
Bekerja di sebuah perusahaan besar, seperti tempat Linda bekerja, ternyata tidaklah mudah.
Ada banyak hal yang sama sekali tidak pernah diketahui Linda sebelumnya. Baik dari pengalamannya yang dulu, saat masih bekerja, atau dari cerita-cerita yang pernah dia dengar dari orang-orang.
Begitu juga pergaulan sesama karyawan. Persaingan tidak hanya dari segi pekerjaan. Penampilan dan kata-kata yang keluar dari mulut, juga kadang tidak bisa dengan mudah diterima.
Bullyan dan sindiran dari beberapa orang, terdengar tidak mengenakan telinga.
Bahkan, kata-kata yang kasar dan tidak layak untuk diucapkan, sering kali terdengar dari mulut-mulut manis sesama karyawan. Yang kebanyakan mereka adalah seorang perempuan.
"Mentang-mentang cantik. Langsung aja deh jadi leader."
"Pasti ada apa-apa tuh."
"Pastinya lah. Mana ada yang gratis?"
"Apalagi kalian tahu sendiri, bagaimana para atasan kita. Aiya kan?"
"Wah, pasti udah di obok- obok tuh."
"Hemmm..."
Kira-kira, seperti itulah kata-kata yang sering Linda dengar dibelakangnya. Bahkan dari orang-orang yang terlihat baik dan juga ramah padanya sedari awal perkenalan.
Ternyata, banyak dari mereka yang memiliki dua muka.
Dan itu baru Linda sadari, setelah beberapa hari bersama mereka. Bekerja di perusahaan ini.
Terutama di gedung yang menjadi tempat tugasnya. Dan itu tidak hanya dari orang-orang yang jauh, tapi juga dari anak-anak buahnya sendiri.
Jika ada kesalahan, umpatan dan kata-kata kasar, juga sering kali terdengar. Katanya, itu adalah hal yang wajar terjadi di sebuah pabrik.
Perusahaan tempat Linda bekerja, memang lebih dikenal dan biasa disebut dengan pabrik. Yaitu suatu bangunan industri besar, di mana para pekerja mengolah benda, atau mengawasi kerja mesin dari pengolahan satu produk menjadi menjadi produk lain, sehingga mendapatkan nilai tambah.
Dan di pabrik tempat Linda bekerja ini, adalah pabrik yang memproduksi sepatu siap pakai, dengan merk terkenal bertaraf internasional.
Tapi di daerahnya Linda, pabriknya ini lebih dikenal dengan pabrik garmen.
Padahal, pabrik garmen adalah sebuah pabrik pakaian atau tekstil. Dengan memproduksi berbagai macam dan jenis pakaian, untuk diperjual belikan kembali. Sehingga karyawan yang bekerja pada garmen ini terbilang sangat banyak.
__ADS_1
Bukan hanya puluhan orang, tapi ratusan. Bahkan ribuan orang. Tergantung besar kecilnya pabrik garmen tersebut.
Sedangkan untuk pabrik sepatu seperti tempat Linda bekerja, lebih tepatnya disebut sebagai perusahaan di bidang industri manufaktur.
Industri Manufaktur adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan. Sehingga menjadi barang jadi atau setengah jadi, dan mengubah barang yang kurang nilainya, menjadi barang yang lebih tinggi nilainya. Sehingga sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir, atau konsumen.
( Pengertian istilah pabrik garmen dan industri manufaktur berasal dari berbagai sumber suara yang ada )
Tapi orang-orang yang ada di daerahnya Linda, memberikan julukan yang sama untuk jenis pabrik-pabrik tersebut.
Apalagi, memang ada pabrik garmen, yang berdiri terlebih dahulu di daerahnya Linda, sebelum pabrik yang memproduksi sepatu, tempat Linda sekarang ini.
*****
"Hiks... hiks..."
Linda menangis sendiri di mejanya. Bukan karena apa-apa. Dia hanya merasa sakit sendiri dalam hati, mendengar perkataan dan suara-suara dari mulut yang usil mengatai dirinya.
Linda merasa sedih, atas apa yang mereka tuduhkan itu.
Padahal, Linda tidak pernah merasa seperti apa yang mereka katakan.
