Tante Melinda

Tante Melinda
Tidak Usah Dipikirkan


__ADS_3

Tiba di rumah, Erli langsung mengganti pakaian. Dengan dibantu oleh mamanya. Setelah selesai, Linda ganti pergi ke warung. Untuk membeli sayur dan bumbu-bumbu dapur untuk memasak makanan.


Ferry menjaga dan menemani Erli, di depan tv. Yang sedang mewarnai buku gambarnya, yang tadi dari sekolah.


"Mbak Linda tumben di rumah dari kemarin ya?" tanya ibu warung. Mungkin karena dua jarang sekali melihat Linda ada di rumah. Apalagi sampai belanja ke warungnya, seperti sekarang ini.


"Ya Bu. Ini mumpung cuti kok," jawab Linda, yang sedang memilih sayuran di atas meja warung.


"Oh... enak ya mbak Linda. Kerja di pabrik dengan gaji besar. Mas Ferry juga bakulan beras. Uangnya pasti banyak sekali ya," ujar ibu warung, yang menghitung pendapatan keluarga Linda.


Linda hanya menanggapi dengan senyuman tipis, mendengar ada orang luar yang justru menghitung berapa kira-kira banyaknya uang tabungan Linda setiap bulannya.


"Pasti tabungan Mbak Linda dan mas Ferry banyak sekali. Mumpung Erli masih kecil, dibuatkan adik juga Mbak Linda!"


"Hehehe... iya Bu. Buat sih udah tiap malam," sahut Linda dengan terkekeh sendiri, saat sadar jika jawabannya ikut nyeleneh.


"Hehehe... iya juga ya mbak Linda. Eh, tapi ati-ati lho mbak Linda. Mas Ferry kan masih muda, ganteng lagi. Pasti banyak bakul beras yang beli dagangannya suka tuh goda-godain. Gak takut gitu mbak Linda?"


Ibu warung terus mengajak Linda berbicara dengan semua pertanyaan yang dia ajukan. Padahal, Linda hanya menanggapi dengan senyuman atau anggukan kepala saja.


"Bu, ini sudah. Tolong total semua. Saya mau segera masak," pinta Linda, yang sebenarnya sudah tidak suka dengan semua pertanyaan yang diajukan oleh ibu warung.


Menurut Linda, ibu warung terlalu banyak mencampuri urusan orang lain. Dan jika dia tahu sedikit saja, maka akan disebarkan lagi pada ibu-ibu yang berbelanja di warungnya. Dan berita akan segera menyebar, tanpa diketahui keakuratan dan kebenaran berita tersebut.


Hal yang sangat wajar, dalam kehidupan orang-orang pada umumnya.


Tiba di rumah, Linda langsung masuk ke arah dapur. Dia tidak mau menunda-nunda pekerjaan. Karena anak dan suaminya, pasti sudah sangat lapar.


Sambil menunggu masakan yang dia buat matang, Linda mengupas mangga dan melon, untuk diberikan pada Erli.


"Mas!"


"Ya Dek, ada apa?" jawab Ferry dari arah depan tv.


Tapi tak lama kemudian, Ferry sudah muncul di dapur. Karena dia tahu, jika istrinya sedang butuh bantuan dirinya.


"Ini Mas. Tolong Erli di suapi buah dulu. Buat mas Ferry juga," pinta Linda, karena jika menuggu semua masakannya matang, masih beberapa menit lagi.

__ADS_1


Baru setelah beberapa menit kemudian, Linda kembali datang ke depan tv, dengan membawa piring-piring berisi makanan hasil masakannya tadi.


"Yeee..."


Erli berseru dengan senang, karena akhirnya bisa makan dan menikmati makanan yang di masak sendiri oleh mamanya.


"Maaf ya, kalau masakannya Mama gak enak," ucap Linda, yang memang jarang memasak sekarang ini.


"Pasti enak Dek. Udah lama juga, Mas gak makan kayak gini. mas suka kok," sahut Ferry, dengan menyakinkan pada istrinya itu. Jika dia pasti menyukai hasil masakan istrinya.


Akhirnya, mereka bertiga makan siang dengan lahapnya. Menikmati kebersamaan mereka, yang memang sudah jarang dilakukan. Dengan alasan kesibukan yang sekarang ini banyak menyita waktu mereka.


