
"Kenapa Kamu sudah tidak perawan lagi?"
Polisi Ferry bertanya pada Linda, saat dalam perjalanan menuju ke kota besar.
Mereka berdua, berangkat ke sana, mengunakan angkutan bus antar kota propinsi.
Linda diam dan tidak langsung menjawab pertanyaan dari polisi Ferry, yang kemarin-kemarin, tidak mempermasalahkan soal itu.
Tapi, di dalam hatinya Linda merasa senang, dan berharap agar, polisi Ferry memutuskan untuk tidak melanjutkan niatnya, menjadikan dirinya sebagai seorang istri.
Linda berharap supaya, pengakuannya yang kemarin itu, menjadikan dirinya lepas dari pernikahan yang ditawarkan oleh polisi Ferry.
'Semua laki-laki, pasti menginginkan seorang istri yang masih perawan. Dan dialah orang pertama yang mendapatkan itu pada istrinya kelak. Apalagi dia seorang polisi, tentu saja tidak sulit, untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan Aku, hanya sebuah rasa penasaran, yang ingin dia dapatkan. Selain fisikku yang memang menarik dan berbeda diantaranya yang lain. Pasti, dia juga menginginkan Aku masih perawan.'
'Dengan pengakuanku yang sudah tidak lagi perawan, tentunya dia akan berpikir dua kali, untuk melanjutkan niatnya itu.'
Begitulah pikiran Linda, yang masih berharap jika, polisi Ferry akan secepatnya meninggalkan dirinya, karena tidak sesuai dengan yang dia inginkan.
"Apa Kamu pernah melakukan dengan pacar Kamu? atau dengan laki-laki lain?" tanya polisi Ferry lagi, yang belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan tadi.
Linda masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan dari polisi Ferry sama sekali.
"Mbak Linda. Apa pertanyaan yang Saya ajukan ini sulit untuk dijawab?"
Sepertinya, polisi Ferry tidak bisa menahan diri lagi, karena diamnya Linda.
Polisi Ferry tentu merasa penasaran, dengan pengakuan Linda yang kemarin itu. Dia ingin memastikan bahwa, Linda memang benar-benar sudah tidak lagi perawan, atau itu hanya alasannya saja, agar dia mundur dari niatannya.
"Jika pun Mbak Linda sudah tidak perawan, Saya masih mau kok. Niat Saya ingin menjadikan istri, bukan hanya sekedar mencari itu saja."
Linda melihat sekilas polisi Ferry, yang saat ini duduk di sampingnya.
"Lalu, kenapa Mbak Linda ingin bertemu dengan pacarnya lagi? bukannya dia tidak mau datang? atau ini ada hubungannya dengan keadaan Mbak Linda sesuai dengan pengakuan yang kemarin?"
Linda memejamkan mata, mendengar polisi Ferry yang terus menerus bertanya, tentang keadaan dirinya, dan Romi.
Mungkin, dalam hati polisi Ferry bertanya-tanya, mengapa Linda ngotot ingin datang ke kota besar, dan menemui Romi.
Dia pikir, Linda sudah melakukan semua hal dengan pacarnya itu, dan saat ini, Linda dalam keadaan yang tidak diketahui oleh orang lain.
Hamil misalnya.
Tapi akhirnya, polisi Ferry mengeleng beberapa kali. Membuang jauh-jauh pikiran yang ada di dalam hatinya, tentang Linda dan juga pacarnya, Romi.
__ADS_1
'Semoga semua rencana yang sudah Aku lakukan, berhasil,' kata polisi Ferry dalam hati.
*****
Pagi hari, Linda dan polisi Ferry yang sudah sampai di kota besar, mencari-cari alamat yang diberikan oleh Romi sendiri pada Linda.
Kemarin, Linda memang meminta alamat Romi di kota besar. Dia berkata bahwa, dia akan menyusul Romi ke kota besar.
Tapi Linda tidak pernah mengatakan kapan waktunya dia datang. Dia juga tidak mengatakan bahwa, dia akan datang bersama dengan polisi Ferry.
Setelah berkeliling mencari-cari alamat Romi, akhirnya mereka menemukan keberadaan Romi, yang ternyata, alamat itu adalah bengkel las miliknya Ferry.
