
Awalnya Linda yang akan mengantarkan Erli sekolah. Tapi nyatanya Erli justru tidak mau. Karena dia ingin diantar papanya saja. Sehingga Ferry meminta Linda untuk membantu ibunya saja, yang sedang memasak. Karena akan kedatangan calon menantunya.
"Linda hanya ingin meringankan tugas Mas Ferry. Daripada pagi-pagi harus buru-buru, karena Erli masuk setengah delapan sekolahnya."
"Gak apa-apa Dek. Biar sama Mas saja."
Akhirnya Ferry pergi juga, sekalian mau mengantar Erli sekolah. Sama seperti biasanya di hari-hari lain.
Setelah suami dan anaknya pergi, Linda membantu ibunya di dapur. Sedangkan Danang sudah pamit setengah jam yang lalu, untuk menjemput Della di rumahnya sana.
"Linda. Kamu kenal dengan adiknya Romi?"
Ibunya Linda bertanya seperti itu, karena berharap Linda bisa memberi penilaian tentang Della, yang akan menjadi calon istri adiknya nanti.
"Iya tau Bu. Tapi cuma kenal saja, soalnya kami juga beda tempat kerjanya. Aku juga tahunya ya sekedar kenal saja sih."
Linda menjawab pertanyaan ibunya, dengan memberikan penjelasan yang memang begitulah adanya. Karena memang dia tidak begitu kenal dengan adiknya Romi.
"Maaf ya Lin, kalau Ibu bertanya seperti ini sama Kamu. Soalnya Kamu yang dulu pernah berhubungan sama Romi. Dan untuk itu ibu juga meminta maaf karena dulu ibu yang..."
"Bu sudah. Tidak usah dibahas lagi yang lalu. Semua sudah berlalu. Mas Romi juga sudah punya kebahagiaannya sendiri, begitu juga dengan Linda."
"Tapi Kamu benar-benar bahagia kan Lin? Ibu benar-benar merasa sangat bersalah, jika ternyata Kamu tidak bisa bahagia dalam pernikahan Kamu selama ini." Ibunya Linda justru mengungkit masa lalu.
"Apa maksud Ibu bertanya seperti itu? Ada Erli di antara kami, jadi ibu gak usah bertanya hal-hal yang seperti itu. Itu sama aja Ibu meragukan anak Ibu sendiri. Lagian kenapa sih harus bahas Linda? yang saat ini berhubungan itu Danang sama Della."
Linda mengingatkan ibunya, agar tidak membahas masa lalu lagi. Yang sudah tidak penting lagi untuknya. Karena sekarang, yang lebih penting adalah hubungan Danang dengan adiknya Romi, Della.
"Iya maaf Lin. Ibu hanya merasa bersalah saja sama Kamu dulu. Maaf ya!"
"Ya sudahlah Bu. Tidak usah diingat-ingat lagi. Linda berpikir jika mas Romi itu memang bukan jodoh Linda. Sudah gitu saja."
__ADS_1
Akhirnya diantara mereka berdua tidak ada yang saling berbicara lagi. Mereka hanya mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan di dapur.
Satu jam kemudian, Danang sudah datang bersama dengan Della.
"Assalamualaikum Bu, mbak Linda!"
Danang mengucapkan salam, begitu juga dengan Della yang ada di sampingnya.
Della akhirnya berkenalan dengan ibunya, kemudian berbincang seperti biasanya jika ada seseorang yang baru saja kenal. Hingga pada akhirnya, ibunya linda bertanya pada Della. Kekasih dari anak laki-laki nya.
"Maaf Nak Della. Ibu ini kan orang kampung. Jadi, Ibu mau tanya. Nak Della benar-benar mau sama anaknya ibu? si Danang ini. soalnya kami itu bukan orang kaya. Danang juga kerjanya masih kuli di pabrik, sama seperti nak Della juga. Sama seperti mbaknya Linda juga ini. Jadi misalkan nanti jadi istrinya Danang, nak Della harus bisa menyesuaikan dengan keadaan juga ya."
"Ibu sih setuju saja, cuma ibu juga ingin maaf. Jika Ibu ini tidak bisa menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang lebih baik gitu. Soalnya Ibu ini orang kampung, yang tidak berpendidikan. Jadi mohon dimaklumi ya!"
