
..."Baiklah. Tunggu Aku di ruangan!"...
..."Ya Pak."...
Klik!
Linda menghela nafas panjang, saat sambungan telpon tertutup. Dia harus bisa meminta tanda tangan pak Rudi, untuk repro yang harus dia kerjakan sekarang juga.
Dan benar saja, tak lama kemudian, pak Rudi datang. Dia seperti melihat bidadari, yang sudah lama dia rindukan.
"Halo Lin. Lama sekali gak liat wajah cantikmu ini." Pak Rudi langsung menyapa Linda, dengan memuji kecantikannya.
"Kok masih berdiri di luar? Ayo masuk!" ajak pak Rudi, saat melihat Linda yang masih berada di luar ruangan.
"Maaf Pak. Ini Linda mau minta tanda tangan dulu. Soalnya repro ini sudah tertunda beberapa hari." Linda memberikan alasan, agar pak Rudi langsung memeriksa memo yang dia bawa.
"Ayolah Lin... masa iya hampir setahun ini kita gak bisa ketemu, sekalinya ketemu cuma gitu aja?"
Pak Rudi sepertinya menginginkan Linda, untuk menerima ajakannya. Tapi, karena Linda memang sedang di kejar waktu untuk produksi ulang barang yang rijek, mau tidak mau, dia juga harus bisa cepat menyelesaikan memo yang dia buat.
"Sepertinya waktunya belum tepat Pak. Maaf, karena ini menyangkut waktu untuk ekspor."
Linda berusaha untuk tetap menjaga kewarasan otaknya, supaya tidak terpengaruh oleh ajakan pak Rudi.
Karena sesungguhnya, Linda juga sudah lama tidak melakukan apa-apa yang membuat dirinya merasakan kepuasan tersendiri. Sebab, Linda memang sedang berusaha untuk bisa hidup normal, tanpa memikirkan kegiatan yang tidak seharusnya dia lakukan selama ini.
"Hemmm... Baiklah. Tapi Kamu janji ya Lin, besok-besok kasih kesempatan untuk kita bisa seperti dulu lagi." Tatapan mata pak Rudi, menelusuri apa saja yang tampak pada Linda.
Dengan menelan salivanya sendiri, pak Rudi menatap bibir Linda. Karena bibir tersebut, selalu dia inginkan. Apalagi, setahun ini dia tidak bisa mencicipinya, sama seperti dulu.
Setelah mendapat tanda tangan pak Rudi, Linda segera pamit. "Terima kasih Pak. Saya permisi dulu."
"Tunggu Lin!"
Pak Rudi menyentuh bibir Linda dengan jari-jari tangannya. "Tak bisa langsung, ini pun bisa," ujarnya ambigu.
Linda tersenyum tipis, melihat drama pak Rudi yang tidak bisa dianggap normal oleh orang lain.
Setelah Linda benar-benar pergi, pak Rudi segera berjalan cepat menuju ke kamar mandi. Entah apa yang dia lakukan di dalam sana. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu, bersama dengan setan tentunya.
*****
__ADS_1
Linda sudah kembali ke devisi sewing. Dia meminta pada salah satu leader, untuk memberikan memo repro pada devisi cutting.
Memo adalah surat atau pesan ringkas, padat dan jelas yang diberikan kepada seseorang. Biasanya bersifat sementara dan darurat. Tidak sama seperti surat-surat resmi pada umumnya.
Setelahnya, Linda pun tak bisa menahan diri lagi. Dia pergi ke kamar mandi, untuk bisa mendapatkan kepuasan yang sudah lama tidak dia lakukan.
Pertemuannya dengan pak Rudi, memang bisa dia hindari. Tapi apa yang terjadi pada dirinya sendiri, tidak bisa dia ajak untuk berkompromi. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri selama ini.
Linda sering kali melakukan pada waktu masih kecil dulu. Tanpa diketahui oleh orang lain, termasuk kedua orang tuanya sendiri.
Hal ini Linda lakukan, tanpa bisa dia bisa cegah. Karena semakin dia menahan diri, rasa itu semakin tinggi dan perlu untuk dilampiaskan segera.
Bahkan, hampir setahun ini dia mati-matian untuk tidak melakukannya dengan orang lain, atau dengan usahanya sendiri.
