
Siang hari, di jam istirahat.
Danang, yang sudah terbiasa menikmati makan siangnya bersama dengan Della, sekarang juga bertemu dengan istrinya itu. Untuk menikmati makan siang mereka, di jam istirahat kerja.
"Hari ini mau makan siang apa Mas?"
Pertanyaan yang diajukan oleh istrinya itu, dijawab oleh Danang dengan menyerahkan pilihan pada Della sendiri.
"Terserah Kamu Yang. Mau makan apa saja, jika sama Kamu juga rasanya tetap nikmat kok," ujar Danang, sambil tersenyum menggoda istrinya.
Della baru saja datang lima menit sebelum jam istirahat kantor.
Dia mengusahakan sebisa mungkin, supaya bisa makan siang di sekitar perusahaan. Agar bisa bersama dengan suaminya, sama seperti biasanya.
Sebab, tadi dia ada tugas ke kantor BPJS, untuk mengurus beberapa pendaftaran karyawan baru di sana.
Akhirnya Della meminta kepada suaminya itu, untuk pergi ke warung makan Lamongan saja. Dia sedang ingin makan bebek goreng.
Dengan senang hati, Danang membonceng istrinya itu untuk pergi ke warung makan Lamongan. Yang sudah diberitahukan oleh Della, lamongan mana yang akan mereka tuju.
Setibanya di warung makan Lamongan, mereka melakukan pesanan. Sama seperti yang diinginkan oleh Della.
Sambil menunggu pesanan datang, Danang memberitahukan pesan yang tadi dia terima. Dan untuk disampaikan pada Della. Karena dari kakaknya Romi.
"Mas Romi pulang ke rumah lho Yang."
"Mas Romi pulang, kapan mas Danang tahu?" tanya Della kaget.
Dia memang tidak tahu kepulangan kakaknya itu. Lagipula dia tidak memegang handphone sedari tadi.
Akhirnya, Danang menceritakan tentang telpon yang dia terima dari kakak iparnya itu.
"Jadi, Mas Romi baru saja pulang?" tanya Della lagi, memastikan bahwa, dia salah sangka, dengan cerita yang disampaikan oleh suaminya barusan.
"Mas Romi pulang mendadak ini karena..."
Della tidak melanjutkan kalimatnya, karena dia memang belum membicarakan hal ini kepada Danang.
__ADS_1
"Kenapa Yang?" tanya Danang penasaran. Sebab, isterinya itu justru menggantungkan kalimatnya. Tanpa memberikan kejelasan.
Tapi sebelum Della membuka mulutnya untuk berbicara, memberikan penjelasan kepada suaminya, pelayan datang membawakan pesanan makanan untuk mereka.
"Kita makan saja dulu Mas. Della sudah lapar ini," terang Della, dengan mengusap-usap perutnya sendiri.
Danang hanya mengangguk saja, kemudian membiarkan istrinya itu menikmati bebek goreng yang dia inginkan untuk menu makan siang mereka berdua.
Setelah beberapa saat kemudian, Della dan Danang sudah selesai menyantap makan siang mereka.
Kali ini, tanpa di minta, Della mulai menceritakan tentang rencana kakaknya, Romi, pada suaminya yang tadi bertanya.
Danang hanya diam saja, mendengarkan cerita istrinya. Sebab dia ingin mendapat kejelasan, tentang kedatangan kakaknya Romi yang tidak ada rencana sebelumnya.
Setelah selesai memberikan penjelasan kepada Danang, Della bertanya, "menurut mas Danang sendiri, sebaik adik dari mbak Linda, apa mas Danang mau menerima mas Romi, untuk menjadi suaminya mbak Linda?"
Danang diam sejenak, sebelum akhirnya memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh istrinya itu.
"Aku... Aku tidak bisa menjawabnya Yang. Aku menyerahkan semua keputusan kepada mbak Linda sendiri, karena Mbak Linda sudah punya hak, untuk menentukan masa depannya sendiri."
"Entah dia mau menerima atau tidak, Aku tidak ingin mempengaruhinya. Tapi, Aku tidak akan pernah setuju, jika paman yang akan melamar dan menjadikan mbak Linda sebagai seorang istri."
"Mas. Della juga tidak akan setuju jika pengamen yang melamar mbak Linda! Bagaimanapun juga, perasaan kedua istrinya paman juga harus diperhatikan. Dan Della tidak seperti paman."
