Tante Melinda

Tante Melinda
Rasa Canggung


__ADS_3

Sekarang, suasana ruang tamu terlihat lebih tegang dibandingkan dengan yang tadi. Sebab, sekarang ini ada dua cowok, yang sedang bersaing untuk mendapatkan perhatian khusus dari Linda.


Susana canggung benar-benar terasa. Baik untuk Romi sendiri, maupun dokter Khan An.


Mereka bertiga, jadi bingung dan tidak tahu apa yang harus mereka bicarakan. Karena jika satu orang membicarakan hal ini, yang lainnya lagi tidak nyambung.


Akhirnya, mereka membicarakan tentang kondisi Linda saja. Yang kemungkinan besar bisa mereka bahas. Hingga pada saat ini, tiba-tiba saja ada Danang dan Della yang datang.


"Assalamualaikum..."


Danang dan Della, bersama-sama mengucapkan salam.


"Waallaikumsalam..."


Ketiga orang yang ada di ruang tamu, juga bersamaan menjawab ucapan salam dari Danang maupun Della.


"Mas Romi, mbak Linda,..." sapa Danang, sambil menyalami Romi. Kakak iparnya sendiri, baru kemudian Linda, dan dokter Khan An yang belum dua kenal.


"Saya dokter Khan An."


Dokter Khan An, merasa bingung dengan kedatangan Danang. Dia memperkenalkan dirinya sendiri, karena Danang menyalaminya, dengan tidak menyebutkan nama. Sama seperti pada saat bersalaman dengan Romi dan Linda.


"Ooo..."


Mulut Danang membola, memaklumi keadaan di ruang tamu rumahnya ini.


Begitu juga dengan Della.


Tadinya, dia sama bingungnya juga seperti Danang. Tapi sekarang, dia jadi menyadari, apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya.


Itulah sebabnya, tadi kakaknya sempat memberikan pesan padanya, supaya mereka berdua bisa datang ke rumah ini secepatnya.


Akhirnya Danang dan Della sama-sama memperkenalkan dirinya juga, kemudian ikut duduk di ruang tamu. Supaya kakak mereka, baik Linda maupun Romi, tidak merasa canggung lagi, karena keberadaan dokter Khan An di antara mereka berdua.


Setelah berbincang-bincang sebentar, akhirnya dokter Khan An mengetahui kebenaran tentang situasi yang ada.


Dia menyadari bahwa, kehadirannya di rumah Linda, sebenarnya tidak diharapkan oleh siapapun. Dia justru mengganggu pertemuan Romi dan Linda.


Tapi bukannya mengalah dan pamit untuk pulang, dokter Khan An justru memperhatikan bagaimana interaksi antara Linda dan Romi.


Dia berpikir tentang laki-laki yang menjadi pesaingnya ini. Dan Linda sendiri, sepertinya welcome meskipun kadang kala terlihat canggung juga. Mungkin karena keberadaannya, yang membuat Linda merasa tidak nyaman. Karena harus mengabaikan keberadaan dirinya.

__ADS_1


Akhirnya, dokter Khan An tahu diri. Sehingga dia harus pergi.


Dia pamit untuk pulang terlebih dahulu. Dengan alasan untuk mendatangi sebuah klinik yang baru saja mengundang dirinya, sebab ada tawaran untuk praktek di sana.


Tapi Romi tahu, jika itu hanya sebuah alasan saja. Katena tidak mungkin, ada wawancara kerja pada malam hari.


Namun, di saat dokter Khan An benar-benar sudah pergi, Romi kembali berpikir bahwa, kemungkinan besar pemilik klinik tersebut baru mempunyai waktu pada malam hari. Sehingga baru bisa bertemu dengan dokter Khan An. Untuk membahas masalah pekerjaan.


Tapi Romi juga bersyukur, karena dengan kepergian dokter Khan An, dia bisa punya banyak kesempatan untuk bisa bicara dengan Linda tanpa merasa canggung.


Apalagi, Danang dan Della juga tahu situasi dan kondisi. Sehingga mereka berdua segera pamit untuk pergi ke dalam, menemui kedua orang tuanya dan juga Erli.


"Lin. Kakak sengaja datang ke sini, untuk bicara serius denganmu."


Romi sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, karena ingin melihat reaksi dan tanggapan dari Linda.


Tapi ternyata, Linda tidak bertanya apapun. Dia justru menunggu Romi, untuk melanjutkan kalimatnya lagi.


"Aku... Aku ingin membahas tentang hubungan kita berdua." Romi kembali mengakhiri kalimatnya, dan fokus pada linda.


