Tante Melinda

Tante Melinda
Pesona Mantan


__ADS_3

Setelah kejadian siang itu, Romi tidak pernah lagi menemui Linda di jam istirahat ataupun di waktu yang lain.


Mungkin dia tidak mau membuat Linda merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Sehingga tidak lagi mencari kesempatan untuk bisa mendapatkan perhatian dari Linda.


Tapi justru Linda yang gelisah.


Dia merasa ada yang kurang, di saat tidak ada Romi beberapa hari terakhir ini.


'Kak Romi ke mana ya? Kok gak pernah kelihatan. Padahal proyeknya masih jalan juga. Apa dia marah denganku ya?' batin Linda bertanya tentang keberadaan Romi yang menghilang sejak pertemuan mereka berdua siang itu.


Apalagi sekarang, Danang juga tidak pernah lagi mengajaknya untuk makan siang bersama, seperti dulu lagi.


Setiap jam istirahat, Linda hanya akan menghabiskan waktu bersama Aria dan Febriyanto saja. Baik saat makan di warung, atau di saat di gudang material.


Linda merasa monoton dengan kegiatannya sehari-hari. Tanpa ada adiknya atau Romi, sama seperti kemarin-kemarin.


'Apa sih mau Aku? Aneh kan ya! Aku sendiri yang ingin kak Romi tidak menemui Aku. Tapi, tanpa kehadirannya, Aku juga tidak baik-baik saja. Apa yang Aku rasakan ini?'


'Aku merasa rindu, tapi juga takut.'


'Aku ingin ada bersama dengannya lagi, tapi itu tidak mungkin bisa menjadi kenyataan.'


'Ah... apakah Aku sudah gila lagi, dengan mengharapkan Kak Romi?'


'Bagaimana Aku mengatasinya perasaan ini?'


'Meskipun di rumah Aku baik-baik saja, tapi jika di luar rumah, kenapa Aku ingin... agrhhh!'


Linda sedang berperang dengan hatinya sendiri, dengan keinginan dan kenyataan yang tidak bisa dipersatukan.


Rasa hati ingin bertemu dengan mantan kekasihnya itu, tapi dalam keadaan nyata, dia sadar itu tidak mungkin bisa dia lakukan.


Akhirnya, Linda hanya bisa menahan semuanya sendiri. Dia tidak mau ada yang tahu, dengan apa yang dia rasakan akhir-akhir ini. Karena itu akan membuat bencana untuk dirinya sendiri dan juga keluarga kecilnya di rumah.


Tapi sore ini, di saat Linda pulang dan baru tiba di tempat parkir. Dia melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit, kesal dan kecewa.


'Kak Romi? Dengan siapa dia ya?'


Linda melihat Romi yang sedang berbincang-bincang dengan seorang gadis.

__ADS_1


Romi dan gadis itu, masing-masing duduk di atas sepeda motor yang berbeda. Tapi Linda melihat dengan jelas, jika keduanya sama-sama tersenyum dan tertawa diantara perbincangan yang sedang mereka lakukan.


Sebenarnya Linda tidak ingin melihat pemandangan tersebut. Dia juga berharap, agar Romi tidak melihat keberadaan dirinya.


Sayangnya, harapan Linda itu ternyata tidak terkabul. Karena sepersekian detik kemudian, Romi justru memanggil namanya.


"Dek! Dek Linda!"


Dengan terpaksa, Linda tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Berharap agar Romi tidak berjalan mendekatinya.


Tapi ternyata harapan Linda kali ini juga tidak terkabul. Karena kenyataannya, Romi turun dari atas jok motor, kemudian berjalan menuju ke tempatnya berada.


"Kok tumben pulang awal?" tanya Romi membantu Linda mengeluarkan sepeda motornya dari barisan parkiran.


"Biasanya gudang material memang pulang lebih awal jika tidak ada stok yang datang," jawab Linda memberikan penjelasan kepada Romi, yang sudah selesai mengeluarkan sepeda motornya Linda.


"Terima kasih Kak," ucap Linda, di saat Romi menyadarkan sepeda motornya lagi.


"Oh... Aku pikir memang pulangnya sama terus setiap harinya." Perkataan Romi kali ini, membuat Linda mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang dikatakan oleh mantan kekasihnya itu.


"Maksud Kakak..."


