
Satu minggu telah berlalu, sejak Della datang ke rumahnya Danang. Dan malam ini, keluarganya akan datang ke rumah Della, dalam rangka untuk melamar Della. Adiknya Romi.
Della sudah meminta ijin kepada kakaknya, jika malam ini, Danang dan keluarganya akan datang untuk melamarnya. Untungnya Romi tidak keberatan dengan rencana adiknya itu. Bahkan dia mendukung agar tidak terlalu lama berpacaran.
"Kalau bisa sih secepatnya Dek, daripada kalian nanti kenapa-kenapa. Soalnya bisa ketemu terus di pabrik. Dan ada banyak gadis-gadis secantik yang agresif di tempat kerja juga kan?"
"Takutnya Danang kecantol sama salah satu cewek yang mendekatinya, sehingga harus ada apa-apa juga yang membuat Danang harus bertanggung jawab."
Romi justru bicara yang tidak-tidak, yang membuat Della merasa kesal dengan kakaknya itu.
"Ihsss... Mas Romi! jangan nakut-nakutin Della gitu dong!" gerutu Della kesal.
"Mas gak nakut-nakutin, tapi karena ini memang sudah sering terjadi. Sedikit banyak, Mas mulai tahu, bagaimana para gadis yang begitu banyak di pabrik. Ada ratusan bahkan ribuan lho pekerja pabrik yang kebanyakan berjenis kelamin perempuan."
Della sebenarnya membenarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Danang untuk segera melakukan pernikahan mereka.
"Tapi Mas, kak Danang belum ada tabungan banyak. Soalnya dia kemarin membayar biaya rumah sakit bapaknya, patungan sama mbak Linda. Jadi tabungannya tinggal sedikit, makanya ini cuma buat lamaran aja."
"Bagaimana jika dua minggu kemudian setelah ini kalian menikah?" tanya Romi, dengan melihat reaksi Della.
"Menikah secara resmi, tapi gak usah rame-rame. Undang tamunya yang penting-penting saja, seperti orang terdekat gitu. Saudara dan tetangga aja Dek. Bagaimana?" Romi bertanya lagi, menyambung pertanyaannya yang tadi.
"Itu di rumah sini, apa rumahnya mas Danang?" tanya Della ingin tahu, apa yang ingin direncanakan oleh kakaknya itu.
"Ya... maksudnya yang di rumahnya Danang. Kalau yang di sini, Mas bisa bikin pesta yang lumayan lah. Tabungan Mas juga ada, meskipun gak banyak banget sih. Cuma ya... cukuplah kalau untuk pesta pernikahan sederhana, gak mewah-mewah banget."
"Iya Mas. Gak apa-apa. Della nanti coba bicarakan dengan mas Danang dulu ya," ujar Della, setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh Romi.
"Tapi jika mereka tidak setuju bagaimana Mas?" tanya Della kemudian.
Dia takut jika, keluarganya Danang tidak langsung menyetujui usulannya nanti.
"Ya tidak apa-apa. Jika memang mereka tidak setuju, yang penting Kamu sama Danang bisa jaga diri. Jangan sampai kebablasan, dan melakukan apa-apa yang tidak diperbolehkan sama Danang lho ya!" pesan Romi menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi menurutku, untuk cari amannya sih, kalian memang harusnya menikah terlebih dahulu. Meskipun sederhana, yang penting itu udah sah aja."
"Iya Mas. Nanti kita bicarakan itu juga ya Mas," pinta Della, yang meminta pada kakaknya untuk membahas mengenai usulannya tadi. Saat bertemu dengan pihak keluarga Danang.
"Iya nanti Mas coba bicara sama mereka."
Kini keduanya sama-sama diam, dengan pikirannya masing-masing.
Romi berharap jika Linda ikut datang dalam acara lamaran ini. Dia sudah merindukan Linda, karena sudah seminggu lebih tidak bertemu dengannya.
Sejak bertemu siang itu, kemudian kepergok Ferry di rumah makan ayam geprek, dia tidak pernah bertemu dengan Linda lagi. Jadi dia sangat merindukan mantan kekasihnya it
Tapi dia juga ragu, karena jika Linda ikut, bisa dipastikan bahwa Ferry juga pasti akan ikut.