Sayangnya, Linda masih saja diam, dan tidak memberikan pertanyaan maupun keinginan untuk tahu lebih banyak lagi.


Ini membuat Romi ragu, untuk melanjutkan kalimat yang selanjutnya.


Linda menghela nafas panjang, sebelum akhirnya berkata, "Linda mendengarkan apa yang ingin Kak Romi bicarakan. Jadi, Linda tak mau menjedanya."


Mendengar perkataan Linda, akhirnya Romi tersenyum. Karena ternyata, Linda masih mau memperhatikan dirinya.


Dengan membuang nafas terlebih dahulu, romi melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat dia hentikan. Menyatakan maksud dan tujuannya pulang ke kampung dan menemui linda malam ini.


"Maaf jika apa yang kakak lakukan ini terkesan buru-buru. Tapi Kakak hanya tidak ingin Kamu berpikir bahwa, Kakak tidak sungguh-sungguh dengan niat kakak ini."


"Kakak ingin menikahi Kamu Dek."


Deg deg deg!


Jantung Linda berdegup kencang. Ada banyak sekali rasa yang ada dalam hatinya saat ini.


Perasaan hangat itu kembali hadir di hatinya. Perasaannya beli berbunga-bunga.


Tapi sedetik kemudian dia merasa tidak nyaman. Karena kepikiran tentang pamannya Romi, yang pastinya akan membuatnya lebih sakit kepala lagi nantinya. Jika harus sering bertemu dengan pamannya itu.

__ADS_1


Apalagi jika Romi sudah pergi ke kota besar, dan mereka sudah menjadi bagian dari keluarga besar.


Linda jadi pucat pasi, dengan keringat dingin yang keluar begitu saja.


Melihat bagaimana kondisi Linda yang tiba-tiba saja berubah, membuat Romi merasa khawatir.


"Dek. Dek Linda tidak apa-apa?" tanya Romi panik. Dia tidak tahu, apa yang sedang terjadi pada janda muda ini.


"Minum ini dulu Dek!"


Linda menerima gelas teh hangat, yang tadi sudah diminum oleh Romi sendiri. Sebab, tidak mungkin Romi harus masuk dan meminta air pada adiknya terlebih dahulu, untuk diminum Linda. Sebab, hal itu akan lebih lama lagi.


Setelah selesai minum teh hangat, Linda diminta Romi untuk mengatur pernafasan.


"Tarik nafas panjang dulu Dek, pelan-pelan. Lalu keluarkan juga secara perlahan-lahan."


Romi berikan instruksi kepada linda supaya mengatur nafas.


Linda juga patuh pada instruksi yang diberikan oleh romi. Dan itu cukup manjur, sehingga dia bisa mengontrol dirinya.


Setelah beberapa saat kemudian, kondisi Linda sudah cukup stabil.


"Apa yang Kamu rasakan Dek?" tanya Romi pelan-pelan. Dia tidak mau membuat Linda merasa tertekan lagi.


"Maaf ya Dek. Jika kedatanganku dan pernyataan ku ini terkesan tiba-tiba, dan juga memaksa."


Romi justru mengucapkan permintaan maafnya kepada Linda, sebab dia berpikir bahwa, kondisi Linda yang tadi tiba-tiba seperti itu, akibat dari rasa terkejut atas pernyataannya yang tadi.


Tapi nyatanya Linda mengelengkan kepalanya beberapa kali.


"Tidak Kak. Ini bukan karena Kakak. Linda... Linda ada, ada yang Linda takutkan," terang Linda dengan terbata-bata.


Dia belum bisa mengatakan alasan yang sesungguhnya, kenapa tadi dia merasakan ketakutan seperti itu.


Linda belum berani mengungkapkan masa lalunya, yang menurutnya itu tidak patut untuk diceritakan. Ada rasa malu, kecewa, sedih dan marah, jika mengingat hal tersebut.


Dan Romi memaklumi kondisi Linda, seandainya ada rasa trauma tersendiri dengan pernikahan. Sebab dia pikir bahwa, ketakutan Linda karena pernikahannya bersama Ferry di awal-awal dulu. Yang katanya tidak ada kebagian sama sekali.


Romi belum tahu cerita yang sebenarnya, mengenai rasa takut Linda.


Tapi dia bersabar dan menunggu Linda, untuk mau menceritakannya sendiri.

__ADS_1


Romi akhirnya memanggil kedua adiknya, Danang dan Della, upaya keluar dan ikut berbincang-bincang dengan mereka. Agar suasana tidak kembali tegang.


Menurutnya, Linda perlu suasana yang santai, agar tidak merasakan kembali rasa ketakutannya yang tadi.


__ADS_2