Tapi ternyata, pertemuannya dengan pak Rudi tadi, membuatnya menjadi lupa. Dan dia harus bisa mengatasinya, dengan caranya sendiri juga.
Menurut Linda, jika ini terjadi pada laki-laki, masih bisa dimaklumi. Karena mereka bisa bersolo karir.
Sedangkan Linda adalah seorang wanita. Sudah bersuami juga. Tapi kebiasaannya yang dulu, tetap tidak bisa dihilangkan. Bahkan di saat selesai berhubungan dengan suaminya pun, Linda melakukannya di kamar mandi. Tanpa sepengetahuan dari Ferry.
'Apa yang salah dari hubungan Kami berdua? Tapi kenapa jika dengan pak Rudi ataupun pak Komarudin Aku bisa merasakan kepuasan?'
Batin Linda terus berperang dengan hal tersebut. Dia tidak tahu, apa yang salah dari tubuhnya itu.
Linda terkejut dengan panggilan dari luar kamar mandi. Dia lupa, jika ini adalah kamar mandi perusahaan, yang tentunya bisa digunakan oleh semua karyawan pabrik.
Meskipun ada banyak kamar mandi, atau toilet di gedung ini. Beda gender juga beda tempat, tapi tetap saja tidak akan se_privasi jika ada di rumah.
"Iya sebentar!" jawab Linda dari dalam.
Tak lama kemudian.
Clek!
Linda keluar dari dalam kamar mandi, setelah merapikan penampilannya lagi.
"Eh, Mbak Linda. Tak pikir siapa tadi. Kok lama. Mbak Linda gak kenapa-kenapa kan?"
Linda hanya mengangguk dan tersenyum, mendengar perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh orang tersebut.
Orang itu adalah ibu-ibu, yang bertugas sebagai seorang cleaning servis kamar mandi. Dan orang itu, sudah mengenal Linda tentunya.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok Bu. Cuma sakit perut biasa," jawab Linda, dengan wajah meringis. Sama seperti orang yang sedang menahan rasa sakit.
"Ohhh... lagi dapat tamu bulanan ya Mbak Linda?" tanya Ibu tadi, sok tahu.
"Iya Bu," jawab Linda pendek.
"Saya pergi dulu Bu. Mari," pamit Linda, yang tidak mau berlama-lama. Karena bisa jadi, ibu-ibu tadi akan bertanya lagi dengan keinginan tahuannya juga.
******
Di rumah ibunya Linda.
Bapaknya Linda, yang beberapa waktu lalu sudah mulai membaik kondisi tubuhnya. Tiba-tiba terjatuh di teras belakang. Saat memberikan makan ayam-ayam peliharaannya.
"Pak. Bapak!"
Ibunya Linda berteriak keras, memangil suaminya yang sudah tidak sadarkan diri.
Dia menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Tapi dia tidak berani untuk membantunya berdiri.
Ibunya Linda ingat dengan pesan orang-orang, jika suaminya sedang dalam keadaan tensi darahnya tinggi, kemudian jatuh, jangan dipaksa untuk bangun. Karena itu bisa berakibat fatal.
Jadilah ibunya Linda keluar dari pekarangan rumah bagian belakang. Dia mencari beberapa orang, yang bisa dimintai tolong.
"Kang, tolong Kang. Itu bapaknya Linda jatuh!"
"Lek, tolong Lek. Itu suamiku jatuh!"
Beberapa orang yang sedang lewat, di mintai tolong oleh ibunya Linda. Agar bisa membantunya untuk mengatasi keadaan suaminya yang sedang dalam keadaan pingsan.
Salah satu dari orang yang dimintai tolong, ada yang pergi ke rumah bidan. Karena letak rumah bidan tersebut lebih dekat dengan rumah Linda. Di banding jika harus memanggil dokter.
"Ayok Kang. Bapaknya Linda sendiri kok di belakang rumah!"
Ibunya Linda gemetaran. Dia merasa sangat khawatir, dengan keadaan suaminya saat ini.
"Danang di telpon Yu," usul orang tersebut.
"Linda juga!" sahut yang lain mengingatkan.
"Sudah tanganin ini dulu. Danang sama Linda, biar ditelpon yang lain."
__ADS_1
Ibunya Linda mengangguk mengiyakan. Dia juga tidak busa fokus, dan mencari keberadaan telpon lama Danang, yang sengaja di tinggal di rumah.