
Di rumah sakit.
Dokter tidak mengetahui penyakit apa yang sedang diderita Linda, sebab dari hasil pemeriksaan sementara ini, tidak diketahui secara pasti, penyakit apa yang diderita oleh Linda, sama seperti yang tadi dikeluhkan.
Sebab semuanya terdeteksi normal. Hanya kakinya saja, yang belum bisa berjalan secara benar, sebab memang masih dalam masa terapi dan pengobatan pasca operasi pen.
Akhirnya, Romi membawa Linda kembali pulang ke rumah. Setelah dokter memberikan resep untuk sakit kepala yang dikeluhkan Linda tadi.
Di perjalanan pulang menuju ke rumah, Linda hanya diam saja. Sedangkan ibu dan bapaknya, yang ikut menemani, juga duduk diam di dalam mobil. Dan Erli melihat mamanya dengan tatapan mata yang bingung.
Tadi, ibu dan bapaknya memang ikut ke rumah sakit. Tapi berada di luar, menemani Erli yang tidak diperbolehkan untuk ikut masuk ke dalam.
Mungkin saat ini, Erli berpikir jika mamanya tidak terlihat sakit. Tapi kenapa harus di bawa ke rumah sakit. Sedangkan jadwal terapinya masih dua hari juga.
"Ma... Mama..."
Erli memanggil-manggil mamanya, dengan cara menggoyang-goyangkan tangan Linda.
Tapi tatapan mata Linda, terlihat marah pada Erli. Karena apa yang dilakukan oleh anaknya itu pada dirinya.
Erli menunduk takut, melihat namanya yang terlihat marah kepada dirinya.
Hal ini tentu saja menjadi perhatian ibu maupun bapaknya linda. Sehingga mereka berdua saling pandang, dan merasa heran dengan perilaku Linda saat ini.
Apalagi setelah itu, Linda menggelengkan kepalanya beberapa kali. Sambil berkata-kata sendiri dengan tidak jelas.
"Gak, gak mau... gak mau."
"Aku gak mau..."
Hal ini mencuri perhatian dari Romi, karena sepertinya ada sesuatu yang tidak wajar telah terjadi pada calon istrinya itu. Padahal, sebelum acara lamaran, semuanya baik-baik saja. Tidak ada keanehan yang ditunjukkan oleh linda.
"Pak, Bu. Sebaiknya kita langsung pergi ke rumah seorang kyai saja. Sepertinya, Dek Linda mengalami sesuatu yang tidak wajar."
Ibu dan bapaknya Linda, yang tadi sempat berpikiran hal yang sama, mengangguk dengan cepat. Menyetujui usulan dari Romi. Karena anaknya itu, memang butuh penanganan.
Pelet atau guna-guna adalah ilmu ghaib yang dapat mempengaruhi alam bawah sadar seseorang, agar mencintai orang yang mengirim dengan mantra-mantra dan ritual tertentu.
Akhirnya, atas persetujuan dari bapak dan ibunya Linda, Romi mengarahkan laju mobil yang tadi dia pinjam, menuju ke rumah seorang kiai. Atas saran dari salah satu teman atau kenalannya.
Dengan perasaan was-was dan tidak menentu, Romi menjalankan mobilnya. Dia begitu mengkhawatirkan keadaan calon istrinya itu.
__ADS_1
Tapi dia juga tidak tahu, apa yang sebenarnya berpengaruh pikiran Linda saat ini.
"Dek. Kamu gak terpaksa menerima Aku karena terpaksa kan? Aku akan sangat merasa bersalah, jika ternyata Kamu mau menerimaku karena terpaksa. Dan hanya untuk menghindari Paman."
Di saat Romi mengingat pamannya, dia akhirnya mulai curiga. Jika semua ini adalah ulah dari pamannya sendiri. Sama seperti yang dikhawatirkannya di awal-awal kemarin.
Tapi dia juga tidak mau berburuk sangka kepada pamannya. Karena bisa jadi, semua ini hanya tekanan batin yang Linda alami, dari semua rangkaian kejadian demi kejadian yang tidak menyenangkan, di waktu-waktu terakhir ini.
Mungkin secara tidak langsung, Linda membawa semua pikirannya ke dalam hati, yang tidak bisa dia keluarkan pada orang lain. Sehingga menumpuk, dan pada akhirnya mempengaruhi kejiwaannya.
Hal ini tentu saja tidak baik untuk kejiwaan Linda sendiri.
Ini bisa mempengaruhi pikiran dan perasaan Linda, yang mengakibatkan mintanya tidak stabil sehingga stress.
Mungkin karena ini juga, Linda jadi sering sakit kepala. Apalagi dari kejadian masa lalu yang membuatnya kepikiran secara terus-menerus.
Romi berharap, supaya calon istrinya itu, mendapatkan ketenangan hati dan pikirannya, setelah mendapatkan penanganan dari kyai yang akan mereka sambangi kali ini.
*****
Di suatu tempat.
