Tante Melinda

Tante Melinda
Berat Melepaskan


__ADS_3

Melihat Linda yang sedang memegang dua kartu identitas milik suaminya, Ferry, Danang langsung ikut melihatnya. Untuk memastikan bahwa, apa yang dikatakan oleh kakaknya itu benar adanya. Bukan hanya sekedar ilusinya Linda yang sedang dibakar emosi.


"Mbak. Ini dua kartu identitas memang milik mas ipar Saya. Jadi, Mbak gak bisa mengelak lagi. Katakan sekarang juga, di mana mas Ferry berada?"


Danang masih berusaha untuk berkata tidak kasar dan keras. Karena dia melihat bagaimana keadaan wajah mbak Nana yang pucat pasi.


Selain malu, takut dan sebagainya, Mbak Nana juga tidak tahu. Bagaimana memberikan penjelasan kepada dua tamu tak diundang ini.


"A_aku... Aku tidak tahu," jawab mbak Nana gagap.


Dia memang tidak tahu, di mana Ferry bersembunyi saat ini. Karena pada saat dia pergi membuka pintu, Ferry masih berbaring di tempat tidur.


"Tidak tahu, atau Anda berusaha untuk tetap menyembunyikan suami Saya?"


Linda bertanya dengan nada tinggi. Dia merasa kesal, marah, kecewa dan semua rasa yang bercampur aduk di dalam hatinya.


Tapi Mbak Nana tidak lagi bisa menjawab. Dia terduduk dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Maaf... hiks..." desisnya lirih. Bahkan hampir saja tidak terdengar, karena disusul dengan isakan tangisnya.


"Mas Ferry. Aku minta mas Ferry keluar sendiri. Sebelum Aku mengobrak-abrik kamar ini!"


Perkataan Linda, tidak tinggi seperti tadi. Di saat dia berbicara dengan mbak Nana. Dia berkata dengan pelan, tapi penuh dengan tekanan di setiap kata-kata yang diucapkan.


Ini membuat Ferry tidak bisa berdiam diri lagi di tempatnya bersembunyi. Karena cepat atau lambat, persembunyiannya di dalam lemari ini akan segera diketahui juga oleh Linda ataupun Danang.


"Mas Ferry. Keluar Mas! Buat apa sembunyi lagi? Semua bukti sudah ada."


Sekarang, Danang yang ganti berkata, meminta pada mas ipar nya untuk keluar dari tempat persembunyiannya.


"Mas Ferry... Mas Ferry mungkin..."


Kriettt!


Linda, Danang dan mbak Nana sendiri, langsung menoleh ke arah sumber suara. Di mana pintu almari pakaian yang tidak terlalu besar itu terbuka.


Ferry keluar dari dalam almari pakaian tersebut, dengan wajah menunduk. Dia pasrah, dan tidak ada pembelaan terhadap dirinya sendiri.


Baju dan celana panjangnya, belum sempat dia kenakan lagi. Karena tidak mungkin memakai pakaian di dalam almari pakaian yang sempit itu. Sehingga baju dan celananya hanya dia tenteng saja.

__ADS_1


"Ini yang katanya ke luar kota Mas?" Linda bertanya dengan datar.


Tidak tampak marah, atau kecewa dengan penampilan Ferry saat ini. Karena dia memang sudah menyiapkan mentalnya. Meskipun dia sendiri tidak tahu, sekuat apa hatinya mengetahui semua ini.


"Dek. Maaf..."


Hanya dua kata itu yang bisa diucapkan oleh Ferry. Kemudian dia jatuh terduduk di dekat Linda yang masih berdiri di tempatnya yang tadi.


Danang sudah hampir melangkah untuk menghajar mas iparnya itu. Tapi melihat wajah Linda yang tanpa ekspresi, membuat Danang mengurungkan niatnya.


Dia tidak tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh kakak perempuannya itu. Setelah tahu kebenaran tentang suaminya.


"Pakailah pakaianmu Mas. Kita pulang dan selesaikan semua ini di rumah."


Setelah berkata demikian, Linda berjalan menuju ke luar. Tapi sebelum mencapai pintu, dia menoleh dan berkata pada mbak Nana," Aku tidak perlu mencakar wajahmu, atau menjambak rambutmu juga Mbak Nana. Aku hanya minta, Kamu pergi dari kehidupan keluargaku."


Perkataan Linda yang terakhir, membuat Ferry dan Danang mengerutkan keningnya. Memikirkan apa yang dimaksud oleh Linda barusan.


