
Perasaan Ferry ternyata tidak baik baik saja, meskipun sudah mendapatkan penjelasan dari istrinya, Linda.
Dia merasa cemburu, karena Linda sekarang dekat lagi dengan Romi. Meskipun Linda sudah mengatakan bahwa, dia hanya sebatas ketemu romi beberapa kali saja. Itu juga karena tidak sengaja.
'Beginikah rasanya cemburu? Apalagi waktu Linda memergoki diriku yang sedang bersama dengan mbak Nana kemarin. Hhh...'
Ferry merasa tidak tenang, apalagi Linda juga tidak memberikan keterangan lain. Dan juga berusaha untuk mencairkan suasana mereka, yang saat ini justru seperti orang yang sedang marahan.
Untungnya, malam sudah semakin larut. Sehingga mereka memutuskan untuk cepat tidur, tanpa ada kegiatan ranjang seperti kemarin-kemarin.
Tapi ternyata Ferry tidak bisa memejamkan matanya dengan cepat. Dia masih terbayang dengan tatapan mata Romi, yang seakan-akan masih mendamba beristri.
Sebagai seorang laki-laki, dia pasti tahu, apa yang diinginkan oleh laki-laki yang lain, terhadap lawan jenisnya. Apalagi dulunya mereka berdua ada sebuah hubungan yang sebenarnya tidak tuntas permasalahannya.
Ferry tahu betul, jika Romi masih memiliki perasaan terhadap istrinya. Yang merupakan mantan kekasihnya Romi sendiri. Dia mendapatkan Linda juga dengan cara yang tidak benar, karena sudah menyabotase pekerjaan Romi, sehingga membuat Romi tidak bisa cepat pulang kampung, untuk menemui Linda. Sebelum akhirnya Linda dan dirinya datang ke kota besar, bahkan menemukan romi sedang baik-baik saja dengan seorang wanita juga. Sehingga membuat Linda marah karena cemburu dan memutuskan untuk pulang dan menerima Ferry sebagai suaminya.
"Apakah romi tahu, jika semua kejadian yang dulu, Aku terlibat di dalamnya? bagaimana tanggapannya, jika akhirnya dia juga tahu, aku tidak menjadi polisi lagi sekarang. Bahkan kemarin-kemarin Aku juga menyiksa Linda, menyelingkuhi nya juga. Sehingga bisa dipastikan bahwa, Linda tidak bahagia bersama denganku?"
"Apakah dia datang bermaksud untuk mengambil Linda dariku? bagaimana jika itu benar? Dia ingin balas dendam padaku."
Ferry terus berpikir bergumam seorang diri, bertanya-tanya tentang maksud Romi datang kembali ke kotanya ini.
Untungnya Linda sudah tertidur pulas. Sehingga dia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada suaminya.
"Aku gak mau Kamu ninggalin Aku Dek," gumam Ferry lagi, sambil mengelus-elus rambut istrinya.
Dia tidak rela, seandainya Romi mengambil istrinya. Dia juga tidak mau ditinggalkan oleh Linda, karena dia tidak bisa hidup tanpa ada istrinya itu disampingnya.
"Tidak-tidak. Kamu tidak mungkin meninggalkan diriku Dek. Ada Erli yang akan menjadi pengikat hubungan kita."
Ferry terlalu percaya diri, bahwa Linda tidak mungkin meninggalkannya. Karena sudah ada Erli di antara mereka berdua, sebagai bagian dari hasil pernikahan mereka.
*****
Pagi ini adalah hari Jumat, dan besok hari Sabtu. Erli mengusulkan supaya dia langsung pulang ke rumah simbahnya sepulang sekolah.
"Pulang sekolah Erli langsung ke rumah simbah ya Ma. Nanti Mama langsung pulang ke rumah simbah juga waktu pulang kerja."
Linda yang sedang menyuap makanan, menghentikan kegiatannya. Dia melihat anaknya yang sedang makan tapi sambil bicara.
"Sayang, makan jangan banyak bicara," kata Linda menasehati Erli.
Mama hari Sabtu nginep di rumah Simbah ya! nanti pulang sekolah langsung ke sana, ya Pa!" Erli meminta ijin papanya, dengan membujuknya supaya setuju dengan permintaannya tadi.
"Sabtu siang saja Sayang. Besok masih sekolah. Besok Mama yang jemput Erli, terus kita langsung ke rumah Simbah, sana seperti biasanya. Bagaimana?"
__ADS_1
Linda berusaha untuk membujuk anaknya, supaya tidak merengek minta ke rumah simbahnya nanti sore.
"Gak mau, gak mau! Erli maunya menginap di rumah Simbah dua malam."
"Sudah-sudah, ya gak apa-apa. Nanti Papa langsung antar Erli ke rumah Simbah, biar mama juga pulangnya langsung ke rumah Simbah. Tapi, Papa sedang ada pekerjaan. Jadinya Erli di tinggal Papa ya, sebelum Mama pulang."
Akhirnya Ferry menengahi perdebatan mereka berdua, agar Erli tidak merengek terus. Sedangkan istrinya juga tidak mau mengalah.
