Tante Melinda

Tante Melinda
Pacar Dan Handphone Baru


__ADS_3

"Maaf Pak mandor, Linda sudah ada yang jemput."


Akhirnya, Linda mengatakan yang sebenarnya, agar pak mandor tidak lagi memiliki harapan untuk mendapatkan simpati darinya.


Linda tidak ingin melihat, pak mandor terus menerus mengharapkan perhatian darinya, karena Linda sendiri, memang tidak pernah memiliki perasaan apa-apa terhadap pak mandor.


Akhirnya Pak Mandor terdiam, dan tidak lagi mengatakan apa-apa.


Dia sadar jika, Linda tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan dirinya, yang memang belum secara resmi berpisah dengan istrinya, yang kabur beberapa tahun kemarin.


Dan sekarang, pak mandor juga melihat, di saat Linda sudah pergi dari hadapannya, kemudian bertemu dengan seorang laki-laki, yang sudah menunggu kedatangan Linda, tak jauh-jauh dari jalan, di depan gudang kayu ini.


"Ternyata Linda sudah punya pacar. Pantas saja, dia tidak pernah terlihat tertarik dengan Aku."


Pak Bos bergumam seorang diri, di saat Linda sudah pergi bersama dengan kekasihnya, menurut pak mandor.


Sekarang, dia bersiap-siap untuk pulang, dan memeriksa semua sudut gudang produksi yang sudah tidak ada orang.


Semua pegawai, sudah pulang. Tinggal dirinya, yang memang biasa pulang paling akhir, setelah memastikan bahwa, semuanya aman untuk ditinggalkan.


*****


Di saat Linda keluar dari tempat kerja.


Romi, sudah menunggu dirinya di tepi jalan, tak jauh dari tempat kerja Linda.


"Sudah selesai?" tanya Romi, saat Linda sudah berada di depannya.


Linda hanya mengangguk saja, dan tidak menjawab pertanyaan dari Romi.


"Ayo kalau begitu," ajak Romi, saat Linda hanya bisa diam di depannya saat ini.


Akhirnya, Romi mengajak Linda pergi ke suatu tempat, dengan mengunakan motor Vespa.


Mereka berdua, pergi ke arah kota kabupaten, yang tentunya lebih ramai dan banyak toko-toko yang buka pada malam hari.


Motor Vespa berhenti di sebuah toko, di mana ternyata itu adalah sebuah toko handphone.


"Kok ke sini Kak?" tanya Linda bingung.


Linda tahu jika, Romi sudah punya handphone. Jadi, tidak mungkin jika Romi akan membeli handphone lagi.

__ADS_1


Dan Linda sendiri, tidak mungkin juga membeli sebuah handphone, karena masa itu, handphone biasa saja, masih termasuk barang istimewa dengan harga yang mahal.


"Iya. Kakak mau beli handphone kok," jawab Romi kalem.


Ternyata perkiraan Linda salah. Romi memang benar-benar mau membeli handphone baru.


Tapi beberapa saat kemudian, setelah Romi mendapatkan handphone dengan model yang sama seperti yang dia miliki, Linda baru tahu, apa yang diinginkan oleh Romi.


Handphone dengan merk terkenal pada masanya, dengan model belah ketupat. Dan tentu saja, belum banyak yang memiliki barang istimewa tersebut.


Dan Romi sudah punya satu buah. Bahkan kini, dia membeli lagi satu yang baru.


Tetapi ternyata, handphone baru tersebut, diberikan Romi untuk Linda.


"Gak Kak. Ini sangat mahal," ucap Linda, yang menolak untuk menerima kotak handphone tersebut.


Linda merasa tidak pantas menerima handphone baru itu. Apalagi, harganya bisa untuk membeli beberapa gram emas.


Hal yang tidak mungkin bisa Linda miliki, meksipun hanya dalam mimpi.


"Ini untuk Kamu Dek. Biar kita bisa saling telpon, atau berkirim pesan. Kita bisa jadi lebih dekat."


"Tapi Kak... ini, ini barang mahal," ucap Linda, yang tetap merasa risih, jika dia harus menerima handphone tersebut.


"Kamu terima cinta Aku juga, biar Kamu tidak sungkan ya," kata Romi, yang ternyata, bermaksud untuk menembak Linda, untuk menjadi pacarnya.


