
"Kita cari makan dulu ya!"
Pak Komarudin, mengajak Linda mampir ke sebuah warung makan Padang. Di mana, warung dengan makanan khas daerah Sumatra itulah yang memang menjadi favorit lidahnya.
Apalagi, dia memang berasal dari daerah sana juga.
Linda hanya mengangguk saja, dan tidak memprotes ajakan pak Komarudin. Meskipun sebenarnya, Linda ingin segera pulang. Karena hari sudah semakin larut malam.
Di saat Linda baru saja mau memulai suapan, handphone miliknya berdering di dalam tas. Dan pada saat Linda melihat handphonenya, ternyata suaminya menelpon dirinya.
'Maaf Pak. Saya keluar terima telpon dulu."
Pak Komarudin hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. Dia tahu jika, yang menelpon Linda pastilah suaminya.
Linda tiba di luar, baru kemudian menekan tombol hijau, untuk menyambungkan panggilan telpon tersebut.
..."Halo Mas."...
..."Sudah pulang Dek?"...
Linda bingung mau menjawab pertanyaan tersebut. Karena sebenarnya dia memang sudah pulang.
Tapi karena di ajak untuk mampir makan terlebih dahulu sama Pak Komarudin, akhirnya dia belum bisa sampai di rumah.
..."Su_sudah Mas. Ini nunggu bungkus makanan. Mas belum makan kan?"...
Akhirnya, Linda menemukan alasan yang dirasa tepat untuk dikatakan pada suaminya itu.
..."Oh. Iya belum. Tapi Erli sudah tadi."...
..."Apa Erli sudah tidur Mas?"...
..."Iya. Dia baru saja dia tidur."...
..."Baiklah. Linda pesan makanan dulu ya Mas. Mas mau lauk apa?"...
..."Apa sajalah Dek. Terserah Kamu."...
..."Ya Mas."...
..."Apa perlu Aku jemput Dek?"...
..."Gak usah Mas. Kasihan Erli sendiri jika di tinggal. Ini juga sudah pesan ojek. Di tunggu di luar warung."...
..."Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya Dek!"...
..."Iya Mas."...
__ADS_1
Klik!
Linda menghela nafas panjang, kemudian melangkah kembali menuju ke tempat duduknya yang tadi. Bersama dengan pak Komarudin.
"Bagaimana Lin?" tanya Pak Komarudin ingin tahu, apa yang ditanyakan oleh suaminya Linda.
"Saya bungkus makanan ini saja ya Pak. Sekalian mau bungkus juga buat suami Saya."
Linda menunjuk ke arah piringnya yang masih utuh. Sedangkan piring pak Komarudin sudah bersih.
"Kenapa tidak di makan di sini saja?" tanya pak Komarudin lagi.
"Nanti tambah malam Pak," sahut Linda memberikan alasan.
"Oh..."
Mulut pak Komarudin hanya membola saja. Dia tidak mungkin lagi meminta pada wanita yang ada di depannya saat ini, untuk lebih lama lagi menemaninya.
Karena besok pagi, mereka berdua juga harus berangkat kerja.
Akhirnya, makanan yang ada di piringnya Linda, di minta untuk dibungkus. Sekalian nambah satu bungkus lagi, untuk di bawa pulang oleh Linda.
Di dalam mobil, saat perjalanan menuju ke arah rumah Linda, lampu mobil sengaja dimatikan oleh pak Komarudin.
"Lin. Kita gak ada waktu sebentar ini?" tanya pak Komarudin, masih dengan tangan memegang setir.
Linda menoleh. Sebenarnya, dia sudah sangat capek. Tapi sisi lain dari hatinya, juga ingin merasakan sensasi yang berbeda dan sudah dia rasakan beberapa kali bersama dengan pak Komarudin.
Linda diam dan memejamkan mata, untuk menikmati sentuhan tangan tersebut.
Pak Komarudin melirik sekilas ke arah Linda yang terpejam. Dia semakin bersemangat, untuk melakukan hal-hal yang perlu dia lakukan. Meskipun hanya dengan satu tangannya saja.
Pada saat tangan itu sudah sampai di tubuh bagian atas, Linda menghadap ke arah pak Komarudin. Meskipun hanya dari arah samping.
Dengan demikian, memudahkan tangan asisten manager tersebut, untuk melakukan apa saja yang bisa dia lakukan pada Linda.
