
Siang, pada saat istirahat dari kerjaan, Ferry datang ke rumah ibu mertuanya. Untuk menjemput istri dan anaknya. Mereka bertiga, akan pulang ke rumah siang ini juga.
Untungnya, Erli mau dan tidak rewel lagi, sama seperti kemarin.
Dan sekarang, mereka bertiga sudah berada di perjalanan menuju ke rumah.
"Ma. Mama pergi jauh ya besok?" tanya Erli, yang duduk di boncengan dan berada di tengah-tengah. Ada di antara kedua orang tuanya.
"Ya Sayang. Erli yang anteng dan gak rewel ya sama papa di rumah."
Erli mengangguk mengiyakan perkataan mamanya. Kemudian berkata, "tapi pulang bawa oleh-oleh ya Ma!"
"Ya-ya Sayang," jawab Linda sambil mengelus-elus rambut anaknya itu.
Tiba di rumah, Ferry mematikan mesin motornya. Kemudian dia turun, setelah Linda dan Erli turun terlebih dahulu.
Ferry ikut masuk ke dalam rumah. Di saat pintu sudah dibuka. Dan Linda bersama dengan anaknya itu masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.
Sekarang, Ferry duduk melepas lelah di kursi ruang tamu. Dia melihat Erli yang sedang mengekor mamanya, yang sedang membuka lemari pendingin.
"Ini kasih ke Papa ya!"
Erli mengangguk mengiyakan permintaan dari mamanya. Dia menerima botol plastik berisi air minum dingin, yang tadi di ambil oleh mamanya dari dalam almari pendingin tersebut.
"Ma. Itu ada jeruk. Erli mau!" seri Erli, saat melihat buah jeruk di dalam almari pendingin.
"Iya. Kasih botolnya itu sama papa dulu. Mama ambil jeruk untuk Erli dan papa juga. Nanti Mama kupas sekalian ya," sahut Linda, mengiyakan permintaan dari anaknya itu.
Dengan tersenyum senang, Erli berjalan dengan melompat-lompat kegirangan. Dia menuju ke arah tempat duduk papanya. Tapi ternyata, papanya sudah tertidur dalam keadaan duduk.
"Pa. Papa!"
Dengan mengguncang tangan papanya, Erli membangunkan Ferry. Yang ternyata ketiduran karena capek.
Linda datang dengan membawa piring mangkuk besar berisi jeruk. Dia meletakkan di atas meja, dan melihat keadaan suaminya yang masih terlihat mengantuk.
"Gak usah balik Mas. Kamu capek banget kayaknya," ujar Linda, meminta pada suaminya itu, untuk tidak kembali ke tempat kerjanya.
"Iya ini Dek. Mas ngantuk banget."
"Ya sudah kalau begitu. Gak usah balik. Tidur aja dulu. Kan kemarin juga berangkat pagi-pagi sekali. Pulang juga sudah malam," sahut Linda, yang merasa kasihan dengan kondisi suaminya itu.
__ADS_1
Dulu, suaminya ini tidak pernah bekerja sekeras sekarang ini. karena pada saat itu, Ferry masih menjadi seorang polisi.
Jadi, tentunya jam kerjanya juga teratur dan tidak perlu mengeluarkan banyak keringat setiap harinya.
Jauh berbeda dengan yang sekarang ini.
"Ini Mas. Makan jeruknya dulu sama Erli. Udah Linda kupas kok." Linda meminta pada Ferry, supaya ikut makan jeruk yang sudah dia kupas untuk Erli.
Ferry mengangguk, dan mengambil beberapa bagian jeruk yang sudah di kupas oleh istrinya. Setelah memakannya beberapa kali, dia meletakkan kembali jeruk yang masih ada di tangannya.
"Mas mau tidur dulu ya Dek. Nanti, jika ada telpon Kamu angkat aja Dek. Bilang Mas sedang istirahat."
Ferry beranjak dari tempat duduknya, setelah mencium pucuk kepala Erli dan Linda.
Linda mengangguk mengiyakan permintaan dari suaminya. Dia melanjutkan kegiatannya, yaitu mengupas dan menyuapi anaknya yang sedang makan jeruk.
"Ma. Mama besok perginya?" Erli kembali bertanya, tentang kepergian mamanya besok pagi. Setelah hanya tinggal mereka berdua di ruang tamu.
"Iya Sayang. Sama kayak biasanya jika Mama berangkat kerja. Tapi ini pulangnya lama. Jadi Sayangnya mama gak boleh nakal." Linda mecoba untuk menjelaskan pada anaknya, agar anaknya itu bisa mengerti.
