Tante Melinda

Tante Melinda
Apa Ada Beban?


__ADS_3

Linda baru saja berjalan sampai di depan pintu, saat Danang datang.


"Mau ke mana Mbak Linda?" tanya Danang, yang berpapasan dengan adiknya itu, di depan pintu.


"Eh... Kamu sudah datang. Mbak mau keluar sebentar. Mau beli makanan."


"Gak usah Mbak. Ini Danang udah beli kok," ujar Danang, dengan menunjukkan bungkusan kresek yang dia tenteng.


"Oh..."


Mulut Linda hanya membola. Dan dia pun akhirnya mundur, kemudian berbalik arah. Berjalan setelah Danang masuk. Karena tadi, dia menghalangi jalannya Danang di depan pintu.


"Bapak belum siuman?" Danang bertanya, di saat melihat keadaan bapaknya yang masih sama, seperti waktu dia tinggal untuk pulang ke rumah tadi sore.


"Tadi sudah siuman. Sekarang bapak tidur?" jawab Linda, memberikan penjelasan kepada Danang.


"Ngomong sesuatu gak bapak?"


Danang kembali bertanya, karena dia ingin tahu. Bagaimana keadaan bapaknya, di saat dia tinggalkan tadi.


"Gak. Bapak gak ngomong apa-apa. Cuma diam aja liatin kita. Tapi..."


"Tapi apa Mbak?" tanya Danang cepat.


"Dia sepertinya sedang mencari keberadaan Kamu tadi. Soalnya, kan cuma Kamu yang tidak ada tadi."


Jawaban yang diberikan oleh ibunya, membuatnya Danang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia merasa jika, bapaknya ingin menyampaikan sesuatu pada dirinya.


Tapi, Danang juga tidak tahu. Apakah dugaannya itu benar atau salah. Dia hanya sebatas menduga-duga saja.


"Ya sudah Bu, Mbak. Ayok makan dulu! Meskipun di rumah sakit, kita juga gak harus ikut sakit, hanya karena menunggui orang yang sedang sakit juga kan?"


"Ihsss... Kamu bisa aja."


"Hehehe.. Kamu ini."


"Hehehe..."


Danang ikut cengengesan, mendengar perkataan ibu dan juga kakak perempuannya itu.


Sekarang, mereka bertiga menikmati makan malam bersama. Dengan makanan yang tadi dibawa Danang.

__ADS_1


Meskipun tempatnya ada di rumah sakit, tapi mereka jadi merasa seolah-olah sedang reunian. Di saat Linda belum menikah dulu.


Sayangnya, tidak ada bapaknya yang ikut makan juga. Meskipun ada di antara mereka bertiga, karena sedang terbaring dalam keadaan seperti sekarang ini.


"Nang. Kamu besok masuk kerja ya! Mbak yang libur jaga bapak. Besok, tolong mintai ijin atau cuti dua hari. Langsung aja ke HRD, ke pak Yus gak apa-apa. Soalnya ini urgen."


"Ohhh, ya deh. Dua hari aja kan?" besok sekalian Danang ganti yang yang jagain bapak. Jadi, permintaan cutinya sekalian besok juga."


Linda mengangguk mengiyakan perkataan Danang. Karena mereka berdua, memang harus bergantian untuk menjaga bapak mereka.


"Terus malam ini, Mbak Linda pulang dulu ke rumah ibu. Mas Ferry dan Erli ada di rumah kok," ujar Danang, dengan menjelaskan pada Linda. Jika anak dan suaminya ada di rumah ibunya. Mereka menginap di rumah.


"Ya. Tadi mbak juga udah telpon kok sama Mas Ferry. Bentar lagi lah. Masih jam delapan ini."


Linda melihat jam di pergelangan tangan, dan menghela nafas panjang. Dia sebenarnya ingin menemani ibunya dan juga Danang. Untuk menunggui bapaknya.


Tapi dia harus beristirahat terlebih dahulu. Karena besok pagi, dia juga yang harus menjaga bapaknya. Menemaninya ibunya, yang tidak mau pulang, meskipun hanya sebentar saja.


Jadi, Linda dan Danang secara bergantian secara sadar. Untuk ikut menjaga bapaknya yang sedang dalam keadaan sakit di rumah sakit.


Di saat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Linda pamit pada ibu dan juga adiknya. Dia akan pulang terlebih dahulu, dan akan kembali besok pagi. Bergantian dengan Danang yang akan berangkat kerja.


