Tante Melinda

Tante Melinda
Berusaha Untuk Tetap Bertahan


__ADS_3

"Kata Mas Ferry, mbak Linda melamar pekerjaan Pak," jawab Danang, sambil mendudukkan Erli, di kursi tamu, dekat dengan bapaknya.


"Melamar pekerjaan? Dia mau kerja di mana?"


Pertanyaan ini, sebenarnya untuk rasa khawatir bapaknya Linda. Karena dulu, saat Linda ingin kerja lagi, menantunya tidak memperbolehkan Linda dan justru mengamuk.


Menurut bapaknya Linda, Ferry tidak memperbolehkan Linda bekerja di luar rumah karena rasa takutnya, rasa cemburunya, jika Linda akan pergi dan berpaling darinya.


Menantunya itu terlalu takut, jika dia akan ditinggalkan oleh istrinya, yang sebenarnya sudah tidak lagi bisa bertahan.


Tapi, bapaknya Linda juga tidak habis pikir dengan keputusan yang diambil oleh anaknya itu.


Karena pada akhirnya, Linda tetap masih mau bertahan dalam perkawinannya dengan Ferry. Yang pada saat itu terus menerus melakukan kekerasan terhadap dirinya.


Dan di tambah lagi dengan pencopotan jabatan polisi, untuk Ferry.


Tapi nyatanya, Linda tetap mempertahankan hubungan mereka.


Entah apa yang sebenarnya dipikirkan oleh anaknya itu.


"Katanya ke PT yang sedang di bangun itu Pak," jawab Danang, yang membuat lamunan bapaknya buyar.


Bapaknya Linda mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian bertanya lagi, "lha si Ferry ngapain tadi di rumah?"


"Momong Erli, sama ngutak-atik handphone," jawab Danang, tanpa ekspresi.


"Gak nyari kerja juga dia," gumam bapaknya Linda, yang tentunya di dengar juga oleh anaknya, Danang.


"Mungkin lagi nyari-nyari kerjaan lewat handphone itu Pak. Kan banyak sekarang ini lowongan kerja dari handphone," ujar Danang, menjelaskan pada bapaknya, yang memang tidak tahu bagaimana cara mengunakan handphone, dan segala sesuatunya dengan kemudahan dan kecanggihan teknologi informasi.


"Erli sudah makan belum tadi Nduk?"


Sekarang, bapaknya Linda beralih pada cucunya, Erli. Dia bertanya pada cucunya itu, apakah tadi sudah makan atau belum.


Tapi ternyata, Erli paham dengan apa yang ditanyakan oleh simbah kakungnya itu. Erli tampak mengangguk mengiyakan, pertanyaan yang diajukan kepadanya.


"Wah pinter cucu simbah. Makan pakai apa tadi?" tanya simbahnya lagi, dengan menatap wajah Erli, yang masih bermain dengan mainannya.


"Elur, elur api," jawab Erli, tanpa menoleh ke arah simbahnya yang sedang bertanya.


"Oh, pakai telur mata sapi," ulang simbahnya, memperjelas maksud dari perkataan cucunya itu.


"Ya sudah Pak. Danang mau kembalikan becak dulu."


Danang pamit untuk pergi mengembalikan becak pada tetangganya, yang tadi dia pinjam untuk menjemput Erli.


Bapaknya, hanya mengangguk saja, dengan menoleh sekilas. Dia kembali memperhatikan cucunya, yang sekarang ini sedang beralih untuk bermain lego.


*****


Di rumah Linda sedang memasak. Dia ingin secepatnya selesai, dan pergi ke rumah bapaknya untuk mengambil Erli.

__ADS_1


Dia merasa sepi, jika tidak ada Erli di rumah.


"Mas, mau ke pengilangan padi dulu. Motornya Mas bawa ya?"


Linda menoleh ke arah suaminya, yang berpamitan untuk pergi ke penggilingan padi.


"Iya Mas, hati-hati."


Linda menjawab dengan mengiyakan. Dia juga tersenyum, agar suaminya itu bersemangat untuk bisa melakukan pekerjaannya, yang baru saja akan dimulai.


"Iya Dek. Semoga ini bisa menjadi jalan rejeki keluarga kita," ucap Ferry, berharap agar usahanya itu bisa menjadikan mereka lebih baik lagi, setelah dirinya tidak lagi menjadi seorang polisi.


"Aamiin," sahut Linda, mengamini harapan suaminya.


Tak lama kemudian, suara motor terdengar meninggalkan teras rumah. Itu artinya, Ferry sudah berangkat ke pengilingan padi.


Linda melanjutkan pekerjaan memasaknya. Dia tidak mau jika, pergi ke rumah bapaknya, sedangkan pekerjaannya di rumah belum selesai.


