
Operasi yang dilakukan oleh Linda sudah selesai. Tapi dia tidak diperkenankan untuk bergerak sama sekali. Demi keamanan kakinya yang baru saja selesai dipasangi pen.
Kedua orang tuanya Ferry, sudah datang.
Sekarang mereka berdua sedang berada di ruangan ICU, melihat keadaan anaknya yang sedang kritis.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Ferry. Cepatlah sadar. Lihatlah istrimu, anakmu. Mereka masih membutuhkan dirimu."
Ayahnya Ferry, mengajak anaknya itu berbicara. Meskipun dia juga tahu bahwa, anaknya itu tidak bisa menjawab dan menyahuti perkataan yang diucapkan.
Istrinya, hanya menangis sedari tadi. Melihat bagaimana keadaan putranya yang tidak bisa melakukan apa-apa.
"Sudah Bu. Ayo kita lihat Linda. Dia pasti sudah sadar dari pengaruh obat operasinya tadi," ajak suaminya, dengan memapah tubuh istrinya yang lemas.
Ayahnya Ferry, mengajak istrinya itu untuk pergi ke kamar rawat inap Linda. Karena menantunya itu baru saja selesai hai operasi.
Mereka berdua, bertemu dengan Linda dan ibunya juga. Yang memang selalu menunggui anaknya sedari awal masuk rumah sakit ini. Karena kecelakaan yang dialami oleh Linda dan juga Ferry.
Baik ayah maupun ibunya Ferry, meminta maaf kepada Linda maupun ibunya Linda, jika anaknya ada banyak kesalahan terhadap mereka.
Linda menangis mendengar permintaan ibu mertuanya. Dia juga mengatakan bahwa, dirinya sudah memaafkan suaminya itu. Dia juga ikhlas, seandainya Ferry tidak bisa bertahan, mengingat keadaan suaminya yang sedang kritis saat ini.
Bukannya mendoakan jika Ferry segera pergi atau meninggal. Tapi dia tidak ingin, melihat keadaan suaminya yang menderita di akhir hidupnya.
Sekarang Linda minta diantar ke ruang ICU, untuk bertemu dengan suaminya. Dia ingin berbicara dengan suaminya sendiri.
Dengan berat hati, ibunya Linda meminta pada perawat untuk mengantar Linda ke ruang ICU, bersama dengan kedua mertuanya. Termasuk dirinya juga.
Di ruangan ICU, hanya Linda yang masuk ke dalam untuk bertemu dengan Ferry.
Tapi dia tetap didampingi oleh seorang perawat, untuk berjaga-jaga. Karena kondisi Linda sendiri belum bisa dikatakan baik, karena baru saja selesai melakukan operasi.
Linda miris melihat kondisi suaminya, yang terbaring tidak berdaya.
"Mas. Linda memaafkan semua kesalahan mas Ferry. Dan seandainya mas Ferry tidak bisa menahan rasa sakit ini, dan ingin pergi Linda juga ikhlas Mas."
"Hhh... anak kita yang masih ada di dalam kandungan Linda juga sudah pergi terlebih dahulu. Meninggalkan kita semua. Jika mas Ferry mau menemaninya, Linda ikhlas. Linda akan merawat Erli dengan baik."
Perawat yang ikut masuk bersama Linda, justru menangis tersedu-sedu. Mendengar perkataan Linda pada suaminya yang tidak sadarkan diri karena koma.
__ADS_1
Dia melihat bagaimana Linda yang begitu tegar, meskipun perawat itu juga tahu bahwa, Linda sangat bersedih dengan keadaan suaminya ini.
Tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena monitor jantung Ferry, sudah sangat melemah.
Tit, tit, tiittt, tit.
Grafik pada layar monitor juga sudah tidak stabil. Seakan-akan memberitakan tanda, jika pasien sedang berada pada kondisi yang sudah tidak bisa dipertahankan.
Dokter segera datang, di saat perawat yang ikut bersama Linda memencet tombol darurat.
Linda di minta untuk segera menjauh terlebih dahulu, agar dokter dan tim bisa melakukan penanganan yang tepat untuk pasien.
