Tante Melinda

Tante Melinda
Bukan Ide Bagus


__ADS_3

"Mas. Kita mampir ke rumah bapak dulu ya," kata Linda, meminta pada suaminya itu, untuk mengantarkan dirinya pergi ke rumah bapaknya terlebih dahulu, sebelum pulang ke rumah mereka sendiri.


"Memangnya ada apa Dek? Apa bapak sakit lagi?" tanya Ferry, yang memperbaiki letak duduk anaknya, Erli.


Erli yang sudah setengah mengantuk, hanya bisa diam saja, tanpa menyahuti perkataan kedua orang tuanya.


Meskipun dia juga sebenarnya ingin mengatakan bahwa, dia setuju untuk pergi ke rumah simbahnya terlebih dahulu. Karena selama mamanya, Linda, bekerja di pabrik, dia baru dia kali datang berkunjung ke rumah simbahnya.


"Gak tau Mas. Tadi, Danang kasih pesan aja sih. Aku di suruh pulang ke rumah terlebih dahulu, saat pulang kerja."


Akhirnya, Ferry mengikuti kemauan istrinya, Linda. Meskipun sebenarnya, dia sudah merasa capek juga.


Dan waktunya ini, juga sudah malam. Meskipun belum bisa dikatakan larut.


Tapi karena tadi ada pesan dari Danang, itu artinya Linda memang benar-benar diperlukan untuk pulang ke rumah.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, dengan keadaan jalan yang macet juga, akhirnya mereka bertiga sampai juga di rumah orang tuanya Linda.


Motor berhenti di depan rumah. Danang membukakan pintu, karena sudah hafal dengan suara motor kakak iparnya, Ferry.


"Assalamualaikum..."


Linda mengucapkan salam, begitu dia sampai di depan adiknya.


"Waallaikumsalam..."


"Baru pulang Mbak?" tanya Danang, setelah menjawab salam yang diucapkan oleh Linda tadi.


"Iya. Ada tambahan jam kerja. Jadi lembur gitulah," jawab Linda, dengan memberikan penjelasan pada Danang.


Ferry melangkah di belakang, dengan menggendong Erli. Ternyata, anaknya itu tertidur, saat dalam perjalanan mereka. Dari pabrik ke rumah simbahnya ini.


"Masuk Mas. Sini Erli nya!"


Linda menyuruh suaminya itu untuk masuk ke dalam rumah, dan menyerahkan Erli yang tertidur.


Linda membawa Erli ke dalam kamar, untuk dibaringkan di tempat tidur.


Ibunya Linda datang dengan membawa piring. Dia menyediakan makan malam. Juga untuk anak dan menantunya yang baru saja datang.


"Makan dulu ya? Ibu sengaja masak banyak ini. Karena tadi bapak bilang, jika Kamu akan datang ke sini."


Bapaknya Linda, yang berjalan di belakang istrinya, mengangguk mengiyakan perkataan ibunya Linda itu.

__ADS_1


Di tangan bapaknya Linda, ada panci berisi sayur dan juga piring yang berisi lele goreng di atasnya.


Semuanya itu untuk makan malam mereka semua.


Linda yang baru saja keluar dari dalam kamar, melihat dengan memicing. Dia bingung dengan apa yang ada di atas meja sekarang ini.


"Memang ada acara apa ini Bu?" tanya Linda, yang merasa penasaran dengan semua yang disediakan oleh ibunya untuk makan malam mereka kali ini.


Tidak biasanya, ibunya menyediakan makanan enak dan lengkap seperti sekarang. Karena Linda sangat tahu, bagaimana keadaan keuangan keluarganya.


"Gak ada apa-apa Nduk. Ini Danang tadi yang belanja. Dia mau wisuda kan sebentar lagi," jawab ibunya Linda, menuturkan bahwa apa yang dia sediakan ini adalah karena Danang.


"Oh iya-iya. Selamat ya Nang. Semoga setelah ini, Kamu bisa dapat kerja yang lebih baik lagi." Linda mengucapkan selamat kepada adiknya, dan juga berdoa untuk kedepannya nanti.


"Sudah. Ayo makan dulu. Nanti Bapak mau bicara penting."


Bapaknya Linda, memotong pembicaraan mereka, agar tidak kelamaan dan akhirnya kemalaman. Karena dia tahu, jika menantunya itu, Ferry, tidak mungkin mau menginap di rumah ini.


Akhirnya, mereka semua makan malam bersama dengan lahap.


