu karena ada desas-desus tentang kinerja gudang material yang katanya seenaknya saja.


Padahal bukan begitu juga jika dalam keadaan urgen seperti tadi.


Pihak gudang akan mengutamakan nota urgen. Sayangnya, kadang kala orang yang diminta untuk mengambil bahan material yang menyalah gunakan waktu mereka. Sehingga terkesan lama, karena pihak gudang yang seenaknya saja.


"Maaf Mbak. Maaf!"


Linda hanya menghela nafas panjang, saat karyawan tersebut kembali meminta maaf.


Sedangkan Aria dan Febriyanto, hanya melihat Linda yang sedang menegur orang tersebut.


Dalam hati mereka berdua, tidak pernah menyangka. Jika Linda juga bisa tegas dan membela anak-anaknya yang berada di gudang material ini.


'Mbak Linda kalau ngamuk tetap cantik.' batin Febriyanto mengangumi Linda.


'Ternyata mbak Linda bisa tegas juga. Aku pikir cuma bisa menye-menye. Dan saat dia marah, kenapa aura kecantikan justru terlihat sangat memukau.' Aria yang biasanya ketus dan tidak bersimpati pada Linda, mengakui dalam hatinya. Jika Linda memang bukan hanya sekedar cantik saja.


*****


Di jam istirahat, Linda seperti biasanya, akan keluar mencari makan bersama Aria dan Febriyanto.


"Dek. Dek Linda!"


Merasa ada orang yang memanggil namanya, Linda mencari keberadaan orang tersebut.


"Kak Romi?"


Linda terkejut sendiri, karena Romi bisa menemukan dirinya, di antara para karyawan yang juga sedang berjalan keluar. Untuk mencari makan siang di jam istirahat kerja.


"Eh, kalian cari makan sendiri ya!"


Akhirnya Linda pamit pada Aria dan Febriyanto, karena dia akan ke tempat Romi berada. Yaitu di sisi tembok tinggi, sehat dengan gerbang masuk perusahaan.


"Kak Romi mau istirahat juga? Della mana?" tanya Linda, begitu dia sampai.


"Iya. Kakak sengaja nungguin Kamu Dek."

__ADS_1


Deg!


Linda tiba-tiba tidak bisa mengontrol degup jantungnya sendiri saat ini. Mendengar jawaban yang diberikan oleh Romi.


__ADS_2