Tidak mungkin Ferry membiarkan Linda pergi sendiri bersama dengan keluarganya, apalagi ke rumahnya Romi. Karena bisa dipastikan bahwa, Romi cemburu. Jika melihat Romi bisa berduaan dengan Linda.
Della sendiri juga was-was, karena sebentar lagi keluarga Danang akan datang melamarnya.
Dia merasa tidak tenang sedari tadi, dengan menggigiti bibirnya seperti seseorang yang sedang gelisah.
"Iya Mas. Della hanya tidak... Ah, entahlah," kesah Della, dengan membuang nafas panjang.
Ada rasa yang berbeda dari biasanya. Khawatir, senang, was-was dan rasa yang lainnya, yang berkecamuk di dalam hatinya.
*****
Dalam perjalanan menuju rumah Della, Danang yang duduk di depan bersama dengan Ferry, yang sedang menyetir mobil.
Di bangku penumpang, ada ibu dan bapaknya. Bersama dengan Linda yang sedang berbicara dengan Erli.
"Bagaimana jika dalam waktu dekat,setelah acara lamaran ini, kalian langsung menikah saja Nang?" tanya ibunya, dengan melihat ke arah suaminya juga. Untuk meminta persetujuannya.
"Kalau Bapak ikut saja Bu, terserah Danang nya bagaimana. Baiknya menurut kamu juga." jelas bapaknya, yang menyerahkan segala keputusan pada anaknya saja.
__ADS_1
"Kalau menurut Kamu bagaimana Lin?" Sekarang ibunya ganti bertanya pada Linda.
Ferry menoleh sekilas ke arah Danang, karena bisa dipastikan bahwa, setiap laki-laki pasti menginginkan untuk segera menikah. Seandainya sudah ada calonnya.
Apalagi umur Danang juga sudah cukup untuk melakukan sebuah pernikahan, begitu juga dengan calon istrinya nanti.
Danang bingung pada situasi seperti ini. Karena dia tidak punya tabungan yang cukup untuk melakukan pesta pernikahan. Yang tentunya membutuhkan biaya yang sangat besar juga.
"Nang, Kamu bagaimana mau gak langsung menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Linda pada adiknya.
"Ya maulah Mbak. Siapa juga yang tidak mau menikah cepat Mbak! tapi tabungan Danang gak cukup." Danang tampak bersedih hati, setelah selesai memberikan penjelasan kepada ibu dan juga kakaknya.
"Gak usah pesta yang mewah, sederhana saja. Dengan mengundang tetangga, saudara yang deket saja." Linda memberikan usulan.
"Ya... semacam selamatan gitulah! untuk bersyukur atas pernikahan Kamu, gak usah rame-rame." Linda melanjutkan kalimatnya lagi. Agar semuanya lebih jelas dengan maksud usulannya tadi
"Nah iya itu, gak apa-apa. Bagaimana Pak, Nang?" ibunya bersemangat saat Linda berhasil membuatnya lebih jelas.
"Tapi Mbak, apakah Della maupun kak Romi setuju, jika pernikahan ini sederhana saja?" tanya Danang khawatir jika, usulan mereka justru dianggap meremehkan.
"Ini kan demi kebaikan bersama Nang. Pihak keluarga Della pasti setuju." Linda kembali menjelaskan maksud usulannya yang tadi.
"Danang ikut saja deh," sahut Danang pasrah.
"Nanti kita pinjami uang modal yang mau Mas pakai gak apa-apa Dek. Tapi ya... gak bisa banyak, soalnya kemarin sudah Aku berikan pada Bos penggilingan padi. Untuk proses pembangunan penggilingan padi berikutnya.
Ferry mengatakan jika, dia mau meminjamkan modal untuk menikahkan Danang.
"Serius Mas Ferry?" tanya Danang cepat, karena Ferry berkata tanpa menoleh ke arahnya.
Ferry masih tetap menatap ke depan, berkonsentrasi pada setir mobil yang dia kendalikan.
Linda, ibunya dan juga bapaknya, sama-sama tersenyum. Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Ferry. Tentang uang yang bisa mereka gunakan untuk selamatan acara pernikahan Danang.
__ADS_1
Tapi, itu akan terjadi, jika Della dan Romi menyetujuinya.