
Dalam kebingungannya, Linda akhirnya kembali lagi ke warung yang tadi. Dia ingin bertanya, di mana ada counter handphone terdekat.
Dia ingin menumpang untuk cas ponselnya. Meskipun tak harus sampai penuh.
"Maaf Bu, Pak, Mas. Boleh tanya ya. Kalau dekat sini, ada counter handphone di mana ya?"
Orang yang ada di warung, termasuk ibu pemilik warung, melihat dengan heran. Karena Linda seperti orang yang sedang kebingungan sendiri. Dan dalam keadaan kacau.
"Mbak bule mau cari apa?" tanya ibu warung, yang tidak tega melihat keadaan Linda.
"Ini Bu, mau numpang nge_cas hape. Baterainya habis, dan Saya sedang ada telpon penting barusan."
Linda mencoba untuk memberitahukan kepada ibu warung, dengan apa yang sedang dia alami barusan. Dia hanya ingin mendapat isi dari baterai ponselnya, meskipun hanya untuk beberapa persen saja.
"Mbak bule ada colokan kabel charger baterai?" tanya ibu warung lagi.
"Itu masalahnya Bu. Saya lupa bawa juga," jawab Linda, dengan senyuman yang miris.
"Lek. Kamu bawa gak?" tanya ibu warung, pada laki-laki dewasa yang tadi.
Sedangkan yang lainnya, hanya bisa diam dan melihat Linda yang sedang dalam keadaan bingung.
"Lah Aku ini mau ke sawah. Ngapain bawa-bawa charger hape segala!" Linda jadi merasa serba salah, mendengar jawaban dari laki-laki tersebut.
"Gak apa-apa Bu, jika gak ada yang punya. Saya mau pergi cari counter handphone saja."
Linda bermaksud untuk pamit. Karena dia harus segera mencari keberadaan counter handphone. Untuk menyewa atau membeli charger hape yang dia butuhkan.
"Kang. Kono ajak ke hotel. Pinjam sama Marno atau Pinjol sana!"
"Atau Kamu bisa bantu dia sekalian nemu suaminya kali ada di sana."
Linda melihat dengan bingung, saat ibu warung selesai bicara dengan laki-laki tadi. Dia tidak mengerti, apa maksud dari perkataan dan perintah dari ibu warung tersebut.
__ADS_1
"Maaf mbak bule. Kang ini itu, pengaman di hotel itu. Tapi dia memang lebih suka keluyuran di luar, dan tidak menampakkan dirinya sebagai pihak keamanan hotel."
Linda langsung melihat laki-laki dewasa tersebut, dengan tatapan menyelidik. Dia tidak mau, jika ini hanya tipuan atau semacamnya. Sama seperti yang sering terjadi pada berita-berita televisi atau media lainnya.
"Mbak bule percaya sama sekali Ibu Mbak. Dia hanya ingin melindungi tempat kerjanya saja."
"Tadi... maaf ya mbak bule. Ibu gak sengaja dengar tadi, saat mbak bule teleponan. Ibu jadi kasian. Cantik-cantik kok suaminya tega masih nipu. Gak nyesel apa ya nantinya."
Linda jadi tersenyum getir, mendengar penjelasan yang diberikan oleh ibu warung. Kini dia berharap pada laki-laki dewasa ini, agar terbuka hatinya. Dan mau menolongnya, untuk bisa menemukan suaminya, Ferry.
"Kang!"
Ibu warung sekali lagi memangil orang tersebut dengan agak keras, supaya laki-laki itu tidak hanya diam saja.
"Opo to Yu?"
"Aku kie yang melindungi hotel itu, masa iya Aku juga yang melakukan pengerebekan. Kan bisa-bisa Aku dipecat besok-besok."
Sebenarnya, apa yang dikatakan oleh laki-laki itu ada benarnya. Linda tidak menyalahkan orang tersebut, karena itu memang tugas dan tanggung jawabnya.
"Aku gak bisa Yu. Mbak bule bisa cari bantuan dari orang lain. Tapi, mungkin Aku bisa mencarikan solusi, jika ingin masuk ke dalam sana."