"Pak. Linda pulang dulu ya Pak. Bapak cepat sehat lagi."


Beberapa saat kemudian, setelah Linda pulang.


Ibunya Linda bertanya pada anak laki-lakinya. Yaitu Danang. Dia ingin bertanya tentang bagaimana cara kerja di pabrik, di mana keduanya anaknya bekerja juga di perusahaan tersebut.


"Nang. Kerja di pabrik itu berat ya?"


"Kenapa Bu?"


"Gak apa-apa. Tanya aja. Kok banyak yang kerja ke pabrik sekarang ini."


Danang menerka-nerka, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh ibunya. Apa mungkin...


"Mbak Kamu itu, katanya kok malah mau keluar. Apa itu istilahnya... re... ri... apa sih, lupa Ibu. Abisnya susah ngeja_nya."


Apa yang dipikirkan Danang, terputus begitu saja. Karena mendengar perkataan ibunya.


Danang terkejut juga, mendengar perkataan yang diucapkan oleh ibunya barusan. Dia tidak pernah tahu, jika kakaknya itu, punya rencana untuk resign dari pekerjaannya di pabrik.

__ADS_1


Apalagi dengan jabatan yang dimiliki oleh Linda saat ini. Tidak semua orang bisa dengan cepat ada pada posisi supervisor. Dan tentunya, dengan tunjangan gaji yang lumayan besar.


Mungkin, jika dibandingkan dengan gaji yang diterimanya, Danang masih kalah besar dibanding dengan kakaknya itu.


"Nang. Apa Kamu sering ketemu Mbak Linda, jika ada di kerjaan?" Ibunya kembali bertanya. Tentang situasi yang ada di dalam pabrik.


Danang mengeleng beberapa kali. Karena selama ini, meskipun mereka berdua ada di dalam satu perusahaan yang sama. Tapi tidak bisa bertemu dengan mudah. Jika bukan karena adanya kepentingan yang sangat penting, atau membuat janji temu dengan saling menghubungi lewat telpon.


"Masak gak pernah ketemu gitu? Kan satu pabrik."


"Pabriknya itu besar Bu. Luasnya aja satu desa begitu kan?"


Ibunya mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh anaknya. Dia memang tahu, bahwa pabrik tempat anak-anaknya bekerja sangat besar dan luas.


Bahkan bisa dibilang jika, luas tanah yang dijadikan untuk lahan pabrik, sama dengan satu desa, yang tidak terlalu besar.


Dengan kata-kata yang sederhana, Danang mencoba untuk memberikan penjelasan kepada ibunya. Tentang situasi yang ada di dalam pabrik. Dengan cara kerja mereka masing-masing.


"Oh... jadi Kamu itu beda tempat kerjanya dengan Linda?"


Danang mengangguk mengiyakan pertanyaan ibunya.


"Berat gak kerjanya?"


Sekarang, ibunya kembali bertanya lagi, tentang pekerjaan yang dilakukan di pabrik.


"Tergantung pekerjaan masing-masing Bu. Dan yang paling penting, tergantung orang yang menjalaninya juga."


"Seringan apapun pekerjaan yang dilakukan, jika orang tersebut tidak suka dan tidak bertanggung jawab. Ya... rasanya berat."


"Sama seperti pekerjaan Ibu di sawah. Menurut Ibu itu gak berat kan? Tapi menurut orang lain, bisa jadi jika pekerjaan ibu di sawah itu berat."


Sekarang, ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mulai paham dengan maksud perkataan yang diucapkan oleh anaknya itu.


"Semoga saja, mbak mu itu keluar bukan karena beban kerja yang dia miliki. Tapi karena memang dua ingin mengurus rumah tangganya. Terutama pada Erli. Kasihan juga dia."


Kini, gantian Danang yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Mendengar perkataan ibunya barusan.


Dia berharap jika, apa yang menjadi rencana kakaknya itu, bukan karena gosip-gosip yang dia dengar di tempat kerja.


Dia merasa jika, ada beban pikiran yang dimiliki oleh kakaknya.

__ADS_1


Danang hanya bisa mendoakan kakak perempuannya itu, supaya apapun yang dilakukannya. Adalah sebuah keputusan yang diambil dengan pemikiran yang matang. Bukan karena hanya emosi sesaat.


__ADS_2