
Clek!
Pintu kamar terbuka. Linda keluar dari dalam kamar, dalam keadaan sudah rapi. Sepertinya dia mau pergi.
"Dek…"
"Aku mau pergi ke rumah ibu. Mas Ferry tidak usah ikut." Linda, langsung memotong kalimat Ferry yang belum selesai.
"Tapi Dek…"
"Mas Ferry lupa? Bukankah kemarin mas Ferry sendiri, yang pamit pada ibu dan bapak. Jika hari ini Mas ada kerjaan ke luar kota. Meskipun sebenarnya bukan ke luar kota juga."
Linda kembali memotong kalimat Ferry, yang belum selesai. Bahkan Linda juga belum sepenuhnya tahu, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh suaminya itu.
Dengan diamnya Ferry, Linda kembali melanjutkan langkahnya menuju ke arah pintu.
Tapi sebelum benar-benar membuka dan keluar dari pintu, dia kembali menoleh ke arah suaminya. Yang masih duduk berdiam ditempanya yang tadi. Linda kemudian berkata, "lebih baik Mas Ferry pergi mandi, dan beristirahat. Mas Ferry pasti capek kan?"
Mungkin jika yang mendengar perkataan Linda itu adalah orang lain, atau Ferry sendiri. Tapi tidak dalam keadaan bersalah seperti ini, perkataan Linda bisa diartikan sebagai perhatian yang besar terhadap suaminya.
Tapi tentu saja tidak untuk kali ini.
Perkataan yang diucapkan oleh Linda dengan wajahnya yang tampak datar itu, adalah sindiran dan bully-an untuk Ferry sendiri.
Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan hanya bisa menundukkan kepalanya. Tanpa menyahuti perkataan yang diucapkan oleh istrinya itu.
Clek!
Linda akhirnya pergi juga. Dan setelah suara motor Linda tidak lagi terdengar, Ferry meninju kursi tamu. Di mana tadi Linda duduk, dan dia dalam keadaan bersimpuh. Di depannya Linda.
Bug!
Bug!
Bug!
Untung saja, kursi tamu di rumah adalah kursi dengan bentuk sofa. Jadi tangan Ferry tidak begitu terasa sakit, meskipun meninju kursi tersebut beberapa kali.
"agrhhh…".
Ferry berteriak tidak jelas, menyesali semua yang sudah terjadi.
"Bodoh kau Ferry! Bodoh!"
"Assuuuu ke Ferry!"
"Tidak tahu diuntung. Tidak bisa berpikir jernih. Bodohnya kau Ferry!"
__ADS_1
Makian yang diucapkan oleh Ferry, ditujukan untuk dirinya sendiri, karena merasa kesal dan menyesal. Kini dia menangis terguguk sendiri di ruang tamu.
"maaf Dek… huuu… maaf Erli… huuu… Papa, Papa bukan Papa yang baik. Hiks!"
*****
Di jalan, Linda tak kuasa lagi menahan tangisnya. Tadi di hotel dan juga di rumah, dia hanya pura-pura tegar. Sehingga tidak ada air mata untuk masalah yang dia hadapi.
Tapi kini, air mata itu membanjiri kedua pipinya. Sehingga matanya tidak bisa melihat jalan dengan jelas.
Cekiiittt…
Akhirnya Linda mengerem laju motornya, kemudian berhenti di tepi jalan. Dia mengeluarkan semua tangisannya.
"Huhuhu… Aku, Aku juga salah mas Ferry. Huhuhu…"
"Itulah sebabnya, Aku memberikan Kamu kesempatan lagi. Huhuhu… ini, hiks, ini… ini untuk Erli."
Di tepi jalan, Linda menangis seorang diri. Dan mendung yang tadi sudah mulai terlihat hitam sedari rumah, sudah tidak bisa menahan beban air hujan lagi. Sehingga turunlah hujan yang lumayan deras.
Tapi Linda tidak bergeming. Dia tetap ada di tempatnya yang tadi, meskipun badan dan pakaiannya basah kuyup.
Dia tidak peduli. Yang pasti, suara tangisan dan air matanya justru bertambah kencang. Karena dengan begitu, orang-orang yang lewat juga tidak tahu keadaan dirinya yang sebenarnya. Begitu juga saat dia tiba di rumah ibunya nanti.
Duarrr!
