Tante Melinda

Tante Melinda
Ingin Segera Pulang


__ADS_3

Siang hari, selang infus Linda di lepas oleh perawat. Ibunya Linda, yang tadi memberitahu pada perawat jaga, saat ciaran infus tersebut sudah mau habis.


Linda jadi terbangun dari tidurnya, di saat perawat melepaskan jarum pada punggung tangannya.


"Sus, apa Saya bisa pulang sekarang?" tanya Linda, yang sudah tidak sabar untuk segera pulang ke rumah.


"Sabar Bu. Ibu harus latihan duduk dan berjalan sedikit-sedikit dulu. Kan beberapa hari terakhir ini, ibu hanya berbaring saja."


Linda sedikit merasa kecewa, dengan jawaban yang diberikan oleh suster tersebut.


Tapi, dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia harus bisa menunjukkan bahwa, dia sudah sehat dan bisa berjalan sendiri, sama seperti dulu lagi.


"Tapi, Saya merasa baik-baik saja Suster," ujar Linda, berusaha untuk menyakinkan suster, yang sedang merapikan alat-alat yang dia bawa tadi.


"Coba Ibu duduk, kemudian turun dari tempat tidur. Setelah itu berjalan pelan-pelan."


Dengan senang hati, Linda menuruti permintaan dari suster tersebut. Dia merasa sangat yakin jika mampu.


Tapi ternyata, apa yang diyakini oleh Linda tidak semuanya benar.


Pada saat dia duduk dan turun dari tempat tidur, dia memang baik-baik saja. Linda bisa melakukan tanpa mengalami keluhan.


Tapi di saat dia mulai berjalan tegak secara normal, dia terhuyung-huyung, dan hampir saja terjatuh.


"Hati-hati Bu!"


Suster dengan sigap menangkap tubuh Linda, dan memapahnya kembali ke tempat tidur.


Ibunya Linda, yang ikut menyaksikan kejadian itu, juga kaget dan wajahnya tampak memucat. Dia pikir, Linda akan terjatuh beneran.


"Alhamdulillah... Sudah Lin. Kamu nurut aja sama suster. Doa kan lebih tahu, dari pada Kamu sendiri," ujar ibunya, menasehati Linda.


Sekarang, Linda sudah kembali terbaring di tempat tidur.


"Terima kasih Sus. Maaf ya, atas bantahan Saya tadi. Saya hanya merasa bosan, dengan terus menerus berada di rumah sakit, dan di tempat tidur juga."


Linda mengucapkan permintaan maafnya kepada suster, yang sudah menasehati dan membantunya itu.


"Iya tidak apa-apa Bu. Sudah biasa, jika pasien akan merasa jenuh. Dan itu memang di alami banyak orang, bukan hanya Ibu saja kok," sahut suster, dengan tetap dalam keadaan tersenyum.


Mungkin, dia sudah terbiasa menghadapi pasien yang sama seperti Linda, dengan segala kejenuhan mereka selama di rawat.

__ADS_1


Suster tersebut juga mengatakan bahwa, tidak hanya pasien saja yang merasa bosan. Bahkan, pihak keluarga yang menemani atau ikut menjaga pasien, juga sering mengalami rasa bosan.


Dan kadang kala, ada juga yang berjaga ikut-ikutan sakit karena kecapekan.


Padahal, di rumah sakit juga tidak melakukan apa-apa Cuma duduk menemani pasien.


Sekarang, suster pamit untuk kembali ke tempat tugasnya. Sedangkan Linda, di minta untuk latihan sendiri, sama seperti yang tadi dia sarankan.


"Hati-hati ya. Pelan-pelan saja latihannya. Yang sabar," kata suster memberikan pesan dan penjelasan pada Linda.


Linda mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh suster.


"Tolong di bantu dan di awasi ya Bu!" pinta suster, pada ibunya Linda.


"Iya Sus. Terima kasih," ucap ibunya Linda, dengan mengangguk mengiyakan.


Tak lama setelah suster pergi dari kamar, Linda menghela nafas panjang.


Dia merasa lega, meskipun belum sepenuhnya merasa lega. Karena keinginannya untuk pulang ke rumah, masih harus menunggu sampai sore atau malam hari nanti.


"Bu," panggil Linda, di saat ibunya berjalan menuju meja kecil, yang ada tak jauh dari tempat tidurnya.


