Tante Melinda

Tante Melinda
Beda Pemikiran Satu Tujuan


__ADS_3

Saat Linda ada di rumah sakit menunggui bapaknya, Ferry datang untuk membawakan makan siang untuk Linda dan juga ibunya. Karena jika sore hari, Danang yang akan membawakan makanan untuk mereka berdua.


Karena Linda juga pulang pada malam hari, sekitar pukul delapan atau sembilan malam.


Bapaknya sudah mulai membaik, tapi belum bisa melakukan apa-apa. Dan ini, adalah hari kedua, di mana Linda cuti. Karena besok pagi, dia sudah harus masuk kerja lagi. Dan posisinya untuk ikut menjaga bapaknya, digantikan oleh Danang.


Di sore hari, Danang tiba di rumah sakit menjelang magrib. Dia harus mampir ke rumah terlebih dahulu, untuk mandi dan sekalian mencari makanan untuk dia bawa ke rumah sakit.


"Nang. Kamu besok tanya ke dokter ya. Jika bapak tidak ada perubahan, bagaimana jika kita pindah ke rumah sakit yang lebih besar."


"Di rumah sakit itu kan alat-alat kesehatan juga udah lengkap dan canggih juga. Menurut Kamu bagaimana?" Linda meminta pendapat pada adiknya. Karena memang mereka berdualah, yang harus mengurus semua ini.


Ibunya Linda tidak mungkin bisa mengurusi hal-hal semacam ini. Dan hanya iya-iya saja, kemudian pasrah dengan apa yang dikatakan oleh dokter serta pihak rumah sakit saja. Karena selain dia tidak ada pengalaman, cara pandang dan berpikir juga pasti berbeda. Jika dibandingkan dengan anak-anaknya yang hidup di jaman sekarang.


"Tapi Mbak, biaya perawat di rumah sakit itu pastinya lebih mahal juga kan."


Pastinya Danang mengkhawatirkan masalah biaya juga. Karena di rumah sakit ini saja, dia dan Linda sudah mengeluarkan banyak uang untuk administrasi yang diperlukan.


Itu belum termasuk nanti, di saat waktunya pulang. Karena kemarin, hanya menitipkan sedikit uang yang memang sudah seharusnya mereka bayarkan.


Linda terdiam sejenak. Dia baru sadar jika, semua tidak semudah yang dia pikirkan dan bayangkan.


"Hufhhh..."


Dengan membuang nafas panjang, Linda mulai berpikir untuk bisa mendapatkan uang yang lebih banyak lagi. Karena yang di tabungannya, sudah dia ambil separuhnya.


Uang yang separuh lagi adalah milik suaminya, modal dan keuntungan dari usaha penjualan beras Ferry.


Karena modal usahanya memang hasil pinjaman dari pihak keluarga Ferry. Dan belum dikembalikan oleh suaminya itu.


Kata Ferry, dia ingin memberikan tambahan cuma-cuma. Pada saat mengembalikan uang modal tersebut. Jadi, memang belum bisa dikembalikan sampai saat ini. Karena uang yang untuk tambahannya, memang belum ada dananya.


'*Apa Aku pinjam uang itu dulu ya?'


'Tapi jika perawatan bapak memakan waktu lama, uang itu juga gak cukup. Dari mana lagi Aku bisa mendapatkan uangnya?'

__ADS_1


'Belum lagi seandainya mas Ferry tiba-tiba minta uang itu. Aku bagaimana menjawabnya nanti*?'


Linda membatin dalam hati, karena dalam keadaan yang tidak bisa dia tentukan sendiri dengan cepat.


"Sudah Lin. Kita sabar di sini dulu. Bapak pasti tidak mau jadi beban buat kalian berdua. Bapak pasti sehat lagi dengan cepat," ujar ibunya, menengahi permasalahan yang mereka pikirkan saat ini.


"Ibu tidak bisa membantu apa-apa soal biaya. Ini sudah kalian usahakan. Ibu dan bapak minta maaf. Dan banyak mengucapkan terima kasih pada kalian berdua."


Lagi-lagi ibunya berkata, untuk mencegah keinginan Linda, yang ingin memindahkan perawatan bapaknya ke rumah sakit yang lebih besar.


Karena sebenarnya, tadi siang Linda sudah membicarakan tentang hal ini pada ibunya.


