Tante Melinda

Tante Melinda
Semua Bisa Diatur


__ADS_3

"Yang. Mas... Mas ada kabar baik. Tapi, ini juga kabar yang belum tentu menyenangkan."


Danang mengatakan kegundahan hatinya, pada istrinya, Della, di jam istirahat kerja. Mereka berdua sedang duduk-duduk di tempat parkir, setelah kembali dari makan siang mereka.


"Kabar apa Mas?"


Della menjadi penasaran, dengan kabar yang disebutkan oleh suaminya. Padahal, Danang belum yakin untuk menceritakan kabar tersebut.


"Hhh... tadi, sewaktu Mas di panggil ke HRD tadi lho. Itu pak Yus, mau bilang jika, Mas akan diangkat menjadi supervisor. Tapi dibagian umum."


"Kok beda devisi nya Mas?"


Della bertanya dengan heran, atas jawaban yang diberikan oleh suaminya. Sebab, bagian umum di sini mencakup semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan di luar produksi.


Jika benar apa yang dikatakan oleh suaminya tadi, berarti Danang akan memimpin para office girl, office boy, yang termasuk tukang kebersihan atau tukang sampah. Yang punya tugas masing-masing. Untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan di area perusahaan.


"Gak tau Yang. Pak Yus cuma memberikan Aku waktu beberapa hari, sebab, promosinya ini juga tergantung keputusanku. Apakah Aku mau ambil atau tidak."


Mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh Danang, Della mencoba untuk ikut berpikir.


"Sebaiknya Mas berpikir ulang. Jika menerima tawaran tersebut, berarti tanggung jawab mas Danang semakin besar juga. Tapi jika tidak, mas Danang akan kehilangan kesempatan untuk bisa terus maju. Apalagi, pekerjaan mas danang ini akan mencakup keseluruhan area perusahaan. Akan ada banyak kenalan komplain dan banyaknya permasalahannya yang akan muncul."


"Tapi jika tetap memilih pekerjaan yang sekarang, mas Danang akan stuck pada satu permasalahan yang dihadapi oleh pekerja PPIC. Dan lingkup pekerjaan serta kenalannya, juga area itu-itu saja."


Danang mendengarkan semua perkataan yang dikatakan oleh istrinya. Karena sebenarnya, dia juga berpikir hal yang sama seperti yang dipikirkan oleh Della.


"Mas akan coba untuk memikirkannya lagi."


"Iya Mas. Semua memang harus dipikirkan sarah matang-matang. Sebab, jika sudah membuat keputusan, sepertinya di perusahaan ini sulit untuk meminta kembali posisi kita yang dulu. Seandainya kita tidak betah atau nyaman pada posisi yang baru."


Danang mengangguk-anggukkan kepalanya setuju, dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Sebab, dia juga memiliki pemikiran yang sama seperti itu juga.


Akhirnya, mereka berdua kembali ke dalam pabrik. Sebab jam istirahat kerja sudah hampir selesai.


*****


Linda membicarakan tentang rencana lamaran Romi padanya, yang akan dilakukan besok malam.


"Acaranya hanya sederhana saja Pak, Bu."

__ADS_1


Ibu dan bapaknya Linda, hanya mengangguk-angguk saja. Memahami bagaimana keadaan anaknya itu.


"Tapi, untuk rencana pernikahannya sendiri, akan dilakukan setelah satu tahun meninggalnya mas Ferry."


Mereka berdua, ibu dan bapaknya Linda, kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebab, menurut mereka, rencana tersebut sudah sangat baik. Sebab, meninggalnya almarhum Ferry, suaminya Linda, memang belum ada satu tahun.


"Erli bagaimana?" tanya ibunya tiba-tiba. Sebab, dia mengkhawatirkan cucunya. Seandainya tidak bisa menerima kehadiran Romi sebagai penggantinya Ferry.


"Erli, Erli sepertinya sudah mulai akrab dengan kak Romi. Dia juga mau, saat di minta untuk memanggil kak Romi dengan sebutan ayah." Linda memberikan ketenangan pada ibu dan bapaknya. Jika anaknya, Erli, tidak mempermasalahkan keberadaan Romi di samping mereka berdua.


Ibunya Linda akhirnya merasa lega.


Begitu juga dengan bapaknya Linda, yang mengkhawatirkan keadaan cucunya. Seandainya tidak bisa menerima laki-laki lain, untuk menjadi orang tuanya. Mengantikan posisi Ferry, yang saat ini sudah tiada.


"Ya sudah kalau begitu bencana kalian berdua. Ibu sama bapak, hanya bisa mendoakan, semoga rencana ini bisa berjalan dengan lancar. Hingga saatnya nanti."


"Aamiin..."


