Tante Melinda

Tante Melinda
Tentang Hal Lainnya


__ADS_3

Sore ini, setelah tadi seharian melakukan semua pekerjaan yang terkait dengan kedatangan visitor, membuat Linda merasa lebih lega.


Tapi, ada satu hal yang sangat dia tidak inginkan. Yaitu teka-teki yang belum bisa dia pecahkan, sedari dulu. Di saat dia juga mengalami hal yang sama seperti sekarang ini.


Yaitu adanya suara-suara aneh, yang seperti seseorang yang memanggil namanya.


Dulu, Linda pernah membahas mengenai hal ini pada pak Komarudin. Tapi jawaban yang diberikan oleh pak Komarudin, hanya biasa saja.


Linda di minta untuk tidak menanggapi hal seperti itu secara berlebihan.


Dan akhirnya, lama kelamaan Linda juga melupakannya. Seiring kesibukannya sebagai seorang leader, tanggung jawab dan pekerjaan yang semakin banyak juga.


Tapi sekarang, Linda mengalami hal yang sama seperti dulu. Dia merasa di teror lagi, dengan hal-hal yang tidak masuk akal menurut dia sendiri.


"Ada sebenarnya dengan devisi tempat aku kerja ya?" tanya Linda dengan bergumam.


Pluk!


Linda sangat terkejut, dengan tepukan di bahunya.


"Pak Komar!"


Ternyata, orang yang menepuk pundaknya adalah pak Komarudin. Laki-laki pertama, yang mampu membuat dirinya melayang, dan kepuasaan yang tidak bisa dia dapatkan dari suaminya sendiri.


"Kenapa Lin? Kamu berharap siapa memangnya?" tanya pak Komarudin dengan curiga.


Linda mengelengkan kepalanya, memberikan jawaban secara tidak langsung.


"Lalu? Terkejut seperti itu kenapa?"


Akhirnya, Linda menceritakan tentang kejadian yang dia alami lagi tadi. Pada saat ada suara yang memanggil namanya, tapi ternyata tidak ada orang yang merasa memanggil dirinya.


Pak Komarudin mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Linda barusan.


Dia, pak Komarudin, meskipun tidak lagi sebagai asisten manager di gedung ini, tentunya masih bisa dengan bebas berjalan-jalan ke mana saja yang dia inginkan.


Padahal, gedung tempat pak Komarudin bertugas sekarang ini ada di bagian paling ujung.

__ADS_1


Gedung baru yang belum semuanya beroperasi. Masih ada sebagian lagi, yang harus diperbaiki dan ditata sedemikian rupa. Sehingga bisa digunakan untuk keperluan produksi.


"Itu mungkin karena Kamu sedang capek, dan banyak pikiran. Jadi, Kamu seperti itu Lin," ujar pak Komarudin menanggapi cerita dari Linda.


"Gak Pak Komar. Mana mungkin Linda mendengar beberapa kali itu," sahut Linda, yang merasa yakin dengan apa yang tadi dia alami.


"Emhhh... apa ada yang gak suka sama Kamu?"


"Maksudnya Pak?" tanya Linda, yang belum paham dengan apa yang ditanyakan oleh pak Komarudin padanya.


"Ada musuh gitu Lin. Persaingan dalam devisi Kamu, atau dari devisi lainnya."


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh pak Komarudin, Linda menautkan kedua alisnya. Dia berpikir jika, selama ini tidak ada masalah dengan orang-orang di sekitarnya.


Setelah berpikir sejenak, Linda mengeleng beberapa kali. Dia merasa sangat yakin bahwa, dia tidak ada musuh.


"Lin. Di pabrik besar seperti ini, musuh kadang tidak terlihat. Bisa jadi, orang yang Kamu anggap sebagai teman paling baik, dia adalah musuh yang sebenarnya."


Perkataan yang diucapkan oleh pak Komarudin, dicerna perlahan-lahan oleh Linda.


Dia sebenarnya merasa tidak ada masalah dengan siapapun di gedung ini. Bahkan, dia juga sering membawakan makanan untuk anak buahnya. Jika waktu sehabis gajian atau ada lembur sampai malam.


"Bukan begitu Lin. Ini bisa jadi hanya menakut-nakuti Kamu saja. ingin menguji, sejauh mana Kamu bisa kuat di sini."


Linda mengangguk, meskipun dia belum bisa memastikan, jika apa yang dikatakan oleh pak Komarudin itu memang benar. Karena dia juga tidak pernah berhubungan dengan sesuatu yang klenik atau barang-barang mistis.


