Tante Melinda

Tante Melinda
Belum Tahu


__ADS_3

Piring yang digunakan Linda dan pak Komarudin, sudah bersih. Mereka berdua, sudah selesai makan.


"Mau nambah?" tanya pak Komarudin, menawari Linda.


"Tidak Pak. Ini sudah kenyang."


"Bagaimana masakannya, enak?" tanya pak Komarudin lagi.


Linda tersenyum malu-malu. Karena tadi, dia makan dengan lahapnya. Jarang-jarang dia makan dengan makanan enak seperti yang ada di sediakan di sini.


Belum lagi, dia juga merasa sangat senang, karena diperlukan dengan manja oleh pak Komarudin. Bagaikan seseorang yang sangat penting di hati atasannya itu.


"Syukurlah kalau enak. Ini masih ada banyak. Kamu bisa makan lagi, jika kita beristirahat setelah selesai melakukan hal yang lebih enak lagi nanti." Pak Komarudin, mengatakan apa yang ingin dia lakukan bersama dengan Linda.


Di saat Linda ingin membersihkan meja dan alat makan, pak Komarudin segera mencegahnya.


"Tidak usah. Kamu ke kamar mandi saja. Cuci muka dan gosok gigi. Biar ini Aku yang bereskan!" ucap pak Komarudin, sambil menarik tangan Linda, menuju ke kamar mandi.


Pak Komarudin kembali ke sofa, dan membersihkan semuanya. Dia terlihat sangat cekatan.


Di dalam kamar mandi, Linda merasa sangat senang. Dia memejamkan mata, menikmati semua yang baru dia rasakan saat ini.


Merasa diperhatikan dan diperlakukan seperti seorang wanita yang ada dalam impiannya selama ini. Meskipun sebenarnya, Linda sangat tahu. Jika apa yang dia lakukan ini tidak benar.


Sesaat, matanya tiba-tiba mengembun. Di saat teringat dengan suaminya, dan juga anaknya. Dia merasa sangat bersalah. Karena sudah melakukan semua ini.


Tapi sisi egois hatinya yang lain, membantah perasaan bersalahnya yang tiba-tiba datang. '*Aku juga berhak mendapatkan kebahagiaa*n.'


Linda sangat tahu bahwa, apa yang dia lakukan ini tidak benar dan tidak diperbolehkan.


Tok tok tok!


"Lin!"


Pintu kamar mandi di ketuk pak Komarudin dari luar. Mungkin, pak Komaruddin sedari tadi tidak mendengar suara kran air yang mengalir. Jadi dia berpikir jika Linda kenapa-kenapa.


"Ya Pak, sebentar lagi!'


Linda yang tersadar dari lamunannya, segera menjawab dari dalam kamar mandi.


Tapi dia tidak membuka pintu kamar mandi tersebut.

__ADS_1


Setelah membuang nafas panjang, barulah Linda membuka kran air untuk mencuci mukanya, dan juga gosok gigi.


Di luar, pak Komarudin menganti saluran acara televisi. Tapi dia segera menemukan keberadaan beberapa keping DVD yang tidak ada bungkusnya.


Jadi, DVD itu tidak diketahui secara pasti. Apa isinya.


Dengan rasa penasaran yang ada, pak Komarudin mencoba untuk menyalakan DVD tersebut.


Kaset film, yang bisa jadi sengaja disediakan oleh pihak pengelola tempat ini. Atau, milik pengunjung yang tertinggal secara tidak sengaja.


Satu film mulai diputar. Ternyata, isinya seperti yang ada di kepala pak Komarudin. Dia tampak tersenyum puas.


Setelah itu, dia mencoba untuk melihat yang lainnya. Dan yang lebih membuat pak Komarudin tersenyum senang adalah, semua isi kaset film tersebut, menayangkan hal yang sama.


Film itu memberikan tayangan yang membuat penonton panas dingin. Dan ini dengan berbagai cara. Dari yang lambat dan lembut, sampai dengan yang ekstrim dan kasar.


"Apa sebelumnya pengunjung adalah pemula, dan ingin memberikan pengalaman baru pada pasangannya?" tanya pak Komarudin sendiri, sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Klek!


Pintu kamar mandi terbuka. Linda berjalan mendekat ke tempat duduknya pak Komarudin.


