Tante Melinda

Tante Melinda
Mencari Dukungan


__ADS_3

Ternyata Linda terjaga hingga jam sudah menunjuk pada pukul dua dini hari.


Dia bingung dengan apa yang harus dia putuskan besok, untuk hubungannya dengan Ferry.


"Ck! Mungkin ini teguran juga dari Tuhan, atas apa yang sudah Aku lakukan dulu. Tapi bagaimanapun juga, Aku harus bisa membuat keputusan."


"Setidaknya, harus bicarakan masalah ini terlebih dahulu sama mas Ferry. Sebelum Aku mengajaknya ke kantor notaris."


Linda kembali menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya. Mencoba untuk membuat dadanya terasa lebih lapang dari rasa sesak yang terus saja datang sedari tadi.


Di tambah lagi dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh mbak Nana. Dan di baca oleh Linda sendiri secara langsung.


Tapi pada saat matanya ingin dia pejamkan, rasanya tidak bisa. Karena kata demi kata yang ditulis mbak Nana untuk pesannya, tampak sangat jelas dan dihafal Linda. Dengan sekali baca.


"Aku akan bertanya pada mas Ferry. Jika dia mengaku tidak tahu apa-apa tentang kehamilan dan rencananya mbak Nana, berarti dia hanya dijadikan sebagai pembawa benih saja agar mbak Nana hamil."


"Atau jangan-jangan..."


"Arghhhh... kenapa Aku jadi mikir yang aneh-aneh saja ini!" Linda memukul-mukul keningnya sendiri, saat memikirkan hal yang baru saja dia ketahui.


Hingga jam setengah tiga pagi, mata Linda baru bisa dia pejamkan. Meskipun sebenarnya pikirannya melayang jauh entah kemana.


*****


"Ma. Mama!"


"Mama, bangun Ma!"


Erli berusaha untuk membangunkan mamanya, yang ternyata belum bangun juga. Padahal dia sudah terbangun sedari tadi.


"Ma. Udah pagi Ma. Bangun!"


Linda mengucek matanya, kemudian menggeliat sebentar. Agar otot-otot tubuhnya yang terasa kaku sedikit lemas dan bisa diajak kompromi untuk bangun pagi ini.


"Mama matanya kenapa?" tanya Erli bingung, saat melihat kantung mata Linda yang menghitam.


Selain kurang tidur, Linda juga menangis beberapa kali semalam. Saat membaca ulang pesan-pesan dari mbak Nana. Yang dikirim untuk suaminya.


Linda melakukan semua itu, saat matanya TK kunjung bisa terpejam. Dia tidak tahu harus berbuat apa, sehingga ingin meyakinkan dirinya sendiri. Agar bisa membuat suatu keputusan yang tepat, untuk hubungan pernikahannya dengan Ferry kedepannya nanti.


"Apa? Matanya Mama tidak kenapa-kenapa kok Sayang," cicit Linda, dengan mengedipkan matanya beberapa kali.


Linda meraba bagian matanya, dan pura-pura tidak terjadi sesuatu pada matanya.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok Sayang. Ini matanya mama dikencingi kecoa mungkin," ujar Linda, memberikan alasan pada anaknya.


"Memangnya kalau dikencingi kecoa matanya bisa bengkak begitu ya Ma?"


Erli bukannya diam, setelah mendengar penjelasan dari Linda. Dia justru bertanya lagi dan lagi. Karena rasa ingin tahu anak kecil seperti Erli ini juga besar.


"Kata simbahnya Mama, ibu dari Simbah Putri, dulu gitu sih. Tapi gak tau juga Sayang."


Erli menyipitkan kedua matanya, melihat lebih jelas ke mata Mamanya.


"Tapi gak ada bekas kencing kecoa Ma. Gak ada basah atau... yang bengkak dan hitam itu bekas air kencingnya kecoa?"


"Udah Erli keluar kamar dulu ya! Biar Mama bersihin tempat tidur dulu, baru setelah itu pergi mandi, biar matanya gak kena kencing kecoa lagi."


Erli mengangguk patuh, kemudian pergi ke luar dari dalam kamar.


Linda berjalan ke arah cermin. Menatap wajahnya sendiri yang terlihat mengenaskan. Dia pun mengelengkan kepalanya, melihat wajahnya, terutama pada bagian kantung matanya.


"Ck! hiks... gara-gara gak bisa tidur semalam, jadi dapat pertanyaan yang banyak dari Erli."


