Tante Melinda

Tante Melinda
Pulang Kampung


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Liburan semester telah tiba. Dan banyak sekali orang-orang kota yang sudah merencanakan untuk liburan mereka.


Baik itu pergi ke luar kota maupun hanya berlibur di dalam kota saja, dengan berkumpul bersama dengan keluarga, dan pergi ke taman-taman rekreasi serta hiburan.


Sama halnya dengan keluarga Romi.


Romi sudah memberikan janji pada Erli, untuk liburan ke rumah nenek dan kakeknya. Pada saat liburan semester tiba.


Jadi, sekarang mereka bertiga sedang mempersiapkan segala sesuatunya. Untuk perjalanan mereka pulang kampung, menemui kakek dan neneknya.


Apalagi saat ini, Della juga sudah dinyatakan berhasil melakukan program hamil. Sebab, adik-adik mereka baru saja memberikan kabar baik tersebut tiga hari yang lalu. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan bersama dengan Danang. Dan melakukan semua saran, dan jadwal. Yang sudah diberikan oleh dokter yang menangani mereka berdua.


Hal ini tentu saja membuat Linda dan Romi juga ikut senang. Begitu juga dengan Erli.


Bahkan Erli jadi sering bertanya, "Erli bisa main dengan adik bayinya Tante Della gak?" Hingga membuat Linda maupun Romi kadang kewalahan untuk memberikan jawaban.


Sebabnya, Erli akan bertanya ini itu, jika tidak mendapat jawaban yang memuaskan keingintahuan tentang bayi.


"Sayang, Erli. Dengar ya, Tante Della itu baru hamil. Bukannya udah lahiran. Jadi tidak ada adik bayi di rumah. Jadi nunggu, masih nunggu 9 bulan lagi Sayang." Linda mencoba memberikan penjelasan kepada anaknya.


Tapi hal ini membuat Erli kembali bertanya, "berarti adik bayinya di mana?"


"Di dalam perut Tante Della," sahut Romi, yang pada saat itu ikut berbincang bersama dengan mereka di ruang tamu.


"Berarti Erli masuk ke perutnya tante Della, terus ikut main sama adik di sana."


Linda dan Romi saling pandang, kemudian sama-sama tertawa bersama karena keinginan anaknya itu.


"Hahaha..."


"Hihihi Erli... Erli..."


Akhirnya Linda kembali memberikan penjelasan kepada Erli, supaya anaknya itu mengerti. Dan tidak lagi punya keinginan untuk bermain-main dengan adik bayi, yang masih ada di dalam perut.


"Erli gak bisa masuk ke dalam perut lagi. Jika yang masih dalam perut itu gak bisa jajan, gak bisa jalan-jalan, gak bisa naik mobil atau motor. Terus gak bisa sekolah juga. Erli mau seperti itu?" tanya Linda, setelah selesai memberikan beberapa alasan. Yang tentunya membuat Erli mengeleng cepat.


"Gak. Erli gak mau!" teriak Erli, mari dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


******


Di terminal bus, tempat di mana mereka akan naik bus yang menuju ke kampung halaman.

__ADS_1


"Ayo Sayang naik!"


Romi mengajak Linda dan Erli, untuk naik ke atas bus. Sesuai dengan bus yang tertera pada tiket yang sudah dia pesan.


Barang-barang bawaan mereka, yang tidak mereka perlukan sepanjang perjalanan, disimpan di dalam bagasi bus. Supaya tidak memenuhi tempat untuk mereka nanti.


Jadi, Linda dan Romi hanya membawa barang-barang yang ada dalam tas kecil, untuk keperluan mereka selama perjalanan malam ini. Seperti makanan ringan, minuman, obat-obatan yang mungkin saja dibutuhkan.


Setelah semua penumpang bus naik, bus segera berangkat pada pukul 07.00 malam.


Erli sudah tidak sabar untuk bisa sampai di rumah kakek neneknya di kampung.


"Mama kasih tahu Simbah gak? kalau Erli mau datang," tanya Erli, yang ingin membuat kedua simbahnya senang akan kedatangannya.


"Ya Simbah tahu kok, jika besok pagi kita akan sampai di rumah sana. Jadi Simbah kakung dan Simbah putri, sudah siap menyambut kedatangan Erli. Mereka berdua juga sudah kangen kok sama Kamu Sayang," terang Linda, dengan mencubit kedua pipi anaknya.


"Hehehe..."


Erli terkekeh senang, dengan penjelasan yang diberikan oleh mamanya itu. Sehingga dia tidak marah, pada saat kedua pipinya dicubit gemes juga.