Dan Ferry, juga memang tinggal di bengkel las berukuran sangat kecil itu.
"Ini tempatnya?" tanya polisi Ferry memastikan bahwa alamat itu memang benar.
Linda mengangguk sambil melihat ke layar handphonenya. Melihat alamat yang di kirim Romi, melalui pesan.
"Iya. Ini memang alamat bengkelnya."
Creekkk!
Pintu bengkel las baru saja di buka, meskipun mereka berdua, Linda dan polisi Ferry, tidak mengetuk pintunya.
Apalagi, kedatangan Linda dengan seorang cowok, yang menurut perkiraan Romi, dialah yang diceritakan oleh Linda sebagai polisi Ferry.
"Dek. Dek Linda?"
Romi yang terkejut, tidak percaya begitu saja, jika yang saat ini ada di depannya adalah Linda, pacarnya.
"Kak."
"Dek."
Romi hampir saja memeluk Linda, tapi tertahan saat sadar, jika ada polisi Ferry diantara mereka berdua.
"Kak. Kenapa tidak bisa pulang? Kakak baik-baik saja," ujar Linda, saat bertanya tentang keadaan Romi.
"Masuk dulu Dek. Mari Pak," ucap Romi, mempersilahkan ke dua tamunya itu untuk masuk.
Tapi, di saat Linda dan polisi Ferry baru saja masuk ke dalam, dan melihat isi bengkel yang berantakan dengan peralatan las dan juga bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan teralis jendela dan pagar rumah.
Linda memperhatikan bagaimana keadaan bengkel las miliknya Romi ini dengan kecewa.
__ADS_1
Sudah kecil, tidak ada tempat untuk duduk yang bisa dikatakan layak.
Tak lama kemudian, ada seseorang yang ikut masuk tanpa permisi.
"Mas Romi. Ini cuciannya sudah kelar."
Seorang wanita, dengan pakaian dan dandanan ala orang kota, berkata pada Romi, dengan membawa satu bungkusan kresek hitam yang lumayan besar, kemudian menyerahkannya pada Romi.
Linda melihat wanita itu dengan menyipitkan matanya.
Begitu juga dengan wanita tersebut. Dia melihat keberadaan Linda, dengan tatapan yang menyelidiki.
"Wah, makin laris aja mas Romi. Pagi-pagi sudah ada pelanggan yang datang memesan. Semangat ya Mas," ucap wanita itu.
Linda memperhatikan bagaimana gesture dan cara bicara wanita tersebut pada Romi.
Dan Linda akhirnya membulatkan tekad, untuk membuat sebuah keputusan yang dia ambil saat ini.
"Iya Ce. Terima kasih."
Terdengar Romi yang mengucapkan terima kasih, pada wanita tersebut.
Tak lama kemudian, setelah wanita itu pergi, Linda yang dipersilahkan untuk duduk di tempat yang seadanya, mengelengkan kepalanya.
"Terima kasih Kak. Sepertinya, Linda salah waktunya untuk datang ke sini."
Romi melihat Linda dengan bingung, saat selesai berkata.
"Sepertinya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kakak baik-baik saja dan tidak ada alasan yang membuat Linda harus terus menunggu tanpa kepastian."
Linda kembali berkata, dan tanpa menunggu apa yang akan dikatakan oleh Romi, dia mengajak polisi Ferry untuk kembali pulang.
"Ayo Pak. Kita pulang dan menikah."
Linda menarik tangan polisi Ferry, yang sedari tadi hanya diam saja.
"Oh ya, ini. Terima kasih untuk semuanya Kak." Linda menyerahkan handphone miliknya, yang dulunya memang dibelikan oleh Romi untuknya.
Meskipun setelahnya, bibir Linda terkantup rapat, untuk menahan diri agar tidak menangis di depan Romi.
Polisi Ferry hanya ikut dengan ajakan Linda. Tapi sebelum dia benar-benar keluar dari bengkel las Romi, dia melihat ke arah Romi yang terlihat jelas jika sedang sedih.
Tapi itu juga yang membuat senyuman misterius, terbit di bibir polisi Ferry.
__ADS_1
Tapi, tentu saja, Romi juga tidak bisa berbuat apa-apa, untuk bisa mencegah kepergian kekasih hatinya itu, dengan sebuah keputusan yang telah diambilnya juga.