
Sebulan sudah, Linda kembali ke rumah. Semua berjalan sebagaimana mestinya, dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Tapi, dia belum melaksanakan rencananya, untuk bisa bekerja lagi di luar rumah.
Sikap dari polisi Ferry, juga tidak lagi sama seperti dulu.
Dia tampak perhatian dan juga lebih sering berada di rumah. Tidak seperti dulu, yang sering pergi, meskipun sebenarnya tidak ada jam tugas untuknya.
Erli juga semakin pintar dan tumbuh dengan sehat.
Badannya lebih gemuk, dibanding dengan kemarin, di saat mama dan papanya sedang bermasalah.
Dan sekarang, Erli juga sudah semakin jelas, jika mengucapkan kata-kata.
"Mama. Liat-liat! Itu udah mulai," teriak Erli dengan senang hati. Di saat melihat acara televisi cartoon kesukaannya tayang di layar kaca.
"Ya sudah. Erli duduk nonton ya! Mama mau ambil makan untuk Erli. Mau?"
"Mau-mau Ma. Mau mau mammm!"
Dengan semangat, Erli menjawab pertanyaan dari mamanya. Dia juga berjingkrak-jingkrak, kegirangan, menirukan gaya cartoon yang ada di layar kaca.
Linda tersenyum senang, melihat anaknya yang dalam keadaan seperti sekarang ini. Dia segera beranjak menuju ke arah dapur. Mengambilkan makanan untuk Erli.
"Assalamualaikum...".
Dari arah luar rumah, terdengar suara orang mengucapkan salam.
"Waallaikumsalam..."
Linda, membalas ucapan salam tersebut dari tempatnya berada, yaitu di dapur.
Erli juga ikut-ikutan membalas ucapan salam tersebut. Meskipun dia tidak bisa mengucapkannya dengan lengkap dan benar.
Orang yang tadi mengucapkan salam, masuk tanpa menunggu untuk dibukakan pintunya, oleh tuan rumah. Karena orang tersebut adalah polisi Ferry sendiri.
"Halo Sayangnya Papa!"
Polisi Ferry menyapa Erli, dengan merentangkan kedua tangannya, untuk bersiap-siap memeluk Erli.
Dengan gembira, Erli juga menyambut pelukan papanya. Dia tampak tersenyum riang gembira, karena kedatangan polisi Ferry, sebelum dia makan.
Dari arah dapur, muncul Linda yang membawa mangkuk kecil, berisi makanan untuk Erli, anaknya.
"Sayang mau makan ya?" tanya polisi Ferry, yang ditujukan untuk anaknya, saat dia melihat istrinya itu membawakan makanan untuk Erli.
__ADS_1
"Ya-ya. Mamammm... mamammm..."
Erli menjawab dengan antusias. Dia menyambut kedatangan mamanya, Linda, dengan senyum yang merekah.
Begitulah kehidupan Linda sekarang ini. Semua kembali membaik, setelah apa yang terjadi pada dirinya, akibat kelakuan suaminya, polisi Ferry.
Tapi siapa sangka, kebahagiaan yang dirasakan oleh Linda, tidak bertahan lama.
Roda berputar, dan Linda, yang belum merasakan berada di atas, harus kembali lagi ke bawah, dengan segala hal yang dia rasakan sekarang ini.
*****
Dua tahun kemudian.
Polisi Ferry dipecat dari jabatannya sebagai abdi negara. Dia di non aktifkan sebagai seorang polisi.
Dan ini karena beberapa hal, kesalahan yang dilakukan oleh polisi Ferry sendiri.
"Maaf Dek."
Hanya kata maaf saja, yang bisa dikatakan oleh polisi Ferry, saat berita itu sampai di telinga istrinya, Linda.
Linda kembali terguncang. Apalagi sekarang ini, keuangan keluarga tentunya berhenti juga. Dan tidak mungkin, Linda meminta kepada orang tuanya, atau Danang, sebagai adiknya.
Tapi, tetap saja ini tidak berpengaruh terhadap kebaikan keuangan mereka. Karena, sekarang, dia sudah tidak lagi menjadi seorang polisi.
Polisi Ferry, telah menjadi rakyat sipil, sama seperti yang lain.
Sebenarnya, ibu dan adiknya itu, sudah meminta pada Linda untuk bercerai dari suaminya itu.
Tapi Linda juga tidak mungkin mematahkan hati anaknya, dengan memisahkan Erli dengan papanya. Polisi Ferry.