Pak Komarudin membiarkan Linda menangis hingga selesai. Dia memperhatikan bagaimana perempuan yang ada di depannya itu dalam keadaan sedih.
Sisi lain dari sifat laki-lakinya muncul. Yaitu ingin melindungi dan memberikan kenyamanan bagi wanita yang lemah.
Setelah beberapa menit kemudian, dan Linda masih saja menangis. Pak Komarudin tidak bisa menahan diri lagi untuk tetap diam saja.
Dia mendekat, dan dengan gerakan yang ragu, menjulurkan tangannya untuk mengelus rambut Linda.
Linda mendongak dengan cepat karena rasa kagetnya. "Pak Komarudin," sapa Linda, yang terburu-buru menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir.
Bahkan, meja yang ada di depannya sudah basah karena air matanya Linda.
Linda segera berdiri. Dan ini membuat pak Komarudin tidak lagi bisa mengelus rambutnya.
"Ada apa? Apa ada masalah pekerjaan?" Pak Komarudin bertanya dengan menebak sebuah kemungkinan, yang biasanya terjadi di wilayah kerjanya ini.
Linda masih belum bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu, sebelum mengatakan sesuatu.
__ADS_1
Melihat Linda yang sudah tidak lagi menangis seperti tadi, asisten manager tersebut memicingkan matanya, menatap ke arah wajahnya Linda. Meminta pada anak buahnya itu, untuk memberikan penjelasan dan jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan tadi.
Akhirnya, Linda mulai bicara. Dengan sangat hati-hati, Linda menceritakan bagaimana keadaan hatinya yang merasa sedih, atas semua dugaan dan perkataan teman-temannya.
Tapi ternyata Pak Komarudin hanya tersenyum tipis, mendengar semua cerita yang dituturkan oleh Linda padanya.
Dia mengambil tangan Linda, untuk dia genggam. Dia juga menepuk-nepuk punggung tangan Linda, dengan satu tangannya yang satunya.
Setelah itu, dia mengengam tangan Linda dengan kedua tangannya. Baru kemudian berkata, "Aku kan sudah bilang. Gak usah di dengar apa kata orang. Biarin aja. Itu hanya bentuk iri hati dari mereka-mereka."
Mendapatkan perlakuan yang lembut seperti itu, Linda merasa nyaman dan terlindungi.
Dia tidak menolak, saat kedua tangan atasannya itu masih saja mengengam_nya.
"Kamu bisa mencari dan menemui diriku, jika Kamu sedang dalam keadaan seperti ini."
Linda hanya mengangguk dan tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh asisten manager tersebut.
Kata-kata yang diucapkan dengan pelan dan lembut itu, seperti sebuah oase untuk Linda. Dia merasa ada seseorang yang peduli dan melindungi dirinya di tempat kerjanya, yang ternyata lebih keras dibandingkan kerja di sawah.
"Terima kasih Pak Komarudin. Saya... Saya akan berusaha untuk mengabaikan semua omongan orang-orang itu."
Pak Komarudin tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda.
Tapi, dia belum juga melepaskan tangannya, dari mengengam tangannya Linda.
Apalagi, Linda juga tidak berusaha untuk melepaskannya. Justru, pak asisten manager tersebut melihat keadaan Linda yang merasa nyaman dengan perlakuan itu.
Ini membuat pak Komarudin menjadi semakin berani.
Dengan gerakan pasti, tapi tidak disadari oleh Linda sendiri, dia merapatkan tubuhnya, untuk bisa lebih dekat dengan Linda. Bahkan, wajah mereka berdua tinggal beberapa centi saja jaraknya.
Linda menatap wajah pak Komarudin, yang terlihat sendu.
Dan Linda sendiri, juga tidak menolak perlakuan tersebut. Dia justru semakin merasa nyaman, dengan apa yang terjadi saat ini.
Mungkin, sisi hati Linda ingin mendapatkan perlindungan yang lebih. Dampak dari apa yang dia alami dalam keluarganya. Terutama dari suaminya sendiri.
Dan, apa yang terjadi diantara mereka berdua, hanya mereka saja yang tahu kelanjutannya.
__ADS_1
( Oh bukan hanya mereka berdua saja. Karena ada Tuhan, dan setan yang melihat kejadian tersebut )