"Pak. Apa itu?" tanya Linda, saat melihat tayangan televisi yang tidak lagi sama seperti yang tadi dia lihat.


Linda menoleh ke arah lain. Membuang rasa malu yang tiba-tiba datang, saat melihat adegan di layar televisi tersebut.


Tampak jelas sekali jika, di layar televisi tersebut memperlihatkan keadaan dua orang laki-laki dan perempuan, yang sedang melakukan hubungan suami istri.


Dari kata-kata yang diucapkan dan suaranya yang khas sedang senikmat kegiatan mereka berdua, Linda jadi merasa deg-degan sendiri. Dan secara tiba-tiba, ada sesuatu yang terjadi pada tubuh Linda.


Dia merasa panas dingin, meskipun tidak melihat ke arah layar televisi tersebut.


Apalagi, pak Komarudin yang tadi hanya diam, mulai membelai lembut bagian belakang lehernya.


Tapi karena pak Komarudin sadar jika dia belum gosok gigi, akhirnya dia mencoba untuk menahan diri terlebih dahulu.


Dia segera berlari ke arah kamar mandi.


"Aku gosok gigi dulu Lin!"


*****

__ADS_1


Ferry baru saja sampai di tempat tujuannya. Dia menepikan mobil yang dikendarai, kemudian bertanya pada pemilik pengilingan padi yang mengajaknya.


"Beneran di sini kan?" tanya Ferry memastikan bahwa tujuan mereka memang di tempat itu.


"Iya Ferr. Tenang saja. Aku akan menghubungi orangnya lagi," jawab pemilik pengilingan padi, sambil menepuk-nepuk pundak Ferry.


Berharap agar Ferry bersabar sebentar. Karena orang yang akan dia temui belum tampak.


Pemilik pengilingan padi tahu, bagaimana watak temannya ini, Ferry, yang tidak sabaran. Selalu ingin cepat dan didahulukan.


Sambil menunggu kedatangan orang yang belum datang, pemilik pengilingan padi mencoba untuk mengalihkan perhatian Ferry, dengan mengajaknya bicara tentang hal lainnya.


"Kamu kan udah kerja lagi Ferry. Gak kasihan liat istri Kamu kerja di pabrik?"


"Kerja di pabrik itu berat. Berangkat pagi pulang sore, bahkan malam hari. Belum lagi, istri Kamu itu sangat cantik. Bagaimana jika banyak sekali atasan atau TKA di sana yang menggodanya?"


"Dia tidak mau Aku suruh berhenti kerja. Bagaimana cara Aku minta lagi? Aku takut, jika itu akan membuat dirinya pergi."


Ferry sadar, jika selama ini dia tidak memperlakukan istrinya itu dengan baik. Apalagi, di saat dia masih menjadi seorang polisi. Dia sering memukul Linda.


Dia masih merasa beruntung dan berterima kasih pada istrinya itu. Karena tidak pernah melaporkan semua perbuatannya itu pada pihak kepolisian.


Linda juga tidak menuntut cerai. Dia justru memaafkan dirinya.


Itulah sebabnya, saat ini dia hanya bisa diam dan menurut saja. Dengan apa yang dilakukan oleh Linda.


"Oh iya Bos. Itu sawah yang kemarin Aku tawarkan tidak jadi."


Tiba-tiba, Ferry teringat dengan penawarannya kemarin, pada pemilik pengilingan padi ini.


"Sawah yang mana?" tanya pemilik pengilingan padi, yang lupa dengan apa yang mereka bicarakan kemarin.


"Itu, sawah bapak mertuaku. Gak jadi dijual."


"Oh uang itu. Kenapa gak jadi? udah dapat pinjaman dari luar?" tanya pemilik pengilingan padi, dengan menerka-nerka.


"Iya. Istriku berhasil mendapatkan pinjaman dari perusahaan."


Pemilik pengilingan padi, mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Ferry.


Tapi, di dalam hatinya justru ada yang mengganjal. Meskipun dia juga merasa tidak yakin dengan apa yang dia pikirkan saat ini.

__ADS_1


"Eh, itu Ferr orangnya!"


Pemilik pengilingan padi, menunjuk ke arah seseorang yang baru saja datang dengan mengunakan sepeda motor.


__ADS_2