"Ya Allah… Aku tidak kuat lagi. Tapi Aku juga tidak kuat. Seandainya dulu mas Ferry juga memergoki diriku yang gila."
"Ya Allah… Aku ingin memaafkan dirinya. Tapi kenapa sakit ya Allah…"
"Sakit sekali rasanya dadaku ini ya Allah!"
Linda terus berteriak sendiri di pinggir jalan. Dan dia sangat bersyukur, karena sepertinya Tuhan memberinya perlindungan dari orang-orang dengan datangnya hujan dan petir saat ini. Sehingga apa yang dia teriakkan tidak didengar oleh orang-orang yang lewat.
Setelah capek dan mulai merasakan kedinginan, Linda menghidupkan kembali mesin motornya. Dia melajukan motornya dalam keadaan tubuhnya yang menggigil menahan hawa dingin.
*****
Di rumah ibunya Linda.
"Kamu dari mana Danang?" Ibunya bertanya, pada saat Danang masuk ke dalam rumah.
"Ada perlu Bu. Itu bapak baik-baik saja kan?" tanya Danang, berusaha untuk mengalihkan perhatian ibunya. Supaya tidak lagi bertanya-tanya.
"Iya gak apa-apa. Lagi tidur kok bapak. Tapi tadi pas pulang ke rumah, waktu Kamu tinggal pergi tadi. Ada banyak tetangga yang datang menjenguk. Dan bapakmu itu malah tanya-tanya Kamu."
Danang tidak menyahuti perkataan ibunya. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, kemudian masuk ke dalam kamar bapaknya.
__ADS_1
Di tempat tidur, bapaknya terlihat sedang tidur pulas. Mungkin karena pengaruh obat yang diberikan oleh ibunya juga. Karena sekarang memang sudah sore. Jadi bapaknya sudah minum obatnya pada siang hari tadi.
"Erli ke mana Bu?" tanya Danang, karena dia tidak melihat keberadaan keponakannya.
"Itu ada di belakang. Sedang main sama ayam-ayam. Kan lama gak main dia di belakang rumah."
"Kan hujan Bu?" Danang khawatir dengan keadaan keponakannya, yang bermain di belakang dengan ayam-ayam. Sedangkan cuacanya sedang dalam keadaan hujan seperti ini.
"Gak mau disuruh masuk dia. Tapi ada di teras kok, gak kehujanan. Bawa payung kecil miliknya juga."
Akhirnya, Danang menghela nafas lega. Dia tidak mau, jika keponakannya itu jatuh sakit karena kehujanan.
Erli memang suka bermain di belakang rumah, jika sedang bersama Simbah kakungnya. Dan kemarin-kemarin, saat simbah Kakungnya ada di rumah sakit, dia tidak pernah datang ke rumah ini.
Itulah sebabnya, dia kangen bermain-main dengan ayam-ayam peliharaan simbahnya.
"Ya sudah Bu. Danang mau pergi mandi dulu," pamit Danang pada ibunya.
Ibunya juga tidak lagi menyahuti, hanya mengangguk saja. Karena memang sudah waktunya untuk mandi sore.
*****
Lepas magrib Linda tiba di rumah ibunya. Baju dan tubuhnya masih dalam keadaan basah akibat hujan tadi.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum..."
Clek!
Linda membuka pintunya sendiri. Karena memang tidak dalam keadaan terkunci. Setelahnya, dia kembali menutup pintu, saat sudah masuk ke dalam rumah.
Clek!
Mungkin ibunya dan sedang sholat, dan Danang ada di masjid.
"Mama…"
Erli keluar dari dalam kamar simbahnya. Mungkin dia menunggui Simbah kakungnya, pada saat simbah putrinya sedang sholat magrib.
"Sayang…"
"Ehhh… jangan meluk Mama dulu Sayang. Ini baju mama basah semua."
Erli mengerti, dengan keadaan mamanya yang baru saja datang dalam keadaan basah. "Mama cepat mandi ya Ma! Tadi om Danang pulang juga langsung mandi kok," kata Erli memberitahu Linda.
"Iya Sayang. Mama mandi dulu ya!" Linda pamit pada anaknya, untuk pergi mandi lagi. Meskipun sebenarnya tadi di rumah, Linda sudah mandi. Ditambah lagi mandi dengan air hujan juga.
__ADS_1