"Ada apa Lin?" tanya ibunya, kemudian mendekat ke tempat tidurnya Linda lagi.


"Iya-iya. Kamu gak tidur dulu, kan infusnya baru saja di lepas?" tanya ibunya Linda, yang merasa jika, Linda butuh istirahat sebentar lagi.


Tapi sepertinya, Linda bersikeras untuk bisa cepat-cepat berjalan lagi, agar buda cepat pulang juga.


"Kamu gak telpon Ferry dulu. Biar dia jemput ke sini, pas kita mau pulang nanti?"


Ibunya Linda, berusaha untuk mengingatkan anaknya, supaya menghubungi suaminya itu. Agar bisa membatu dan mengurus segala sesuatunya nanti.


"Linda sudah kirim pesan. Tapi, belum dibalas. Mungkin sedang sibuk," jawab Linda, sambil melirik ke arah samping tempat tidurnya.


Di sana, ada handphone miliknya, yang tadi dia gunakan untuk mengirim pesan pada suaminya, polisi Ferry.


"Oh, ya sudah. Kamu yang sabar ya. Terserah Kamu, setelah ini. Ibu tidak akan memintamu untuk tetap bertahan, jika pernikahan Kamu ini memang tidak bisa membuat Kamu bahagia."


Linda terdiam mendengar perkataan yang diucapkan oleh ibunya. Dia hanya bisa menghela nafas panjang, saat memikirkan nasib pernikahan ke depan nanti.


Tapi, Linda juga tidak pernah berpikir untuk berpisah dengan suaminya itu. Meskipun dia tidak bahagia, karena selalu mendapatkan penyiksaan, baik secara fisik maupun psikologis.

__ADS_1


Dia hanya berpikir bahwa, Erli butuh papanya. Apalagi, Erli masih terlalu kecil, untuk tahu bagaimana keadaan papa dan mamanya.


Mungkin, Linda berpikir sama seperti masyarakat pedesaan pada umumnya. Yang sepertinya merasa tabu, jika harus ada perceraian di antara suami dan istri.


Jadi, masyarakat pedesaan akan tetap berusaha untuk bertahan, dalam kehidupan rumah tangga mereka yang sebenarnya tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Masyarakat desa pada umumnya, akan tetap menutupi semua kebobrokan, yang sudah ada di dalam pernikahan mereka. Dan semua itu juga untuk anak-anak mereka, supaya tetap bisa berada dalam keadaan utuh.


"Lin. Linda," panggil ibunya, di saat Linda diam dalam keadaan melamun.


"Eh, emhhh... ada apa Bu?" tanya Linda gugup.


"Jadi gak, latihan jalannya?" tanya ibunya Linda, karena tidak tega, jika hanya melihat Linda yang hanya melamun saja di dalam kesedihannya.


Mungkin, dengan latihan jalan, pikiran Linda bisa teralihkan perhatiannya, dan tidak lagi bersedih hati.


"Iy_iya Bu. Tentu saja," sahut Linda, dengan terbata-bata.


Sekarang, Linda berusaha untuk bangun dari posisi tidur, dengan dibantu oleh ibunya.


*****


Di kantor polisi.


Sebenarnya, Kantor polisi tempat Fery bertugas, tidak ada kesibukan apa-apa. Tapi, karena satu jam lagi ada tinjauan dari atasan, semua orang jadi berusaha untuk tetap bisa tetap lihat sibuk, dengan tugasnya masing-masing.


"Ferry!"


Atasan memangil polisi Ferry, yang sedang sibuk dengan kertas-kertas yang ada di depannya.


"Ya Pak," jawab polisi Ferry, kemudian bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju ke tempat atasannya itu.


"Ada yang bisa Saya bantu Pak?" tanya Ferry, di saat sudah berada di depan atasannya.


"Ini tolong salin ya, terus di foto copy, rangkap tiga."


Polisi Ferry mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian menerima kertas-kertas yang diberikan oleh atasannya itu.


"Kapan harus selesai Pak?" tanya Ferry, yang belum melihat pesan dari istrinya, Linda.


"Setengah jam lagi, Saya minta," jawab atasannya lagi.

__ADS_1


"Baik Pak," jawab polisi Ferry dengan sigap.


__ADS_2