Dan ini sangat disukai oleh Linda sendiri. Dia mendesis keenakan. Membuat Linda tidak bisa diam saja, untuk bisa menyalurkan kegiatan tangannya juga.
Akhirnya, dalam keadaan mobil yang melaju pelan, Linda dan pak Komarudin mendapatkan kepuasan tersendiri, dengan cara mereka.
"Terima kasih Lin," ucap Pak Komarudin, di saat mereka berdua sudah kembali merapikan diri.
Linda mengangguk sambil tersenyum. Dia juga menghela nafas panjang, saat mendapatkan kepuasaan tersendiri yang tidak bisa dia dapatkan dari suaminya.
Linda juga merasa heran, dengan apa yang dia rasakan ini. Karena dia masih melakukan aktivitas seperti layaknya hubungan suami istri yang normal.
Tapi, Linda merasa apa yang dia rasakan saat melaksanakan semuanya tadi itu berbeda, dengan jika dia melakukannya bersama suaminya.
__ADS_1
Padahal, dengan pak Komarudin ini, tentu saja tidak bisa sama seperti jika dia melakukannya dengan suaminya sendiri.
Tapi Linda tetap merasakan kebahagiaan yang berbeda. Dan ini membuat Linda menjadi ketagihan untuk terus melakukannya lagi. Dan lagi.
*****
Tiba di rumah, Linda mengetuk pintu.
Tok tok tok!
"Mas. Ini Linda," ucap Linda memberitahu pada suaminya, supaya segera di bukakan pintu.
Tadi, Linda turun dari mobil pak Komarudin, di ujung jalan yang menuju ke rumahnya.
Clek!
Pintu terbuka, dan tampak Ferry yang sedang menguap.
"Maaf Mas. Jadi menuggu lama."
Linda meminta maaf pada suaminya, atas keterlambatannya pulang dari kerja.
Ferry hanya mengangguk saja. Dia sudah merasa ngantuk. Apalagi, tidak ada Erli yang bisa dia ajak berbincang. Meskipun anaknya itu juga belum tentu tahu, apa yang dia katakan.
Setelah Linda masuk, dia meletakkan bungkusan makanan yang dia bawa.
Linda juga menyiapkan piring dan sendok untuk makan mereka berdua. Yang tentu saja sudah terlambat.
"Kamu gak mandi dulu Dek?" tanya Ferry karena, karena melihat linda yang langsung duduk untuk segera makan.
"Nanti saja Mas, selesai makan. Mas juga belum makan kan?"
Akhirnya, Ferry tidak bertanya lagi. Dia ikut duduk dan makan bersama dengan istrinya yang baru saja pulang.
Ferry tidak tahu, apa yang terjadi dilakukan oleh istrinya itu, di luar pekerjaannya di pabrik sebagai leader di tim nya.
"Kamu gak capek Dek kerja di pabrik? Berangkat pagi sekali. Pulang sudah malam. Apa gak lebih baik di rumah saja?" tanya Ferry, saat dia sudah selesai makan.
Linda, yang masih dalam keadaan makan, tidak segera menjawab pertanyaan tersebut. Dia masih melanjutkan makannya, dan segera membereskan peralatan makan begitu selesai makan.
Dia juga langsung pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum tidur.
Dan Ferry, masih duduk berdiam diri di tempat duduknya yang tadi. Dia memperhatikan bagaimana Linda yang terlihat jelas jika sedang dalam keadaan capek.
Itulah sebabnya, dia bertanya seperti tadi. Karena berharap supaya istrinya itu mau berhenti kerja dan di rumah mengurus anaknya saja. Sama seperti waktu dulu.
Tapi, beberapa saat kemudian. Ferry tersadar dari apa yang dia pikirkan. Dia tahu jika, keadaannya seperti sekarang ini juga karena kesalahannya sendiri.
__ADS_1
Jadi, dia tidak mau lagi membahasnya. Ferry tidak mau jika istrinya itu marah dan pergi meninggalkan dirinya.
Meskipun sebenarnya, Ferry juga berharap Linda akan tetap setia kepada dirinya. Dan tidak sama seperti para pekerja pabrik, yang sering dia dengar berita dan gosip jika, para pekerja di sana banyak yang memiliki cinta lokasi dengan teman atau atasannya.