
"Apa maksud dari pasangan suami istri seperti mbak Nana itu Mas? Aku tidak mengerti."
Linda jadi merasa aneh, dengan cara suami dan istri yang sebenarnya hanya memanfaatkan kesempatan untuk bisa memiliki anak dari suaminya, Ferry.
"Aku juga tidak tahu Dek. Bahkan, suaminya mbak Nana itu bilang, jika sudah lama mengetahui identitas diriku yang sebenarnya."
"Maksudnya, tahu jika Aku ini mantan seorang polisi," ujar Ferry memberikan penjelasan kepada istrinya.
Mata Linda menyipit, mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya itu.
"Emhhh... mungkin maksudnya ini, mas Ferry di minta untuk diam. Dan tidak membocorkan rahasia mereka. Baik ke pihak keluarga mbak Nana sendiri, atau kepada keluarga suaminya."
Pemikiran Linda ini diangguki juga oleh Ferry. Bisa jadi, mereka, mbak Nana dengan suaminya, tidak mau jika suatu hari nanti, Ferry ataupun Linda membuat kekacauan dengan membuka rahasia mereka.
"Padahal kita kan tidak tahu, di mana rumah mereka yang sebenarnya. Kita hanya tahu, jika mereka berasal dari kota itu saja."
"Ya sudah lah Dek. Aku sudah tidak mau ambil pusing tentang mereka. Yang penting, Kamu memaafkan Mas. Itu sudah lebih dari apa pun." Ferry mengatakan apa yang dia inginkan, dengan mengengam jemari Linda.
Sedangkan satu tangannya yang lain, menepuk-nepuk punggung tangan Linda yang ada di dalam genggamannya.
Linda terdiam. Dia tidak menyahuti perkataan yang diucapkan oleh suaminya. Karena sebenarnya, dia belum sepenuhnya bisa melupakan semua kejadian yang dia lihat sendiri.
"Linda siapkan makan malam dulu Mas," pamit Linda, kemudian berniat untuk berdiri dari tempat duduknya.
"Dek," panggil Ferry menahan Linda, dengan memegang tangannya.
Grep!
Ferry memeluk Linda dengan cepat. Saat Linda baru saja bangkit dari tempat duduknya. Dia memeluknya dengan erat, seperti tidak mau untuk melepaskan pelukannya.
Linda diam sambil memejamkan mata. Dia belum membalas pelukan suaminya.
Tapi pada saat Ferry terisak pelan, Linda pelan-pelan membalas membalas pelukan suaminya. Dia juga tidak setega itu, membiarkan perasan Ferry terombang-ambing sendiri dalam penyesalan atas semua kesalahannya.
"Sudah Mas. Lupakan semuanya. Jika apa yang dikatakan oleh suaminya mbak Nana benar, ambil saja. Tapi kita biarkan, kita simpan saja."
"Jika suatu hari nanti, ada masalah atau apapun itu. Bisa kita kembalikan lagi pada mereka."
Ferry hanya mengangguk saja, mengiyakan semua perkataan yang diucapkan oleh istrinya itu. Tak lama kemudian, dia pun melepaskan pelukannya pada Linda, tapi dengan kedua tangannya yang berganti menangkup di kedua pipi istrinya.
Perlahan tapi pasti, Ferry mengecup bibir Linda. Mulanya hanya di permukaan saja. Tapi lama-lama dia merasa ingin mendapatkan perhatian dan balasan dari istrinya. Atas ciuman yang dia lakukan.
"Mas," tegur Linda, yang masih berusaha untuk menguasai keadaan. Agar dia tidak terpengaruh dengan perlakuan yang diberikan oleh suaminya.
__ADS_1
"Mas, nanti keburu Erli bangun minta makan."
Linda mengingatkan pada Ferry, karena Erli memang tidur lebih awal. Tapi belum sempat makan sebelum tidur.
Dengan terpaksa, Ferry melepaskan pelukannya. Tapi dia kembali mencium bibir Linda, dengan gerakan cepat. Baru kemudian dia melepaskan diri dan duduk lagi di tepi tempat tidur.
Linda menghela nafas panjang terlebih dahulu, sebelum akhirnya pergi ke luar dari dalam kamar. Untuk pergi menuju ke arah dapur.
Setelah kepergian Linda, Ferry merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Hhh..."
