Tante Melinda

Tante Melinda
Semua Ada Waktunya


__ADS_3

Linda dan mbak Mila saling pandang. Mereka berdua tidak tahu, siapa kira-kira orang yang sedang mengetuk pintu kamar mereka malam ini.


"Bukain Lin!" pinta mbak Mila pada Linda. Karena dia memang sedang berbaring di tempat tidur.


"Siapa ya Mbak?" tanya Linda, yang merasa ragu untuk membuka pintu.


"Kamu tadi masih ada janji gak, sama pak Rudi?" tanya Mbak Mila, menanggapinya pertanyaan yang diajukan oleh Linda.


"Emhhh... "


"Jika Kamu masih ada urusan dengan pak Rudi, udah sono buru keluar!" Mbak Mila memotong kalimat Linda yang belum selesai.


Mbak Mila, menyuruh Linda untuk kembali keluar, menemui pak Rudi. Karena mbak Mila berpikir bahwa, orang yang sedang ada di luar kamar adalah pak Rudi. Karena menunggu Linda yang tak kunjung keluar lagi dari dalam kamar.


Akhirnya, Linda mengikuti apa yang dikatakan oleh mbak Mila. Dia keluar lagi, untuk melihat siapa yang datang ke kamarnya saat ini.


Clek!


Pintu kamar terbuka. Tampak pak Rudi yang menyandarkan tubuhnya di dinding depan kamar.


Linda akhirnya keluar juga menemui pak Rudi. Dia juga ingin mengatakan bahwa, apa yang tadi dikatakan oleh pak Rudi ada benarnya juga.


"Bagaimana Lin?" tanya pak Rudi, sebelum Linda mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.


"Emhhh... hanya ada satu orang di dalam kamar," jawab Linda, tanpa menyebutkan nama dari temannya yang tidak ada di dalam kamar.


"Oh... benar kan apa yang Aku katakan?"


Linda hanya bisa mengangguk saja, kemudian bertanya pada pak Rudi. "Lalu, apa yang ingin pak Rudi lakukan?" Linda bertanya. Padahal, pertanyaan ini adalah hal yang sangat diinginkan oleh pak Rudi pada saat ini.


"Kamu yakin ingin tahu?"


Sebenarnya Linda juga tahu, tapi dia hanya ingin memastikan saja.


Apalagi, perkataan dari teman-temannya tadi, tentang pak Rudi, sedikit banyak sudah membuatnya merasa penasaran juga. Bagaimana rasanya dilayani oleh pak Rudi.


Dan tadi, pak Rudi juga sudah sesumbar bahwa, dia bisa lebih dibandingkan dengan pak Komarudin.


Mbak Mila juga tidak masalah, jika dia pergi untuk menyelesaikan semua urusannya dengan pak Rudi. Jadi tidak masalah juga, jika Linda tidak tidur di kamarnya malam ini.

__ADS_1


Begitulah akhirnya. Linda ikut juga bersama dengan pak Rudi.


Dia ingin tahu, bagaimana pak Rudi akan membuktikan ucapannya tadi, pada saat makan malam.


Dengan demikian, Linda ikut bersama dengan pak Rudi, masuk ke dalam kamarnya pak Rudi, tanpa ada halangan dalam bentuk apapun. Karena para manager, memang mendapat satu kamar untuk satu orang. Tidak sama seperti para peserta training leader pada umumnya.


*****


Satu bulan kemudian.


Linda sudah resmi mendapatkan SK. Sekarang, dia sudah menjadi karyawan tetap di perusahaan tersebut.


Selain itu, pak Komarudin juga sudah pindah ke gedung baru dengan jabatan sebagai manager. Dan pak Rudi, masih ada di gedung yang sama dengan tempat Linda ditugaskan.


Hari ini, ada kegiatan di kantin pabrik. Ada beberapa kegiatan, yang dilaksanakan oleh perusahaan untuk beberapa orang yang ditunjuk.


Kegiatan ini, dilakukan untuk pelatihan, sebagai persiapan adanya acara HUT perusahaan.


Karena ada beberapa pertunjukan musik, khusus untuk para pemimpin juga dimintai sumbangan. Agar bisa ikut tampil dalam acara tersebut. Entah itu menyanyi, atau acara lainnya.


Linda di tunjuk langsung oleh pak Rudi, bersama dengan beberapa orang, sebagai perwakilan gedungnya yang di lantai bawah.


Pada saat seperti ini, Linda juga bertemu dengan beberapa temannya yang ikut serta dalam training kepemimpinan di Jakarta sebulan yang lalu.


