Tante Melinda

Tante Melinda
Rasa Takut


__ADS_3

Saat ini, rumah Romi lumayan ramai, dengan adanya empat orang tamu di rumahnya.


Tamu tersebut adalah mantan istrinya bersama dengan pengasuhnya, ada Pak haji dan Bu haji yang akhirnya datang, setelah kedua tamu tadi.


Pak haji dan Bu haji, datang karena di telpon Romi. Sebab, kedua mantan mertuanya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai orang-orang yang sibuk di kantor masing-masing.


"Maaf nak Romi. Jika dia datang ke rumah ini dan membuat kekacauan."


Pak haji mengucapkan permintaan maafnya, atas semua yang sudah dilakukan oleh keponakannya, yaitu mantan istrinya Romi.


Mantan istrinya itu, masih ngotot untuk tetap tinggal di rumah ini. Karena dia masih beranggapan bahwa, dia adalah istri dari Romi. Dan Linda hanyalah seorang wanita yang sudah merebut suaminya.


"Tapi Paman. Aku adalah istri dari mas Romi! mana ada istri yang disuruh pergi? Dan wanita jal4ng itu justru yang ada di rumah ini. Apa Paman sudah tidak Sayang lagi sama Aku? Apa salahku Paman?"


Bu haji hanya bisa mengelus-elus lengan keponakannya yang sudah hilang akal.


"Mas. Aku takut jika dia besok-besok datang lagi ke sini. Mas tahu kan, Linda tidak bisa berlari, seandainya dia nekat," terang Linda jujur dengan rasa takutnya.


Dia memang mulai membiasakan diri untuk berkata apa adanya tentang perasaan yang ada di hatinya. Apalagi pada suaminya sendiri.


Linda tidak mau jika, suaminya yang tidak tegaan itu akan memperbolehkan mantan istrinya untuk selalu datang atau justru ikut tinggal di rumah ini. Entah itu untuk alasan kesembuhannya atau alasan yang lain.


Mungkin Linda merasa trauma juga, seandainya saja Romi akan merasa bersimpati atas penyakit mantan istrinya. Dan memperbolehkan nya untuk tinggal di sini, karena itu bisa membuat Romi dan mantan istrinya kembali dekat, sehingga kejadian Mbak Nana bersama dengan Ferry dulu akan terulang lagi.


Ketakutan Linda, yang menjadikan dirinya punya ketakutan dan berprasangka buruk sebelum atas kedekatan suaminya dengan wanita lain.


Tapi Pak haji dan Bu haji, juga tidak mungkin membiarkan keponakan itu untuk tinggal di rumah ini. Sebab, jika sampai hal itu terjadi, dan membiarkan keponakannya dengan kemauannya, akan membuat kekacauan lebih daripada yang tadi.


Tentu saja kedua orang tua tersebut tidak menginginkannya. Mereka sudah sangat malu dengan kelakuan keponakannya yang dulu, jadi tidak mungkin sekarang, disaat keponakannya itu amnesia, harus membuat mereka malu lagi.


Akhirnya dengan paksaan, mantan istrinya Romi itu dibawa ke dalam mobil, untuk diantar pulang ke rumahnya sendiri.


"Aku gak mau pergi. Aku mau di rumah sama Mas Romi! Mas Romi, Aku istrimu Mas! Hiks hiks hiks..."


Wanita yang masih muda dan cantik itu, meronta-ronta dan menangis, ketika disuruh masuk ke dalam mobil. Yang akan membawanya pulang kembali.


Romi memeluk Linda, yang masih ketakutan.


Sebenarnya, di awal kedatangan mantan istri suaminya itu, Linda sudah merasa ketakutan. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang, agar tamu yang datang tadi tidak merasa lebih berkuasa di rumah ini.


Dengan demikian, dia juga bisa menghubungi suaminya supaya cepat pulang dan mengatasi mantan istrinya.


Tapi ternyata, Romi juga langsung menghubungi kedua mantan istrinya. Untuk memberikan kabar tersebut.


Sayangnya, kedua mantan mertuanya, justru tidak bisa menerima telpon. Sehingga dia terpaksa harus menghubungi haji, yang langsung bersedia datang. Bahkan Pak haji datang bersama dengan istrinya juga.

__ADS_1


"Maaf ya Dek, mantan istri Mas sudah membuatmu takut."


Romi mengatakan permintaan maaf nya, masih dengan memeluk Linda yang memang masih merasa takut.


Dan mereka melupakan Erli, yang seharusnya sudah pulang dari sekolah.


Linda ingat anaknya, di saat melihat seorang anak yang dibonceng ibunya, pulang melintas di depan rumahnya.


"Mas, Erli Mas!"


Dalam keadaan panik, Linda tidak bisa mengatakan dengan jelas, apa maksud dari perkataannya.


Tapi Romi langsung mengerti, setelah melihat jam tangannya.


"Kamu di rumah saja. Lanjutkan masaknya, Mas yang menjemput Erli. Kamu tenang ya!"


Tanpa menunggu jawaban dari Linda, Romi langsung pergi meninggalkan rumah, setelah menaiki sepeda motornya.