Akhirnya laki-laki itu memberikan penjelasan, dan itu membuat Linda merasa mendapatkan jalan. Dengan menunjuk ke arah hotel, dengan dagunya yang dia dongakkan.
"Bagaimana caranya Pak?"
Dengan bertanya, Linda ingin tahu caranya. Supaya bisa masuk ke dalam hotel tersebut. Tanpa harus berdebat dengan kedua orang mas-mas yang tadi.
"Panggil siapa saja, yang bisa bantu mbak bule. Jangan sendirian. Berbahaya bagi cewek cantik seperti mbak bule ini. Bisa-bisa di kira merekkk sendiri di hotel itu nantinya. Dan jika ada sesuatu yang terjadi, saat Mbak ketemu yang dicari. Bisa melindungi Mbak bule juga."
Mendengar penjelasan dan nasehat yang diberikan oleh laki-laki itu, Linda jadi tersadar. Dia terlalu gegabah, dan menganggap hal ini mudah.
"Ini, Aku ada powerbank. Pakai aja dulu. Yang penting bisa ngisi, terus mencari bantuan dari pihak keluarga."
__ADS_1
"Keluarga aja Mbak, jangan temen ya!"
Akhirnya Linda menerima powerbank yang disodorkan oleh laki-laki tersebut. Tapi, Linda juga bertanya padanya, "kenapa memangnya kalau teman Pak?"
"Kalau dari pihak keluarga, rahasia masih cukup aman dan tidak akan bocor keluar. Tapi jika teman, kita tidak tahu. Sampai kapan teman kita itu bisa menyimpan semua rahasia. Bukankah ini juga aib yang harus ditutupi."
Linda kembali tersadar, mendengar perkataan yang diucapkan laki-laki tersebut. Dan itu juga memang hal yang benar.
"Terima kasih nasehatnya Pak."
"Kalau begitu, Saya akan menelpon adik Saya saja. Biar dia menyusul ke sini."
Ibu warung dan yang lain, ikut mengangguk setuju dengan rencana Linda. Meskipun mereka semua tidak tahu dan kenal Linda, tapi ada rasa saling peduli. Meskipun mereka juga tidak tahu, apa permasalahan yang sebenarnya.
"Saya bukannya tidak mau menolong Mbak. Maaf ya, ini hanya karena tugas yang harus Saya pikul."
"Ada banyak beban sebagai seorang pengaman sebuah hotel abu-abu seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku juga dulu ada dalam posisi sulit, sama seperti yang sedang Mbak alami saat ini."
Mendengar perkataan panjang lebar tersebut, Linda akhirnya bisa menarik kesimpulan. Bahwa apa yang tadi sempat dia curiga, ada benarnya juga.
Bahwa laki-laki tersebut dengan ibu warung, pernah terjadi sesuatu. Yang membuat mereka berdua jadi seperti sekarang ini.
Sekarang, ponsel Linda sudah mulai terisi. Tapi belum bisa digunakan untuk menghubungi Danang.
Masih butuh beberapa persen lagi, supaya tidak putus di tengah. Pada saat melakukan panggilan telpon nanti.
Linda menuggu dengan perasaan was-was. Kini jantungnya berdegup lebih cepat dari pada tadi. Karena saat ini, sudah ada kejelasan. Bagaimana dua akan bisa masuk ke dalam hotel itu nantinya.
Dia sendiri tidak bisa membayangkan, seandainya baru akan melihat bagaimana adegan yang seperti biasanya dia lakukan bersama Ferry. Atau pada saat dulu, dimana dia bersama dengan pak Komarudin ataupun pak Rudi.
'Mungkin Aku juga salah besar, sehingga hal ini sampai terjadi. Apakah ini karma untukku?'
'Tuhan, maafkan Aku dengan semua yang sudah Aku lakukan dulu. Aku sendiri tak mampu mengatasi keadaan diriku sendiri. Bahkan hingga sekarang ini.'
__ADS_1
'Semoga, semua kecurigaan ini salah. Dan Aku tidak menemukan mas Ferry di dalam sana. Biar Aku tahu, jika ini hanya ketakutan diriku sendiri yang memang bersalah.'