*****


Pada malam hari, di saat Erli sudah tidur. Linda ingin bertanya pada suaminya. Tentang apa yang tadi dia dengar di pengilingan padi. Siang tadi.


"Mas. Emhhh... Linda boleh tanya sesuatu?"


Dengan sangat hati-hati, Linda bertanya kepada Ferry, tentang apa yang tadi dia dengar.


"Apa Dek?" jawab Ferry, dengan balik bertanya lagi.


Linda tidak langsung menjawab pertanyaan dari suaminya. Dia berpikir lagi, apakah pertanyaan ini akan membuat persoalan baru diantar mereka berdua, yang sudah lama tidak ada pertengkaran hebat lagi.


"Janji jangan marah ya Mas!"


"Emhhh... ini tadi, Linda gak sengaja dengar dari beberapa orang di pengilingan padi. Tadi siang."


Linda akhirnya mulai bercerita pada suaminya, tentang apa yang dia dengar dari perbincangan orang-orang di pengilingan padi.


Ferry hanya diam saja, menyimak dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu.


"Linda pernah dengar, dulu mas Ferry saat sakit. Masih ingat gak Mas? Saat ada telpon, dan itu dari mbak Nana?"


Linda mengingatkan pada Ferry, atas kejadian yang dia alami saat jatuh dan tidak bisa berjalan saat itu.


Ferry berusaha untuk menenangkan hati dan wajahnya, agar tetap terlihat tenang saat menjawab pertanyaan dari istrinya. "Iya. Dan dulu Mas juga udah kasih penjelasan kan Dek?"

__ADS_1


Ferry juga mengingat kembali, tentang kejadian itu. Tapi, pada saat itu dia memang sudah menjelaskan pada istrinya itu, jika mbak Nana adalah salah satu pelanggan tetap bakul berasnya.


"Tapi... orang-orang tadi gak seperti itu bicaranya Mas," kata Linda, yang meragukan penjelasan yang diberikan oleh suaminya sendiri.


"Gak seperti itu bagaimana Dek?"


"Udah deh, sini-sini! Namanya juga pedagang beras, yang ngerubunin Mas ya ibu-ibu juga kebanyakan."


Ferry mengelak untuk memberikan penjelasan lebih lanjut, dengan menarik pinggul istrinya. Dan akhirnya, Linda terjatuh ke dalam pangkuannya.


"Tidak usah dibahas hal-hal yang tidak penting. Yang penting itu, bagaimana kita melewati malam ini dengan baik."


"Udah lama, kita gak bisa santai saat bercinta. Mau kan?" tanya Ferry, melanjutkan kalimatnya yang tadi. Dia tidak mau membahas mengenai mbak Nana lebih banyak. Karena dia merasa takut jika, ada penjelasan yang akan menambah kecurigaan Linda nantinya.


Linda mengangguk mengiyakan permintaan suaminya. Dia juga sudah lama, tidak melayani suaminya itu dengan baik. Karena tubuhnya yang memang sudah kelelahan sepanjang hari. Karena pekerjaannya di pabrik.


*****


Keesokan harinya, kesibukan di rumah Linda terjadi seperti biasanya lagi.


Linda sudah rapi pagi-pagi sekali, karena hari ini dia sudah kembali ke aktivitas biasanya. Yaitu bekerja di pabrik sepatu.


Dia membangunkan Erli, pada saat suaminya sedang mandi.


"Erli Sayang. Bangun yuk cantik!"


"Emhhh... Mama," sahut Erli, yang masih tampak malas membuka matanya.


"Eh, Sayang ayo bangun! Mama harus berangkat kerja lagi pagi ini," ucap Linda, dengan menepuk-nepuk lembut pundak anaknya.


"Hah! Mama kerja lagi?" tanya Erli cepat, dengan mata membola.


"Iya," jawab Linda, dengan mengangguk mengiyakan.


"Yah Mama... kenapa gak libur lagi Ma?" tanya Erli, yang tidak tahu bagaimana aturan kerja di perusahaan.


"Hehehe... gak bisa dong Sayang. Kapan-kapan, mama cuti lagi ya!"

__ADS_1


Erli tampak kecewa, karena hari ini tidak ada mamanya, yang akan mengantar dan menjemput dirinya ke sekolah.


Hanya akan ada papanya. Dan dia juga akan ada di TPA sepanjang waktu dari waktunya pulang sekolah sampai sore hari. Hal yang membosankan bagi Erli sendiri.


__ADS_2