Tante Melinda

Tante Melinda
Menyakinkan Diri


__ADS_3

..."Linda mau bicara sama kak Romi. Apa Kak Romi ada waktu?"...


..."Tentu saja Dek, kapan? Kakak tidak ada pekerjaan dan kesibukan. Jadi, kapan saja Kakak siap kok."...


..."Kakak bisa datang siang ini?"...


..."Bisa. Kakak pasti bisa Dek. Masih nunggu nanti siang ya? gak sekarang saja?"...


Linda tersenyum tipis, mendengar pertanyaan demi pertanyaan, yang diajukan oleh romi melalui panggilan telepon.


Saat ini, Linda sedang menghubungi calon suaminya itu. Untuk diajak bicara secara serius.


Linda dan Romi, memang sudah resmi mengikat kembali hubungan antara mereka berdua, dengan lamaran. Meskipun belum ada acara rame-rame secara resmi.


Karena semalam, saat Pamannya Romi datang ke rumah Linda, justru diminta Romi sendiri, untuk menjadi perwakilan keluarganya untuk melamar Linda.


Untungnya, Pamannya Romi belum sempat tahu, jika keputusan yang diambil oleh Linda semalam, itu didorong oleh kedatangannya sendiri.


Dan Romi juga belum mengetahui hal tersebut. Karena Linda sendiri belum menceritakannya.


..."Terserah Kakak sajalah. Yang penting, Kakak tidak terganggu acaranya."...


..."Oh tidak Dek. Kakak akan segera datang ke rumah ya!"...


..."Ya Kak. Linda tunggu ya!"...


..."Siap Sayang. Hehehe..."...


Klik!


Linda kembali tersenyum, mendengar panggilan sayang yang diucapkan oleh Romi.


Dia jadi malu sendiri, saat ingat kejadian di masa lalunya. Pada saat dia masih menjadi kekasihnya romi.


Hal itu seakan-akan batu saja dia alami. Dan dia juga masih bisa merasakan cukup jantungnya yang berdetak kencang.


"Apakah Aku masih bisa merasakan jatuh cinta?" tanya Linda pada dirinya sendiri, dengan memegangi bagian dadanya yang sebelah kiri.


Merasakan kebahagiaan dari detak jantungnya yang berdegup kencang, saat ingat dengan Romi.


Tapi tak lama kemudian, Linda segera menggelengkan kepalanya. Di saat dia ingat tentang pamannya Romi, yang belum bisa hilang dari ingatannya sampai saat ini.


Ingatan tentang kejadian di masa kecilnya dulu, meskipun sudah berpuluh tahun lamanya.

__ADS_1


"Apakah Aku bisa, mengatasi semua kesakitan di kepala. Jika Aku bertemu dengan sang paman?" Linda kembali bertanya pada dirinya sendiri, tentang trauma yang dideritanya selama ini.


Dia tidak pernah menyangka jika, orang yang dulu pernah menyakitinya di waktu kecil, adalah orang terdekat dari Romi sendiri.


Meskipun sebenarnya Linda tidak pernah mengetahui secara pasti dengan wajah orang tersebut, tapi dia sangat mengingat suara dari laki-laki itu.


Ingatannya tentang suara laki-laki pada malam itu, sangat kuat ada di dalam ingatannya.


Dan dia bisa mematikan bahwa, ingatannya itu tidak salah. Apalagi jika mengingat tentang kelakuan dan kebiasaan dari pamannya Romi. Yang saat ini sudah memiliki dua istri.


Sungguh contoh nyata dari watak para laki-laki sedang serakah. Dan pernah puas dengan apa yang dimiliki.


Linda ingin membicarakan tentang ketakutannya itu pada Romi, sehingga Romi bisa mengambil sikap kedepannya nanti, setelah mereka resmi menikah.


Tapi Linda juga ragu, seandainya saja Romi tidak percaya dengan ceritanya, sehingga akan menyalahkan Linda sendiri.


"Apa yang harus Aku lakukan, jika kak Romi tidak mempercayai ceritaku?" Sekarang, Linda justru menjadi ketakutan sendiri, sehingga badannya gemetaran.


Dia tidak mau, jika Romi akan pergi meninggalkannya. Setelah tahu cerita yang sebenarnya di masa lalunya.


"Apa Aku harus diam dan tidak ceritakan tentang pamannya itu?" tanya Linda lagi, yang game pedang merasa kebingungan.


Linda kembali mengelengkan kepalanya beberapa kali, sebab dia ingin memulai kehidupan yang baru. Dengan tidak merasakan rasa ketakutan, atas kejadian di masa kecilnya.


Begitulah kira-kira tekad Linda saat ini. Untuk bisa melangkah dan menatap masa depannya. Tanpa harus terbayang-bayang atas kejadian yang tidak menyenangkan di masa lalunya.