Setelah semuanya selesai, ibunya Linda membereskan peralatan makan dan juga sisa-sisa makanan yang masih ada.


Linda berdiri untuk membantu, tapi dilarang oleh bapaknya.


Karena bapaknya memintanya untuk tetap duduk, Linda pun mengurungkan niatnya untuk membantu ibunya.


"Ada apa sih Pak?" tanya Linda yang merasa penasaran, dan ingin tahu, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh bapaknya itu.


"Danang butuh uang yang banyak Mbak. Untuk melunasi administrasi kuliah dan biaya wisuda besok."


Akhirnya, Danang yang menjawab pertanyaan dari Linda.


"Terus?" tanya Linda ingin mendengar kelanjutannya.


"Bapak mau gadai sawah. Tapi, jika di daerah sawah kita itu, posisinya tidak laku. Gak ada yang minat dan menawar dengan harga yang baik."


Linda masih diam mendengar perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh bapaknya.


"Jadi, Bapak mau jual sawahnya. Bagaimana?"


Linda kaget juga, saat mendengar penuturan bapaknya itu. Dia sebenarnya ingin membantu Danang juga. Tapi, dia belum ada uang yah cukup.


Dan lagi, usaha suaminya juga baru saja berjalan. Tidak ada keuangan yang lebih juga.

__ADS_1


"Apa sudah ada yang menawar sawah Bapak?" tanya Linda, memastikan jika sawahnya sudah laku atau belum.


"Bapak minta Kamu datang ini, buat persetujuan, jika sawahnya Bapak jual itu Kamu tahu gitu Nduk."


Maksud dari perkataan bapaknya Linda adalah, untuk memberitahu pada Linda. Karena anaknya memang hanya Linda dan Danang.


Jadi, sawah tersebut juga besoknya untuk mereka berdua, sebagai warisan. Jika bapaknya itu sudah tiada.


Tapi karena kebutuhan yang mendesak ini, bapaknya Linda ingin menjualnya kepada orang lain. Dan dia ingin meminta persetujuan Linda, sebagai ahli warisnya yang akan datang.


Sawah tersebut di dapat bapaknya Linda juga dari orang tuanya. Jadi, sawah itu memang warisan, bukan dari hasil dia membeli.


Itulah sebabnya, ibunya itu tidak ikut bicara dan memberikan usulan apa-apa.


Ferry, yang merasa jika ini bukan urusannya juga, akhirnya berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke kamar. Dia ingin menemani anaknya saja.


"Besok Linda coba pinjam ke perusahaan ya Pak. Syukur-syukur bisa dapat. Jadi, gak perlu jual sawah."


"Tapi, Mbak kan baru saja kerja di pabrik itu. Bagaimana cara pinjam ke perusahaan?" tanya Danang cepat. Karena dia tahu, jika mbaknya itu, belum ada dua bulan bekerja di sana.


Setahu Danang, SK atau surat keputusan untuk pengangkatan Linda sebagai karyawan yang lolos seleksi training saja belum di dapat. Karena SK tersebut, hanya akan keluar jika masa training sudah selesai. Yati yaitu tiga bulan masa training.


"Nanti Mbak usahakan. Tapi, jika tidak dapat terserah Bapak jika mau jual sawah."


Akhirnya, Danang dan bapaknya Linda setuju dengan rencana Linda.


Linda mempunyai pikiran seperti itu karena, dia tahu, bapaknya hanya memiliki satu sawah. Dan itu adalah harta satu-satunya bapaknya, peninggalan simbahnya Linda.


Rumah dan pekarangan yang tidak seberapa ini, adalah milik ibunya Linda. Dari warisan orang tua ibunya Linda juga.


Jadi Linda tidak mau jika, bapaknya itu tidak punya apa-apa lagi, yang bisa dibanggakan untuk kehidupannya sendiri.


Apalagi, sawah tersebut juga sumber penghasilan untuk makan keluarganya selama ini.


Setelah selesai membicarakan tentang sawah dan uang yang diperlukan oleh Danang, Linda pamit untuk pulang ke rumahnya sendiri.


"Linda pulang dulu kalau begitu."


"Gak nginep sini saja Nduk?" tanya bapaknya Linda, menawari supaya anaknya itu menginap saja.


Apalagi, Erli juga sudah tidur. Dan Ferry, sudah menyusul cucunya ke dalam kamar.


Bapaknya Linda berpikir jika, menantunya itu sudah tidur juga sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2