
Satu tahun sudah berlalu. Semua berjalan sebagaimana mestinya yang memang sudah tergaris. Tidak ada satu pun dari orang-orang, yang bisa menghindar dari garis kehidupan dan takdir Tuhan.
Begitu juga dengan keluarga kecil Linda.
Hari-hari yang dia lalui dengan bekerja di pabrik. Juga teman-teman yang ada di sekitarnya, dalam mengerjakan pekerjaan mereka sebagai tim. Dengan segala permalasahan, dan juga kekompakan yang mereka bangun untuk menyelesaikannya.
Baik pekerjaan yang harus dilakukan, maupun pada saat dia masalah yang terjadi.
Linda semakin memahami, bagaimana dengan kehidupan dan keadaan yang ada. Suka dan duka di dalam situasi yang ada di pabrik. Bersama dengan lingkungan pertemanan yang mengelilingi kegiatan saat bekerja.
Ada yang benar-benar tulus dalam pertemanan. Tapi ada juga yang hanya baik saat ada maunya.
Semua bisa menjadi pengalaman yang sangat penting untuk Linda.
Suaminya Linda, Ferry, juga sudah bisa berjalan lagi. Dia kembali bekerja seperti biasa. Sebagai penjual beras di pengilingan padi.
Dan anak mereka berdua, Erli, juga sudah bersekolah di TK TPA.
Pagi ini, Linda masih ada di rumah.
"Ma. Mama gak kerja hari ini?"
Erli bertanya pada Linda, yang masuk ke dalam kamarnya, dan dalam keadaan belum mandi. Padahal biasanya, di jam seperti ini, mamanya itu sudah rapi dan siap untuk berangkat kerja.
"Mama ambil cuti Sayang."
"Cuti?"
Erli kembali bertanya pada mamanya, saat mamanya itu menjawab pertanyaannya yang tadi.
"Iya. Mama libur kerja."
"Asyikkk... Mama libur! Nanti bisa anter Erli sekolah ya Ma? Sama papa juga ya Ma!"
Linda mengangguk mengiyakan permintaan anaknya. Dia merasa sangat senang, karena bisa melihat bagaimana wajah anaknya, yang begitu antusias, saat mendengar perkataannya tadi.
"Ada apa Ma?"
Dari luar pintu kamar anaknya, Ferry bertanya dengan menyembulkan kepala. Dan melihat istri serta anaknya yang masih berbincang-bincang di dalam kamar.
"Pa, Papa! Mama libur kerja Pa. Ajak Mama ke pengilingan padi ya Pa!"
"Iya Sayang. Erli mau di antar jemput Mama ya?" tanya Ferry, karena memang anaknya itu sering merengek minta pada Linda.
Sayangnya, Linda memang tidak bisa menuruti permintaan dari anaknya itu setiap hari.
"Beneran kan Ma?" tanya Erli memastikan.
"Iya Sayang."
"Horeee..."
__ADS_1
Erli berteriak senang, saat mendengar jawaban yang diberikan oleh mamanya.
"Ya sudah. Sekarang Erli mandi yuk!"
Erli bergegas turun dari tempat tidur, kemudian mengandeng tangan mamanya. Hari ini, dia akan didandani oleh mamanya. Tidak sama seperti biasanya, jika mamanya itu berangkat kerja.
Papanya yang akan menyiapkan segala sesuatunya, dengan keperluan Erli untuk sekolah.
Beberapa menit kemudian.
Semua sudah selesai. Erli sudah rapi dengan seragam sekolah dan tas nya. Sedangkan Ferry, juga sudah bersiap dan memanaskan mesin motor. Baik motornya sendiri, dan juga motor yang biasa di bawa kerja Linda.
"Dek. Bawa satu motor pa dua?" tanya Ferry, saat selesai memanaskan mesin motor.
"Terserah Mas. Nanti Mas ada keperluan keluar gak?" Linda justru balik bertanya, apakah rencana kegiatan suaminya itu nanti.
"Gak ada. Mas cuma di pengilingan padi aja kok," jawab Ferry, dengan memberikan menjelaskan pada istrinya itu.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Bawa satu motor aja Mas," usul Linda memberikan jawaban.
Akhirnya, sebelum mereka pergi, Ferry kembali memasukkan satu motor ke dalam rumah. Dia pun mengunci pintu rumah, kemudian bersiap untuk berangkat bersama dengan istri dan anaknya.
Sepanjang perjalanan menuju ke arah sekolahnya, Erli bercerita banyak hal pada mamanya.
"Ma. Temen Erli ada yang masih nangis hingga sekarang. Jika di tinggal mamanya."
"Ada temen Erli yang masih suka ngompol jika bangun tidur."