"Menurut Della, mas Romi juga tidak sama seperti paman kok," ujar Della, memberikan penilaian kepada kakaknya sendiri, maupun pamannya juga.
Dia sama seperti suaminya, Danang, yang tidak mungkin rela, jika kakak iparnya itu harus menjadi istri ketiga dari pamannya.
Della lebih setuju dan mendukung, seandainya Linda mau menerima lamaran kakaknya sendiri, yaitu Romi.
"Ya sudah yuk kita balik! Nanti sore kita pulang ke rumah, dan membicarakan ini pada mas Romi." Danang mengajak istrinya itu, untuk kembali ke perusahaan.
*****
Pamannya Della, sedang menghitung tabungannya yang sangat banyak, diruang tamu rumah istri keduanya.
"Pak. Ibu minta uang dong! Ada perhiasan temennya ibu itu yang mau dijual. Murah lho Pak, daripada dijual ke toko perhiasan kan lebih murah, tapi kalau Ibu yang beli di toko perhiasan, harganya akan jauh lebih mahal. Jadi... Ibu mau beli perhiasannya saja. Soalnya Ibu suka sama modelnya Pak!"
__ADS_1
Istri keduanya melihat ke arah meja, dengan tatapan mata yang berbinar-binar senang. Karena melihat uang yang bertumpuk-tumpuk, di atas meja tersebut.
"Mau berapa?" tanya suaminya enteng.
"Katanya sih, jika di beli ke toko perhiasan langsung, harganya tujuh puluh lima juta. Tapi dia mau kasih harga enam puluh lima juta saja itu Pak. Kan lumayan, irit sepuluh juta."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh istrinya, suaminya itu mengerutkan keningnya. Karena dia tidak percaya, jika teman dari istrinya itu, mau memberikan kerugian untuk dirinya sendiri. Dengan memberikan harga yang lebih kecil, dari harga beli di toko perhiasan sebesar sepuh juta.
"Kamu yakin Bu, jika riasan itu asli?"
Dia ragu, jika perhiasan yang dibicarakan oleh istrinya itu benar-benar emas asli.
"Iya Pak. Dia juga pernah menjual perhiasan seharga seratus juta pada salah satu temenku kok. Dan sewaktu di cek ke toko perhiasan itu memang benar-benar asli!"
Mendengar penjelasan yang sangat menyakitkan, akhirnya suaminya itu mau memberikan beberapa gepok uang yang diperlukan oleh istrinya. Demi bisa membeli perhiasan yang diimpikan.
Dia tidak perlu merasa risau, dengan sejumlah uang yang hanya sedikit menurutnya.
"Ini Aku kasih Bu. Tapi ada syaratnya!"
"Syarat apa Pak?" tanya isterinya cepat.
Istrinya itu berpikir bahwa, syarat yang diajukan oleh suaminya itu sama seperti sebelum-sebelumnya. Yaitu hanya ingin mendapatkan pelayanan yang lebih di tempat tidur, selama beberapa hari ke depan.
"Bapak mau kawin lagi."
Mata sang istri membulat sempurna. Dia tidak menyangka, jika suaminya itu pengajukan sebuah syarat yang menurutnya sangat berat.
"Menikah lagi Pak?" tanya istrinya, mengulang pertanyaan yang dia pikir salah di telinganya.
Tapi ternyata, suaminya itu mengangguk dengan pasti. Jika apa yang tadi dia denger tidak salah.
"Pak! Kamu itu sudah punya dua istri lho Pak! Memangnya mau berapa lagi?" Istrinya itu mencoba untuk mengingatkan, supaya suaminya sadar dari apa yang baru saja diucapkan tadi.
"Kenapa? menurut saja Bu. Dan Kamu tidak akan pernah kekurangan." Sang suami, justru bertanya dan memberikan ancaman secara tidak langsung.
Mendengar ancaman yang tersirat di dalam perkataan suaminya, sang istri pun menciut karena takut.
__ADS_1
Dia tidak mau jika kekurangan uang atau barang-barang yang dia butuhkan, karena selama ini, dia memang tidak pernah merasakan kekurangan atau kesulitan untuk memenuhi semua kebutuhannya, bahkan bisa dibilang jika berlebih. Meskipun dia menjadi istri kedua.