"Mas, Linda kan gak tahu, besok libur apa lembur?" Linda protes pada keputusan suaminya.
Tapi Ferry mengelengkan kepalanya, melihat ke arah istrinya. Supaya Linda tidak lagi berbicara, yang akan membuat anaknya gambek lagi.
"Mas mau ninjau pembangunan pengilingan padi yang baru Dek. Proyek pembuatan gudang palingan padi yang satunya, udah jalan. Dan Mas mau ikut gabung. Gak apa-apa kan Dek?"
"Terserah mas Ferry. Memang masih ada uang untuk modal gabung di pengilingan padi? uang penjualan rumah dari... udah Mas kirim ke orang tuamu kan Mas?"
Linda hampir keceplosan menyebut nama Mbak Nana, karena yang dia maksud dengan uang penjualan rumah adalah rumah yang diberikan mbak Nana pada Ferry kemarin.
"Iya sudah. Tapi uang yang kita kumpulkan, dan sisa uang penjualan masih lumayan banyak. Jadi bisa digunakan buat tambahan modal." terang Ferry memberikan penjelasan.
"Terserah Mas Ferry. Yang penting tidak hutang lagi kayak dulu. Linda gak mau ada hutang yang besar, yang membuat kita kesulitan sama seperti dulu."
Ferry hanya bisa tersenyum tipis, karena dia merasa jika itu adalah kesalahannya juga pada waktu itu.
"Iya Dek. Aku akan lebih berhati-hati."
"Danang?"
Linda mengerutkan keningnya, melihat nama Danang tertera di layar ponselnya.
..."Ya Nang, ada apa?" ...
..."Besok ke rumah ya Mbak!" ...
..."Memangnya ada apa?" ...
..."Gak ada sih. Hehehe... kangen sama ponakan ku yang comel."...
..."Halah... pasti ada sesuatu kan?" ...
..."Hehehe... pokoknya Danang tunggu ya mbak! Ini Danang mau berangkat kerja." ...
..."Iya-iya, hati-hati." ...
Klik!
__ADS_1
"Siapa Ma?" tanya Erli, karena mamanya seperti biasa saja saat menerima telpon.
"Om Danang?" jawab Linda, yang membuat Ferry bernafas lega.
"Mama pergi kerja dulu ya Sayang! jangan bawel, jangan nakal," pesan Linda pada anaknya, yang diangguki juga oleh Ferry.
Sepeninggal mamanya kerja, bertanya pada papanya. "Papa. Mama kenapa sih, tadi gak mau ke rumah Simbah?"
"Gak kenapa-kenapa, mungkin Mama capek saja. Memangnya Erli kenapa, kok ngotot mau pergi ke rumah simbah?"
"Emhhh... rahasia. Hehehe..."
Ferry mencubit kedua pipi anaknya dengan gemas. Kemudian menggoyang-goyangkan pipi Erli sehingga kepalanya ikut geleng-geleng.
*****
Hari berjalan sebagaimana mestinya. Di tempat kerja, linda juga menghindar dari pak Rudi maupun pak Komarudin.
Dia juga berusaha untuk tidak bertemu dengan Romi, supaya tidak memperkeruh suasana rumah tangganya.
Dia tidak mau suaminya punya pikiran tentang dirinya dan Romi. Sehingga nekad melakukan apa-apa, yang bisa membuat celaka Romi.
Dengan begitu, kemungkinan besar semuanya pasti bisa menjadi baik lagi, dan tidak ada perang dingin diantara dirinya dengan Ferry di rumah.
Untungnya gedung material tidak ada lembur kerja di hari Sabtu besok. Sehingga dia bisa beristirahat di rumah ibunya, karena anaknya minta menginap di sana malam ini.
Sore waktu pulang kerja, Linda juga langsung pulang ke rumah ibunya. Tapi dia tidak bertemu dengan adiknya di saat jam pulang.
*****
Malam ini di rumah ibunya Linda.
Mereka semua sudah berkumpul setelah makan malam. Tapi Ferry pergi lagi, untuk bertemu dengan bos pengilingan padi. bersama bos penggilingan padi.
"Memangnya ada apa sih Nang, sampai Kamu minta Mbak datang Sabtu? Eh, ini malah Mbak udah di sini. Hehehe..."
Linda terkekeh sendiri, setelah bertanya pada adiknya. Tentang maksud undangannya pagi tadi lewat panggilan telpon.
"Emhhh... sebenarnya ada yang ingin Danang sampaikan sama Mbak Linda, tapi Mbak Linda jangan marah ya."
Linda menyipitkan matanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh adiknya itu.
"Apa emangnya?" tanya Linda lagi, karena merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Danang.
"Danang mau mengenalkan kekasih Danang besok Mbak. Tapi Mbak Linda pokoknya gak boleh marah!"
__ADS_1
"Kok marah? emang kenapa kekasihmu itu? Terus... siapa dia?" Linda memberikan pertanyaan demi pertanyaan yang harus dijawab oleh Danang segera.
"Janji gak marah ya!"