
Sepulang kerja, Danang tidak seperti biasanya. Sekarang dia jarang keluar dari dalam kama. Hanya untuk keperluan makan atau kamar mandi saja dia keluar dari kamarnya.
Hal ini membuat ibunya menjadi khawatir, sehingga bertanya kepada bapaknya. "Pak. Itu Danang kenapa ya Pak? Kok sekarang jadi aneh dia, gak kayak dulu."
"Kenapa memangnya Bu?" tanya suaminya balik. Karena dia tidak merasakan perubahan Danang, seperti yang dikatakan oleh istrinya.
"Sekarang Danang itu jarang keluar dari kamar Pak. Apa ada masalah? apa kenapa gitu? Kok diam-diam saja. Dia nggak mau ngomong sama ibu. Atau bicara apa gitu," terang istrinya, yang hanya didengarkan oleh suaminya saja.
"Mungkin sedang tidak enak badan atau bagaimana itulah Bu." Suaminya justru memberikan alasan yang membuat istrinya bertambah khawatir.
"Sakit kok diam saja Pak, gak ngomong-ngomong sama Ibu?" istrinya justru balik bertanya lagi.
"Coba tengok saja sana Bu, tanya ada apa gitu!" pinta suaminya, supaya istrinya tidak lagi merasa penasaran.
"Kamarnya juga sering dikunci lho Pak, nggak kayak dulu. Ada apa sih dia? Apa Danang ngomong ya sama Linda? Linda tahu gak Pak?" Istrinya justru bertanya-tanya, hal yang tidak bisa di jawab juga oleh suaminya.
"Bapak juga gak tau Bu. Coba tanya Danang saja sana! kelamaan tanya Linda besok-besok!"
Ibunya Linda membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Jika harus bertanya pada Linda, itu masih menunggu hari sabtu atau minggu, itupun jika Linda datang ke rumah ini.
"Iya deh. Ibu coba tanya sama Danang langsung. Tapi Bapak juga ikut tanya ya, takutnya dia mau tidak mau ngomong masalahnya sama Ibu Pak."
"Iya-iya. Nanti Bapak juga tanya, biar dia lebih terbuka gitu. Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan dari kita."
Mereka berdua, justru punya pikiran yang aneh-aneh, karena perubahan sikap Danang.
"Nah itu Pak yang Ibu takutkan. Ibu gak mau Danang sama seperti Linda, jika terjadi sesuatu hanya diam saja, gak mau bicara apa-apa."
Sebenarnya, mereka berdua bukanlah orang tua yang terlalu mengekang kebebasan anak-anaknya. Mereka membiarkan anaknya itu dalam memilih, mencari, dan bergaul dengan teman-teman mereka.
Mungkin kasus yang menimpa Linda dulu, yang didesak untuk segera menerima Ferry yang seorang anggota polisi, membuat ibunya sedikit lebih bijak. Sehingga tidak mau mengulang kembali masa lalu yang sama seperti kejadian Linda pada Danang.
"Ibu coba ketuk pintu kamarnya Danang dulu ya Pak," pamit istrinya, yang diangguki juga oleh suaminya.
__ADS_1
Tok tok tok!
"Nang, Danang!"
Tok tok tok!
Clek!
Pintu kamar terbuka.
Tampak Danang yang masih dalam keadaan menegang handphone miliknya.
"Ada apa Bu?" tanya Danang, yang masih memegang gagang pintu kamar.
Sepertinya Danang tidak ada maksud untuk keluar dari dalam kamar, karena kenyataannya, dia tetap ada di depan pintu kamar. Seolah-olah menghalangi ibunya, supaya tidak masuk ke dalam kamarnya.
*****
Di rumah Romi.
"Del, jangan senyum-senyum sendiri kayak orang gila ah, nakutin!" celoteh Romi pada adiknya. Yang sedari tadi senyum-senyum sambil memperhatikan layar handphonenya.
"Ihsss... Mas Romi ini kaya gak pernah jatuh cinta aja sih!" Della membela diri, sambil mencibir kakaknya.
"Tapi kan Mas dulu gak segitunya kali Del," sanggah Romi, mengingat kembali kejadian yang pernah dia alami bersama dengan Linda. Mantan kekasihnya yang dulu.