Sedangkan Linda, merasa jika perkataan yang diucapkan oleh Romi, hanya pengalihan dari perhatian dan keluar dari pembicaraan mereka sebelumnya.


Padahal Linda sudah merasa cukup senang, saat tahu jika Romi memperhatikan dirinya setiap waktunya pulang kerja.


Tapi ucapannya yang memotong kalimatnya tadi, mengisyaratkan agar Linda cepat pulang. Supaya Romi bisa kembali berbincang-bincang dengan gadis yang masih berada di atas jok motor.


Sebenarnya Linda ingin tahu juga, siapa gadis tersebut. Tapi sayangnya, posisi duduknya membelakangi Linda. Sehingga dia tidak bisa melihat wajah dari gadis tersebut.


"Terima kasih Kak. Linda pulang dulu."


Akhirnya Linda pamit, dan segera naik motor. Kemudian pergi dari area parkir tersebut, dengan perasaan yang tidak menentu.


Sedangkan Romi, hanya menganggukkan kepalanya. Di saat Linda sudah pergi dari hadapannya. Meninggalkan dirinya dengan perasaan yang berkecamuk dalam hati.


"Mas, sini lagi!"


Gadis yang tadi, memanggil Romi untuk kembali ke tempatnya semula. Agar bisa kembali berbincang-bincang.

__ADS_1


"Eh ya maaf. Saya harus kembali bekerja lagi. Kasian yang lain, jika Saya tinggal lama-lama."


Romi justru menolak ajakan gadis yang tadi berbicara dengannya, di saat Linda baru saja datang ke parkiran. Kemudian pergi ke sisi parkiran yang lain, di mana pemasangan kanopi masih belum selesai dikerjakan.


"Yahhh... Mas, kurang seru ih ceritanya!" gerutu gadis tersebut sebal, karena diabaikan begitu saja oleh Romi.


"Kok mas Romi kenal supervisor Linda ya? Apa semua cowok harus tertarik dengan bule itu ya?" gumam gadis tersebut, mempertanyakan tentang pengaruh Linda pada setiap cowok di pabrik ini.


*****


Di jalan menuju pulang, Linda memikirkan apa yang tadi dia dengar dari Romi. Dia jadi berbicara dalam hati, di saat berhenti pada perempatan lampu merah.


'Maksudnya kak Romi tadi, dia itu sebenarnya memperhatikan bagaimana Aku pulang setiap harinya. Begitu kan ya? tapi kok Aku gak pernah liat dia? emang di mana dia liat Aku setiap hari?'


Linda justru merasa senang, karena pada kenyataannya, dia masih diperhatikan oleh Romi. Meskipun sebenarnya dia juga tidak tahu, bagaimana dan di mana Romi tahu tentang dirinya dan jadwal pulang kerjanya.


Tapi Linda yakin, dari perkataan yang diucapkan oleh Romi tadi, itu sudah mewakili jawaban yang yang selama ini ingin diketahui oleh Linda. Sebab dia tidak pernah melihat wajah Romi untuk beberapa hari terakhir ini.


Tin tin!


"Ehhh... ehh!"


"Woiii jalan!"


"Melamun di kamar aja Bos!"


Ternyata Linda tidak memperhatikan kondisi lalu lintas, akibat melamun tentang Romi.


Akibatnya, dia tidak memperhatikan kondisi lampu merah yang sudah berganti dengan warna hijau. Sehingga pengendara lainnya, yang ada dibelakangnya protes.


"Huhfff..."


Linda membuang nafas panjang, saat sudah melajukan kembali motornya.


"Hahhh... gara-gara mikirin kak Romi, Aku sampai melupakan di mana Aku berada tadi."


Linda juga mengelengkan kepalanya beberapa kali, mencoba untuk membuang pikirannya dari Romi. Yang ternyata masih menyita perhatiannya.


"Jangan sampai Aku terbawa suasana seperti ini hingga di rumah. Bisa-bisa mas Ferry curiga dan cemburu nanti."

__ADS_1


Tapi Linda tidak tahu, jika keinginannya untuk bisa fokus pada suami dan anaknya saja saat di rumah. Tidaklah mudah. Dan itu membutuhkan perhatian khusus untuk kesadarannya sendiri. Agar dia bisa mewujudkan harapannya tadi.


__ADS_2