"Buah katanya bagus untuk pertumbuhan anak ya Ma? Padahal Erli kan emang suka buah ya Ma!"
Dan masih banyak lagi perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh Erli pada mamanya, Linda.
Untungnya, Ferry melajukan sepeda motornya dengan perlahan-lahan. Sehingga Linda juga bisa menjawab dan menyahuti perkataan anaknya itu dengan tenang. Karena tidak harus bersaing dengan angin yang melewati mereka di perjalanan.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah sampai di depan sekolah Erli.
"Ma. Lihat Ma! Itu teman Erli yang tadi Erli cerita. Masih suka ngompol," Erli berbisik-bisik dengan menunjuk-nunjuk ke arah salah satu temannya.
Linda mengangguk sambil tersenyum tipis, melihat anaknya yang begitu bersemangat saat bercerita padanya.
"Sayang. Di dalam kelas gak boleh banyak bicara dengan temannya ya! Jika di tanya Bu guru, baru menjawab. Jika tidak jelas, Erli bisa bertanya juga pada Bu guru."
Linda memberikan pesan pada anaknya itu, sebelum mereka berdua tiba di dalam kelasnya Erli.
Hari ini, karena ada Linda, Ferry hanya menunggui di depan pintu gerbang sekolah. Dia tidak ikut masuk ke dalam, untuk mengantarkan anaknya.
Dan pada saat dia sedang menunggu istrinya, yang sedang mengantarkan anaknya, Ferry mendapatkan telpon dari mbak Nana.
..."Ya hallo mbak Nana." ...
..."Mas Ferry sudah sampai di pengilingan padi belum?" ...
__ADS_1
..."Belum Mbak Nana. Ini masih ada di sekolah Erli. Ada apa ya Mbak?"...
..."Emmhh... ini Mas. Saya minta tolong. Bisa jemput ke pasar gak ya?" ...
..."Ke pasar, sekarang?" ...
..."Iya Mas. Ini motor Saya macet. Gak tau kenapa, tiba-tiba gak bisa nyala mesinnya." ...
Ferry diam dan berpikir sejenak. Dia tidak mungkin meninggalkan Linda di sekolah ini. Dan jika dia menunggu, kemudian mengantarkan Linda ke pengilingan padi terlebih dahulu, Ferry juga merasa khawatir dengan keadaan Linda. Yang bisa jadi, akan banyak yang menggodanya nanti.
..."Bagaimana Mas?" ...
Mbak Nana kembali bertanya pada Ferry, karena Ferry tidak segera memberikan jawaban.
..."Emhhh... tapi..." ...
..."Gak apa-apa Mas. Saya tau kok, pasti Saya kasih uang ganti bensinnya. Mas Ferry tenang saja." ...
..."Bukan. Bukan begitu mbak Nana. Ini..." ...
..."Ini apa Mas Ferry?" ...
Mbak Nana sepertinya tidak sabar, menunggu Ferry menyelesaikan kalimatnya.
Dia terus mendesak Ferry, yang masih dalam keadaan bingung dengan situasinya sekarang ini.
..."Saya... Saya bersama dengan istri Saya mbak Nana." ...
..."Lho, kok tumben sekali Mas?" ...
Akhirnya, Ferry memberikan penjelasan kepada Mbak Nana. Bagaimana bisa Linda ikut bersama dengannya di sekolah Erli.
Di seberang sana, terdengar dengusan nafas kasar mbak Nana. Sepertinya dia kesal karena Ferry tidak bisa melakukan apa-apa untuk bisa bertemu dengannya hari ini.
..."Ya sudah Mas kalau begitu. Saya mau cari bengkel dulu. Atau ojek biar nyariin bengkel juga." ...
..."Iya Mbak Nana. Maaf ya!" ...
Klik!
Ferry membuang nafas lega, setelah telpon ditutup secara sepihak oleh mbak Nana. Dan untungnya, Linda tidak tahu, apa dan siapa yang menghubungi dirinya saat ini.
Setelah memasukkan kembali handphone miliknya ke dalam saku celana, Ferry baru melihat istrinya yang sedang berjalan ke luar dari kelas Erli.
Dia pun memposisikan sepeda motornya, agar bisa langsung pergi dari tempat itu.
Karena waktu berangkat dan pulang sekolah, depan pintu gerbang sekolah akan selalu penuh dengan sepeda motor yang terparkir tidak teratur.
"Sudah Dek? Gak nangis kan Erli nya?" tanya Ferry, begitu Linda sampai di dekatnya.
"Iya Mas. Dia tidak rewel dan tidak nangis juga kok. Langsung ikut bergabung dengan teman-temannya yang sudah datang."
__ADS_1
Sekarang, Linda sudah duduk di atas boncengan dan siap untuk pergi bersama dengan suaminya ke pengilingan padi.