"Bagaimana kemarin pas training di Jakarta? Aman kan? atau Kamu jadi ketagihan?"


Pak Komarudin tiba-tiba bertanya pada Linda, hal yang sama sekali tidak ingin dia bicarakan dengan orang lain.


Apalagi, ini dengan pak Komarudin sendiri.


Selama hampir satu bulan ini, dan sejak pak Komarudin dipindahkan ke gedung lain sebagai manager, Linda dan pak Komarudin memang tidak ada waktu untuk bertemu dan berbicara secara intens.


Meskipun kadang-kadang ketemu, itu hanya sebatas say hello atau saling melempar senyuman.


Tidak ada kesempatan untuk bisa berbicara, meskipun itu diwaktu istirahat.

__ADS_1


Linda sadar jika, dirinya seperti dikuasai oleh pak Rudi. Karena dia selalu diberikan tugas dan pekerjaan yang banyak.


Jadilah Linda dan anak buahnya selalu ada lembur. Bahkan pada hari sabtu sekalipun, Linda juga harus lembur kerja. Jadi, dia benar-benar capek dan tidak ada kesempatan untuk berpikir hal yang lainnya.


Erli dan suaminya di rumah, juga terabaikan. Untungnya, Ferry tidak banyak protes.


Suaminya itu seperti tahu, bagaimana keadaan Linda yang memang sedang capek dan banyak pikiran.


"Biar Kamu gak stres, bagaimana jika malam ini Kamu ijin gak lembur. Tapi kita pergi sebentar. Mau kan?" tanya pak Komarudin, meminta pada Linda untuk mengikuti kemauannya.


"Emhhh, tapi bagaimana mungkin Pak? Anak-anak semuanya lembur. Masa Saya tidak ikut bersama mereka? Bisa-bisa, mereka akan merasa cemburu."


"Bagaimanapun, alasan capek yang akan Saya pakai, mereka semua tidak akan terima. Karena mereka juga pasti sama cepak nya seperti Saya juga."


Linda sebenarnya juga ingin pergi dengan pak Komarudin. Dia sudah lama tidak bisa melakukan apa-apa dengan pak Komarudin itu.


Meskipun ada pak Rudi yang lebih segalanya, baik keperkasaan dan durasinya bermain, tapi menurut Linda, pak Komarudin bisa membuatnya merasa sangat nyaman.


Pak Rudi itu sedikit egois dan mementingkan diri sendiri. Tidak mau mengerti bagaimana keadaan Linda jika selesai melakukan kegiatan mereka bersama.


Berbeda dengan pak Komarudin. Karena dengan pak Komarudin, Linda diperlakukan seperti seorang wanita yang tidak biasa


Apa-apa dilayani oleh pak Komarudin. Bahkan, untuk membersihkan sisa-sisa permainan mereka berdua, pak Komarudin tidak mengijinkan Linda untuk membersihkannya sendiri.


Selalu pak Komarudin yang melakukannya. Linda hanya diminta untuk tidur atau beristirahat saja.


"Bagaimana Lin?" tanya pak Komarudin memastikan.


"Nanti Linda coba minta ijin. Tapi jika tidak bisa, Linda juga akan segera memberikan kabar," jawab Linda, dengan wajah tersenyum dipaksakan.


Ada rasa kecewa di dalam hatinya Linda. Ini bukan karena apa-apa. Tapi karena kesewenang-wenangan pak Rudi, yang telah memisahkan dirinya dengan pak Komarudin.


Padahal, dia sudah memenuhi permintaan pak Rudi sewaktu di Jakarta dulu.


Meskipun setelah selesai, dan berada di kotanya ini, Linda belum pernah diminta pak Rudi lagi.


Tapi ternyata, pak Rudi punya rencana lain. Yang sudah dia pikirkan dan langsung dia realisasikan juga. Yaitu memindah tugaskan pak Komarudin ke gedung lain.

__ADS_1


Dengan alasan bahwa, di gedung itu perlu manager baru. Karena memang di gedung yang baru buka itu, belum ada manager yang mengatur dan mengurus segala sesuatunya.


Tapi Linda punya pemikiran yang lain. Dia merasa sangat yakin bahwa, ini semua adalah rencana dari pak Rudi sendiri. Yang ingin memisahkan dirinya dengan pak Komarudin.


__ADS_2