
Seharian ini, Pamannya Romi marah-marah terus. Dengan alasan yang tidak jelas.
Sampai-sampai, istri keduanya itu harus pergi dari rumah, untuk sementara waktu. Supaya tidak mendengarkan ocehan dari suaminya yang tidak jelas karena apa.
Tapi, sebagai istri yang sudah terbiasa dengan sikap dan watak suaminya, istrinya itu tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya saat ini.
Itulah sebabnya, dia terpaksa meninggalkan rumah. Untuk bertemu dengan teman-teman arisannya. Daripada harus berada di rumah, mendengarkan semua ocehan yang tidak penting baginya.
"Set4n itu si Romi! Tahu gitu, Aku gak datang ke rumah si Linda kemarin malam. Ehh, malah diminta jadi wali pihak keluarga, untuk melamar si Linda. Kan gendeng! padahal dia tahu, jika niatan ku ke rumah itu juga buat nembung si Linda itu."
*nembung artinya meminta. Jadi, pamannya Romi datang, bermaksud untuk meminta Linda sebagai calon istrinya.
"Dasar ponakan gak tahu diri!"
"Gendeng!"
"Awas Kamu Romi!"
Setelah mendengar semua ocehan tersebut tadi itulah, istrinya pergi secara diam-diam, tanpa pamit terlebih dulu padanya.
Dan keadaannya sekarang ini, semakin membuatnya marah-marah. Karena dia jadi ngoceh sendiri, dan tidak ada yang menjadi pelampiasannya.
Klunting... klunting!
Ponselnya berdering, membuat pamannya Romi berhenti mengoceh sendiri.
Ada nama rekan kerjanya di layar ponsel miliknya. Sehingga dia harus cepat menerima panggilan telpon tersebut.
..."Ya halo. Bagaimana investasi yang kemarin kabarnya? kenapa ayep!"...
..."Wahhh... Ini ada permainan kayaknya. Bandar gak bisa dihubungi lagi. Udah beberapa minggu ini, nomor ponselnya juga tidak aktif. Apa Kamu punya kabar lainnya?"...
..."Hehhh! apa Kamu bilang?"...
..."Dia tidak bisa dihubungi! Kamu gak budek kan, setelah mendengar berita ini?"...
..."Siall_lan Kamu. Dasar cong_ek! Apa maksudmu dengan kabur? Apa dia membawa semua uang kita?"...
..."Ya iyalah! Mana ada kabur bawa badan doang!"...
..."Arghhh! B4ngke emang tuh orang!"...
..."Cepat ikut cari! Jangan ngerem aja di kamar. Mentang-mentang isterinya dua!"...
..."Set4an Kamu! Udah gak usah banyak ngomong!"...
Klik!
Prankkk!
Asbak alumunium yang ada di atas meja, menjadi tempat pelampiasan pamannya Romi. Di saat mendengar berita tentang investasi yang dia lakukan, ternyata dibawa kabur oleh kenalannya.
Begitu juga dengan salah satu temannya, yang juga ikut berinvestasi sama seperti dirinya.
__ADS_1
Pamannya Romi itu, menginvestasikan sejumlah uang yang sangat banyak. Karena dia memang memiliki banyak uang, dari berbagai usaha yang dia lakukan selama ini.
Dia juga, yang dulunya merawat Romi dan adiknya, Della. Sebab, kedua orang tuanya Romi memang sudah tidak ada.
Itulah sebabnya, meskipun kelakuan pamannya itu lumayan rusak, Romi dan Della tetap menghormatinya. Meskipun sebenarnya mereka berdua tidak suka dengan sifat pamannya itu.
Tapi di saat pamannya itu punya niatan pada Linda, akhirnya Romi dan Della menentang.
Bukan karena soal perasaan cinta Romi saja pada Linda, tapi karena kehidupan kedua istri pamannya. Yang sudah terbilang tidak harmonis lagi.
Apalagi nanti, jika tambah lagi dengan Linda. Yang tentu saja akan menjadi saingan berat berdua istri sebelumnya.
Semua itu akan mempengaruhi kehidupan pamannya, termasuk juga perkembangan mental anak-anaknya. Yang sedang tumbuh kembang menjadi remaja.
Jadi, Romi memutuskan untuk segera meminang Linda. Bahkan jika mungkin, dia akan segera menikahi Linda secepatnya.
"Siall bener nasibku kali ini. Udah gak dapat janda muda yang cantik, ehhh kena tipu juga. Apes-apes!"
Sekarang, pamannya Romi duduk dengan lemas. Menyesali semua yang sudah dilakukan, dengan nekad menginvestasikan sebagian besar dari tabungannya.
Itu artinya, saat ini dia jatuh bangkrut. Dan tidak bisa lagi memberikan kemewahan kepada istri keduanya.
"Bagaimana caranya Aku menjawab atau menolak keinginannya, seandainya dia meminta sesuatu?"
"Benar-benar siall Aku!"