Linda sudah pasrah. Begitu juga dengan kedua orang tuanya Ferry, yang ada di luar sana. Karena mereka masih bisa melihat bagaimana keadaan di dalam sana, sehingga mereka tahu, bagaimana keadaan anaknya, yang sedang berjuang antara hidup dan mati.
Ibunya Linda, sudah tidak sanggup lagi untuk melihat kondisi Ferry.
Dia menangis di pojokan ruang tunggu, yang ada di depan ICU.
Tak lama kemudian, Danang datang bersama dengan Della. Juga bapaknya. Karena Erli mereka titipkan pada tetangga yang ada di dekat rumahnya.
*****
Di alam lain.
Dia sendirian. Tidak ada Linda maupun Erli.
"Aku di mana?"
Ferry bertanya-tanya karena tidak ada orang yang bisa dia tanyai.
Dari kejauhan, dia melihat Linda dan Erli bergandengan tangan. Berjalan menuju ke arahnya berdiri.
Tapi ternyata, ada sebuah sungai yang memisahkan antara tempatnya Linda dan Erli berada, dengan lapangan tempatnya berada.
"Sayang, Dek. Jangan mendekat. Tetap berada di sana!"
Ferry memperingatkan Linda dan Erly, supaya tidak pergi menyusulnya. Karena dia takut, jika anak dan istrinya itu akan terseret arus sungai yang memisahkan tempat mereka.
"Mas. Kami bagaimana jika tidak menyusul mas Ferry?" Linda bertanya pada dirinya, yang kebingungan untuk menemukan jalan keluar.
__ADS_1
"Tetap di sana. Mas tidak mau terjadi sesuatu padamu. Tetap jaga Erli ya Dek!"
Linda menangis, karena tidak bisa menemukan jalan untuk bisa pergi ke tempat suaminya berada.
"Jangan menangis Dek. Ingat Erli masih sangat membutuhkan dirimu. Mas pasti akan menunggu kalian berdua, jika air sungai ini kering nantinya."
Erli terlihat bingung, melihat ke arah papa dan mamanya. Dia ingin pergi menemui papanya, tapi juga tidak mau meninggalkan mamanya.
"Sayang, Erli. Tetap bersama mama ya! Jangan rewel dan buat mama sedih. Hibur mama jika mama sedang sedih," ujar Ferry menasehati anaknya.
"Pa. Papa! Erli mau ikut papa!"
Erli berteriak memanggil papanya, supaya papanya mengajaknya pergi juga.
"Papa mau pergi merawat adiknya Erli. Bukankah Erli senang punya adik?" tanya Ferry membujuk Erli supaya tidak menangis lagi, atau merajuk ingin ikut berdansa dengannya.
"Erli punya adik Pa?"
"Iya. Erli punya adik. Tapi sekarang dia sudah pergi. Jadi, papa mau jagain adik dulu. Erli sudah besar, jadi Erli yang jagain mama ya!"
Erli mengangguk mengiyakan permintaan papanya dengan tersenyum senang. Karena impiannya untuk mempunyai adik sudah terwujud. Meskipun sekarang adiknya pergi.
Tapi papanya itu sudah berjanji padanya, untuk menjaga adiknya. Sehingga Erli tidak lagi menangis.
"Ma. Papa mau pergi jagain adik Ma. Mama jangan sedih. Ada Erli sama Mama."
Linda memerlukan Erli sambil menganggukkan kepalanya, tapi tetap saja, masih menangis tersedu-sedu.
"Erli. Papa pergi sekarang ya, ajak Mama pulang dan beristirahat. Besok kita akan bertemu lagi, jika sudah waktunya tiba."
Setelah selesai mengatakan demikian, Ferry berjalan menjauh ketengah lapangan. Menjauhi air sungai yang seakan-akan meluap memenuhi lapangan tempatnya berada tadi.
Sedangkan Linda dan Erli, saling berpelukan di seberang sungai yang lain. Mereka melihat Ferry yang pergi menjauhi lapangan menuju ke arah jalan yang tidak sama seperti tempat mereka berada.
*****
Tiiiitttt...
Layar monitor sudah tidak menampakan grafik lagi. Tanda jika sudah tidak ada lagi detak jantung yang terdeteksi.
__ADS_1
Dan alat pacu jantung, juga sudah diletakkan lagi oleh dokter.
Mereka menunduk sambil mengelengkan kepalanya lemah.