Romi yang kebagian duduk tidak bersama mereka, karena posisi tempat duduk bus hanya 2 set 2set. Ikut tersenyum senang, melihat keadaan anak dan istrinya itu.


Tengah malam, Erli mereka kedinginan sehingga membangunkan mamanya yang juga dalam keadaan tertidur.


"Ehhh, emhhh... ya Sayang. Erli butuh apa?" tanya Linda terkejut, di saat dia terbangun karena tubuhnya di goyang-goyang oleh Erli.


"Dingin Ma," jawab Erli, dengan menggigil kedinginan.


Akhirnya Linda menutup AC, yang ada di atas tempat duduknya Erli. Dan juga tempat duduknya sendiri. Kemudian memberikan selimut tebal pada early dan juga menutup kepala Erli dengan kupluk, sehingga terhindar dari udara dingin AC bus.


Beanie atau kupluk umumnya terbuat dari rajutan benang wol dan cocok dipakai saat udara dingin.


Itulah sebabnya, Linda menyediakan 3 kupluk. Untuk digunakan mereka bertiga juga dalam perjalanan mereka malam ini.


"Mas, mas Romi!"


Linda mendekat ke tempat tidur suaminya, kemudian membangunkannya, dan menyerahkan kupluk untuk dipakai. Supaya tidak begitu kedinginan pada bagian kepalanya.


Romi menerima kupluk yang diberikan oleh istrinya, dengan melihat ke arah Erli. Yang sudah kembali tertidur nyenyak.


"Dia gak rewel kan?" tanya Romi, setelah memakai kupluk nya.


"Gak Mas. Dia cuma merasa kedinginan aja barusan. Makanya Aku pakaikan kupluk nya, soalnya tadi dia gak mau pakai sebelum tidur." terang Linda, memberikan penjelasan pada suaminya, supaya tidak perlu merasa khawatir tentang anaknya.

__ADS_1


Setelah melewati perjalanan selama semalam, akhirnya mereka bertiga sampai di tempat tujuan.


Mereka tidak perlu berhenti sampai di terminal, karena letak rumah ibunya Linda, justru jauh dari terminal sehingga mereka minta turun 20 km sebelum sampai di terminal daerahnya Linda.


Setelah itu, mereka naik ojek untuk bisa sampai di rumah.


Setelah menempuh perjalanan dengan ojek sekitar 20 menit, akhirnya mereka sampai di rumah ibunya Linda.


Setibanya di halaman rumah, ojek berhenti. Kemudian Erli berteriak memanggil Simbah putrinya yang sedang menyapu halaman depan rumah.


"Simbah Putri..."


"Assalamualaikum..."


"Waallaikumsalam..."


"Ya Allah... Erli!"


"Simbah pikir baru besok datangnya Nduk."


Mereka berdua, Erli dengan Simbah putrinya, saling berpelukan begitu mereka bertemu.


Simbah kakungnya, yang tadi masih berada di dalam rumah, akhirnya keluar untuk menyambut kedatangan cucu dan anak-anaknya.


Begitu juga dengan Danang dan Della.


Mereka berdua, juga ikut keluar. Karena mendengar teriakannya Erli di pagi hari. Karena saat ini mereka memang sudah tidak ada pukul setengah enam pagi.


Akhirnya pagi ini, di rumah ibunya Linda jadi ramai dengan celoteh Erli. Yang sepertinya tidak mau diam sedari tadi.


Ada saja yang dia bicarakan dan ceritakan sehingga membuat gelak tawa orang-orang dewasa di sekitarnya. Sehingga terasa sekali perbedaan antara ada Erli dan tidak ada Erli di rumah ini.


"Tante Della, nanti kalau adik bayinya sudah ada di luar, Erli bawa ke rumah yang ada di kota ya!" pinta Erli, dengan meminta ijin pada tantenya, Della, supaya diijinkan untuk mengajak anaknya ke kota besar.


Hal ini tentu saja membuat Danang dan Della tertawa-tawa, karena permintaan keponakannya itu.


"Kok gak Om aja sih yang diajak Erli?" Danang bertanya pada Erli, kenapa bukan dia yang diajak pergi ke kota sana.


"Gak mau! Erli mau sama adik bayinya aja. Kan dia gak akan nakal sama Erli. Kalau Om Danang, nanti cubit-cubit Erli terus!"


Mendengar alasan yang dibuat oleh keponakannya itu, Danang kembali tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha... "

__ADS_1


Di saat tertawa, Danang juga mencubit-cubit pipi Erli yang menggemaskan. Sehingga membuat keponakannya itu cemberut.


__ADS_2