
Ajakan Ferry untuk periksa ke bidan, tidak disetujui oleh Linda, karena dia merasa hanya sedikit pusing. Meskipun penyebabnya tidak dia beritahukan kepada suaminya, atau kepada yang lain.
"Gak usah Mas. Linda juga sudah tidak terlalu pusing. Nanti kalau minum obat yang semalam, pusingnya juga hilang kok."
Akhirnya Ferry hanya menuruti keinginan istrinya. Dia tidak mau menekan Linda, sehingga nantinya bisa bertambah rasa pusing istrinya itu.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu habiskan teh hangatnya, kemudian tidur lagi. Nanti kalau waktunya sarapan, Mas akan bangunkan Kamu untuk sarapan ya Dek."
"Iya Mas. Maaf ya, Linda jadi merepotkan Mas Ferry," ucap Linda sambil menggenggam tangan suaminya itu.
"Gak apa-apa Dek. Gak merepotkan kok, yang penting Kamu sehat lagi."
"Nanti Mas kerja gak?" tanya Linda tiba-tiba.
"Sepertinya Mas gak kerja hari ini. Mas akan kasih kabar ke Bos penggilingan padi, dan juga teman-teman yang lain, bahwa hari ini Aku tidak akan datang."
"Jika Mas ada pekerjaan penting, pergi aja gak apa-apa Aku Mas. Ada ibu dan bapak, Danang juga kok."
Linda tidak enak hati, jika suaminya itu jadi tidak pergi bekerja hanya karena dia yang sedang sakit kepala seperti ini.
"Gak apa-apa Dek. Mas di rumah saja, kecuali kalau ada kerjaan penting, nanti juga Aku akan dikabari. Jadi Aku akan ke sana jika ada pekerjaan yang memang benar-benar penting."
Akhirnya, Linda tidak lagi memperpanjang pembicaraan mereka berdua barusan, dengan dirinya yang berbaring, kemudian berusaha untuk memejamkan matanya.
Di dapur, ibunya Linda sudah mulai memasak.
Dia juga membuatkan bubur untuk Linda, supaya anaknya itu bisa sarapan bubur pagi ini. Agar tubuhnya kembali sehat.
Ibunya Linda juga membuatkan minuman jahe, yang dicampur dengan madu. Dia berfikir bahwa, Linda sedang masuk angin, sehingga kondisi tubuhnya tidak stabil.
"Semoga Linda cepat sembuh setelah makan bubur, dan minum jahe madu ini," harap ibunya dengan wajah berseri.
Tak lama kemudian, bapaknya Linda sudah bangun. Begitu juga dengan Danang sedangkan Erli masih tertidur pulas di kamar simbahnya.
Baru pada jam setengah tujuh, Erli bangun tidur, kemudiaan mencari keberadaan mamanya. Dia lupa bahwa, dia tidur di tempat simbahnya, karena mamanya sedang sakit.
"Mama... Mama... huwaaa... Mama mana?"
__ADS_1
Erli menangis mencari keberadaan mamanya yang tidak ada di dalam kamar.
"Mama ada di dalam kamarnya Sayang, Mama kan sedang sakit," kata simbah kakungnya, mengingatkan Erli.
Akhirnya Erli sadar, dan tidak lagi menangis memanggil-manggil mamanya. Karena dia sudah ingat jika, mamanya semalam kesakitan pada bagaian kepalanya.
"Erli lupa Mbah Kung. Maaf... tapi sekarang mama sudah baikan belum?" tanya Erli dengan cepat.
"Mbah Kung belum lihat. Kamu mau lihat mama di dalam kamarnya?" tanya Mbah Kung pada cucunya yang baru saja tersadar jika sedang berada di dalam kamar simbahnya.
Erli mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah. Sana masuk! Tapi gak boleh berisik ya, nanti jika mama masih tiduran Erli gak usah ganggu. Cepat kembali, kemudian mandi. Setelah itu kita sarapan bersama."
"Iya Mbah Kung," sahut Erli sambil mengetuk pintu kamar mamanya.
Clek!
Pintu kamar terbuka, dan ternyata papanya yang membukakan pintu kamar untuk Erli.
