Tante Melinda

Tante Melinda
Belum Terjawab


__ADS_3

"Mbak Linda!"


Danang memanggil kakaknya, saat Linda baru saja menghentikan motornya di parkiran.


Tapi, sepertinya Linda tidak mendengar panggilan dari Danang. Karena dia tetap fokus untuk memposisikan sepeda motornya, dan tidak sekalipun menoleh ke arah Danang.


Danang pun tidak menyalahkan kakaknya, yang tidak mendengarkan panggilannya tadi. Karena memang ini sudah saatnya jam ramai.


Jadi banyak karyawan yang berdatangan. Sehingga suara mesin motor membuat bising telinga.


Baru setelah Linda selesai parkir, Danang mendekat dan menepuk pundaknya, sambil menegurnya juga.


Pluk!


"Mbak!"


"Eh!"


Linda pun kaget, saat mendapatkan tepukan pada pundaknya.


"Ihhh, ada apa sih Nang? Bikin kaget Mbak." Linda mencebik kesal, karena rasa kaget saat merasakan tepukan tangan Danang yang tidak dia ketahui sebelumnya.


"Hehehe... maaf Mbak," ucap Danang cengengesan.


"Ada apa? Tumben pagi sekali udah datang ini. Ada yang ditunggui ya? Gebetan Kamu ya?" tanya Linda bertubi-tubi.


"Ihsss... Mbak apa sih? tanya gak jelas gitu."


Danang justru mengerutu sendiri, mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Linda padanya.


Padahal dia sengaja datang lebih pagi, supaya bisa bicara dengan kakaknya itu.


"Hum... terus apa?" tanya Linda, yang sudah berganti dengan mode serius.


"Mbak dan mas Ferry udah baikan kan? Erli gak tau masalah Kalian berdua kan Mbak? Gak ada KDRT lagi kan Mbak?"


Danang justru ganti bertanya kepada Linda, dengan banyak pertanyaan yang berhubungan dengan kasus kakak iparnya, Ferry. Yang dua minggu lalu terciduk sedang berada di hotel, bersama dengan perempuan lain.


Danang bertanya demikian karena, Linda sudah tidak lagi membicarakannya lewat pesan maupun telpon.


Dan minggu kemarin, Linda bersama dengan suaminya dan anaknya, hanya sebentar saja datang ke rumah. Untuk melihat keadaan bapaknya, yang batu saja sembuh.


"Ck! Tanyanya kayak polisi sedang interogasi ini," sindir Linda, atas sikapnya Danang.


Tapi Danang yang sedang mode serius, hanya tersenyum tipis. Mendengar nada protes dari kakaknya itu.


Akhirnya Linda menceritakan tentang keadaannya sekarang, yang sudah baik-baik saja bersama Ferry dan Erli. Apalagi, anaknya itu juga tidak tahu apa-apa.


"Mbak yakin, maafin mas Ferry?"


"Gak takut dia akan berbuat hal yang sama lagi suatu hari nanti?"

__ADS_1


Pertanyaan yang diajukan oleh Danang, sebenarnya juga menjadi pertanyaan Linda sendiri beberapa hari kemarin. Tapi dia mencoba untuk menenangkan hatinya, dan mencoba untuk memberikan kesempatan kedua pada suaminya.


"Mbak coba kasih kesempatan kedua pada mas Ferry Nang. Mbak tidak mau Erli terluka dengan perpisahan kami, hanya karena kekerasan hatiku."


"Biarkan saja, karena mbak juga tidak tahu. Bagaimana jalan kami kedepannya nanti."


Danang mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh kakaknya itu.


Dia tahu, jika kakaknya itu tidak bisa menceritakan permasalahan yang dihadapi pada orang lain. Meskipun itu pada kedua orang tuanya, atau juga pada dirinya.


Harus ditanya terlebih dahulu, baru Linda mau bercerita. Itupun tidak semua kesempatan dan waktu. Kakaknya itu mau bercerita seperti tadi.


"Oh ya Mbak. Itu, emhhh... mbak jangan kaget ya? Jika aku cerita ini."


Linda menatap ke arah Danang, dengan menyipit. "Apa sih? Gak usah bikin penasaran deh Nang!" tanya Linda kesal. Karena adiknya itu membuatnya penasaran dengan perkataannya barusan.


"Kemarin sore..."


"Eh... mbak Linda. Ayok bareng Mbak!"


Danang belum sempat selesai bercerita pada Linda, saat Aria dan Febriyanto menegurnya.