Tentu saja, hal ini membuat Pamannya Romi berbunga-bunga. Karena dia berpikir bahwa, apa yang dia usahakan akan segera berhasil.
"Akhirnya Aku bisa mendapatkan kamu Linda, hahaha..."
"Kamu pikir, segampang itu lepas dari Aku. Asal Kamu tahu, Aku itu penuh pesona. Tidak ada wanita yang Aku inginkan berani menolaknya. Karena jika hal itu terjadi, maka wanita itulah yang akan mengejar-ngejar ku nanti. Lihat saja, tak lama lagi, Kamu pasti akan tergila-gila padaku hahaha..."
Dia sangat senang, dengan hasil yang dia dapatkan kali ini. Karena sesuai dengan apa yang dia mau.
Apalagi, setelah dia berhasil mendapatkan Linda suatu saat nanti, dia bakal bisa pamer ke semua orang. Bahwa dia punya istri yang sangat cantik.
Membayangkan bagaimana rasanya memiliki istri Linda, dan kebanggaan karena dipuji-puji oleh teman-temannya, serta rekan-rekan yang mengenal dirinya. Membuat pamannya Romi ini tersenyum-senyum sendiri.
Padahal, hal tersebut belum terjadi.
Dia tidak tahu jika, saat ini, Linda sedang dalam penanganan perawatan dan pengobatan dari seorang kyai.
Yang bisa saja, apa yang sedang dia bayangkan saat ini, justru berputar balik pada keadaan dirinya sendiri. Karena guna-guna yang dia kirim untuk memikat Linda, akan segera kembali kepada dirinya sendiri.
Dia lupa jika, persetujuan dengan guru spiritual atau dukun yang dia mintai tolong, mengatakan bahwa, seandainya persyaratan yang telah diperuntukkan untuk Linda mental, atau kembali ke pengirim, itu akan berpengaruh pada yang membuat syarat, bukan pada yang meracik syarat.
__ADS_1
Atau bisa diartikan bahwa, seandainya guna-guna itu akan kembali atau mental, yang terkena imbasnya bukan pada dukun tersebut. Tapi pada pamannya Romi sendiri.
Dan sekarang ini, pamannya Romi mulai membayangkan sesuatu yang indah, menyenangkan, sesuai dengan apa yang diinginkannya.
*****
Di rumah Pak kyai.
Saat pertama kali Romi datang dengan membawa Linda, Pak kyai sudah merasakan hawa gelap atau aura yang tidak bagus yang dibawa oleh Linda.
Dia melihat mata Linda yang tidak pada satu arah pandangan. Tapi seperti sedang mencari sesuatu, atau seseorang yang tidak bisa ditemukan di tempat ini.
Setelah beberapa saat berada di rumah Pak kyai, dan Romi serta bapaknya Linda menceritakan tentang keadaan Linda, Pak kyai semakin yakin bahwa, ada yang sedang mempengaruhi pikiran dan hatinya Linda.
"Siapa nama Mbak nya ini, di mana alamat rumahnya, dan hari lahirnya?"
Pak kyai meminta keterangan tentang identitas Linda, untuk melakukan apa-apa yang diperlukan.
Ibunya Linda, memberikan semua jawaban dan penjelasan atas pertanyaan yang diajukan oleh Pak kyai.
Pak kyai diam mendengarkan semua open dan penjelasan tersebut. Kemudian, Pak kyai mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak lama kemudian, "Saya permisi ke dalam dulu, mau mencoba. Semoga ikhtiar ini, ada manfaatnya. Sehingga mbak Linda ini bisa terbebas dari belenggu, yang sudah diikat setan, yang mengikuti dirinya, karena adanya beberapa mantra, yang telah ditujukan untuk mbak Linda ini."
Akhirnya, Pak kyai meminta pada tamunya itu, untuk menunggunya terlebih dahulu.
"Silahkan di minum dulu airnya," tawar Pak kyai, pada tamu-tamunya. Supaya meminum suguhan air yang sudah disediakan.
Untuk Romi, ibu dan bapaknya Linda serta Erli, disediakan teh hangat.
Tapi untuk Linda sendiri yang dibedakan.
Linda hanya disuguhi air putih dalam gelas bening. Yang telah dibacakan doa-doa sama Pak kyai.
Setelah itu, Pak kyai pamit masuk ke dalam rumah. Untuk melakukan sesuatu, meminta petunjuk, apa yang sebenarnya terjadi pada tamunya itu, khususnya Linda.
Pak kyai, biasa melakukan pengobatan dengan cara meminta petunjuk terlebih dahulu yaitu shalat sunnah. setelahnya, dia akan melakukan wirid, membacakan doa-doa yang di media kan pada sebotol air putih.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Pak kyai kembali ke luar menemui tamu-tamunya itu. Dengan membawa sebotol air mineral, yang masih dalam keadaan tersegel.
"Maaf, menunggu lama."
Pak kyai meminta maaf karena tamu-tamunya itu, harus menunggunya sampai selesai.
__ADS_1