
Linda berangkat dari rumah pagi-pagi sekali. Dia di antar oleh suaminya sendiri, karena sepeda motor akan digunakan oleh Ferry, untuk keperluannya juga hari ini.
Karena hari ini juga, usahanya baru saja akan dimulai.
Itulah sebabnya, dia harus mengantarkan Linda terlebih dahulu, untuk pergi bekerja. Karena Linda sudah harus bekerja hari ini juga.
Untuk sementara, Erli mereka titipkan di rumah ibunya. Bapaknya Linda, akan menjaga cucunya itu, sebelum mereka menemukan orang yang bisa dimintai untuk menjaga Erli, selama mamanya, Linda, bekerja.
"Hati-hati ya Dek jika kerja. Soalnya, kalau di pabrik besar seperti itu banyak sekali mesin-mesin besar dan otomatis pengunaannya."
Linda hanya mengangguk saja, mengiyakan pesan dari suaminya itu.
Dia, memang tidak tahu apa dan bagaimana bekerja di perusahaan multi internasional seperti sekarang ini.
Tapi Linda merasa yakin jika, dia mampu mengatasi dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada di dalam perusahaan tersebut.
'Semua ini untuk perubahan keluarga dan yang pasti untuk erli.'
Begitulah kira-kira pemikiran dan tekad Linda, sehingga dia tidak memikirkan hal lainnya.
"Di pabrik, kebanyakan orang akan menjadi robot, bekerja. Yang penting, hati dan pikiran Kamu gak ikut terpengaruh menjadi robot juga."
Ferry kembali menasehati istrinya itu, yang saat ini, ada di atas boncengan motor, di belakang dirinya.
Linda kembali menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan dari suaminya itu.
Meskipun Ferry tidak bisa melihat secara langsung, bagaimana Linda menanggapi perkataan dan pesan yang dia ucapkan, tapi dia tahu jika, istrinya itu menganggukkan kepalanya. Ferry bisa melihat bagaimana Linda mengangguk, dari kaca spion motor yang ada di depannya.
Tak lama kemudian, mereka berdua tiba di depan pintu gerbang masuk perusahaan.
Ternyata, sudah ada banyak sekali orang-orang yang datang. Baik karyawan yang memang sudah bekerja, ataupun orang-orang yang baru. Sama seperti Linda juga.
Setelah menyalami dan mencium tangan suaminya, Linda masuk ke dalam perusahaan, sama seperti yang karyawan yang lainnya juga.
Dan suaminya, Ferry, kembali melajukan motornya. Dia akan langsung menuju ke pengilingan padi. Karena hari ini, acara selamatan untuk usaha miliknya akan dilaksanakan.
Ferry ingin mengecek segala sesuatu, termasuk pesanan catering yang sudah dia pesan dari kemarin-kemarin.
__ADS_1
Dia juga sudah mengundang Danang, sebagai wakil dari pihak keluarga Linda.
Karena ibu dan bapaknya Linda, tidak bisa datang. Jadi, mereka meminta anaknya, Danang, untuk mewakili mereka berdua.
*****
Di dalam perusahaan.
Linda tidak langsung bekerja, di mana dia ditugaskan. Karena kemarin, dia memang belum diberitahu oleh pihak HRD, di mana dia akan ditempatkan.
Jadi sekarang ini, Linda ada di suatu ruangan, bersama dengan para karyawan baru, yang sama seperti dirinya. Belum tahu, mau ditempatkan pada posisi apa dan di gedung mana akan bekerja.
Tapi karena penampilan Linda yang mencolok, ini membuat dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang. Baik dari para pemimpin yang akan menjadi atasannya, ataupun dari teman-temannya sesama karyawan baru.
Satu persatu karyawan mendapatkan kelompoknya. Jadi, semua karyawan baru itu dijadikan beberapa kelompok. Dan akan mengikuti satu orang, yang merupakan atasan mereka nantinya.
Tapi sepertinya Linda belum mendapatkan kelompoknya. Dia masih tampak berdiri sendiri di depan. Dan tidak ada teman yang lain.
"Itu Melinda mau ditempatkan di mana?" tanya pak Yus. Pihak HRD yang kemarin menerima dirinya sebagai karyawan.