Linda memang berusaha untuk bisa bersikap baik dan tetap hangat pada suaminya. Dia berharap agar, suaminya itu bisa berubah, dan tidak lagi berkelakuan sama seperti dulu.


Hanya itu saja harapan yang diinginkan oleh Linda, supaya dia masih bisa mempertahankan ikatan pernikahan mereka.


Kring...


Kring...


Kring...


Dengan cepat, Linda mengalihkan pandangannya dari panci sayur ke handphonenya.


Ada nomer yang tidak dia kenal, melakukan panggilan.


"Siapa ya?" tanya Linda, yang tidak mengenali siapa penelpon tanpa nama tersebut.


Tapi karena Linda tidak ada pikiran lain, dia pun akhirnya menekan tombol hijau untuk menyambungkan panggilan telpon tersebut.


..."Halo."...


..."Halo juga."...


Linda mengerutkan keningnya, mendengar suara laki-laki di seberang sana. Dia tidak mengenali suara penelpon, yang ternyata adalah laki-laki.


..."Maaf. Ini siapa ya?" ...


..."Emhhh, apa benar ini dengan Melinda?" ...


..."Iya, Saya sendiri." ...


..."Ternyata memang benar. Terima kasih." ...


..."Hai tunggu. Ini siapa?" ...

__ADS_1


..."Besok-besok Kamu juga tahu kok Melinda. Sampai ketemu besok ya!" ...


Klik!


Linda bingung dengan orang yang baru saja menelponnya kali ini.


Dia merasa jika tidak pernah memberikan nomor handphone miliknya, pada orang yang tidak dia kenal.


"Ah, mungkin orang iseng aja."


Begitulah Linda membuang rasa penasarannya. Dia tidak mau berpikir macam-macam, tentang siapa orang yang tadi menghubungi dirinya.


Dan akhirnya, Linda kembali melanjutkan pekerjaannya, yang tadi sempat dia tinggalkan, hanya untuk menjawab panggilan telpon yang masuk.


Tapi ternyata, penelpon tersebut malah cuma iseng saja.


*****


Di pengilingan padi.


Ferry baru saja mematikan mesin motornya, pada saat pemilik pengilingan padi keluar dari gudang padi, yang ada di sebelah gudang proses penggilingan padi menjadi beras.


"Hai Ferry. Cepat juga Kamu sampai," tegur pemilik pengilingan padi, dengan berjalan mendekat ke tempat Ferry memarkirkan sepeda motornya.


Tadi, sebelum Ferry pergi ke tempat ini, dia memang sudah memberikan kabar, melalui pesan singkat pada pemilik pengilingan padi ini.


Itulah sebabnya, pemiliknya juga sudah ada di tempat ini, sebelum Ferry benar-benar sampai.


"Bagaimana tidak cepat, tapi tetap saja, Aku usahakan secepatnya mungkin, masih saja kalah cepat dengan Kamu," sahut Ferry, dengan menjabat tangan pemilik pengilingan padi tersebut.


Tak lama, mereka berdua berjalan beriringan menuju ke gudang penyimpanan pagi dan proses penggilingan.


Pemiliknya juga menjelaskan tentang apa saja yang bisa dilakukan Ferry di tempat usahanya ini.


"Jadi, Kamu pilih saja, mana yang Kamu rasa cocok, dan sesuai dengan apa yang Kamu inginkan."


"Wah, terima kasih banyak Bos. Ini benar-benar membantu Aku, untuk bisa lagi mengepulkan asap di dapur rumah."


Orang yang dipanggil Bos tertawa terbahak-bahak, mendengar perkataan Ferry barusan.


"Hahaha... bisa aja Kamu Ferr. Semua ini juga dulu berkat bantuan dari Kamu."


Ternyata, dulunya, saat pemilik pengilingan padi ini mengajukan permohonan ijin usaha, Ferry yang sudah banyak membantu dirinya.


Dari mulai pembuatan ijin dan prosedur yang harus dilakukan, Ferry juga yang memberikan banyak masukan.


Itulah sebabnya, pemilik pengilingan padi ini, tidak bisa menolak permintaan dari Ferry, pada saat dia minta untuk diberikan tempat, sebagai tempat usahanya yang baru.


Mereka berdua, bersalaman dan berpelukan ala laki-laki dewasa pada umumnya.


Itu tandanya, mereka berdua resmi menjadi patner bisnis, dalam bidang usaha penggilingan padi dan jual beli beras bersama dengan yang sampingannya juga.

__ADS_1


Misalnya, penjualan dedak dan sekam, yang biasa di ambil oleh para peternak dan pembuat kerajinan genteng dan keramik untuk pembakaran.


__ADS_2