Sebenarnya, Linda sudah punya niatan untuk pergi berobat ke spikiater. Agar dia bisa bebas dari rasa ketakutannya selama ini.


Dia merasa sangat terganggu, dengan traumanya itu.


Trauma adalah respons emosional tubuh, terhadap peristiwa mengerikan seperti kecelakaan, pemerkosaan atau bencana alam. Hal ini juga bisa terjadi sebagai respons terhadap peristiwa yang membahayakan fisik atau emosional. Trauma bisa muncul setelah kejadian, atau dalam jangka waktu yang panjang.


*****


Saat ini, Romi mendengarkan dengan serius, tentang apa yang diceritakan oleh Linda.


Tangan Romi terkepal erat, menahan emosi yang tiba-tiba muncul setelah mengetahui cerita sebenarnya. Tentang rasa takut dan pusing yang dialami oleh Linda semalam, dan juga waktu lamaran Della dulu.


"Kenapa Kamu diam saja Dek? Seharusnya Kamu bisa menceritakan tentang hal ini, pada siapapun yang Kamu anggap bisa menyimpan rahasia."


Romi menyesali sikap Linda, yang selama ini hanya diam, dan tidak mau menceritakan tentang keadaan dirinya pada orang lain.


Dia juga mengutuk perbuatan pamannya sendiri, yang telah membuat trauma pada Linda. Atau bisa jadi, ada korban-korban lain, yang sama seperti Linda juga di masa lalu.

__ADS_1


"Tapi Kak. Linda tidak mau, jika Kakak pergi menegur pamannya Kakak itu. Linda takut, jika pamannya Kakak akan lebih nekat nantinya."


Romi mengangguk setuju dengan usulan yang diajukan oleh linda.


Sekarang, dia juga menceritakan tentang niatan pamannya itu, yang ingin menjadikan Linda sebagai istri ketiga.


"Linda sudah tahu niatan pamannya Kak Romi. Itulah sebabnya, Linda langsung memutuskan untuk menerima Kakak. Maaf ya Kak, jika apa yang Linda putuskan ini terkesan terburu-buru. Jika Kakak tidak terima, Linda juga tidak apa-apa. Seandainya Kakak tidak punya niatan untuk meneruskan hubungan kita ini."


"Maksud Kamu apa Dek?" tanya Romi cepat.


Dia tidak tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh Linda sekarang. Sehingga bisa bicara seperti itu.


"Maaf Kak. Linda hanya tidak mau, jika Kakak merasa bahwa Linda hanya memanfaatkan kehadiran Kakak saja."


Tapi ternyata Romi tersenyum mendengar pengakuan dari Linda.


"Kakak senang Dek, akhirnya Kamu bisa mengungkapkan secara jujur, apa yang kamu rasakan. Itu artinya, Kamu tidak mau ada kesalahpahaman atau kebohongan kedepannya nanti."


Linda menundukkan kepalanya, karena dia merasa malu, telah memanfaatkan kehadiran Romi. Guna menghindar dari Pamannya Romi juga. Yang punya niatan untuk mencari cara, supaya bisa menjadikan linda sebagai istrinya.


"Lalu, apa yang akan Kakak lakukan? jika sekarang ini Kakak sudah tahu. Inti dari permasalahan yang akan kita hadapi, seandainya kita menikah nanti."


Romi terdiam sejenak, mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Linda.


"Kamu akan Aku ajak ke kota besar bersama Erli juga."


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Romi, Linda menatap wajah calon suaminya itu dengan intens.


Dia tidak pernah menyangka, jika Romi punya niatan untuk mengajaknya ke kota besar.


Linda sendiri sebenarnya tidak mempermasalahkan, di mana mereka akan tinggal setelah menikah nanti.


Dia hanya ingin, supaya tidak pernah bertemu dengan pamannya itu lagi. Setelah mereka resmi menikah, dan Linda secara otomatis akan menjadi bagian dari anggota keluarga pamannya itu.


Tapi Romi berusaha meyakinkan Linda, untuk tidak memikirkan tentang pamannya. Dia akan menjaga Linda dari pamannya itu.


"Percaya dengan Kakak Dek. Kakak tidak akan pernah membiarkan paman untuk mendekatimu. Aku juga tidak mau jika paman masih punya niatan jahat terhadap dirimu."


Linda menarik sudut bibirnya, mendengar perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh Romi. Dia ingin mempercayai sepenuh hati, apa yang dikatakan oleh calon suaminya itu.


"Ma... Mama!"


Dari teras rumah, Erli berteriak-teriak. Memangil mamanya. Yang saat ini ada di ruang tamu.

__ADS_1


Dia pulang sekolah dengan ceria, khas dari anak-anak sekolah yang belum punya beban pikiran yang aneh-aneh.


__ADS_2