Dan Linda, juga tidak mau meninggalkan suaminya itu, dalam keadaan terpuruk seperti sekarang.
Itulah sebabnya, Linda bertekad untuk bisa keluar dari kesulitan keuangan yang dialami oleh keluarga kecilnya itu.
Dia kembali meminta ijin pada suaminya, untuk bisa bekerja lagi di luar rumah.
Apalagi, Erli sudah mulai masuk sekolah taman kanak-kanak.
"Mas, Linda melamar kerja ya," pamit Linda pada suatu pagi.
Suaminya itu mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Linda yang berdiri di depannya, saat Ferry duduk di teras.
__ADS_1
Dia memperhatikan bagaimana penampilan Linda sekarang.
"Mau melamar kerja di mana? Kok pakaiannya biasa gitu, gak formal?" tanya Ferry curiga.
Linda mengunakan celana jeans panjang, dengan blus katun warna hitam. Kontras dengan warna kulit putihnya yang bule. Rambutnya juga cuma di kuncir jadi satu.
"Di daerah kita ini sekarang ada pabrik baru Mas. Bahkan, masih dalam tahap pembangunan juga. Linda mau melamar kerja di sana."
Ferry terdiam. Dia sebenarnya tidak mau jika, Linda harus bekerja di luar rumah. Ini akan mengakibatkan dirinya cemburu, karena kecantikan istrinya itu, bisa membuat siapa saja tertarik.
Dia takut jika Linda berpaling. Kemudian meninggalkan dirinya yang sudah tidak lagi bekerja sebagai seorang polisi.
"Apa tidak ada pekerjaan yang dilakukan di rumah atau dekat-dekat rumah?" tanya Ferry, yang tidak bisa menolak keinginan istrinya itu untuk bekerja lagi.
"Kerja apa Mas?" tanya Linda meminta suaminya memberinya pandangan.
"Buka toko? kita gak punya modal Mas. Dan mas Ferry juga tidak mungkin kerja di sebuah PT, karena gak bisa buat surat keterangan berkelakuan baik di kantor polisi."
Apa yang dikatakan oleh Linda, membuat Ferry menghela nafas panjang. Dia tahu bahwa, apa yang tadi dikatakan oleh istrinya itu memang benar.
"Mumpung PT itu baru Mas. Jadi, Linda yang tidak punya pengalaman dan tidak lagi muda, masih ada kesempatan untuk bisa masuk kerja. Karena mereka pasti membutuhkan pegawai yang cukup banyak untuk sebuah perusahaan multi internasional seperti itu."
Linda menjelaskan pada suaminya itu bahwa, PT yang sedang dibangun di daerahnya sekarang ini adalah perusahaan dengan merk terkenal multi internasional. Dan barang produksi di perusahaan tersebut, tidak dipasarkan di Indonesia. Melainkan di luar negeri.
Jadi, barang-barang jadi yang diproduksi akan di ekspor ke luar, sesuai dengan negara yang melakukan pesanan.
"Kamu tau dari mana itu?" tanya Ferry, di saat Linda selesai memberikan penjelasan kepadanya.
"Dari beberapa teman sekolah, yang kebetulan ketemu kemarin, saat mengurus surat-surat perlengkapan untuk melamar pekerjaan."
Sekarang, Ferry tidak lagi bisa menghalangi keinginan Linda.
"Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting, Kamu jaga diri ya!"
Linda mengangguk mengiyakan perkataan suaminya itu. Dia juga tersenyum senang, karena sudah mendapat ijin, untuk melamar pekerjaan di PT.
Dengan harapan untuk bisa merubah keadaan keluarganya dari keterpurukan ekonomi, Linda bertekad untuk bisa mendapatkan pekerjaan tersebut.
Linda tidak sadar jika, kehidupan di sebuah PT dengan produksi yang seperti dua ceritakan tadi, tidaklah mudah.
Apalagi, Linda tidak ada pengalaman sama sekali. Meskipun dia sudah pernah bekerja di gudang kayu, tentu suasana dan kondisinya berbeda jauh.
Persaingan kerja dan lingkungan teman-temannya, juga akan mempengaruhi segala sesuatu. Baik dari segi positif atau negatif.
__ADS_1
Linda juga tidak sadar jika, kehidupannya akan berubah. Seiring berjalannya waktu, selama dia menekuni dunia kerja di perusahaan yang baru saja dia masuki.