Berkali-kali Ferry membuang nafas. Membuang rasa sesak yang dia rasakan dalam dadanya.
*****
Sore hari di rumah ibunya Linda, sebelum Danang pulang dari kerja.
"Pak. Bapak mau mandi, atau mau sibin aja?" ( sibin adalah membersihkan tubuh dengan di lap kain atau handuk basah. Biasanya dilakukan pada saat sedang sakit )
"Bapak mandi ya Bu, ini udah gerah badannya Bapak. Udah dua minggu Bapak gak mandi kan, selama sakit."
"Ya sudah. Ibu siapkan air hangat dulu untuk mandi Bapak," ujar ibunya istrinya, kemudian berjalan menuju ke arah dapur. Dia akan menyiapkan air untuk mandi suaminya.
Bremmm...
"Assalamualaikum..."
"Waallaikumsalam..."
Bapaknya menjawab salam yang diucapkan oleh Danang. Karena saat ini, dia sedang duduk di dekan TV.
"Bapak baik? Gak ada yang dikeluhkan lagi kan?" tanya Danang, begitu selesai menyalami tangan bapaknya.
"Iya. Bapak baik-baik saja. Udah kontrol ulang dua kali. Masa iya tidak ada kemajuan sih Nang?" sahut bapaknya. Menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh anaknya itu.
"Hehehe... iya Alhamdulillah kalau sudah lebih baik Pak."
"Oh ya, ibu mana Pak?" tanya Danang kemudian. Karena dia tidak melihat keberadaan ibunya ada di rumah.
"Ada apa cari ibu?"
Dari arah dapur, ibunya muncul dan mengajukan pertanyaan kepada Danang. Karena mendengar pertanyaan yang diajukan oleh anaknya itu pada suaminya tadi.
__ADS_1
"Hehehe... kirain ke mana Bu. Habisnya gak keliatan sih!"
Kebiasaan tiap orang, jika baru saja datang. Yang ditanyakan pasti yang tidak terlihat saat itu. Meskipun biasanya juga orang tersebut tidak pernah pergi ke mana-mana.
"Pak. Airnya sudah siap."
"Ya Bu."
"Wes ya Nang, Bapak mau mandi dulu. Udah dua minggu gak mandi, lengket banget ini."
Danang mengangguk mempersilahkan bapaknya untuk pergi mandi. Sedangkan dia sendiri, beranjak dari tempat duduknya.
Tapi baru saja Danang berjalan ke kamarnya, ada ketukan pintu di luar rumah.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum..."
Selain ketukan pintu, terdengar juga suara laki-laki, yang mengucapkan salam.
"Waallaikumsalam..."
Danang bergegas pergi menuju ke luar. Dan di ambang pintu rumah yang masih dalam keadaan terbuka, ada seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah dijumpai lagi oleh Danang.
"Mas Romi," sapa Danang, menyebutkan nama laki-laki yang datang bertamu sore ini.
"Iya Nang. Ini mas Romi."
"Emhhh... ayo Mas masuk. Mari silahkan masuk. Maaf, Danang baru pulang kerja ini. Belum sempat mandi," ucap Danang, dengan mempersilahkan tamunya itu untuk masuk ke dalam rumah.
Danang belum sempat menanyakan tentang kabar Romi, di saat ibunya berteriak dari arah dapur. "Siapa Nang?" tanya ibunya, karena lamat-lamat mendengar Danang yang sedang berbincang-bincang dengan seseorang.
Belum juga Danang menjawab, ibunya sudah muncul di ruang tamu.
"Bu," sapa Romi pada ibunya Linda. Yang dulu hampir saja menjadi mertuanya.
"Ini... ini siapa ya? Kok ibu lupa," tanya ibunya Linda, sambil mengingat-ingat kembali, siapa tamu yang datang ke rumahnya sore ini.
Dia dengan Romi, memang belum sempat bertemu secara intens. Hanya sekilas, itu pun tidak banyak bicara. Karena pada saat Romi dan Linda menjalin hubungan, jarang datang ke rumah ini.
Jika mengantar Linda, hanya bicara di teras depan rumah. Itu pun hanya sebentar saja.
"Saya Romi Bu. Temannya Linda."
__ADS_1
Deg!
Ibunya Linda kaget, saat mendengar jawaban yang diberikan oleh tamunya itu.