
Tiba di pengilingan padi, banyak orang yang kasak kusuk membicarakan tentang Linda. Apalagi, dari beberapa karyawan yang bekerja di sini, belum banyak yang tahu, bagaimana Linda, yang merupakan istri dari Ferry.
Tapi, ada juga beberapa Dati mereka yang langsung bertanya, dengan menggoda Ferry dan juga Linda.
"Weh... Mas Ferry dapat cewek bule dari mana tuh?"
"Nemu di mana tuh cewek?
"Miss, jangan mau sama Mas Ferry! Dia play boy! Hahaha..."
"Awas Miss cantik. Kamu dikibuli. Mas Ferry udah kawin. Hohoho..."
"Mas, buat Aku aja ya! Mas kan udah ada mamanya Erli!"
Mereka yang sudah tahu siapa Linda, tentu saja hanya bisa tertawa-tawa. Mentertawakan mereka yang tidak tahu dan bertanya kepada Ferry dan juga Linda sendiri.
Baik Ferry maupun Linda, hanya tersenyum tipis mendengar perkataan orang-orang yang menegur mereka berdua.
"Emang kenapa kalau Aku sudah punya istri? gak boleh gitu, bawa istri sendiri? hehehe..."
Akhirnya Ferry bertanya kepada mereka, dengan tertawa juga. Dan ini membuat orang-orang yang tadi berkomentar, terdiam karena merasa malu.
"Eh... beneran Mas Ferry, jika itu istrinya?"
"Masa sih Mas? kok mirip bule ya?"
"Ngibul ya Mas? hahaha..."
Mereka ada yang percaya, tapi juga ada yang meragukan juga.
"Serah Kalian aja lah," sahut Ferry, tidak lagi menggubris perkataan mereka semua.
Sekarang, dia fokus untuk bekerja. Mempersiapkan segala sesuatunya, yang berhubungan dengan pekerjaannya. Sebagai seorang penjual beras dan segala sesuatu yang berhubungan dengan padi.
Linda pun tidak mau diam saja. Dia ikut membantu suaminya itu, agar cepat selesai dan dagangan bisa siap dengan cepat.
"Udah Dek. Kamu tunggu ada sambil duduk. Kamu gak berangkat kerja itu kan cuti. Ini kok malah kerja juga," tegur Ferry, memperingatkan istrinya itu.
"Gak apa-apa Mas. Sekali ini aja kok," sahut Linda, yang tidak mau menuruti perkataan suaminya.
__ADS_1
Dia terus saja menata karung-karung berisi beras. Yang sudah dikemas dalam karung kecil-kecil tersebut. Karena setiap karung punya takaran yang berbeda-beda juga.
"Mas. Kalau untuk dijual lagi, biasanya yang diambil penjual beras ukuran berapa?" tanya Linda ingin tahu.
Karena ada karung beras yang berisi lima puluh kg, tapi ada juga yang cuma sepuluh atau lima kg.
"Kalau bakul beras, biasa ambil lima puluh Dek. Untuk yang ukuran sepuluh dan lima kg, biasanya di ambil orang-orang untuk dikonsumsi sendiri."
"Eh, tapi itu beda tulisan yang ada di karung beda harga juga lho!" Ferry menjelaskan pada Linda, dengan semua yang dia beras yang dia jual selama ini.
"Bedanya apa Mas?"
"Jenis beras dan kualitas tentunya," jawab Ferry memberitahu.
"Oh..."
Mulut Linda hanya menanggapi dengan membola saja. Meskipun sebenarnya dia juga tahu, jika beras ada banyak jenisnya. Dengan harga yang berbeda juga.
Selama ini, Linda berpikir bahwa, beras yang dijual di pengilingan padi seperti ini, adalah dengan harga yang sama.
Ternyata tidak juga. Dan semuanya tentu disebabkan oleh pengaruh masyarakat yang berbeda juga seleranya, untuk mengkonsumi nasi sebagai makanan pokok. Jadi, pengaruh jenis padi dan beras juga menentukan.
Tapi, jenis-jenis beras yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat pada umumnya juga beragam. Ada Beras Pandan Wangi, Beras Rojolele, Beras Setra Ramos, Beras IR42. Beras Jepang. Beras Merah.
Tapi karena usaha Ferry ini ada dalam masyarakat pada umumnya, dia juga menjual beras yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat biasa.