Dengan malu-malu, Linda akhirnya mengerti, apa yang dimaksud oleh Romi.


Singkat cerita, akhirnya mereka berdua resmi berpacaran, dan saling tahu nomer handphone masing-masing juga.


"Meskipun Kakak kerja di kota besar, kita masih bisa saling berhubungan dan tahu kabarnya."


Linda mengangguk mengiyakan perkataan Romi, pacar pertamanya itu. Pacar yang dulu, hanya ada di dalam mimpinya Linda saja.


"Kami tidak usah memikirkan pulsa dan semacamnya. Nanti Kakak yang akan kirim dari kota," kata Romi lagi, menjelaskan pada Linda, agar tenang dan tidak memikirkan permalasahan pulsa, yang pada waktu itu juga termasuk mahal.


Begitulah akhirnya. Mereka berdua, Linda dan Romi, resmi berpacaran dan menjalani hubungan jarak jauh, karena pekerjaan Romi, yang memang ada di kota besar.


Ibu dan bapaknya Linda, tentu merasa sangat senang, karena Linda memiliki pacar yang tajir, menurut mereka berdua.


Itu terlihat dari apa yang dia berikan pada Linda saat ini.

__ADS_1


Apalagi, Romi juga pemuda yang baik dan santun.


Tapi, kedua orang tuanya Linda, belum tahu pasti, apa pekerjaan Romi di kota. Anak siapa, dari desa yang ada di kecamatan yang berbeda juga dengan mereka.


*****


Linda dan Romi, menjadi sepasang kekasih yang selalu baik-baik saja, dalam beberapa bulan ini.


Hubungan mereka berdua juga adem ayem, tanpa ada halangan atau tekanan dari pihak-pihak tertentu.


Meskipun sekarang Romi juga tidak lagi ada di rumah, tapi sudah kembali bekerja ke kota besar, hubungannya dengan Linda, tetap terjalin, berkat adanya handphone, yang sudah dimiliki oleh Linda juga.


Mereka berdua, sering melakukan panggilan telpon, pada saat malam hari.


Dan mereka berdua bisa saling berkirim pesan, jika waktunya siang hari, karena sedang bekerja juga.


Tentu saja, Linda yang saat ini memiliki handphone baru, tidak luput dari perhatian Mbak Tami, dan para pegawai yang lain.


Pak mandor juga tahu, jika sekarang, Linda sudah mempunyai seorang pacar.


"Jadi, pak mandor mundur?" tanya Mbak Tami, di saat ada kesempatan untuk berbicara dengan pak mandor.


"Iyalah. Ngapain Aku mengejar-ngejar Linda, yang memang tidak pernah ada rasa dengan ku. Apalagi, pacarnya Linda juga terlihat pemuda yang baik kok," ujar pak mandor, menjawab pertanyaan dari Mbak Tami.


"Memang pak mandor pernah lihat? kan katanya,. pacarnya Linda kerja di kota besar," tutur Mbak Tami, mengingat beberapa hal, tentang Romi, pacarnya Linda.


"Iya. Dia kerja di kota besar. Tapi Aku sudah pernah melihat pacarnya itu."


Mbak Tami tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh pak mandor barusan.


"Syukurlah kalau begitu. Semoga saja, pak mandor bisa mendapatkan cewek, sebagai calon istri yang baru nanti."


"Eh, tapi selesaikan terlebih dahulu itu, permasalahan pak mandor dengan istrinya yang kabur," ujar mbak Tami, memberikan masukan dan juga harapan untuk kehidupan pak mandor, supaya lebih baik daripada sebelumnya.


"Ya Mbak Tami. Mungkin, beberapa cewek yang Aku dekati, dan akhirnya mundur, karena statusku yang tidak jelas ini juga."


Akhirnya, pak mandor menyadari, kalau statusnya sebagai duda yang menggantung, tidak bisa dipastikan sebagai seseorang yang bebas.


Pak mandor masih ada ikatan pernikahan. Dan itu tentunya dijauhi oleh wanita-wanita yang baik, dan ingin serius dalam menjalin suatu hubungan.


Bukan hanya sekedar ambisi dan bermain-main semata.

__ADS_1


__ADS_2