Sedangkan Linda, merasa khawatir seandainya terjadinya suatu pada anaknya. Karena harus menunggu dirinya yang belum datang menjemput.


Dia berharap supaya Romi segera bertemu dengan Erli, agar anaknya itu tidak merasa takut sendirian. Di saat menunggu di sekolah.


Akhirnya Linda berusaha untuk tetap tenang, dan melanjutkan pekerjaan memasaknya. Dia berharap, bisa selesai memasak. Di saat suami dan anaknya tiba di rumah.


*****


Danang dan Della tidak masuk kerja, karena mereka mengambil cuti.


Mereka berdua berencana untuk datang ke rumah sakit untuk memeriksakan Della. Yang mengalami gangguan pada tenggorokannya.


"Kita sudah buat janji dengan dokter, dan untuk antriannya, kita sudah mengambilnya. Jadi, kamu tidak usah terburu buru Yang."


Danang menasehati istrinya, karena Della terlihat terburu-buru di saat bersiap-siap.


"Iya Mas, gak apa-apa kok. Biar kita juga gak buru-buru di jalan."


Setelah selesai bersiap, mereka berdua pamit pada bapaknya. Katena ibunya sedang tidak berada di rumah.


"Pak, kami berangkat dulu ya Pak," pamit Danang pada bapaknya, yang sedang duduk sendirian di teras depan rumah.


"Iya, hati-hati ya. Semoga saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Aamiin..."


"Iya Pak, aamiin... Terima kasih, mohon doanya ya Pak."

__ADS_1


Danang dan Della, sama-sama mengamini doa dan harapan yang diucapkan oleh bapaknya. Karena kedua orang tua mereka memang mengetahui kondisinya Della.


"Bapak jangan bengong sendiri di teras. Bapak nonton TV atau pergi ke mana gitu, jalan-jalan sekitar rumah, atau ke warung. Ke mana saja gitu Pak. Yang penting jangan bengong sendiri ya Pak. Pokoknya jangan melamun!"


Danang mengingatkan bapaknya, supaya tidak melamun sendirian. Karena dia ingat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, disaat bapaknya tiba-tiba menangis, karena teringat dengan Erli.


Tapi setelah menangis, bapaknya itu tiba-tiba pingsan. Dan di saat sadar, ya justru mengatakan bahwa baru saja bertemu dengan Erli, sehingga berteriak-teriak mencari keberadaan cucunya. Padahal saat ini, Erli sedang berada di kota besar bersama dengan mama dan ayah sambungnya.


"Iya-iya. Bapak akan pergi ke warung saja di depan situ, biar bisa ngopi atau ngeteh, sambil berbincang sama yang lain."


Danang menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan bapaknya. Sebab, dia juga tidak ada di rumah setelah ini, karena harus bagi ke rumah sakit.


Akhirnya, Danang dan Della pamit lagi untuk pergi, sedangkan bapaknya, bangkit dari tempat duduknya. Kemudian berjalan ke arah warung, yang tidak jauh dari rumahnya.


*****


Di tengah jalan, Della mendapatkan telpon dari bibi nya, istri pertama dari Paman nya. Yang memberikan kabar bahwa, Pamannya sudah dibawa pulang ke rumah.


..."Pamanmu sudah ada di rumah Dell. Tapi ya... begitulah keadaannya."...


..."Kok sudah di bawa pulang Bi, jika masih belum ada perubahan?"...


..."Kami sudah tidak sanggup membiayainya lagi Del! Lagian, tidak ada perubahan juga di sana. Dia akan tenang jika habis minum obat saja. Jadi, biar di rumah sajalah! kalau ada uang, buat biaya anak-anak."...


..."Della minta maaf ya Bi, tidak bisa ikut membantu semaksimal mungkin."...


..."Iya tidak apa-apa Del, Bibi maklum kok. Lagipula, kakakmu juga sudah sangat banyak membantu kami. Cuma jika terus-terusan ya kami juga repot. Kami memaklumi itu. Jadi, Kamu tidak usah memikirkan banyak hal. Tapi jika ada waktu, sekali-kali datanglah kemari menengok ya!"...


..."Iya Bi pasti. Ini Della sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit untuk periksa Bi. Nanti pulangnya kami usahakan untuk mampir ke rumah."...


..."Ke rumah sakit? Periksa apa?"...


..."Ini tenggorokan Della Bi. Kayak ada benjolan. Waktu kemarin periksa yang pertama itu katanya ada cairan apa gitu."...


..."Apa kista ganglion?" ...


..."Iya semacam itu lah Bi. Della lupa namanya, hehehe..."...


..."Oh ya sudah hati-hati ya! Semoga saja tidak kenapa-kenapa." ...


..."Aamiin.... Terima kasih Bi!" ...


Klik!


Kista ganglion, meskipun tidak berbahaya, kista ganglion bisa menimbulkan rasa sakit dan kesemutan. Yang bisa membatasi aktivitas. Kista ganglion merupakan benjolan berisi cairan yang menyerupai gel, dan berukuran mulai dari sebesar kacang polong hingga berdiameter 2,5 cm.

__ADS_1


Bisa dikatakan bahwa, kista ganglion ini ada sejenis tumor jinak.


__ADS_2