"iya Ma. Erli gak nakal kok," sahut Erli, dengan manja dan gayanya yang mengemaskan. Khas anak-anak seusianya.
Tapi Linda engan untuk membukanya. Dia sedang tidak ingin di ganggu, dengan adanya pesan atau panggilan telpon dari siapapun.
Namun sayangnya, keinginan Linda ini tidak diketahui oleh orang yang sedang mengirimkan pesan untuknya.
Sehingga ada notifikasi pesan yang masuk lagi, tak berapa lama kemudian.
Linda jadi merasa terganggu. Dia ingin tahu, siapa orang yang sedang mengirimkan pesan untuknya.
Ternyata itu adalah pak Rudi.
Manager tersebut mengingatkan dirinya, jika besok pagi tidak boleh terlambat datang. Karena bus yang disediakan oleh perusahaan, untuk mengantar peserta training, akan tiba di pabrik setengah jam sebelum jam keberangkatan.
Linda hanya membalas pesan tersebut dengan mengiyakan saja. Dia tidak ingin memancing kemarahan atau apapun itu, yang bisa membuat pak Rudi kalap.
Pak Komarudin, sudah memberikan beberapa nasehat dan juga pesan untuk Linda. Karena penolakannya kemarin.
Tapi dari cerita yang disampaikan oleh pak Komarudin, Linda justru merasa penasaran. Dengan cara pak Komarudin dan pak Rudi bermain bersama dengan wanitanya, sewaktu masih berada di Jakarta waktu dulu.
'Pasti rasanya akan berbeda ya, jika ada orang lain yang ikut menyaksikan permainan di tempat tidur. Dan setelah itu, jadi bermain bersama juga.'
__ADS_1
Begitu kira-kira pemikiran yang saat ini ada di dalam hatinya Linda.
Sepertinya, Linda sudah ketagihan dan keracunan dengan segala hal yang baru dia rasakan saat ini. Dan itu dengan orang lain. Bukan bersama dengan suaminya sendiri.
*****
Malam ini, Linda masih bisa malaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Tidak ada yang berubah dari perilaku dan kebiasaan Linda saat bermain-main dengan suaminya, Ferry.
Dan Ferry, juga tidak merasa curiga atau menemukan perbedaan sikap Linda. Di saat hanya ada mereka berdua di tempat tidur.
Linda tetap melayani dirinya dengan baik. Bahkan, mereka berdua juga melakukannya tidak hanya sekali. Tapi beberapa kali. Karena malam ini adalah, malam sebelum istrinya itu pergi menjalankan tugasnya esok hari. Dan untuk seminggu kedepannya.
Jadi, mereka berdua melakukannya untuk bisa saling memuaskan.
"Mas pasti akan sangat merindukan Kamu Dek," kata Ferry, di saat mereka berdua sudah selesai, dan bersiap-siap untuk tidur.
"Linda juga pastinya Mas," sahut Linda, dengan menyandarkan kepalanya, di atas dada suaminya.
"Kamu pasti juga capek ya. Kemarin lembur sampai sore. Dan besok, harus ke Jakarta sampai seminggu. Apa Kamu gak ingin berhenti dan ada di rumah saja?"
Linda mendongakkan kepalanya, melihat ke arah suaminya.
"Mas. Gak usah bahas ini lagi deh. Linda malas harus menjawabnya lagi dan lagi."
Terdengar suara helaan nafas panjang, saat Linda kembali menyandar di dada suaminya itu.
"Maaf Dek. Mas gak ada maksud untuk memaksa. Tapi jika Kamu lelah dan tidak kuat, Kamu tidak harus memaksakan diri, untuk tetap bekerja."
Linda hanya diam saja. Dia tidak mau membicarakan tentang ini lagi. Karena itu akan mengingatkan dirinya, pada kejadian yang sudah tidak ingin dia ingat lagi.
Tak lama, Linda sudah tertidur pulas. Dengan kepalanya yang masih menyandar di dada Ferry.
Dengan membuang nafas, Ferry mengusap-usap kepala Linda.
"Maaf Dek. Semua ini memang salahku."
Ferry mencoba untuk memejamkan mata. Dia ingin secepatnya bisa menyusul istrinya itu ke alam mimpi.
Karena besok pagi, dia harus mengantarkan Linda ke tempat kerja. Sama seperti biasanya di jam dan hari kerja pada umumnya.
__ADS_1