"Iyalah gak pernah! dulu kan kecanggihan handphone gak kayak sekarang. Mas Romi sama mbak Linda gak bisa kayak Della sama kak Danang." Della membela dirinya, dengan dalih kemajuan teknologi yang semakin meningkat sekarang ini.
"Oh ya, gimana sekarang kabarnya mbak Linda Mas? baik-baik saja kan?" tanya Della, menyambung perkataannya tadi.
"Mas Romi gak usah berusaha untuk deket-deket sama Mbak Linda lagi ya! awas jika Mas Romi masih berusaha untuk mendekati calon mbak iparnya Della! Della gak mau kalau ada masalah dengan hubungan Della ini, hanya karena ulah mas Romi!" ancam Della pada kakaknya.
"Tenang saja Del. Mas masih bisa tahan diri kok. Mas gak mungkin ngoyo untuk bisa kembali dekat dengan Linda. Kayak Kamu gak kenal sama Mas mu ini bagaimana," ujar Romi menenangkan hati adiknya.
__ADS_1
"Bukan begitu juga Mas! masalahnya, Della takut Mas kebablasan dalam mengartikan perasaan Mas saat ini. Hanya karena dulu tidak bisa mendapatkan mbak Linda. Jadi Mas Romi nekat gitu! hehehe..."
Dalam hati romi, sebenarnya membenarkan perkataan adiknya. Mungkin karena itu juga, dia jadi merasa sangat bahagia, saat bisa melihat Linda, meskipun hanya dari kejauhan.
"Mas, maaf Mas. Bukan maksud Della memojokkan Mas. Della hanya mengingatkan Mas Romi, tentang calon kakak ipar Della itu. Hehehe..." Della berusaha untuk mencairkan suasana, saat melihat wajah kakaknya yang murung. Di saat dia menyinggung tentang sikap kakaknya itu akhir-akhir ini.
"Gak apa-apa Del, mungkin sudah nasib Mas seperti ini. Mau bagaimana lagi?" Romi pasrah dengan keadaan dirinya yang sekarang, yang gagal juga rumah tangganya.
"Semoga hubungan ku dengan kak Danang baik-baik saja. Lancar, jalan terus, hingga ke pelaminan nanti."
"Dan semoga mbak Linda juga gak kaget, saat tahu Aku ada hubungan dengan adiknya."
"Aamiin..."
Romi mengamini harapan adiknya, meskipun hatinya sendiri merasa sedih.
"Iya Del, Mas doain Kamu lancar sama Danang. Tapi bagaimana dengan Mas Del?"
"Bagaimana apanya sih Mas? Mas mau balik lagi sama Mbak Linda? kan Mbak Linda masih punya suami Mas! masak sih Mas jadi kayak gitu? jangan dong Mas..." rengek Della, yang tidak mau melihat kakaknya itu lebih kecewa lagi dengan harapannya yang tidak mungkin bisa terwujud.
"Bukan gitu Del, tapi tahulah. Mas juga bingung ini. Sepertinya Mas belum bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Linda. Gimana ini?"
Pertanyaan Romi yang terakhir ini, membuat Della merasa khawatir.
"Cari cewek aja Mas. Di pabrik banyak cewek cantik. Mungkin saja ada yang tertarik sama Mas Romi!" usul Della cepat.
"Kalau untuk sekedar kayak gitu sih banyak banget Del cewek-cewek pabrik. Gampang, tapi... ini masalahnya hati Del."
Della sebenarnya membenarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Tapi dia juga takut, seandainya hubungannya dengan Danang akan terganggu, karena ulah kakaknya yang mendekati Linda lagi.
"Mas jangan dong Mas! bagaimana hubungan Della sama kak danang kalau Romi masih mau sama mbak Linda? mungkin nggak itu?"
Della merasa takut jika, hubungannya dengan Danang tidak bisa berlangsung lama, jika ada masalah yang terjadi antara kakaknya itu dengan Linda.
__ADS_1
"Tenang Del, Mas gak senekat itu kok. tenanglah pokoknya Kamu!"
Tapi Della tetap saja tidak tenang, karena dia masih bisa melihat sinar cinta dari mata kakaknya, di saat menyebutkan nama Linda.