Setelah selesai membersihkan tempat tidur, Linda gegas keluar dari dalam kamar. Dia langsung pergi ke dapur, bermaksud untuk membantu ibunya yang sedang masak untuk sarapan pagi


"Masak apa Bu?"


Linda hanya mengangguk saja, tanpa mengeluarkan suara.


Dia melihat ibunya yang sedang me_niriskan mie kuning. Mungkin mau dimasak mie goreng pagi ini.


"Mau bikin mie goreng Bu?" tanya Linda, menebak apa yang dia lihat sekarang.


"Iya. Ini lumayan ada mie ngangur. Dari ada jamuran dibuat mie goreng saja untuk sarapan nanti."


"Buat bapak apa? masih harus bubur ya?"


Linda khawatir jika, ibunya akan memberikan sarapan mie goreng untuk bapaknya yang baru saja sembuh dan pulang dari rumah sakit kemarin.


"Gak. Buat bapak udah ibu kukus kok makanannya."


Ternyata, untuk makanan bapaknya yang baru saja sembuh. Ibunya menyiapkan makanan rebusan atau kukus. Jadi makanan tersebut bebas dari kandungan minyak.


Linda mencoba membuka dandang yang digunakan untuk mengukus makanan untuk bapaknya.


Ternyata isinya nasi yang lembek yang sudah dibentuk sedemikian rupa oleh ibunya. Dengan tahu dan tempe yang bi masak dengan cara di kukus juga.

__ADS_1


Mungkin bagi lidah orang sehat tidak akan terasa nikmat. Apalagi untuk yang sakit, yang lidahnya terasa pahit untuk memakan makanan.


Tapi demi kesehatan, bapaknya Linda tidak bisa protes dengan makanan yang disediakan oleh istrinya. Karena begitulah anjuran dari dokter yang menangani bapaknya Linda kemarin.


"Ma, Mama..."


Erli berteriak-teriak memanggil Linda, dari arah depan. Mungkin dia sedang duduk di depan televisi. Karena waktu pagi seperti ini, ada banyak acara televisi yang menayangkan film kartun.


"Ma... ada Papa. Horeee... Papa sudah pulang!" teriak Erli lagi, dengan bersorak-sorai.


Linda mengerutkan keningnya, mendengar seruan Erli. "Mas Ferry sudah datang?" tanyanya bergumam.


"Sudah sana Lin, layani suami Kamu. Dia kan baru saja datang dari luar kota. Pasti capek banget dia. Bikin minuman teh hangat atau kopi juga," kata ibunya. Meminta pada Linda supaya tidak udah ikut membantunya di dapur.


"Eh, jangan kopi deh Lin! Dia kan baru saja datang. Pasti ngantuk juga. Masa di kasih kopi. Bikin teh hangat saja!"


Ibunya Linda meralat perkataannya sendiri. Karena dia tidak tahu jika, menantunya itu tidak pergi ke mana-mana. Karena Ferry juga tidur di rumah semalam.


"Iya Bu."


Tapi Linda hanya bisa mengiyakan saja. Dua tidak mau menjelaskan pada ibunya, tentang kebenaran soal Ferry.


"Ma..."


Erli kembali berteriak memanggilnya, karena Linda tidak juga muncul.


Akhirnya Linda bergegas ke depan TV, di mana Erli berada. Dia juga membawa teh hangat untuk suaminya yang baru saja datang.


"Dek," sapa Ferry terkejut, di saat melihat kantung mata istrinya.


'Apa Linda juga tidak bisa tidur? Sama seperti yang Aku alami semalam?' batin Ferry menebak.


Tapi karena Linda tidak menanggapi sapaannya, Ferry hanya mengangguk saja. Di saat Linda meletakkan gelas berisi teh hangat yang tadi dia buat.


Sebenarnya Ferry ingin bicara banyak dengan Linda. Tapi melihat keadaan dan situasi yang ada, Ferry pun menahan diri agar tidak kelepasan bicara.


Dia tidak mau jika Erli ikut mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua nanti.


"Kita pulang ke rumah ya pagi ini?"


Linda mendongak menatap wajah suaminya, yang sedang bicara dengan anaknya.


'Ck! Mas Ferry tentu saja tahu, jika Aku tidak mungkin bisa menolak. Di saat Erli sudah mengiyakan permintaan papanya.' gerutu Linda dalam hati, dengan menatap kesal ke arah Ferry.

__ADS_1


__ADS_2