Menurut Ferry, istrinya itu akan memaafkan dirinya dan menerimanya kembali.


Sedangkan Danang sendiri tidak habis pikir, dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.


Sedangkan mbak Nana sendiri juga kaget, karena ternyata Linda sudah tahu namanya.


Linda berjalan terlebih dahulu, kemudian di susul Danang dibelakangnya. Dia punya rencana dan pemikiran sendiri. Untuk menghukum suaminya ini.


"Pak, mas Pinjol. Terima kasih banyak atas semua bantuan yang sudah diberikan pada Saya, dan juga adik Saya."


Linda mengucapkan terima kasih, atas bantuan dari pihak pegawai hotel. Yang sudah membantu untuk menemukan suaminya, yang sedang bersama perempuan lain di kamar hotel ini.


Laki-laki dewasa yang tidak pernah menyebutkan nama, atau disebut nama oleh orang lain, bersama dengan Pinjol sendiri, hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


Mereka berdua mungkin merasa iba, miris melihat keadaan keadaan yang sering terjadi di hotelnya ini.


Tapi mereka tentunya tidak bisa melakukan apa-apa. Karena mereka hanya pegawai biasa, yang mengurus segala sesuatunya di tempat mereka bekerja.


Tak lama kemudian, Linda dan Danang tiba di halaman depan hotel. Di mana motor mereka berdua diparkir.

__ADS_1


"Mereka tadi bawa motor mana Mbak?" tanya Danang, yang melihat keberadaan beberapa motor di tempat parkir.


"Mbak juga gak tau Nang," jawab Linda, yang memang tidak tahu. Motor mana yang miliknya mbak Nana. Karena pada saat mengejar tadi, dia tidak bertemu secara langsung. Hanya mengandalkan alat yang sudah dia pasang di handphone milik suaminya.


*****


Di dalam kamar hotel, di mana hanya tinggal mbak Nana dengan Ferry saja.


"Mas..."


"Sudah Mbak. Aku mau pulang. Maaf atas semua kejadian ini. Setelah ini, jangan lagi menemui Saya. Bagaimanapun keadaannya!"


Perkataan yang diucapkan oleh Ferry, yang memotong kalimatnya barusan, membuat mbak Nana menangis tersedu-sedu. Dia tidak pernah menyangka, jika akan ada kejadian seperti ini. Sama seperti yang sering dia lihat di layar kaca, jika ada berita-berita pada siang hari.


"Tapi Mas..."


"Sudah Mbak. Mungkin hubungan kita ini memang sudah saatnya untuk dihentikan." Ferry kembali memotong kalimat mbak Nana, yang belum dia selesaikan.


Setelah Ferry selesai mengenakan baju dan celananya, dia mengambil tas miliknya yang tadi ada di dalam almari pakaian.


Sedangkan dompet dan handphone miliknya, masih ada di tangan istrinya. Yang saat ini menunggunya di luar sana. Bersama dengan adik iparnya juga, yaitu Danang.


Pada saat Ferry berjalan melewatinya, mbak Nana menubruk tubuh Ferry dan memeluknya erat.


"Mas... huhuhu..."


"Jangan tinggalin Aku ya Mas... hiks..."


"Aku akan menunggu kabar dari mas Ferry. Huhuhu..."


Mbak Nana terus menangis, meminta pada Ferry. Supaya tidak meninggalkan dirinya begitu saja setelah kejadian ini.


Dia masih berharap agar Ferry, tetap mau menjalin hubungan dengannya. Jika suasana sudah kondusif lagi, meskipun tidak untuk saat ini.


"Huhfff... Lepas Mbak! Biarkan Saya pergi bersama dengan istri Saya. Aku tidak mau dia datang ke sini lagi, dan melakukan sesuatu yang tidak pernah Aku bayangkan."


Meskipun sebenarnya mbak Nana berat melepaskan pelukannya, tapi mendengar perkataan yang diucapkan oleh Ferry. Dia juga ikut membenarkannya. Karena semua bisa saja dilakukan oleh orang yang sedang marah.

__ADS_1


Dan dia tahu, bagaimana posisinya sekarang ini. Sebagai orang ketiga, di dalam permasalahan rumah tangganya Ferry.


Laki-laki yang sudah membuatnya lupa dengan segalanya. Bahkan statusnya sebagai seorang istri dari suaminya sendiri. Yang saat ini sedang bekerja, untuk dirinya juga.


__ADS_2