Linda pun menganggukkan kepalanya, mendengar semua penjelasan yang diberikan oleh suaminya itu.
"Aku jadi bisa belajar juga ini Mas. Hehehe..." Linda terkekeh sendiri, karena merasa jika dia tidak tahu apa-apa tentang usaha yang sudah dijalani suaminya ini.
Padahal, Ferry berjualan beras juga sudah lama. Lamanya sama dengan waktu Linda bekerja, di perusahaan sepatu. Di mana Linda bekerja hingga sekarang.
"Kalau yang biasa Mas bawa pulang, untuk dikonsumsi sendiri di rumah itu jenis beras apa Mas?"
"Kadang ya pandan wangi, kadang ya rojo lele," jawab Ferry. Karena dia memang membawa beras dari dagangnya juga, untuk persediaan beras di rumah.
"Oh, pantas saja kadang beda tekstur dan bau wanginya ketika sudah dimasak menjadi nasi. Ternyata beda jenisnya." Linda jadi lebih paham. Dan menurutnya, ini tidak jauh berbeda dengan jenis-jenis produksi sepatu yang dihasilkan oleh perusahaan. Di pabrik tempatnya bekerja.
Dari arah pintu masuk, Bos pengilingan padi muncul. Tapi dia tidak datang sendiri. Ada seseorang yang ikut datang bersama dengannya juga.
__ADS_1
"Kang Mus?"
Ferry yang mendengar suara Linda, menoleh ke arah pintu masuk pengilingan padi.
"Siapa Dek?" tanya Ferry, yang tidak melihat siapa-siapa di sana.
Karena bos pengilingan padi dan kang Mus, sudah berjalan ke arah tumpukan karung padi.
"Itu tadi, pemilik pengilingan padi datang dengan siapa? Linda kayak kenal Mas," jawab Linda, dengan melihat-lihat sekitar pintu.
"Oh, itu yang kemarin pernah datang juga ke sini. Katanya masih ada tali persaudaraan dengan Kamu Dek. Tapi, mas gak ingat siapa namanya."
Penjelasan yang diberikan oleh suaminya itu, membuat Linda merasa sangat yakin bahwa, orang yang tadi dia lihat adalah kang Mus. Orang yang dulu pernah mengajaknya, dengan tawaran untuk menikah.
"Aku juga pernah liat dia, pada waktu Aku awal-awal diajak ke luar kota sama bos pengilingan padi ini."
"Iya Mas. Itu kang Mus," sahut Linda dengan yakin.
"Benar masih saudara dengan Kamu Dek?" tanya Ferry, karena dia memang tidak begitu paham dengan saudara-saudara yang sudah jauh dengan istrinya ini.
"Dia masih ada ikatan sepupu ibu Mas. Jadi, Linda seharusnya memangilnya dengan sebutan Om."
Sekarang, Ferry mengangguk mengerti. Dengan sedikit penjelasan yang diberikan oleh istrinya.
"Loh Lin, kok ada di sini?"
Dari arah samping, muncul kang Mus dengan pemilik pengilingan padi.
"Eh, iya. Iya Kang. Ini mumpung libur, tadi antar Erli sekolah, terus mampir ke sini."
Linda menyalami Om jauhnya, dengan memberikan sedikit penjelasan. Dia juga menyalami kang Mus. Kemudian berganti dengan pemilik pengilingan padi.
Begitu juga dengan Ferry. Dia ikut menyalami saudara sepupu ibu mertuanya itu. Baru kemudian beralih pada temannya. Yaitu pemilik pengilingan padi ini.
"Maaf Om..."
"Panggil Kang saja Fer. Itu akan lebih akrab. Sama seperti orang-orang memanggilku." Kang Mus memotong kalimat Ferry, yang belum selesai.
"Eh iya Kang. Maaf, Saya tidak tau juga. Jika relasi bos pengilingan padi ini, masih ada ikatan persaudaraan dengan istri Saya ini."
__ADS_1
Ferry merasa tidak enak hati, karena ternyata, orang yang selama ini ikut datang bersama dengan temannya itu, adalah saudara Linda. Itu artinya, saudaranya juga.
Kini, Ferry ada ketakutan sendiri. Dia merasa takut jika, perselingkuhannya dengan mbak Nana, di ketahui oleh kang Mus juga.