Linda memaklumi kondisi ibunya, yang tentunya tidak mau membuat anak-anaknya menjadi terbebani. Dengan semua pembayaran administrasi rumah sakit.


Karena ibunya juga tidak diberitahu oleh Linda maupun Danang. Berapa banyak uang yang harus mereka bayarkan untuk perawatan bapaknya.


"Gak apa-apa Bu. Kami ini anaknya bapak. Sudah menjadi kewajiban kami untuk memikirkan dan mempertimbangkan segala sesuatu, yang terbaik untuk kesembuhan bapak."


Linda berkata demikian, agar ibunya tidak membuat dirinya dan Danang buyar dalam berpikir, dan memilih mana yang harus dilakukan dan terbaik juga.


Padahal yang dia pikirkan saat ini adalah untuk kebaikan mereka juga.


Ibunya tidak ingin melihat Linda banyak mengeluarkan uang. Karena tidak mau melihat Ferry jadi berpikiran negatif tentang keadaan mereka saat ini


Dan untuk Danang, ibunya juga tidak mau membuat anak laki-lakinya itu banyak pikiran. Karena dia tahu jika, Danang sedang menabung untuk membayar utangnya pada Linda. Uang untuk kuliahnya dulu.


Meskipun sebenarnya, Linda tidak pernah meminta uang itu kembali. Tapi Danang juga tidak mau jika, sawah bapaknya menjadi jaminan utangnya.


Karena bisa jadi, sawahnya itu masih dibutuhkan untuk biaya bapaknya di kemudian hari.


Sebenarnya, mereka bertiga memilki pemikiran masingmasing. Yang tujuannya sama baiknya. Hanya saja, apa yang mereka pikirkan tidak sejalan. Sama seperti yang dipikirkan satu sama lain.


"Ya sudah kalau begitu. semoga saja, keadaan bapak cepat membaik. Dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah."


"Aamiin."

__ADS_1


"Aamiin..."


Danang dan ibunya, mengamini harapan Linda. Karena memang itu juga yang diharapkan oleh mereka semua.


*****


Malam sebelum tidur, Linda bersama dengan Erli dan juga Ferry, duduk di depan TV.


Erli bertanya pada mamanya, Linda. "Ma. Mbah Kung kapan pulang?"


"Besok jika mbah Kung sudah sehat pasti pulang. Erli kangen ya?"


Erli mengangguk cepat. Dia memang dekat dengan Simbah kakungnya itu. Karena itulah, dia merasa kesepian, jika ada di rumah ini tanpa adanya Simbah kakungnya.


"Besok kita pulang ke rumah sendiri kan Ma?" tanya Ferry. Yang tadi sibuk dengan handphone miliknya.


"Mas tadi pulang ke rumah?" tanya Linda, pada suaminya itu.


Ferry tampak kaget, dan wajahnya juga pias. Dia tidak menyangka jika mendapatkan pertanyaan seperti ini dari istrinya.


"Kok Kamu tau Ma? Ada yang kasih tau ya?" tanya Ferry, yang merasa curiga. Jika ada seseorang yang memata-matai dirinya. Kemudian melaporkan semua kelakuannya pada istrinya ini.


"Gak. Itu tadi, baju-baju kotor kita kok gak ada. Mungkin aja kan Mas Ferry bawa pulang. Untuk di cuci di rumah."


"Kan di sini gak ada mesin cuci. Mas pasti gak ada waktu untuk mencuci manual di rumah ini."


Ferry tersenyum lega. Dia sudah berpikir macam-macam tadi. Dan itu adalah hal yang sangat dia takuti.


Sebenarnya, tadi pagi dia memang berniat untuk mencuci di rumah. Tapi karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan, akhirnya dia memutuskan untuk membawa cucian baju kotornya ke laundry.


Dan pihak laundry, berjanji untuk mengerjakan secepatnya. Sehingga besok sudah bisa dia ambil, sebelum istrinya ini pulang dari bekerja.


Ferry menyadari bahwa, apa yang dia lakukan memiliki resiko besar. Tapi dia juga tidak mau melepaskan kesempatan untuk bisa menyenangkan dirinya sendiri.


Hal yang tidak mungkin dia minta dari istrinya, yang sedang berada di rumah sakit. Menunggui bapak mertuanya yang sedang dalam keadaan sakit.

__ADS_1


__ADS_2