Ibunya Linda mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan kepada calon menantunya itu.
"Iya Bu. Della juga memaklumi kok, karena sebenarnya Della juga bukan orang kaya. Bahkan Della sudah tidak punya ayah dan ibu. Della cuma punya mas Romi saja.
Ibunya Linda menghela nafas panjang, karena merasa lega. Sudah bisa mengungkapkan apa yang menyesakkan dadanya saat mengingat Romi. Mantan kekasihnya Linda yang tidak dia restui.
Linda maupun Danang saling pandang, karena tidak pernah menyangka dengan pertanyaan yang diajukan oleh ibunya ini.
"Alhamdulillah sehat Bu mas Romi. Oh iya, tadi dia juga kirim salam buat Ibu dan Bapak."
Ibunya Linda berkaca-kaca, setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Della barusan. Karena ternyata Romi mengirim salam untuknya dan juga suaminya.
Untuk mengurangi rasa bersalah, dan menahan air matanya, ibunya Linda pamit untuk pergi ke belakang terlebih dahulu.
"Sebentar ya! Ibu siapkan makanan untuk kalian. Silahkan diteruskan perbincangannya."
Akhirnya, ibunya Linda pergi ke belakang. Membiarkan Della berbincang dengan Danang dan juga Linda. Sedangkan suaminya, ikut masuk ke dalam, meskipun hanya ke teras belakang. Bukan ikut membantu istrinya di dapur.
__ADS_1
"Bagaimana Del, betah kerja di sana?" tanya Linda mengalihkan pembicaraan yang tadi.
"Iya Mbak, betah kok."
Mereka bertiga kembali berbincang-bincang dengan santai, tentang apa saja yang bisa mereka bicarakan agar tidak ada kesan kaku dalam pertemuan mereka ini.
"Oh iya Dek, kira-kira Aku bisa lamar Kamu kapan? mas Romi sudah siapkan jadi wali nikah Kamu dalam waktu dekat ini?"
Linda dan juga Della, sama-sama mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Danang barusan.
"Kalau bisa sih gak usah lama-lama. Aku gak mau menggantung hubungan ini Del, biar cepet resmi aja." lanjut Danang memberikan penjelasan kepada Della.
"Tapi semua butuh persiapan Nang. Apa Kamu udah siap semuanya? soalnya kemarin tabungan Kamu baru dipakai buat biaya rumah sakit bapak lho!" Linda mengingatkan pada adiknya.
"Ada Mbak. Tapi ya dikit sih. Jika buat ngelamar aja ada, biar ada ikatan serius. Kalau buat nikah, ya Aku nabung lagi. Gak sekarang-sekarang juga. Meskipun sebenarnya maunya sekarang, hehehe..."
Della tersenyum malu-malu, mendengar perkataan kekasihnya yang berterus terang.
"Iya gak apa-apa. Nanti Mbak bantu dikit-dikit. Soalnya kalian juga umurnya udah cukuplah. Sudah dua lima yang Danang, yang Kamu dua tiga yang Del?"
Della hanya mengangguk dengan tersenyum, karena dia merasa sekarang sedang ujian untuk menjadi calon iparnya Linda.
Untungnya dia sudah kenal dengan Linda, dan tadi, ibu maupun bapaknya juga tidak mengajukan banyak pertanyaan. Yang bisa menyulitkan dirinya untuk menjawabnya.
Akhirnya ibunya datang dengan membawa makanan yang memang sudah dimasak bersama linda tadi pagi.
Linda pamit untuk membantu ibunya, mengeluarkan makanan-makanan yang memang diperuntukkan untuk menyambut Della. Yang akan menjadi anggota keluarga mereka juga nantinya.
"Ya ampun Bu, mbak Linda. Ini gak usah repot-repot gini. Della cuma main." Della merasa tidak enak hati, diperlukan layaknya seorang tamu yang agung.
"Iya gak apa-apa. Ini juga cuma makanan biasa. Dan Kamu masih menjadi tamu kami."
__ADS_1
Della tersenyum canggung, mendengar perkataan Linda. Dia merasa bahwa semuanya ini sudah dipersiapkan sedemikian rupa, untuk menyambutnya yang belum menjadi bagian dari keluarga mereka.
Jadi dia memang masih sebagai tamu di rumah ini.