"Mbak Sri," sapa Linda, pada saat melihat keberadaan mbak Sri.


"Hai mbak Linda, apa kabar?" Mbak Sri pun menyapa Linda dengan antusias.


Mereka berdua, terlihat berpelukan setelah cipika-cipiki terlebih dahulu. Baru setelah itu mereka duduk berdampingan. Saling bertukar kabar dan berbincang-bincang tentang banyak hal.


"Kamu pasti cepat naik jabatan Lin nantinya. Tapi, Kamu juga harus patuh pada pak Rudi. Pokoknya tenang saja deh!" Mbak Sri memberikan beberapa nasehat pada Linda.


Apalagi, sekarang ini mbak Sri sudah naik jabatan menjadi supervisor di devisi yang dia pimpin.


"Ah, Linda kan anak baru Mbak. Gak berani untuk punya keinginan yang seperti itu juga," sahut Linda, yang merasa tidak pantas untuk naik jabatan dalam waktu dekat.


Linda berpikir bahwa, ada banyak leader yang sudah lama dan berpengalaman juga. Di banding dengan dirinya sendiri.


"Eh... Kamu ini. Di bilangin juga. Udah deh Lin, pokoknya Kamu itu nurut. Pasti aman!"

__ADS_1


Mbak Sri berkata dengan suara yang pasti. Dan sepertinya, mbak Sri ini jauh lebih tahu. Di banding dengan orang lain.


Tapi Linda juga ingat. Apapun permasalahan yang dia hadapi di lapangan, di tempatnya bekerja, tidak pernah ada masalah yang serius.


Berbeda dengan leader lainnya, yang tidak begitu dekat dan pak Komarudin sebelumnya, atau dengan pak Rudi sendiri, selalu ada saja masalah yang dihadapi. Dan ini tentu membuat mereka mendapatkan amarah.


Baik dari supervisor ataupun pak Rudi sendiri. Bahkan, dari para TKA yang juga mengawasi setiap pekerjaan.


Linda jadi semakin paham dan tahu, bagaimana cara bekerja di sebuah pabrik seperti ini. Meskipun sebenarnya tidak semuanya sama seperti dia, atau yang lain.


Tapi, tentu saja itu akan terasa sangat berat. Bagi mereka yang benar-benar ada di jalan yang lurus dan tidak mau terpengaruh dengan apa yang ada di balik wajah-wajah pemimpin yang berwibawa.


"Lin. Kamu mau nyumbang lagu atau apa?" tanya Mbak Sri, menyadarkan lamunannya Linda.


"Emhhh... nyanyi aja deh Mbak."


Linda sudah menetapkan bahwa, dia akan membawakan lagu dangdut saja. Untuk acara HUT perusahaan.


Meskipun sebenarnya dia sendiri tidak mahir dalam menguasai lagu-lagu dangdut yang sedang populer sekarang ini.


*****


Di pengilingan padi.


Ferry sedang berbincang-bincang dengan Nana. Pelanggannya yang sering berbelanja, dan juga membawakan makanan atau jajanan untuk Erli.


Nana adalah pelanggan tetap Ferry, yang punya toko di rumah. Dia juga jualan beras di tokonya itu.


Jadi, untuk barang dagangan berasnya, dia mengambil berasnya dari Ferry langsung di pengilingan padi. Begitu juga dengan bekatul. Karena Nana juga menerima pesanan bekatul, dari ibu-ibu tetangga yang punya ternak ayam di rumah.


Erli sedang makan kue, yang dibawakan oleh mbak Nana. Pelanggan tetap papanya.


"Mbak Nana gak usah repot-repot kayak gini terus. Saya jadi gak enak lho Mbak," ujar Ferry, yang merasa sungkan dan tidak nyaman atas semua yang dilakukan oleh Nana untuk Erli.


"Gak apa-apa Mas Ferry. Saya juga senang kok," sahut Nana, yang tersenyum melihat ke arah Ferry, kemudian berganti dengan melihat ke arah Erli.


"Senangnya, bisa punya anak yang cantik banget seperti Erli. Istrinya mas Ferry pasti sangat cantik. Apa sama seperti Erli ini Mas?" tanya Mbak Nana ingin tahu.


"Oh, mamanya itu mirip bule Mbak Nana. Kalau Erli sih, kata orang-orang malah mirip dengan saya sendiri."

__ADS_1


Mbak Nana tersenyum, dan mulai mengalihkan perhatiannya dari Erli ke Ferry lagi.


__ADS_2