"Mama masih sakit gak Pa?" tanya Erli yang masih ada di gendongan papanya.
"Iya, Mama masih sakit Sayang. Itu mama masih tidur!"
Erli minta turun dari gendongan papanya, kemudian duduk di tepi ranjang. Di mana mamanya sedang tertidur.
Dia mengelus-elus tangan mamanya, dan merasakan rasa panas pada suhu tubuh mamanya saat ini.
"Mama masih sakit, jadi Erli mau mandi sama simbah ya Pa!" Erli meminta ijin pada papanya, untuk mandi bersama dengan simbahnya saja.
"Iya gak apa-apa."
Erli turun dari tempat tidur, kemudian pergi ke arah dapur. Tapi dia masuk ke dalam kamar mandi, setelah berbincang dengan simbah putrinya.
"Erli mau mandi ya? tapi Simbah masih sibuk ini, belum selesai."
"Gak apa-apa Mbah Putri, Erli bisa mandi sendiri kok!" Erli menolak tawaran simbah putrinya, untuk dimandikan. Karena dia merasa sudah bisa mandi sendiri, karena dia sudah belajar mandi sendiri juga.
__ADS_1
"Yakin bisa?" tanya simbah putrinya yang masih ragu.
"Gak apa-apa Bu. Biarkan dia belajar mandi sendiri." Tiba-tiba Ferry datang membawa handuk untuk anaknya.
"Sayang, kalau udah selesai bajunya ada di depan TV ya! Papa tunggu di sana?" teriak Ferry pada anaknya. Yang sudah ada di dalam kamar mandi.
"Iya Pa!" sahut Erli dari dalam kamar mandi.
Akhirnya Ferry meninggalkan Erli sendiri di kamar mandi. Dia berjalan kembali ke arah depan TV, menunggu Erli sampai selesai mandi.
Jam delapan pagi, mereka semua baru sarapan bisa sarapan bersama.
"Bubur buat Linda nak Ferry. kalau dia sudah bangun nanti, suruh makan bubur itu."
"Iya Bu. Nanti kalau Linda sudah bangun, akan Aku suapi dia dengar bubur."
Ibunya Linda tersenyum, mendengar jawaban yang diberikan oleh anak menantunya itu. Dia berharap bahwa, Ferry sudah benar-benar berubah, dan bisa menjadi suami yang baik untuk anaknya. Dengan tidak lagi suka memukul, sama seperti dulu.
"Papa-papa! mama masih sakit, jadi gak usah pulang dulu ya! Mama juga gak usah kerja besok," cerocos Erli mengusulkan.
Dia memberikan usulan kepada papanya, supaya mamanya itu tetap berada di rumah, dan tidak usah kerja besoknya.
"Oh iya benar itu Mas! jika Mbak Linda masih sakit, biar biar besok Aku ijinkan di tempat kerja." Danang akhirnya berinisiatif untuk kakaknya, supaya bisa beristirahat di rumah terlebih dahulu.
"Iya terima kasih ya Nang, Kamu mau mengusahakan ijin untuk Mbak mu itu."
Ferry mengucapkan terima kasih kepada Danang, yang akan mencarikan ijin untuk Linda, supaya tidak perlu pergi bekerja besoknya.
"Iya sama-sama Mas. Ada Della juga yang ada di bagian HRD. Jadi akan lebih mudah untuk mendapatkan ijin, sebelum ada keterangan resmi dari dokter," terang Danang memberikan penjelasan.
"Oh ya. Besok biar Aku bawa dia periksa ke dokter. Karena dia tidak mau periksa ke bidan."
Ibu dan bapaknya Linda, hanya mendengarkan tanpa memberikan komentar apapun. Karena anaknya itu memang tidak suka pergi memeriksakan diri, jika sedang dalam keadaan sakit. Sama seperti kali ini.
"Besok, kalau periksa ke dokter sekalian minta surat dokternya yang Mas. Untuk membuktikan, jika mbak Linda gak masuk kerja itu karena memang sedang dalam keadaan sakit. Bukan karena alasan yang lainnya."
Ferry mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh Danang.
__ADS_1