"Oh ya. Kira-kira, Romi mau gak ya kasih Aku pinjem uang?"
Sekarang, pamannya Romi itu, justru punya pikiran dan rencana. Untuk meminta modal pada keponakannya itu.
Akhirnya, dia menghubungi Romi.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Tapi ternyata panggilan teleponnya tidak diangkat oleh Romi.
"Ini anak ke mana sih!"
"Apa dia ada di rumahnya Linda ya?"
Sekarang, pikirannya jadi tertuju pada Linda. Dan setelah itu, pamannya Romi menarik sudut bibirnya. Membayangkan apa yang akan dia lakukan nanti.
"Aku tidak bisa mengalah dengan mu Romi. Linda itu barang langka dan bagus. Tidak ada yang bisa menyaingi Linda secara fisik. Dan tidak ada yang bisa mendapatkan Linda selain Aku, hahaha..."
Tawa Pamannya Romi, justru terdengar seperti suara orang yang putus asa.
Dia tidak bisa penerima kenyataan bahwa, niatnya untuk bisa mendapatkan Linda pada akhirnya gagal. Karena keponakannya sendiri. Di tambah lagi dengan tabungannya juga raib.
Kesialan berturut-turut yang terjadi padanya, membuatnya sedikit kehilangan kesadaran. Sehingga banyak memiliki rencana yang tidak masuk akal yang akan dia buat.
*****
__ADS_1
Di rumah ibunya Linda.
Romi ikut menemani Erli, yang sedang mewarnai buku gambar. Di sampingnya, ada Linda yang sedang melatih kakinya dengan berjalan pelan-pelan.
"Kalau kalau capek nanti lagi Dek," ujar Romi, menegur calon istrinya itu.
"Gak Kak. Ini baru dapet dua puluh langkah kok dari tadi."
Linda bersemangat, melakukan latihan jalannya.
Apalagi, sepertinya Erli juga tidak keberatan dengan kehadiran Romi di antara mereka. Karena Erli, bisa langsung akrab dengan calon ayahnya itu.
Bahkan, di saat Romi memintanya untuk memanggil ayah, Erli juga tidak keberadaan.
Tapi karena belum terbiasa, kadang-kadang Erli masih memanggilnya dengan sebutan Om ayah.
Romi hanya tersenyum, mendengar panggilan dari Erli yang terdengar sedikit aneh.
"Ayah Om! Ehhh, Om ayah?"
Bahkan, Erli kadangkala bingung dengan sebutan-tersebut. Sehingga dia kebalik-balik saat menyebutkannya.
Dan hal itu membuat Romi maupun Linda, jadi tertawa kecil.
"Hehehe... gak apa-apa. Panggil apa saja boleh kok!"
"Maaf ya Kak. Erli belum terbiasa, jadi dia kadang-kadang masih lupa. Hehehe..."
"Gak apa-apa Dek. Kakak gak masalah."
Akhirnya, mereka bertiga melakukan aktivitas masing-masing sama seperti tadi.
Dari ruang tengah, ibu dan bapaknya Linda, mengintip dengan tersenyum bahagia. Melihat bagaimana keadaan di ruang tamu. Yang memperlihatkan keceriaan cucu mereka, Erli. Dan juga senyum bahagia dari anak mereka sendiri, yaitu Linda
"Pak. Ibu... ibu kok jadi sedih ya," ujar istrinya, sambil mengusap sudut matanya yang mulai berair.
"Sudah Bu. Tidak perlu disesali. Semua itu jalan takdir dari Allah. Untuk perjalanan hidup anak kita, Linda. Jadi, semua memang sudah diatur seperti ini."
Ibunya Linda hanya mengangguk saja, dengan masih mengeluarkan air matanya.
Dia merasa senang, karena pada akhirnya Linda bisa tersenyum bahagia. Dan bisa merasakan perasaan cinta lagi.
Di dalam hati ibunya, sesal itu tetap ada. Meskipun dia juga tahu, jika tidak bersama dengan Ferry. Dia juga tidak punya cucu seperti Erli.
"Ma. Mama gak akan balik kerja lagi kayak dulu kan Ma?"
Dari arah ruang tamu, terdengar pertanyaan Erli, yang ditujukan untuk mamanya.
Terlihat Linda yang masih terdiam, dan belum bisa menjawab pertanyaan anaknya itu.
Dia sendiri masih bingung. Seandainya dia sudah bisa berjalan dan masuk kerja. Dia juga tidak bisa naik motor sendiri. Karena kondisinya yang belum bisa dipastikan baik-baik saja, seandainya harus mengendarai sepeda motor seorang diri.
Lagi pula, ada rasa was-was dan cemas. Yang tiba-tiba saja datang, disaat membayangkan dia harus mengendarai sepeda motor.
__ADS_1
Mungkin, secara tidak sadar, ada rasa trauma juga pada Linda. Dengan mengendarai sepeda motor seorang diri.