Linda dan bapaknya, bersamaan mengucapkan aamiin. Atas harapan dan doa yang tulus dari ibunya Linda.


"Tapi, Kak Romi akan kembali ke kota besar setelah acara lamaran. Sebab, dia ada pekerjaan di sana yang harus segera diselesaikan."


"Iya gak apa-apa. Kan dia juga kerja. Jika harus tinggal di kampung dalam jangka waktu yang lama, misalnya harus menunggu kalian menikah, lalu bagaimana pekerjaannya yang ada di sana?"


"Hehehe... iya Bu," sahut Linda, yang memang sepemikiran dengan ibunya.


"Ya sudah, Ibu mau istirahat dulu. Erli juga sudah tidur. Ibu mau pindahkan dia dulu ke kamar," pamit ibunya Linda, dengan membopong tubuh Erli, yang saat ini tertidur dipangkunya.


Setelah ibunya pergi, bapaknya Linda bertanya perlahan-lahan pada anak mana itu. "Kamu menerima romi itu, bukan karena pelarian kan?"


Linda mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh bapaknya.


Dia tidak tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh bapaknya. Sehingga memiliki pemikiran seperti itu.


"Bapak tidak mau Lin, jika Kamu mau menerima nak Romi, hanya sebagai pelarian. Kasian nak Romi Lin," terang bapaknya, yang ternyata mengkhawatirkan perasaannya Romi. Seandainya dia hanya menjadikannya sebagai pelarian, sebab maksud dari pamannya Romi sendiri.


"Pak. Apa Bapak ada usulan, atau pendapat yang lainnya. Yang bisa Linda ambil, untuk jalan yang terbaik?"


Linda memberikan pertanyaan pada bapaknya, yang tentunya tidak bisa dijawab oleh bapaknya juga. Karena menurut bapaknya, sebenarnya keputusan yang diambil oleh Linda memang benar.

__ADS_1


Dia hanya ingin mendapatkan kejelasan dan kepastian dari Linda sendiri, atas keputusan yang diambil.


Bapaknya itu, tidak mau seandainya lilin menjalani kehidupan keluarga sama seperti dulu. Saat bersama dengan Ferry.


Sebab, bapaknya juga mendengar kelakuan menantunya di luar sana.


"Doakan Linda Pak. Semoga, apa yang lima putuskan kali ini benar." Bapaknya tampak tersenyum, mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda.


"Iya Lin. Bapak hanya bisa memberikan doa dan restu untukmu. Sebab, bapak juga sudah tidak punya apa-apa lagi. Bapak juga tidak bekerja. Bahkan, kehidupan bapak tergantung pada Kamu dan Danang. Maafkan Bapak ya, karena Bapak tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kalian berdua."


Linda menggeleng dengan cepat, di saat mendengar perkataan bapaknya.


"Gak Pak. Linda sangat bersyukur dengan apa yang kita jalani dan miliki. Linda tahu, meskipun Bapak tidak bisa melakukan apa-apa, tidak banyak mengucapkan kata-kata. Tapi Bapak selalu mendoakan Linda. Itu sudah lebih dari cukup Pak."


Kini, keduanya justru sama-sama terisak pelan, di saat menyadari posisi masing-masing.


"Sudah-sudah. Jangan buat Bapak bertambah pedih dengan menangis. Bapak tidak mau, jika menyambut kebahagiaan Kamu yang baru ini, dengan sebuah tangisan."


Linda justru semakin terisak-isak, mendengar perkataan bapaknya.


"Terima kasih atas semua doa yang Bapak berikan untuk Linda," ucap Linda, dengan pemegang kedua tangan bapaknya, kemudian mencium punggung tangan tersebut.


Bapaknya Linda, hanya mengangguk saja, dengan menahan isakan dan air matanya, supaya tidak mengalir.


*****


Di tempat lain.


Pamannya Romi, sedang mengunjungi rumah seorang guru spiritual. Untuk meminta doa, atau ritual, untuk bisa mendapatkan atau menaklukkan seorang wanita yang sedang ditaksir.


Ternyata, dia masih belum mau mengalah pada keponakannya yang seorang duda.


Padahal, dia sendiri sudah memiliki dua istri. Yang masing-masing juga sudah memiliki anak.


Tapi ternyata, ambisi dan nafsu yang dia miliki, menyalahkan akal logikanya. Sehingga dia mencari jalan keluar, dengan cara yang diluar dugaan.


Apalagi, dengan mencari bantuan seorang guru spiritual atau dukun.


Hal inilah yang sebenarnya dikhawatirkan oleh Romi. Sebab, dia sangat tahu betul. Bagaimana watak dan sifat dari pamannya. Yang bisa melakukan apa saja, demi untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


Hal yang tidak masuk akal dan tidak terpuji, juga akan dilakukan oleh pamannya itu.


__ADS_2