"SMA," jawab pak Yus cepat.
"Emhhh... gak bisa jika dia jadi operator biasa. Fisiknya itu tidak mendukung. Biasanya, orang dengan fisik seperti itu tidak kuat jadi operator produksi."
Ternyata, para atasan untuk bagian produksi tidak ada yang memilih dirinya karena, Linda diragukan untuk tenaganya.
Mereka pikir, fisik bule-nya Linda, tidak akan kuat berada di bagian produksi.
"Tadinya Saya pikir dia memang bule, dengan ijazah sarjana atau di atas SMA. Makanya Saya gak pilih tadi. Siapa tahu, dia mau ditempatkan di office atau dijadikan ambasador produk perusahaan ini. Hahaha..."
Atasan yang tadi bertanya, kembali mengatakan pada yang sempat menjadi pikirannya. Dia juga mentertawakan pikirannya sendiri, yang ternyata salah besar.
"Haduh Pak. Saya juga bingung mau menempatkan dirinya di mana. Jika di bagian produksi, kasihan. Dan bisa jadi, dia malah jadi bahan pancingan para atasan di dalam sana."
"Jika jadi ambasador, dia juga belum ada nama. Jadi, sebaiknya bagaimana ini ya?"
Pak Yus, dan atasan yang ada di dalam produksi tadi, justru bingung dengan Linda yang belum mendapatkan bagian kelompok.
__ADS_1
"Emhhh... dia sudah berkeluarga belum?" tanya atasan tadi.
"Nah itu masalahnya Pak. Dia sudah berkeluarga." Pak Yus menyayangkan status Linda yang sudah berkeluarga.
"Lah, kenapa kok sayang?" tanya orang itu lagi.
"Jika belum jam bisa Saya jadikan istri ke dua. Hehehe..."
"Hahaha... Pak Yus bisa aja. Gak apa-apa jika dia_nya mau Pak. Tapi, Pak Yus juga siap diduakan juga. Hahaha..."
Obrolan dua laki-laki dewasa tersebut, mencuri perhatian Linda. Karena letaknya yang memang lumayan jauh, jadi Linda tidak bisa mendengar suara mereka dengan baik.
'Aku bagaimana ini?'
Linda bertanya pada dirinya sendiri, karena di ruangan tersebut, tinggal dia sendiri. Yang merupakan karyawan baru.
Yang lain adalah pihak HRD, dan beberapa orang yang membantu untuk menentukan kelompok-kelompok tadi.
Sedangkan karyawan baru, yang sudah berkelompok tadi, pergi bersama atasan-atasan mereka, menuju ke gedung yang akan mereka tempati.
Di gedung-gedung tersebut, mereka akan diajari cara untuk bekerja. Baik yang mengunakan mesin ataupun pekerjaan yang lainnya.
"Ya sudah, buat Saya aja ya dia?"
Dari luar, tampak seseorang yang berjalan menuju ke tempat, di mana dua orang laki-laki tadi, pak Yus dan satu atasan berbincang.
Linda memperhatikan orang yang baru saja datang. Ternyata, itu adalah orang yang kemarin, bertanya dengannya. Pada saat dia baru saja mau keluar dari perusahaan, karena di minta untuk membawa berkas lamaran yang asli.
"Eh, pak Komarudin. Apa ada bagian anda yang kosong Pak?" tanya pak Yus, dengan sangat sopan.
Sepertinya, orang yang dipanggil dengan nama pak Komarudin itu adalah orang yang penting di dalam perusahaan ini.
"Iya ada. Leader bagian paking sedang hamil. Dia juga akan cuti dalam waktu yang lama nanti. Jadi, Saya perlu gantinya. Dan harus di training dari sekarang biar bisa melakukan pekerjaan dengan baik jika leader tadi sudah cuti."
Pak Yus dan temannya tadi, saling pandang. Mereka berdua berpikir bahwa, biasanya, jika dia leader yang cuti atau resain, akan diganti oleh karyawan lainnya, yang sudah terbiasa tahu dan paham, dengan apa yang harus dikerjakan dengan tangung jawab mereka sebagai leader.
Tapi ini, pak Komarudin minta karyawan baru, yang belum tahu apa-apa, menjadi seorang leader.
__ADS_1