Bahkan, kedua anak cowok yang baru saja dikenal Linda di gudang material, mendekat ke tempat Linda dan Danang berbicara. Membuat Danang terdiam dan tidak melanjutkan kalimatnya.


"Eh, iya-iya!"


Linda pun melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu untuk bel masuk sudah hampir tiba.


Akhirnya Danang hanya mengangguk saja, kemudian membiarkan kakaknya itu pergi bersama dua orang yang tidak dia kenal.


Tapi dia tahu jika, kedua orang tersebut sama-sama karyawan di perusahaan ini. Karena mengenakan pakaian seragam yang sama, dan identitas diri dari pekerja di perusahaan ini juga.


"Kok id card nya kedua orang tadi warnanya beda?gak sama seperti yang ada di gedungnya mbak Linda."


Danang baru sadar, jika tempat untuk id card kedua cowok tersebut, warnanya berbeda dengan warna id card nya biasanya ada di gedung, tempat Linda bertugas.


Dia tidak tahu jika, Linda baru saja dimutasi ke gedung material bahan mentah.


Dan tidak lagi menjabat sebagai supervisor. Tapi kembali menjadi seorang leader.


( Di perusahaan tersebut, setiap karyawan berbeda untuk warna id card nya. Agar lebih mudah untuk membedakan, gedung mana karyawan tersebut bekerja )


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Mbak Linda? kenapa dia tampak akrab dengan dua cowok bocil itu?"


"Bukannya warna id card keduanya tadi identitas untuk bagian gudang?"


"Apa Aku tanya sama Della ya? Tapi dia kan tidak ada urusannya dengan penempatan karyawan."


"Apa besok lagi aja Aku tanya pada Mbak Linda?"


"Ya wes lah, besok lagi saja Aku tanya Mbak Linda. Dia juga sedang kerja, jadi Aku gak mau ganggu."

__ADS_1


*****


Di rumah ibunya Linda.


Setelah Danang berangkat kerja, bapaknya duduk-duduk di halaman rumah, dengan mengunakan bangku panjang.


Dia ingin berjemur pada pagi hari, mumpung cuaca sedang cerah.


"Eh, pak Dhe sudah sehat ya?"


Ada salah satu tetangga yang menegur bapaknya Linda. Di saat orang tersebut sedang lewat di jalan depan rumah.


"Iya Kang. Alhamdulillah ini, sudah mendingan."


"Ya-ya, berjemur biar anget kena sinar matahari pagi. Biar kena udara pagi juga itu awak mu."


Akhirnya, orang tersebut pun mampir dan berbincang sebentar dengan bapaknya Linda.


"Bagaimana sawah? Udah mau panen ya Kang?" Bapaknya Linda, bertanya tentang keadaan sawah, pada orang tersebut.


Orang tersebut memang biasanya pergi ke sawah. Baik ke sawahnya sendiri, atau bekerja ke sawah orang lain. Sama seperti yang biasa dilakukan bapaknya Linda juga, sewaktu masih sehat dulu.


"Ya Alhamdulillah pak Dhe. Sebulan lagi bisa panen. Semoga saja tidak ada hama tikus atau walang."


( Walang adalah belalang )


"Aamiin... moga hasil panennya bagus ya!"


"Aamiin... aamiin pak Dhe!"


Setelah mereka berdua terdiam beberapa saat, orang tersebut bertanya pada bapaknya Linda.


"Pak Dhe. Itu, si Linda. Suaminya kan sudah gak jadi polisi ya?"


Bapaknya Linda terdiam, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh temannya itu.


"Kenapa?"


Akhirnya, bapaknya Linda bertanya balik.Seyalah tadi sempat terdiam sejenak. Karena baru kali ini, ada orang yang bertanya kepadanya. Tentang suami dari anaknya, Linda. Yaitu Ferry.


"Gak apa-apa pak Dhe. Cuma... ini belum tahu sih, beber apa gak nya ya pak Dhe. Istriku pernah liat, suaminya Linda itu ketemu dan pergi sama perempuan lain. Padahal, baru saja turun dari motor bersama Linda."


"Tapi Linda waktu itu langsung pergi."


Bapaknya Linda menyipitkan matanya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh temannya itu.


"Kapan?"


"Dua mingguan kalau gak salah."


'Dua mingguan? Bukannya waktu itu Aku sakit.' Batin bapaknya Linda mengingat-ingat.

__ADS_1


__ADS_2